"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.
Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.
Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.10 -Sah
Sepanjang perjalanan, tangan Aylin sedingin es. Ia gugup, berkali-kali melirik keluar jendela. Sebentar lagi.
Sebentar lagi, hidupnya akan berubah dan tak lagi sama.
“Semoga ini yang terbaik…” gumam Aylin lirih, matanya terpejam rapat.
Rosalind, yang duduk di sampingnya, meremas tangan putrinya itu dengan lembut.
“Tenang… Ada Mama. Kamu jangan gugup. Semua akan baik-baik saja,” bisiknya.
“Iya, Ma…” balas Aylin pelan.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gereja.
Aylin menatap bangunan itu lama—tempat yang pernah ia datangi hanya untuk marah pada Tuhan.
Saat hidupnya terasa terlalu berat, saat dunia seolah tak memihaknya.
“Aku datang lagi, Tuhan… tapi kali ini untuk mengikat janji suci,” lirih Aylin, hampir seperti berdoa.
Jo dengan sigap membuka pintu mobil.
“Nona Aylin, waktunya. Saya antar sampai depan altar,” katanya ramah.
“Terima kasih, Asisten Jo. Astaga… aku gugup sekali,” kekeh Aylin kecil, mencoba menenangkan diri.
Begitu pintu terbuka penuh, ruangan langsung dipenuhi suara riuh lembut.
Anak-anak kecil berpakaian putih berjalan mendahuluinya, menaburkan kelopak bunga di sepanjang langkahnya.
Kelopak-kelopak itu jatuh perlahan, seolah dunia melambat hanya untuk dirinya.
Aylin menarik napas dalam.
Kini, tak ada lagi jalan mundur.
Aksara terpaku melihat Aylin mengenakan gaun putih—gaun yang jatuh anggun mengikuti tubuhnya, sederhana tapi justru membuat Aylin terlihat seperti sesuatu yang Tuhan ciptakan dengan lebih hati-hati hari ini.
Lace lembut di bagian atas gaunnya memeluk bahu Aylin dengan manis, sementara tulle tipis di kerahnya memberi kesan suci yang membuat Aksara sulit menarik napas.
Rambut Aylin disanggul rapi, dihiasi veil tulle tipis yang menutup wajahnya dengan lembut.
Tatapan Aksara tak bisa lepas. Seolah dunia mengecil, menyisakan hanya satu sosok perempuan di tengah langkah pelan yang disambut taburan bunga dari anak-anak kecil.
Untuk pertama kalinya sejak kesepakatan itu dibuat, Aksara merasa jantungnya berdebar hebat bukan karena kewajiban… tetapi karena Aylin. Karena hari ini, dia sadar bahwa di depannya ada masa depan yang mungkin bisa ia cintai sungguh-sungguh—dan mungkin mengubah seluruh jalan hidupnya.
Acara pun dimulai. Pendeta memberikan wejangan, mendoakan, lalu membacakan janji suci yang diikuti oleh Aylin dan Aksara. Tidak butuh waktu lama, keduanya resmi menjadi suami istri.
Kakek Harsa berseru gembira. Ia bahkan menepuk pelan lengan Hadi.
“Hadi, besok berikan bonus pada semua karyawan,” titahnya.
“Baik, Tuan,” jawab Hadi singkat.
Kirana dan Abian tersenyum tipis. Senang—tentu saja. Namun di hati seorang ibu, Kirana menyimpan sedikit kekhawatiran yang tak bisa dijelaskan.
Setelah pemberkatan selesai, Aylin dan Aksara berjalan menuju depan gereja. Mereka masing-masing memegang sepasang merpati putih, sementara para kerabat membawa balon yang akan dilepaskan bersama.
Saat MC memberi aba-aba, Aylin dan Aksara melepaskan merpati itu dengan doa dan harapan yang baik untuk pernikahan mereka. Sorak sorai terdengar riuh, tetapi di mata keduanya, hanya ada mereka berdua.
Aksara sedikit mendekat. Tanpa banyak pikir, ia mengecup bibir Aylin—ringan, singkat, tapi cukup untuk membuat gadis itu membeku di tempat.
Tadi saat Aksara mencium keningnya, Aylin masih bisa tenang. Tapi ini…
“Astaga, jantung gue gak aman,” batin Aylin panik, wajahnya memanas.
Di kejauhan, Arvano memperhatikan semuanya dengan tatapan gelap. Tangannya mengepal.
“Seandainya dunia mendukung hubungan gue dan Aksara, gue pasti udah bahagia sama dia…” ucapnya, suara rendah penuh amarah.
Pandangannya tak lepas dari Aylin.
