Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menembus tirai kamar. Elena membuka matanya perlahan, tubuhnya masih terkurung dalam dekapan Alexander. Nafas pria itu hangat di tengkuknya, dan lengan kekar yang melingkari pinggangnya terasa begitu berat, seolah tak ingin melepaskannya.
Sejenak Elena membeku, mencoba mencerna kenyataan. Semalam… ia benar-benar membiarkan Alexander memeluknya. Bukan hanya itu, ia bahkan menenangkannya.
'Astaga… Elena, apa yang sudah kau lakukan?'
Ia menoleh pelan. Wajah Alexander tampak jauh lebih tenang daripada biasanya. Garis keras pada rahangnya melunak, dan bulu matanya bergerak samar. Dalam tidur, pria itu terlihat… manusiawi.
Elena menghela napas panjang. Bagian dalam dirinya menolak, ia tidak boleh merasa iba pada pria ini, pria yang dengan mudah bisa menghancurkannya. Tapi… entah mengapa, rasa iba itu tumbuh semakin kuat.
Pelan-pelan ia mencoba melepaskan diri, menggeser tangannya dari dekapan Alexander. Namun begitu ia bergerak, lengan itu justru semakin mengerat, menarik tubuh Elena kembali ke dadanya.
“Jangan…” gumam Alexander parau, masih setengah sadar. “…jangan pergi.”
Elena tertegun. Kata-kata itu menusuk dadanya. Ia menggigit bibir, menahan desakan emosinya. 'Kenapa aku… kenapa aku merasa dia benar-benar takut aku meninggalkannya?'
Ketika ia masih bergulat dengan pikirannya, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Mama…?” suara Leon terdengar dari luar. “Apa Mommy sudah bangun?”
Elena tersentak. Panik langsung melanda. Ia berusaha kembali melepaskan diri, namun dekapan Alexander masih terlalu kuat.
“Alex, lepaskan…” bisiknya cemas, mencoba menggerakkan tubuhnya. “Lepaskan! Leon ada di luar!”
Mata Alexander akhirnya terbuka, menatap Elena dari jarak begitu dekat. Tatapan itu masih buram, tapi perlahan kesadarannya kembali. Ia menatap wajah Elena beberapa detik, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Ketukan kembali terdengar. “Mama?”
Elena hampir putus asa. “Alex! Leon bisa masuk kapan saja, kumohon lepaskan aku!”
Akhirnya, Alexander mengendurkan pelukannya. Elena segera bangkit dari ranjang, merapikan rambut dan pakaiannya secepat mungkin. Ia menoleh sebentar, melihat Alexander yang duduk di tepi ranjang, menatap punggungnya dengan sorot mata yang sulit ditebak.
Elena menarik napas dalam, lalu berjalan ke pintu. Ia membukanya, menampilkan senyum hangat untuk putranya.
“Selamat pagi, sayang,” ucapnya sambil mengusap rambut Leon.
Leon menatapnya curiga. “Mama… kenapa lama sekali membukanya? Mama baik-baik saja?”
Elena tersenyum tipis, menahan gejolak hatinya. “Mama baik-baik saja. Ayo, kita sarapan.”
Leon mengangguk, namun sebelum berbalik, matanya sempat melirik ke dalam kamar. Ia melihat sekilas Alexander yang masih duduk di ranjang, wajahnya letih.
Sorot mata Leon menajam. Dalam hati kecilnya ia bergumam, "apa Papa sudah baikan dengan Mama?"
Sementara itu, Alexander tetap menatap punggung Elena yang menjauh bersama putranya. Ingatan semalam masih membekas kuat, pelukan, kata-kata lembut, dan bayangan Elie.
Alexander mengusap wajahnya kasar. Hatinya kacau. Ia benci terlihat rapuh di depan Elena… tapi entah kenapa, Alex merasa ada Elie kecil dalam diri Elena. Tapi dia tahu saat ini Elie ada di jepang. Gadis itu lebih memilih kariernya daripada bersamanya. Dan itu yang membuat Alex tak ingin lagi mengenal wanita, apalagi menikah.
“Elie…” gumamnya lirih.
Alexander berdiri perlahan dari ranjang, berjalan ke arah jendela besar yang menampilkan langit pagi yang jernih. Jemarinya menggenggam tirai, namun pikirannya melayang jauh.
Elie…
Nama itu menggema di kepalanya. Gadis kecil dengan senyum berani yang dulu menemaninya dalam kegelapan. Satu-satunya yang pernah memberinya rasa hangat, sebelum ia diambil secara paksa dari sisinya.
Alexander menutup mata rapat-rapat. Wajah Elie yang kini sudah dewasa terbayang jelas, senyum manisnya, tatapan matanya yang penuh cahaya, lalu… punggungnya yang menjauh, memilih meninggalkannya demi karier di Jepang. Luka itu masih basah, meski sudah bertahun-tahun berlalu.
"Aku tidak butuh siapa pun lagi," desisnya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Tidak ada wanita yang bisa aku percaya."
Namun ingatannya justru berkhianat, menampilkan wajah Elena semalam, tatapan matanya yang lembut ketika ia hampir runtuh, kehangatan tubuhnya saat ia mencari pelarian dari mimpi buruk.
Alexander membuka mata. "Kenapa kau mirip dengannya… Elena?"
