"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butterfly Era
Malam hari itu, hujan belum benar-benar reda. Udara dingin membasahi jalanan kota yang mulai lengang.
Radit baru saja selesai mencuci wajahnya saat notifikasi ponsel bergetar. Nama Reyhan muncul di layar.
"Lagi di mana? Bisa ketemu gak, sebentar?"
Tanpa berpikir panjang, Radit membalas cepat.
"Masih di rooftop kantor. Kalau kamu mau."
Tak sampai dua puluh menit, Reyhan muncul di sana. Jaketnya basah, namun wajahnya tetap menyimpan senyum santai seperti biasanya.
“Aku kira kamu bakal batalin ajakanku lagi,” ujar Reyhan sambil menggulung lengan jaketnya, berhenti di sebelah Radit.
“Tumben ngajak ngobrol di atas jam tujuh,” balas Radit tanpa menoleh. “Biasanya kamu udah ngilang.”
Reyhan tertawa kecil. “Kadang, suasana rooftop bisa bantu bikin pikiran lebih jernih.”
Mereka diam sejenak, hanya angin dan gerimis yang jadi backsound.
“Ada apa?” tanya Radit akhirnya.
“Aku cuma mau ngomongin soal... saham.”
Radit mengangkat alis. “Kita masuk ke topik itu juga akhirnya.”
“Aku tau kamu males bahas ini. Tapi Papa mulai aktif lagi. Katanya, tinggal nunggu kamu resmiin hubungan sama calon istri, baru proses pewarisan dan pengalihan bisa dimulai.”
Radit tidak langsung menjawab. Ia hanya meneguk kopinya lagi, pelan.
“Aku juga kaget pas Papa bilang udah restuin hubungan kamu…” lanjut Reyhan. “Namanya Soraya, ya?”
Radit tersenyum simpul. “Iya. Kamu pernah ketemu dia?”
“Belum. Tapi Papa bilang dia punya karakter kuat. Pintar. Punya pengalaman kerja. Katanya kamu kayak... nemuin sesuatu di dia yang bikin kamu serius.”
Radit tak menjawab. Ia menatap jauh ke arah jalanan yang basah.
“Aku ikut seneng sih. Tapi... jujur, ada satu hal yang aku minta,” ucap Reyhan pelan.
"Apa?”
“Kalau bisa... jangan buru-buru nikah dulu deh.”
Kening Radit mengernyit. “Kamu bilang begitu karena...?”
"Karena aku masih nyari seseorang. Perempuan yang pernah ninggalin aku dulu.”
Radit diam, memperhatikan.
“Aku gak bilang nyesel sepenuhnya, tapi setelah dua tahun... Aku baru sadar, mungkin dia satu-satunya. Aku kehilangan jejaknya. Tapi aku yakin dia masih ada di kota ini.”
“Kamu yakin itu bukan cuma perasaan bersalah?” tanya Radit datar.
“Mungkin awalnya iya. Tapi sekarang, itu jadi tujuan.”
Hening kembali mengisi ruang di antara mereka.
“Kamu bisa nemuin dia dalam waktu dekat?” tanya Radit hati-hati.
“Gak tau,” gumam Reyhan. “Tapi kalau aku udah nemuin dia. Kamu boleh nikah secepatnya.”
Radit menyandarkan kepala ke tiang pagar. “Aku gak bisa janji, Rey. Tapi... Aku akan coba.”
Reyhan menepuk bahu Radit pelan, mencoba tersenyum.
“Terima kasih...”
Namun dalam pikirannya, banyak sekali yang masih ingin ia ceritakan.
“Anyway…” ucap Reyhan lagi, “Kayaknya aku harus cabut.”
Radit menoleh. “Cepet amat.”
“Papa udah ngirim pesan nih. Katanya jangan ganggu kamu terlalu lama. Kamu udah cukup sibuk ngurus perusahaan,” Reyhan mengangkat bahu.
Radit hanya terkekeh. “Tumben dia perhatian.”
“Tumben juga kamu dengerin.”
Mereka saling pandang sekilas, lalu tertawa kecil.
Reyhan mengambil jaketnya yang tadi disampirkan di bangku besi. “Thanks udah sempetin ngobrol. Aku beneran butuh itu.”
Radit mengangguk. “Hati-hati di jalan. Dan jangan terlalu banyak mikir.”
Reyhan berhenti sejenak di depan pintu masuk menuju lift. “Kalo ketemu dia duluan... Kamu bilang ke aku ya. Jangan disembunyiin.”
Radit hanya menanggapi dengan anggukan ringan—datar dan tak berjanji. Ia bahkan tidak tahu, siapa wanita yang dicari adiknya itu.
Beberapa saat kemudian.
Radit pun turun ke basement, masuk ke dalam mobil, dan langsung meluncur ke apartemennya. Tidak mampir ke mana-mana. Tidak juga mengajak siapapun makan malam.
Malam ini... ia butuh sendirian.
Saat akhirnya tiba...
Lampu gantung di langit-langit ruang tamu menyala lembut. Ia berjalan ke balkon apartemennya, menatap langit Jakarta yang mulai menggelap sempurna.
Kakinya berbalik, berjalan santai menuju tempat tidur, lalu duduk di pinggir ranjang sambil memandangi ponselnya.
Di layar, nama kontak:
“Rania"
Radit tersenyum kecil. Ia membuka kolom chat. Mengetik…
Lagi ngapain?
Tapi ia hapus.
Mengetik lagi.
