Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.
Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.
Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situasi Kediaman Senopati Wanaraja
"Aku melihat kau membawa dua pedang di punggung mu. Sepertinya kau ahli dalam menggunakan pedang.
Syaratnya, aku ingin kau menjadi lawan latih tanding ku... ", ucap Dewi Widowati segera.
" Eh ini... "
Jenar Karana tak meneruskan omongan nya, tetapi segera menoleh ke arah Wanapati yang berdiri di samping kanannya. Tahu bahwa Jenar Karana sedang membutuhkan bantuan nya, Wanapati pun segera bicara.
"Widowati, kau jangan aneh-aneh...
Kisanak Jenar Karana ini memiliki kemampuan beladiri yang sangat tinggi. Meskipun kau memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni, belum tentu kau bisa menahan serangan nya. Kalau sampai itu terjadi dan kau terluka, kanjeng romo pasti akan menghukum Jenar Karana. Itu sama juga dengan mencelakai nya. Sebaiknya urungkan niat mu untuk menantang Pendekar Jenar Karana.. ", peringat Wanapati.
" Kalau mendengar cerita Kangmas Wanapati, aku semakin tertarik untuk menjajal kemampuan berpedang teman mu ini..
Pendekar tampan, ayo bertanding dengan ku...!! "
Usai berkata demikian, Dewi Widowati mencabut pedang nya dan bersiap untuk bertarung. Dia bahkan melakukan kembangan ilmu pedangnya.
"Gusti Wanapati, bagaimana ini? ", Jenar Karana menatap Wanapati dengan serba salah.
Hemmmmmmmmm...
" Adik ku memang keras kepala, Saudara ku. Ladeni saja apa mau nya, usahakan untuk tidak melukai nya", pasrah Wanapati sambil menghela nafas panjang.
Tak ingin bertarung dengan menggunakan senjata pemberian Maharesi Siwanata dan Resi Mpu Tidu, Jenar Karana memutar otak. Matanya memutar ke sekeliling halaman kediaman Senopati Wanaraja itu. Senyum nya merekah lebar kala melihat sebuah ranting kayu di dekat tempat pembakaran sampah di pojokan halaman. Dia pun bergegas memungut ranting pohon jambu sepanjang satu depa itu.
"Kok kamu pakai ranting, tidak pakai pedang mu Jenar? Apa itu bisa digunakan untuk melawan Gusti Putri Widowati? ", berondong pertanyaan Si Kundu terdengar.
" Ini saja sudah cukup, Kundu.. ", jawab Jenar Karana sambil tersenyum.
Dewi Widowati mendengus dingin mendengar apa yang dikatakan oleh Jenar Karana. Ini jelas meremehkan kemampuan beladiri nya. Perempuan cantik yang memakai kemben warna merah ini langsung menjejakkan kakinya kuat-kuat ke tanah sebelum melesat cepat ke arah Jenar Karana sambil mengayunkan pedangnya.
Shhrreeeeeeeeeeeeettttttttt!
Dengan santai, Jenar Karana melompat mundur sambil menangkis sabetan pedang Widowati. Begitu keduanya mendarat di tanah, Dewi Widowati segera melayangkan serangan cepat bertubi-tubi ke arah si pendekar muda.
Jenar Karana mengadakan Ilmu Pedang Tanpa Wujud nya, meskipun hanya menggunakan sebatang ranting, mampu mengimbangi serangan serangan Dewi Widowati yang cepat dan mengincar titik titik mati di tubuhnya, bahkan ia beberapa kali mampu memojokkan pergerakan Dewi Widowati. Ini membuat Dewi Widowati semakin beringas dalam menyerang.
Shhrreeeeeeeeeeeeettttttttt shhrreeeeeeeeeeeeettttttttt!!!
Thhrrrraaaaaannggg thrriiiiiiiiiinnggg...!!
Dua puluh jurus berlalu dengan cepat. Awalnya Limbu Jati dan Si Kundu khawatir saudara seperguruan nya akan terluka oleh Dewi Widowati, tetapi menginjak jurus ke dua puluh satu, senyum mereka langsung lebar.