“Lihat saja. Gue bakal pastikan kehidupan kalian nggak akan bahagia,” gumam Arvano, tersenyum sinis.
Seluruh keluarga kembali ke hotel untuk beristirahat, untuk menyambut pesta resepsi nanti malam. Bahkan mereka pun sudah memesan makan siang bersama di halaman hotel, tentu saja sang pemilih hotel Arkha sudah mempersiapkan semuanya.
*
*
Malam pun tiba, suasana sudah ramai oleh kedatangan tamu undangan. Rata-rata mereka adalah rekan kerja Kakek Harsa, ada juga tetangga Aylin yang di rumah susun. Ballroom hotel di hias sedemikian rupa, terdapat bunga segar di sekeliling ruangan.
Tak lupa foto Aksara dan Aylin, terpajang indah di pintu masuk ballroom. Rosalind dan Olivia sudah lebih dulu melihat suasana ballroom, Olivia terpaku akan dekorasi tersebut. Mewah, elegan dan manis.
Rosalind tentu berkaca-kaca, dengan semua ini. Dulu saat menikah, pernikahannya hanya sederhana dan tak semewah seperti Aylin.
"Kamu sangat beruntung, Nak." Lirih Rosalind, dalam hati dia menambahkan semoga pernikahan mu juga beruntung.
Sementara di kamar hotel, Aylin sudah selesai di rias.
"Sudah selesai, Nona. Mari kita keluar," ajak asisten MUA, Aksara sendiri sudah menunggu di ballroom.
Aylin mengangguk, lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan dengan langkah mantap dan pasti dia keluar dari kamar hotel.
Cahaya chandelier memantul lembut di lantai marmer saat dua pintu besar ballroom perlahan terbuka. Musik berhenti sejenak, bagaikan seluruh ruangan menarik napas bersamaan.
Dan di ambang pintu, Aylin muncul dengan menggenggam buket bunga. Para tamu berjajar, menyambut Aylin masuk.
Gaun—putih lembut dengan gradasi biru di bagian bawah—berkembang pelan mengikuti langkahmu. Setiap bordir bunga di kain itu seolah hidup ketika terkena cahaya, menciptakan bayangan halus di lantai, seperti taman musim dingin yang terbawa masuk bersamamu.
Rambutnya yang disanggul rendah terlihat begitu anggun dari kejauhan. Tiara perak ramping yang bertengger di atas kepalanya memantulkan kilau kecil, cukup untuk membuat para tamu berhenti berbicara dan hanya menatap Aylin yang bagai ratu sehari.
Langkah Aylin terdengar nyaris tak bersuara, tapi kehadirannya mengisi seluruh ruangan.
Bisik-bisik dari para tamu mulai pecah.
“Siapa itu…?”
“Cantik sekali…”
“Aku pikir putri kerajaan hanya ada di dongeng.”
"Iya, dari keluarga mana dia?"
Di pelaminan, Aksara berdiri terpaku—matanya langsung tertuju pada Aylin seolah dunia mengecil hanya menyisakan mereka berdua. Tatapannya tertangkap cahaya, dan dari kejauhan Aylin bisa melihat bagaimana ia menahan napas, seakan lupa bagaimana cara hidup ketika melihatnya masuk.
Saat Aylin menuruni tiga anak tangga marmer menuju pusat ballroom, roknya bergelombang lembut seperti air yang bergerak mengikuti angin. Setiap langkahnya adalah perpaduan antara keanggunan, kepercayaan diri, dan sedikit gugup yang hanya bisa dilihat oleh orang yang benar-benar mengenalnya.
Ketika Aylin tiba di dasar tangga, musik kembali mengalun. Piano, biola, pelan… seolah semuanya sengaja menunggu kedatangannya untuk kembali hidup.
Aksara—yang berdiri menunggu—melangkah maju. Tersenyum seolah seluruh malam ini memang diciptakan hanya untuk momen itu.
Aksara mengulurkan tangannya, lalu Aylin menyambut baik dan mengajak untuk naik pelaminan.
“Untuk pertama kalinya… aku merasa melihat bintang turun dari langit,” bisiknya saat Aylin cukup dekat untuk mendengar, membuat pipinya merona.
"Astaga, sejak kapan Aksara berubah jadi manis." Gumam Aylin dalam hati.
Rosalind menatap haru pada anak gadis yang kini sudah menjadi seorang istri, sebagai Ibu dia tampak bahagia melihat Aylin secantik ini.
Dan malam itu ballroom yang penuh, megah, serta ramai itu tiba-tiba terasa kecil—seakan semua cahaya, semua mata, semua napas… berpusat pada raja dan ratu sehari.
Bersambung ...
😄😄
🤣
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