Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.
Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.
Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Terbesar
Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman, namun tak mampu meredam aroma amis darah yang masih melekat di jas Galen. Lampu merah di atas pintu ruang operasi padam, digantikan oleh cahaya hijau yang dingin. Sebuah sinyal bahwa aktivitas di meja bedah telah usai, namun tragedi yang sebenarnya baru saja dimulai.
Pintu ganda itu terbuka perlahan. Dokter kepala dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua dan baju operasi yang ternoda bercak gelap, melangkah keluar. Ia mencari sosok Galen, namun langkahnya tertahan oleh Arsen yang berdiri lebih dekat ke arah koridor samping.
Galen sendiri sedang terduduk di bangku kayu, kepalanya tertunduk di antara kedua lututnya. Pria itu tampak seperti reruntuhan sebuah menara yang pernah agung.
Arsen mencegat sang dokter di sebuah sudut yang remang, menjauh dari jangkauan pendengaran Galen. "Bagaimana?" bisik Arsen, suaranya parau.
Dokter itu menghela napas panjang, sebuah getaran kecil terlihat di bahunya. "Kami berhasil menghentikan pendarahan internal Nyonya Shabiya. Dia selamat, meski kondisinya masih sangat kritis. Tapi..." Dokter itu menjeda, matanya memancarkan kesedihan yang murni. "Benturannya terlalu keras. Janinnya tidak bisa diselamatkan. Kami terpaksa melakukan kuretase darurat. Saya sangat menyesal, Arsen."
Arsen memejamkan mata. Dunia seolah berhenti berputar. Ia tahu bayi itu adalah segalanya bagi Galen, satu-satunya alasan yang membuat kegilaan pria itu terasa memiliki tujuan. Namun, sebelum Arsen sempat melangkah untuk memberi tahu tuannya, ponsel di saku jasnya bergetar hebat.
Arsen melihat layar ponselnya. Terpampang sebuah nomor privat. Ia melangkah lebih jauh ke arah jendela yang menghadap ke arah kota yang basah oleh hujan.
"Ya?"
"Dokter sudah bicara padamu, bukan?" suara itu dingin, tajam, dan sangat dikenal. Elfahreza.
"Reza... bayinya tidak selamat," ucap Arsen dengan nada getir.
"Aku tahu. Dan di sinilah peranmu dimulai, Arsen," Reza tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Jangan katakan pada Galen bahwa bayinya sudah mati. Katakan padanya bayi itu selamat tapi dalam kondisi inkubator yang sangat rahasia dan tidak boleh dikunjungi siapa pun untuk sementara."
"Apa maksudmu? Itu gila! Dia akan tahu!"
"Dia tidak akan tahu jika kau dan dokter itu bekerja sama," desis Reza. "Dengar, Arsen. Aku memegang bukti tentang penggelapan dana yang kau lakukan untuk keluargamu di kampung. Jika kau ingin adikmu tetap sekolah dan ibumu tetap bisa berobat, kau akan melakukan ini. Biarkan Galen hidup dalam harapan palsu. Biarkan dia merawat Shabiya dengan bayangan bahwa ada anak yang menunggunya. Dan ketika Shabiya sadar dan tahu bayinya mati sementara Galen mengira bayinya hidup... saat itulah mental Galen akan hancur sehancur-hancurnya. Aku ingin melihat dia membusuk dalam delusinya sendiri."
Tidak ada yang pernah tahu bagaimana cara bekerja dan apa yang sedang di pikirkan oleh Reza bahkan bawahannya sekalipun. Pria itu dan Galen sama saja dalam hal apapun, mereka seperti kembar terpisah atau bahkan seperti buah yang di bagi dua secara simetris. Tidak ada perbedaan.
Arsen mencengkeram ponselnya hingga buku jarinya memutih. Ia menoleh ke arah Galen yang masih tertunduk. Pengkhianatan ini terasa lebih tajam dari sembilu. Ia adalah orang kepercayaan Galen, namun kini ia dipaksa menjadi jembatan bagi kehancuran mental tuannya sendiri.
Arsen mematikan ponselnya. Dengan langkah berat yang dipaksakan agar tampak stabil, ia mendekati Galen. Ia memberi isyarat pada dokter —yang ternyata juga sudah berada di bawah ancaman jaringan Reza— untuk mengikuti skenarionya.