---
Di ruang makan bawah, Elena menuang susu ke gelas Leon. Anak itu duduk rapi, namun matanya terus mengamati wajah ibunya.
“Mama… semalam Papa tidur di kamar Mama?” tanyanya polos.
Pertanyaan itu membuat Elena hampir tersedak dengan kopinya. Ia buru-buru menutupi keterkejutannya dengan senyum tipis. “Kenapa bertanya begitu, sayang?”
Leon mengangkat bahu kecilnya. “Aku lihat Papa di kamar Mama. Wajahnya kelihatan capek sekali.”
Elena terdiam sejenak. Hatinya berdebar. Ia tak ingin Leon tahu apa yang terjadi, apalagi sampai salah paham. “Papa hanya… lelah setelah bekerja. Itu saja,” jawabnya singkat, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Leon tidak bertanya lagi, namun dalam hatinya ia senang jika Mama dan Papanya kembali baikan.
---
Beberapa menit kemudian, langkah berat terdengar menuruni tangga. Alexander muncul dengan kemeja hitam, wajahnya tampak lebih tenang, meski aura otoritasnya tetap menekan seisi ruangan.
Elena menunduk, menyibukkan diri dengan piring sarapan. Leon menatap papanya lekat-lekat, mencoba membaca sesuatu dari raut wajahnya.
Alexander berhenti di dekat meja, menatap Elena sejenak sebelum duduk. “Pagi.”
Suara itu berat, tapi tidak sekeras biasanya. Elena mengangguk kecil. “Pagi.”
Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. Hingga tiba-tiba, Alexander membuka suara.
“Elena.”
Wanita itu mendongak, sedikit gugup. “Ya?”
"Maaf untuk kejadian kemarin," ucap Alexander.
Elena membeku. Sendok di tangannya terhenti di udara, matanya melebar menatap pria di hadapannya.
Alexander… meminta maaf?
“Maaf untuk kejadian kemarin,” ulang Alexander, kali ini lebih pelan, seolah kata-kata itu terasa asing baginya sendiri. “Aku… tidak seharusnya memaksamu dengan ancaman. Tentang Leon.”
Elena masih belum bisa bicara. Jantungnya berdetak kacau, karena selama ini yang ia tahu, Alexander adalah pria keras, arogan, yang lebih memilih memaksa daripada mengalah.
Alexander menegakkan tubuhnya, tatapannya tajam tapi suaranya mengandung kejujuran yang sulit ditolak.
“Mulai sekarang, aku tidak akan mengancammu lagi soal Leon. Dia putramu… dan kau mamanya. Aku tidak akan memisahkan kalian.”
Elena hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Bibirnya terbuka, tapi kata-kata tak kunjung keluar.
Namun sebelum ia bisa merespon, Alexander melanjutkan dengan suara lebih dalam, kali ini menekankan sesuatu.
“Tapi ingat satu hal, Elena. Kau boleh bersama Leon seumur hidupmu, tapi aku tidak akan pernah mengizinkanmu membawa pria lain ke dalam hidupnya. Jangan pernah mencoba mencarikan ‘Papa baru’ untuknya. Karena apa pun yang terjadi, predikat itu… hanya milikku.”
Suasana meja makan mendadak hening. Elena tercekat, antara ingin marah karena nada posesif itu, dan ingin… lega, karena setidaknya Alexander berhenti mengancam akan merebut Leon.
Namun sebelum Elena bisa berkata apa pun, suara kecil Leon terdengar lantang.
“Kalau Papa jahat sama Mama…” Leon menatap Alexander dengan mata bulatnya yang serius. “…aku yang akan cari Papa baru untukku dan Mama.”
Elena terkejut, hampir tersedak dengan jusnya. Tapi reaksi lainnya datang dari Alexander, pria itu yang biasanya penuh wibawa, tiba-tiba tersedak dengan roti di mulutnya.
“Kkhh—!” Alexander buru-buru meneguk air, wajahnya memerah. Ava yang baru saja masuk untuk menaruh dokumen di meja hampir menjatuhkan mapnya karena kaget mendengar ancaman polos dari bocah lima tahun itu.
Leon tetap duduk tegak, tidak gentar sama sekali. “Aku serius. Kalau Papa bikin Mama sedih lagi, aku nggak mau Papa lagi.”
Alexander menatap putranya, masih terengah karena tersedak, tapi sorot matanya penuh keterkejutan. Tak ada satu pun bawahannya yang pernah berani berkata begitu padanya… dan sekarang, bocah mungil itu melakukannya tanpa ragu.
Elena buru-buru meraih bahu Leon. “Sayang, jangan bicara begitu—”
“Tapi benar, Ma.” Leon menoleh ke arah Elena lalu kembali menatap Alexander dengan tegas. “Mama itu orang yang paling Leon sayang. Kalau Papa tidak bisa jagain Mama, berarti Papa gagal.”
Kata-kata itu, sesederhana apa pun, menghantam Alexander lebih keras daripada ancaman bisnis mana pun.
Ia hanya bisa terdiam, tapi kemudian tersenyum. "Tenang, Boy. Mulai sekarang Papa akan menjagamu dan mamamu. Dan jangan pernah berpikir untuk menggantikan Papa dengan Papa baru."