Demi harta warisan, Gadhiata rela menikahi gadis cupu pilihan sang kakek. Pernikahan sandiwara yang akan mereka jalani apakah berjalan sesuai rencana? Apa Hanum sang calon istri akan diam saja saat mengetahui dia hanya dipakai sebagai alat? Bagaimana jika Hanum marah, apakah gadis cupu itu akan menjadi suhu? Hanya untuk membalas dendam pada perlakuan Arrogant Gadhiata selama ini padanya yang memandang sebelah mata.
Baca juga novel Sept yang lain :
Rahim Bayaran
Suami Satu Malam
Dinikahi Milyader
Suamiku Pria Tulen
Dea I love you
My boss my Husband
Pernikahan Tanpa rasa
Menikahi pria dewasa
Cinta yang terbelah
Wanita Pilihan CEO
The Lost Mafia Boy
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena
KANINA yang Ternoda
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oleng
Crazy Rich Bagian 31
Oleh Sept
Madam Li sudah masuk ke dalam sebuah kamar dengan fasilitas VIP. Kamar hotel yang mereka sewa, lebih besar dari pada kamar Gadhi. Kamar mandi yang luas, dengan bathtub yang lumayan besar, rasanya sangat cukup berendam untuk dua orang.
Ketika madam Li masuk, Hanum dan Gadhi sedang bersitegang. Keduanya tampak saling menatap penuh benci.
"Kenapa melangar perjanjian?" protes Hanum. Ia marah atas aksi Gadhi setelah prosesi akad tadi.
"Kau suka uang, kan? Nanti akan aku kirim ke rekeningmu! Jangan bahas lagi, itu tadi agar Kakek percaya!" kelit Gadhi. Padahal Gadhi melakukan itu karena panas melihat mantan. Ia menjadikan Hanum sebagai pelampiasan kemarahannya pada Tafli.
Hanum semakin marah.
"Kau pikir aku wanita apaan? Gadis bayaran? Bisa kau jamah sesuka hatimu?" ujar Hanum marah.
"Madam! Bisa tinggalkan kami? Kami harus bicara berdua!" pinta Gadhi yang melihat madam Li mendengarkan keributan mereka.
Madam pun mengangguk, ia sedikit membungkuk. Kemudian meletakkan meja dorong yang berisi penuh dengan makanan. Tentunya menu yang istimewa, mengandung banyak unsur kimia yang mampu membuat keduanya berubah 180 derajat.
"Permisi, Tuan ... Nona. Silahkan dimakan, mumpung masih hangat. Kalau membutuhkan sesuatu, kalian bisa langsung memanggil kami."
Madam Li pamit kemudian mundur, ia berbalik lalu membuka pintu. Sambil tangannya memegang knop, dalam hati ia berguman, "Harusnya simpan energi kalian untuk nanti malam, jangan bertengkar di awal. Kalian bisa lelah!"
KLEK
Suara pintu ditutup.
"Bagaimana?" sekretaris Jo langsung menghampiri madam Li. Pria itu buru-buru mengunci pintu dari luar.
"Apa yang kau lakukan sekretaris Jo?" dahi madam Li mengkerut, ia mengeryitkan dahi saat melihat aksi konyol sekretaris Jo. Bisa-bisanya pria itu mengunci pengantin baru di dalam kamarnya.
"Sesuai permintaan tuan besar. Kita harus memastikan keduanya tidak keluar kamar 24 jam."
Mata madam Li terbelalak, sungguh ia tidak habis pikir. Bagaimana bisa tuan besar memiliki ide seperti ini.
"Kamu yakin ini permintaan tuan besar?" tanya madam Li curiga.
"Astaga! Madam Li pikir ini kemauanku? Yang benar saja!" protes sekretaris Jo yang tersinggung karena dicurigai.
Madam Li pun sedikit terkekeh, "Oke. Kunci saja, jangan dibuka!" timpalnya kemudian.
