Elizabeth Stuart memiliki lukanya sendiri hingga enggan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama lelaki lain. Kegagalan dalam rumah tangganya dengan sang mantan suami membuat Elizabeth memilih hidup sebagai orang tua tunggal.
Hingga suatu hari, apa yang telah ia rencanakan dan susun dengan baik hancur begitu saja dalam sekejap karena takdir berkata lain.
Hadirnya sosok lelaki yang hangat dan penuh cinta membuat Elizabeth perlahan mulai melupakan rasa sakitnya, dan belajar membuka hati.
Namun, lagi-lagi seolah takdir mempermainkan hidupnya. Sang mantan suami datang, dan memohon dengan penuh rasa cinta agar Elizabeth kembali bersamanya.
Elizabeth kini kini menjadi dilema, akankah ia lebih memilih sang mantan suami demi kebahagiaan kedua anaknya, atau justru ia lebih memilih lelaki baru yang membuatnya bangkit dan menjadi utuh kembali sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdamai dengan hati
Setelah Lizzy berhasil melumpuhkan semua orang yang menyerangnya, ia seperti tersadar kembali. Dengan segera ia menyimpan pistolnya dan menghubungi ambulance. Ketika ia akan melakukan panggilan untuk kedua kalinya tiba-tiba seseorang membalikkan tubuhnya dan memeluknya dengan erat.
"Hentikan Lizzy, jangan kotori tanganmu lagi." Jacob berkata.
"Mereka berusaha membunuhku Jacob, aku hanya membela diri," kata Lizzy sambil melepaskan pelukan mereka.
"Aku tahu, tapi tidak seharusnya kau melakukan itu lagi. Anak-anak melihatmu." Jacob berkata sambil melirik sebagai kode bagi Lizzy untuk memberitahu bahwa anak-anak mereka sedang berada dalam mobil milik Jacob.
"Astaga, kenapa kau malah membawa mereka kemari?" Lizzy bertanya dengan emosi tertahan.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Lizzy, Jacob justru menghubungi kantor polisi untuk melaporkan apa yang terjadi. Tak lama kemudian empat buah mobil ambulance dan beberapa mobil polisi datang ke lokasi kejadian.
Lizzy dimintai keterangan, ia juga diharuskan datang ke kantor polisi untuk membuat surat pernyataan. Namun bukan Jacob namanya, jika ia tak bisa membuat segala urusan itu menjadi lebih mudah. Setelah beberapa saat Jacob bernegosiasi dengan para petugas akhirnya mereka bisa pergi dari sana.
Ketika Lizzy baru saja masuk ke dalam mobil Jacob, kedua anaknya langsung memeluknya dengan erat. Clara terlihat sangat ketakutan, sedangkan David menatapnya dengan penuh rasa kagum.
"Ibu, apa kau sekarang menjadi seorang penjahat?" Clara bertanya dengan suara bergetar.
"Tidak, kau tidak boleh mengatakan ibuku seorang penjahat, merekalah yang penjahat! Apa kau tidak bisa melihat? Mobil ibu hancur, itu pasti ulah mereka, dan ibu hanya melindungi dirinya sendiri. Benarkan bu?" David berkata dengan bijak.
Tiba-tiba matanya terasa panas mendengar ucapan kedua anaknya. Hal yang paling ia takutkan selama ini akhirnya terjadi, kedua anaknya melihatnya langsung memegang senjata. Tak terasa air mata Lizzy jatuh, dan perlahan tapi pasti ia mulai menangis.
***
Sayup-sayup ia merasa mendengar suara seseorang memanggilnya, itu suara ibunya. Ia membuka matanya dengan berat, dan menoleh kearah sumber suara.
"Ibu ...." panggil Lizzy.
"Jacob sudah menceritakan semuanya pada kami Lizzy, Clara dan David sedang dibawa konsultasi ke dokter oleh ayahmu. Alexander sedang mencari tahu pelaku dibalik penyeranganmu. Jacob pergi bersama ayahmu, dia terlihat seperti ingin menerkam orang, tadi ia sangat marah. Dan kau tertidur begitu saja setelah menangis di depan kedua anakmu, Jacob yang membawamu sampai ranjang." Ibunya menjelaskan.
"Aku ... aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri bu. Sungguh, aku tak ada niatan ingin kembali ke pekerjaanku yang dulu," Lizzy menjawab dengan sendu.
"Aku tahu Lizzy. Aku adalah Ibumu, aku tahu persis bagaimana sifatmu. Aku hanya ingin bertanya, apa yang kau lakukan beberapa hari lalu? Apa yang kau cari dengan masuk ke club malam itu?" Ibunya bertanya dengan nada memaksa.
"Aku ... hanya ingin mencari tahu siapa Angeline sebenarnya. Aku ingin membuatnya jera, hanya itu." Lizzy berkata dengan lemah.
"Aku tidak pernah mengajarimu untuk membalas dendam putriku, karena itu hanya akan menghancurkan hidupmu sendiri. Lihatlah, jika kau meneruskan peperangan ini, maka kedua anakmu bisa melihat yang lebih parah dari kejadian ibunya menembak kaki empat orang pria," Ibunya berkata dengan lembut dan membelai kepalanya dengan sayang.
Kemudian, ia melanjutkan ucapannya, "Aku tahu, kau tidak seperti wanita lain. Disaat wanita seusiamu yang memiliki kehidupan papan atas sibuk berbelanja, kau memilih sibuk latihan memanah dan menembak, juga bela diri. Kau bahkan menghabiskan masa remajamu dengan membaca novel misteri bukan novel romantis. Aku juga tahu, kau tidak pernah mau diistimewakan."