Jenar Karana yang dari awal pertarungan hanya menggunakan tiga jurus awal Ilmu Pedang Tanpa Wujud kini yang mengandalkan pertahanan dan sesekali menyerang, mulai menggunakan jurus berikutnya dan ini benar benar membuat Dewi Widowati kelabakan.
Gerakan Jenar Karana yang semula lamban kini berbalik arah menjadi cepat dan berbahaya. Ditambah lagi ia memiliki Ajian Sepi Angin yang membuat gerakan tubuh nya seringan kapas dan selincah burung layang-layang, memaksa Dewi Widowati dalam posisi bertahan.
Dhhaaaaaasssss..!!
Ooouuuuuuuuggggghhh!
Satu sabetan ranting kayu Jenar Karana menghajar punggung Dewi Widowati yang terlambat menghindar. Meskipun tidak terlalu keras, tapi nyatanya Dewi Widowati harus terpelanting ke belakang. Meskipun ia dengan cepat berbalik badan hendak bergerak lagi, tetapi ujung ranting pohon jambu milik Jenar Karana sudah menempel di lehernya.
"Kau sudah kalah Gusti Putri, sebaiknya latih tanding ini kita sudahi saja", ucap Jenar Karana sambil tersenyum tipis.
" Tapi aku masih... "
"CUKUP WIDOWATI...!!! "
Suara serak nan berat itu membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara dan seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal serta jambang lebat berdiri disana. Wanapati dan Gelarsena langsung menghormat pada nya. Dialah Senopati Wanaraja, pimpinan prajurit Kadipaten Bhagawanta yang juga merupakan ayah Wanapati dan Dewi Widowati.
"Hormat kami Kanjeng Romo...
Mohon jangan murka pada Saudara Jenar Karana. Ananda yang meminta nya untuk melakukan latih tanding dengan Dinda Widowati", ucap Wanapati segera.
Hemmmmmmmmm...
" Aku tahu itu karena kau selalu menuruti apa mau adik mu itu. Inilah akibatnya jika terlalu memanjakannya.
Widowati, kemampuan mu sudah hebat. Bahkan mungkin kakak mu ini saja akan kesulitan jika bertarung melawan mu. Tapi mengapa kau selalu lebih menuruti ego mu heh? Tidak bisakah kau bersikap lembut sedikit seperti seorang putri bangsawan lainnya? Kau ini haehhh... ", omel Senopati Wanaraja dengan wajah sedikit kecewa.
" Widowati hanya ingin keluarga kita tidak diremehkan Kanjeng Romo..
Meskipun perempuan, Widowati juga ingin menjadi salah satu kebanggaan Kanjeng Romo dan Kanjeng Biyung. Jadi sudah sewajarnya saja jika Widowati belajar ilmu kanuragan, sebagai putri seorang senopati Widowati tidak mau nama baik Kanjeng Romo hanya dibebankan pada Kangmas Wanapati seorang ", sahut Dewi Widowati dengan tegas.
" Kau ini huh....
Sudahlah, aku tak mau ribut dengan mu untuk perkara ini. Toh sudah ada yang bisa mengalahkan mu, jadi kau bisa mengerti bahwa sehebat apapun seorang pendekar pasti ada pendekar yang lebih hebat ", ujar Senopati Wanaraja sembari melirik ke arah Jenar Karana.
" Aku belum kalah Kanjeng Romo, aku masih bisa bertarung melawan nya", ucap Dewi Widowati yang masih keukeuh dengan pendapatnya.
"Kalah ya kalah saja, jangan menjadi orang yang mau menang sendiri Widowati..
Kau tahu, kalau anak muda ini menggunakan semua kemampuan beladiri nya, mungkin kau tidak sampai sepuluh jurus sudah terkapar di tanah.. "
Mendengar apa yang diucapkan oleh Senopati Wanaraja, Dewi Widowati terkejut. Sebagai seorang pimpinan prajurit Kadipaten Bhagawanta yang kenyang makan asam garam dunia peperangan, tentu Senopati Wanaraja memiliki kemampuan untuk menilai kekuatan seseorang. Jika dia sampai memuji Jenar Karana, bisa dipastikan bahwa orang ini benar-benar punya kemampuan.