Hal itu membuat sekretaris Jo bengong.
'Sebenarya kau sama saja denganku, Madam!' gerutu sekretaris Jo dalam hati.
***
Kamar pengantin, presidential suite. Kamar VIP dengan fasilitas kelas satu yang top di hotel tersebut. Lantainya bahkan dipenuhi dengan kelopak bunga yang khusus diimpor dari Bulgaria dan Maroko.
"Jangan merasa rugi! Kau diciumm pria sepertiku. Itu sudah nilai plus," ujar Gadhi penuh rasa percaya diri.
"Dan lagi ... aku bisa berikan banyak uang ganti rugi! Hanya kulit ketemu kulit, kamu juga gak rugi!" tambah Gadhi dengan kasar.
Hanum jadi dongkol, nafasnya naik turun menahan kesal.
"Ganti rugi? Tuan Muda Gadhi! Aku tekankan sekali lagi! Aku bukan wanita bayaran!" salak Hanum dengan nada tinggi. Suara Hanum melengking seperti penyanyi seriosa ternama.
"Cih ... jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan dengan kakek di belakangku! Kau hanya mau harta kami! Jangan pakai topeng polosmu di depanku! Aku tahu kau gadis seperti apa!" tuduh Gadhi, ia terus saja memojokkan Hanum dengan segala tuduhan yang menyudutkan gadis tersebut.
Hanum membuang napas berat.
"Lalu bagaimana denganmu? Kau menikah hanya karena ingin mendapat warisan! Kau orang kaya, tapi sebenarnya miskin! Tanpa kakekmu kau bukan apa-apa! Kau hanya berlindung di bawah ketiak kakekmu!" ujar Hanum marah.
"Dasar kau!!" Gadhi menunjuk Hanum dengan telunjuknya. Sepertinya pria itu mulai keluar taringnya.
"Apa? Kenapa? Kau tidak terima? Bukankah ini memang kenyataan? Aku kasihan padamu! Demi harta kau bisa melakukan apa saja!"
"Cukup! Dan diam!"
Hanum melipat tangan di da da. Gadis itu masih memakai baju resepsi, belum ia lepas semua pernak-pernik yang melekat pada tubuhnya, tapi Gadhi sudah mengajak ia ribut. Aksi marahnya barusan, membuat perutnya jadi lapar.
Dengan gusar ia menarik meja yang ada rodanya tersebut. Sambil menahan emosi, Hanum pun makan. Cacing dalam perutnya mulai demo. Nanti ia akan lanjut lagi pertengkaran mereka, sekarang ia mau mengisi amunisiii dulu.
'Astaga! Dia bahkan masih bisa makan? Gadis aneh!' gumam Gadhi.
Pria itu jadi gerah sendiri. Gadhi pun memutuskan untuk mandi. Setelah itu ia akan keluar dan meninggalkan kamar yang terasa menyebalkan tersebut. Ada Hanum, membuat ia emosi saja.
***
Gadhi mandi cukup lama, ia berendam air hangat agar tubuhnya rileks. Marah-marah pada Hanum, membuat kepalanya pusing dan stress mendadak. Kalau terus-terusan perang otot dengan Hanum, Gadhi yakin mungkin sebentar lagi ia akan diserang stroke.
Habis mandi, dengan masih mengenakan bathrobe, Gadhi keluar mengambil baju ganti. Dilihatnya Hanum sudah selesai makan. Gadis itu seperti beruang gemuk yang kekenyangan.
"Kau bahkan belum menghapus make up, langsung makan begitu. Astaga ... dasar!" Gadhi kembali menghina.
Sementara itu, Hanum tidak peduli. Tapi lama-lama ia kok merasa gerah. Setengah jam habis makan, mendadak tubuhnya terasa panas. Sepertinya reaksi obatnya sudah mulai menjalar di tubuh gadis tersebut.