"Aku tak pernah memintamu untuk berhenti dari itu semua. Tapi itu dulu, karena sekarang aku memintamu dengan sangat. Tolong berhentilah. Ada dua malaikat kecil yang membutuhkanmu. Menikahlah Lizzy, pilih salah satu dari dua orang pria yang mencintaimu. Dendam tidak akan membawamu pada kedamaian, itu hanya akan membuatmu semakin menderita."
Lizzy beranjak dari tidurnya, ia langsung duduk tegak mendengar ucapan ibunya. "Apa ibu tahu jika Daniel melamarku?" Lizzy bertanya.
"Tentu saja aku tahu Lizzy. Karena sebelumnya Daniel telah meminta izin dariku dan ayahmu untuk melamarmu. Dia pria yang baik. Kau tidak perlu melihat masa lalunya, karena kita tidak akan kembali ke masa lalu. Kita hanya perlu menatap masa depan, dengan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran hidup." Ibunya berkata dengan lembut.
"Aku ... merasa nyaman, aman, dan tenang saat bersamanya. Namun seperti masih ada ruang kosong yang tak bisa kujelaskan." Lizzy berucap.
"Kalau begitu kau memilih Jacob?" tanya ibunya.
Lizzy hanya menggeleng lemah. Karena ia sendiri pun tak tahu harus menjawab apa. Karena pada kenyataannya, ia tidak pernah benar-benar bisa menghapus nama Jacob dari hatinya. Baginya, tidak mudah menghapus jejak seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya.
Lizzy sedang menatap tetesan air hujan yang turun dengan deras melalui jendela kamarnya. Merenungkan siapa yang akan ia pilih, jika ia memilih Daniel, apakah kedepannya pria itu akan selalu menyayangi kedua anaknya?
Ada banyak hal yang harus ia pikirkan dengan baik. Ibunya benar, ia tidak bisa lagi kembali pada dirinya yang dulu, yang gemar menantang bahaya, dan menghadang moncong senjata. Ada kedua anaknya yang membutuhkannya, dan ia jelas tak mungkin menomor duakan anaknya.
"Lizzy, kau melamun lagi." Suara Alexander terdengar di sampingnya.
"Aku tidak melamun Kak, aku hanya sedang berpikir." Lizzy menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jacob bilang, belakangan ini kau sering melamun. Bahkan kau nyaris menabraknya tempo hari lalu saat kalian berpapasan di jalan raya. Dan sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan itu?" Alexander berkata sambil mengerutkan keningnya.
"Baiklah jika kau tidak mau aku memanggilmu kakak, meskipun kau memang sudah setua itu. Aku ... benar-benar sedang berpikir. Beberapa hari yang lalu, saat aku nyaris menabrak Jacob, aku sedang memikirkan jawaban atas lamaran Daniel," kali ini Lizzy menjawab sambil menatap wajah Sang kakak.
"Ibu sudah bercerita padaku, dengarkan aku Lizzy siapapun yang kau pilih nanti, kuharap mereka semua akan membahagiakanmu dan juga keponakanku. Kau harus ingat satu hal Lizzy, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan setiap orang yang melakukan kesalahan selama ia mengakui kesalahannya dan bersedia untuk memperbaikinya, maka orang itu berhak mendapatkan maaf dan kesempatan kedua."
"Kita bukan Tuhan Lizzy, kita tidak berhak menjadi hakim dalam kehidupan orang lain," kata Alex sambil menatap adiknya dengan penuh rasa sayang.
"Aku akan memikirkan kata-katamu, aku berjanji." Lizzy menjawab.
Kemudian, kakaknya menarik tangannya untuk duduk di atas ranjang. Tanpa melepaskan pegangan tangannya pada tangan Lizzy, Alex berkata dengan sangat hati-hati, "Aku sudah mengurus semuanya, pelakunya adalah Angeline dengan bantuan temannya Rachel Dorian. Sepertinya mereka memang iri padamu. Maafkan aku Lizzy karena menyeretmu dalam masalahku dengan Angeline. Kau hanyalah korban dari obsesi dua wanita itu dan seharusnya aku tidak meminta bantuanmu sebagai tameng."
"Tidak Alex, kau jangan berkata seperti itu. Mengorbankan nyawa untukmu pun aku bersedia, kau saudaraku satu-satunya. Kau selalu menjadi malaikat pelindungku sejak aku lahir sampai sebesar ini, sudah seharusnya aku juga bisa melindungimu." Lizzy menjawab dengan lembut.
"Mari kita tutup lembaran masa lalu Lizzy, menikahlah dengan pria pilihanmu siapapun itu. Dan aku akan menemukan wanita baik sepertimu diluar sana. Mari kita berdamai dengan masa lalu dan melangkah bersama menatap masa depan. Aku tidak ingin melihat adikku satu-satunya terluka lagi, berjanjilah kau akan memaafkan Angeline dan Rachel. Buang semua amarahmu, karena itu hanya akan menjadi perusak hidupmu." Alex berkata dengan raut wajah memohon pada Lizzy.
1. My Innocent Girl (up)
2. I Love You Badly (masih new)
jangan lupa mampir ya guys, aku tunggu loh ya like, komen, dan juga vote okeeyyy? okey dongg wkwkk :v🙏
kenapa harus like dan komen?
-yaa karena like dan komen kalianlah yang bisa bikin Author semangat🤗
Sekian dan terimakasihh luvv🙏💛✨🤗