Jika aku bisa memilih antara dia atau dirimu maka aku tak kan pernah ingin mengenal kalian..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selvi Noviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
"Sudah membaik sayang dan tak perlu ada yang di khawatirkan.." jawab Dera dengan tersenyum
sedangkan sang dokter terlihat menganggukkan kepalanya.
"Namun setiap satu minggu sekali datang ke rumah sakit untuk mengontrol keadaan pasien.." ucap Sang dokter
"Baiklah kalau begitu terimakasih dok, saya akan menghantarkan istri saya untuk cek keadaanya." jawab Dion dengan tangan yang mengusap puncak kepala Dera.
Dokter pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya
"Kalau begitu saya pamit dulu pak.. ingin melihat pasien yang lainnya" Ucap sang dokter
"Hemm..Terimakasih dok.." Jawab Dion
Setelah sang dokter tak terlihat lagi, Dion pun menatap Dera. ada banyak yang ingin di pertanyakan namun ia tak ingin membuat dera merasa risih karna Dera pun baru kembali dari komanya, ia tak ingin merusak momen kebahagiaannya bersama dengan sang istri.
"Mas.. siang ini kita bisa pulang kan, aku merindukan anak-anak kita.." ucap dera yang kini meletakkan gelas air minum di meja sampingnya
"Iya sayang.."jawab Dion yang kini tersenyum bahagia
Dera dan juga Dion terlihat mengobrol dengan serius membicarakan perkembangan si kembar yang mulai aktif . Terlihat Dera yang antusias saat mendengarkan kata-kata setiap kedua anak mereka yang bertahan dari awal terlahir hingga saat ini.
"Sehingga suami ku dan ayah dari si kembar tak lagi memperhatikan keadaanya saat ini ya.." sambung dera di tengah-tengah Dion yang sibuk memperhatikan kedua anaknya
"Bagi mas.. Kamu dan juga si kembar begitu penting. kalian adalah kekuatan mas, kalian motivasi untuk mas terutama kamu sayang. Kamu adalah penyemangat dan juga kekuatan mas di saat mas rapuh.." jawab Dion yang kini mengenggam tangan Dera
"Maafin dera mas.. sungguh tidak ada niat dera untuk membuat mas susah bersedih atau pun apa yang mas fikirkan selama ini. Dera hanya tak ingin membuat mas bersedih, dera tak ingin membuat mas kepikiran apa lagi saat itu Dera sedang hamil si kembar mas.." ucap Dera
"Karna aku tak ingin kehilangan si kembar yang selama ini kita nantikan. " sambung Dera
"Terimakasih sayang.. Terimakasih sudah bertahan dan kamu rela sakit hanya karna ingin melengkapi kehidupan rumah tangga kita.. " jawab Dion yang kini memeluk tubuh sang istri
"Aku mempunyai kewajiban seperti itu mas..Kamu berhak bahagia dan kamu harus tahu jika kita semua akan di hadapkan pada kenyataan yang manis sekaligus pahit.." ucap Dera
"Maksudnya..?" tanya Dion yang kini beralih menatap wajah Dera
"Kita tidak bisa memprediksi kehidupan mas.. Apa pun dan bagaimana pun kita harus sama-sama siap menghadapi semuanya" ucap Dera
"Ahh sudah lupakan mas.. semua hnya lah kata-kata saja, hidup dan mati seseorang tidak ada yang tahu bukan.." sambung Dera dengan tangan yang mengusap wajah Dion
Dera memperhatikan Dion yang masih terdiam.
"Mas .." panggil Dera
"Mas.." panggil dera kembali namun tetap tak ada respon
"Mas dion.. !" ucap Dera dengan suara yang sedikit keras
"Ahh iya sayang, kenapa ?" tanya Dion yang terlihat kaget dengan menatap Dera
"Kamu kenapa ?" tanya dera yang menatap samg suami
"Tidak.. Ayo kita pulang " ucap Dion yang kini mengambil kursi roda di sampingnya
Dion memapah tubuh sang istri dengan pelan, lalu mendudukkan tubuh sang istri ke kursi roda dan tak lama kemudian Dion pun mendorongnya meninggalkan ruangan. Tak ada percakapan antara Dion dan juga Dera mereka nampak diam seribu bahasa saat melewati seluruh ruangan yang ada di rumah sakit.
"Ayo sayang.. " ucap dion yang kini telah sampai di parkiran mobilnya
Dion membantu Dera yang berjalan dengan pelan saat memasuki mobilnya
"Hati-hati sayang.. " ucap Dion yang kini membantu dera
"Terimakasih mas.. " jawab Dera yang kini sudah ada di dalam mobil
Dion pun tersenyum dan menganggukan kepalanya lalu menutup pintu mobil sang istri, Setelah pintu tertutup Dion pun masuk kedalam mobilnya.
Dion menghidupkan mesin mobilnya dan tak lama kemudian ia mengendarai dengan kecepatan sedang
Justru karena mencintai itu rela mengalah membiarkan Dia bahagia dengan Dunianya dan kebebasannya tanpa harus terkekang dengan segala aturan yg kita buat.
Level tertinggi mencintai itu, ketika kita rela melepaskannya disaat hati sangat mencintainya 😊
Hingga akhirnya jatuh sejatuh²nya dan berakhir dengan kecewa dan luka.
Apabila semua itu blm siap maka jaga hati untuk tidak jatuh cinta 🤧
Bukan perpisahan yang ditangisi, tapi pertemuan yang harus disesali..
Kecewa sama diri sendiri dan hati yang begitu mudahnya jatuh cinta dan terbuai 🥺
ada hubungan apa merekaa sama dera..