'Kok gerah gini? Pasti baju ini bikin kepanasan, apa karena habis makan?' batin Hanum kemudian mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Tanpa peduli pada Gadhi. Ia menganggap Gadhi seperti angin, ada tapi tidak terlihat.
Ketika Hanum mandi, Gadhi pun berganti pakaian dengan santai. Kemudian meraih ponsel. Pria itu mengetik pesan untuk sekretaris Jo.
[Siapkan mobil, ke kamarku sekarang!]
Sambil menunggu balasan sekretaris Jo, Gadhi menyesap kopi yang sudah dingin. Ia sesap sampai habis. Sedangkan makanan, ia hanya menatapnya. Melihat piring Hanum kosong, membuat pria itu langsung kenyang.
"Dasar beruang! Selera makannya menakutkan juga!" gumamnya menghina.
Lima menit kemudian.
"Ke mana ini Jonathan?"
Gadhi kemudian menelpon nomor Jonathan. Tapi malah dimatikan.
Tut Tut Tut
"Heiii!! Apa-apaan ini?"
Gadhi kemudian mengirim pesan ke ponsel madam Li.
[Katakan pada sekretaris Jo, suruh dia menemuiku sekarang!]
Tidak kunjung mendapat balasan, Gadhi pun menelpon madam Li. Sayang, nomornya malah tidak aktive.
"Kalian!!! Memang benar-benar mau dipecat!" rutuknya marah.
Gadhi pun beranjak, ia meraih jas dan langsung mau keluar dan memarahi para anak buahnya yang abai tersebut.
KLEK ... KLEK ... KLEK
"Sialannn!" makiii Gadhi keras.
Ia marah ketika sadar bahwa dikunci lagi. Kali ini bersama Hanum, tiba-tiba otaknya mulai berpikir dan menangkap apa yang sedang terjadi.
"JOOO!!!"
KLEK
Pria itu kemudian menoleh ke belakang, dilihatnya Hanum berjalan dengan tidak biasa. Wajahnya merona, dan gadis itu terus memegangi kepalanya.
"Kau ... kau baik-baik saja?"
Hanum hanya menelan ludah, kemudian kembali berjalan dan langsung naik ke atas ranjang.
'Ada apa dengan tubuhku ... kenapa? Aduh ... apa ini? Kenapa panas sekali?'
Gadhi mencoba berpikir, ia kemudian akan menelpon lewat telpon di kamarnya itu. Tapi malah diabaiakan. Seolah semua sudah direncanakan dengan matang.
"Siallll!"
Dilihatnya Hanum mengeliat, dan itu semakin membuat Gadhi panik.
"Apa yang kau lakukan?"
Gadhi langsung mengambil selimut dan menarik bad cover. Ia mencoba membungkus tubuh Hanum. Sebab gerakan Hanum membuat pa hanya tersibak. Cukup mulus, sehingga membuat Gadhi resah.
"Tetap pakai ini!" titah Gadhi sambil melilitkan lagi selimut yang lain.
Hanum yang memang kepanasan, semakin merasa sesak. Dengan kesal ia membuang semua lilitan yang melekat pada tubuhnya.
"Hanumm!! Heiii ... hentikan. Apa yang kau lakukan?"
Gadhi melotot saat Hanum malah melepas dan melempar bathrobe yang tadi ia kenakan dengan asal. Apalagi terlihat jelas kacamata kuda warna ungu yang membuat konsentrasi pria tersebut langsung buyar. Gadhi seketika hilang fokus. BERSAMBUNG
Aduh ... Kapal oleng, Ndan. Hehehe
eh, konspirasi..
.....
si sulung aku umur 8 th baru punya adek.
aku menyaksikan sendiri,walau bukan aku yg mengalami.ada keluarga yg boleh dikata mampu dan berkecukupan tapi masih juga resahndan ingin menguasai harta saudaranya yg lain.padahal sdh dibagi rata oleh orangtua mereka dulunya.sampai memutuskan tali silaturahmi dg saudara2nya yg lain.