"Ananda mengerti, Kanjeng Romo.. ", jawab Widowati sambil menghormat. Senopati Wanaraja lalu mengalihkan perhatian nya pada Jenar Karana yang masih diam ditempatnya.
" Anak muda...
Aku tadi melihat kau menggunakan Ilmu Pedang Tanpa Wujud dari Padepokan Pesisir Selatan. Apa hubungan mu dengan Resi Mpu Tidu? "
Jenar Karana langsung menghormat pada Senopati Wanaraja sebelum berbicara.
"Hamba murid Resi Mpu Tidu, Gusti Senopati..
Ini Kakang Limbu Jati dan Kundu. Mereka adalah saudara seperguruan hamba di sana.. "
"Pantas saja kau begitu hebat dalam bermain pedang. Apa lagi kau menggunakan jurus yang kau gunakan untuk mengalahkan anak ku Widowati tadi. Bagus, bagus sekali...
Oh iya, kalau boleh tahu apa tujuan mu kemari? ", tanya Senopati Wanaraja kemudian. Sebagai seorang pimpinan prajurit Kadipaten Bhagawanta, ia wajib menaruh curiga pada siapapun yang datang ke kota ini apalagi kalau orang ini memiliki kemampuan beladiri tinggi seperti Jenar Karana.
" Kami bertiga diutus Guru untuk menjadi bantuan pengawalan Gusti Dyah Rangga ke Galuh Pakuan, Gusti Senopati. Kemarin tanpa sengaja bertemu dengan Gusti Wanapati di Watak Bagelen. Jadi kami kemari bersama dengan beliau .. ", jawab Jenar Karana dengan jujur.
Senopati Wanaraja kemudian menoleh ke arah Wanapati dan Gelarsena. Keduanya mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Jenar Karana.
" Kalau ada kalian dalam pasukan pengawal Gusti Dyah Rangga, aku bisa tenang..
Hanya sayang, kepala pengawal Gusti Dyah Rangga ke Galuh Pakuan kali ini dipegang oleh Rakryan Pu Tungu. Kalian harus sering menahan diri dari sikap sombongnya ", lanjut Senopati Wanaraja yang membuat Wanapati dan Gelarsena saling berpandangan satu sama lain.
APAAAAAAAA...??!!
" Si bodoh itu?!!
Kanjeng Romo, Rakryan Pu Tungu hanya orang bodoh yang menjadi pejabat karena ia anak Werdhamantri Pu Cakri. Bukankah terlalu gegabah untuk mempercayakan keselamatan Gusti Dyah Rangga pada orang itu? ", protes Wanapati segera.
"Haeeehhhhh...
Aku juga tahu itu, Wanapati. Tapi ini adalah perintah dari Gusti Adipati Dyah Saladu. Aku tak berani untuk membantah nya. Aku cuma berharap kalian bertiga nantinya akan sungguh-sungguh menjaga keselamatan Gusti Dyah Rangga selama perjalanan", Senopati Wanaraja mengalihkan perhatian pada Jenar Karana, Limbu Jati dan Si Kundu.
"Kami mengerti Gusti Senopati.. ", ucap Jenar Karana, Limbu Jati dan Si Kundu sambil menghormat.
" Sudah sudah Kanjeng Romo...
Urusan pengawalan Gusti Dyah Rangga, sebaiknya dibahas lagi esok saja. Malam ini mereka bertiga akan menginap dimana? Ananda rasa di balai tamu kediaman keluarga kita masih ada tempat kosong", potong Wanapati segera.
"Usul mu boleh juga. Widowati, kau siapkan tempat beristirahat untuk ketiga tamu terhormat ini.. "
Dewi Widowati langsung melotot kaget mendengar perintah dari ayahnya itu,
"APAAAAAAAA...???!!!
Aku....??!! "
lam