Galen mendongak saat merasakan kehadiran Arsen. Matanya merah, bengkak, dan penuh dengan permohonan yang jarang terlihat. "Arsen? Bagaimana? Katakan padaku!"
Arsen menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal kerikil. "Tuan... Nyonya Shabiya selamat. Dia sedang dipindahkan ke ruang ICU."
"Lalu bayi itu?" Galen mencengkeram lengan Arsen, kukunya menekan dalam. "Bayiku, Arsen! Katakan padaku dia selamat!"
Arsen melirik ke arah dokter, yang kemudian mengangguk kaku. "Bayinya... selamat, Tuan Gemilar. Namun, karena lahir prematur dan akibat dari benturan, kami harus menempatkannya di fasilitas isolasi High-Level Neonatal yang sangat steril. Untuk menjaga stabilitas jantungnya, tidak ada yang boleh masuk, bahkan Anda, selama beberapa hari ke depan. Kita harus meminimalisir risiko infeksi."
Galen melepaskan cengkeramannya. Ia terhuyung mundur ke dinding, lalu perlahan merosot ke lantai. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini pecah. Ia tertawa di tengah tangisnya, sebuah suara yang mengerikan untuk didengar.
"Selamat... dia selamat," isak Galen. "Thana... kau lihat? Dia tidak mati. Anak kita selamat."
Bahkan disaat seperti ini pun, wanita itu kembali terbawa dalam ingatannya.
Di balik tangis bahagia Galen, Arsen merasakan jiwanya menghitam. Ia baru saja memberi Galen sebuah obat bius berupa harapan, padahal kenyataannya, janin itu sudah berada di ruang patologi, siap untuk dikuburkan tanpa nama.
Arsen adalah orang yang menyaksikan jatuh bangunnya seorang Galen yang sekarang dikenal sebagai pemilik kegelapan. Arsen sudah mengikutinya sejak lama, sekecil apapun perubahan sikap Galen akan langsung disadari olehnya.
Tidak ada yang benar-benar baik di dunia ini. Begitu pun dengan Galen, alasan Arsen bertahan terus disisinya adalah karena pria itu memiliki janji kepada dirinya sendiri ketika dia diselamatkan oleh tuannya. Janji yang sekarang diingkari olehnya karena bersekutu dengan musuh tuannya untuk melihat kehancuran orang yang menyelamatkannya.
Arsen tidak memiliki pilihan lain saat itu, apalagi dia sangat mengedepankan keselamatan keluarganya. Salahnya sendiri yang tidak menerima pengamanan dari Galen untuk keluarganya saat dulu, sehingga ia harus terjebak dan berada dalam genggaman orang lain yang mengaturnya.
Galen bangkit berdiri dengan energi baru yang gila. "Pindahkan Shabiya ke sayap VVIP yang paling aman. Aku ingin dokter terbaik menjaganya. Dan bayi itu... pastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Aku ingin laporan setiap jam!"
"Baik, Tuan," jawab Arsen pelan, kepalanya menunduk agar Galen tidak melihat kilat penyesalan di matanya.
Malam itu, Galen berdiri di depan kaca ruang ICU, menatap tubuh Shabiya yang dipenuhi kabel dan selang. Ia tersenyum, senyuman yang sangat murni namun mengerikan. Ia merasa telah memenangkan pertarungan melawan maut. Ia tidak tahu bahwa bayi yang ia bayangkan sedang berjuang di dalam inkubator sebenarnya sudah tidak ada.
Ia juga tidak tahu bahwa Shabiya, dalam tidurnya yang dalam akibat obat bius, sedang bermimpi tentang seorang anak yang melambai padanya dari padang bunga yang jauh, seolah mengucapkan selamat tinggal.
Kebohongan terbesar telah dibangun. Galen sedang merayakan "Kehilangan Terbesar" dalam hidupnya tanpa ia sadari. Sementara di luar sana, Elfahreza sedang bersulang untuk keruntuhan sang penguasa yang tinggal menunggu waktu. Ketika Shabiya terbangun nanti, dan kebenaran ini meledak, rumah kaca yang dibangun Galen tidak akan hanya retak, tapi akan hancur berkeping-keping dan mengubur mereka semua di dalamnya.
👊nggo galen🤭
baru mulai... ky'a seru