Semangat jaga Aira ya.
Dihapus lagi.
Akhirnya, ia kirim:
Pulang kantor aman?
Beberapa detik kemudian...
Typing...
Ya, udah rebahan malah. Aira tadi sempat rewel, tapi udah tidur sekarang.
Radit tersenyum. Tangannya mengetik cepat.
Terus ibunya gak rewel?
Ibunya gak aman sih, tapi coklat memperbaiki segalanya. Untung masih ada pemberian, dari calon suami.
Radit tersenyum, senang.
Maksudnya? Aku?
Ya. Siapa lagi?
Emang ada yang lain?"
Rania membalas singkat.
Makan sampai habis. Kalau mau, nanti aku kirim satu mobil box penuh.
Hahaha jangan lebay, Bos. Lagian aku udah cukup dengan satu kotak yang itu.
Radit:
Cokelatnya?
Iya... dan yang ngasih.
Radit mematung sejenak. Ponsel di tangannya tetap menyala, namun matanya menerawang jauh.
Ia membaringkan diri di kasur, satu tangan menopang kepala, satu lagi masih menggenggam ponsel.
Kamu seneng nggak..?
Balasan itu tak langsung datang. Radit menunggu... tapi tak ingin terlihat terburu.
Namun beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.
Seneng sih... tapi belum tenang.
Kenapa?
Ada banyak yang harus aku jaga. Termasuk kamu dan diriku sendiri.
Radit mendesah pelan. Ia menutup mata, lalu membalas:
Terima kasih.
Rania:
Untuk?
Untuk... gak ninggalin aku pas aku lagi belajar percaya.
Rania:
Kan udah dibayar kontraknya.
Radit tertawa kecil. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya tertawa sekaligus tersiksa dalam satu waktu, hanya perempuan itu.
Radit:
Kalau aku pengen perpanjang kontraknya jadi seumur hidup, boleh gak?
...
Typing...
...
Namun balasan itu tak kunjung datang. Mungkin Rania tertidur. Atau sengaja diam. Atau sedang menahan detak jantungnya sendiri.
Radit menatap layar itu cukup lama. Lalu akhirnya menghapus pesan itu, dan memejamkan mata. Tapi senyumnya belum juga hilang.
***
Pagi harinya di kantor Mahendra.
Udara di lantai atas terasa lebih segar dari biasanya. Mungkin karena Rania bangun lebih pagi, atau mungkin karena matanya mulai terbiasa dengan segala rutinitas baru.
Hari ini, tak banyak pekerjaan yang menumpuk. Beberapa desain promosi sudah selesai direvisi, klien pun belum menjadwalkan pertemuan. Rania bisa sedikit bernapas lega.
Ia duduk di meja kerjanya, membuka laptop, menyeruput kopi hangat, sambil menggulir halaman data penjualan digital.
Namun baru beberapa menit berlalu...
TRING!
Telepon meja kantor Rania berbunyi.
Ia menjawab cepat, “Rania di sini.”
Suara berat dan tenang langsung terdengar dari seberang, Radit.
“Ke ruanganku. Sekarang. Bawa laptop kalau perlu.”
Nada suara itu datar, tapi seperti biasa, sulit untuk ditolak.
“Baik, Pak,” ucap Rania singkat. Ia langsung merapikan berkas-berkas penting, lalu melangkah cepat ke arah ruang CEO.
Sesampainya di sana, Radit sudah berdiri di depan pintu, membuka pintu dan langsung menguncinya dari dalam.
Klik.
Papan kecil di luar pintu tertulis: “Meeting Internal – Jangan Ganggu.”
“Pagi,” sapa Rania setengah bercanda, “Segenting itu, sampai dikunci?”
Radit tak langsung menjawab. Ia berjalan menuju mejanya, lalu menatap Rania serius.
“Duduk.”
Rania menurut.
Lalu...
“Rania,” ucap Radit akhirnya.
Suara itu pelan, tapi berat.
“Hmm?”
“Aku gak tahu gimana caranya kamu bisa kelihatan begitu tenang hari ini. Tapi Reyhan bukan orang bodoh.”
Rania hanya diam.
Radit berbalik, “Dia tau kamu kerja di sini. Dan kalau dia menyelidik lebih dalam... dia bisa dengan mudah menemukan kalau kamu pakai nama asli di lingkungan kerja ini.”
Rania mengangguk pelan. Ia tahu ini akan datang cepat atau lambat.
“Dan itu akan jadi bencana.”
“Radit, aku sudah bilang. Aku bisa jaga semuanya tetap bersih.”
Radit duduk di meja kerjanya. Ia membuka salah satu dokumen, namun matanya tak fokus ke sana.
“Yang jadi masalah... kamu ‘Soraya’ untuk Papa. Tapi kamu ‘Rania’ untuk semua orang di kantor, termasuk Reyhan.”
Rania meremas jemarinya sendiri.
“Aku gak nyangka adikmu bisa sampai kerja di sini, Radit. Aku bahkan sempat pikir kenapa kamu memilihnya.”
Radit menatapnya tajam. “Tapi dia dikirim langsung oleh Papaku. Dan... gak mungkin aku tolak mentah-mentah”
Rania mengangguk, “Dia kayaknya belum tau siapa aku. Tapi aku yakin, cepat atau lambat... dia akan sadar.”
Radit terdiam lama. Kemudian ia berkata, “Apa kamu yakin bisa menjaga ini semua tetap... rapi?”
"Setidaknya sampai kita berhasil menikah.".