NOTE: SEDANG TAHAP REVISI! (Sudah tersedia versi buku cetak)
Bagaimana rasanya, saat harus menikahi seorang gadis yang tak pernah kita inginkan? Jangankan menginginkannya, memikirkannya saja tidak pernah terlintas.
Randy Sebastian, Siswa SMA berusia 18 tahun yang terkenal nakal di Sekolahnya. Memiliki wajah tampan, dan berlesung pipi, yang membuatnya terlihat semakin manis. Harus dihadapkan dengan kenyataan yang tak pernah dia harapkan, dimana dia harus menikahi Dania Hamish, seorang Siswi yang memiliki wajah jauh dari kata cantik. Berusia 17 tahun, berkulit putih, berkaca mata tebal, memiliki tompel di pipi kanannya, dan rambutnya selalu diikat dua, karena sebuah insiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahdania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi ini Dania sudah berada di Sekolah, Dia sedang asyik dengan ponselnya sambil tersenyum. Rupanya dia sedang chatting dengan orang yang sudah beberapa hari ini membuatnya berbunga-bunga.
Si mesum; kangen♥
Dania; Baru beberapa menit yang lalu ketemu.
Randy; Iya, tapi udah kangen lagi, aku pengen peluk kamu♥
Dania; Iya, nanti peluk kalau udah di rumah.
Randy; Bener ya, boleh lebih dari peluk 'kan?
Dania; Lebih nya kaya gimana dulu?.
Randy; Ya, boleh kiss juga enggak?.
Dania; Iya, boleh.
Randy: Yeay, thank you sayang♥
Wajah Dania pun memerah membaca pesan Randy yang memanggilnya dengan sebutan sayang.
Randy; I love you♥
Dania; Huh, ada maunya aja bilang love.
Randy; Hehe, beneran aku cinta kamu, cinta banget, banget, banget, pokoknya♥
Dania tersenyum membaca pesan Randy, saat Dania akan membalas pesan Randy tiba-tiba seseorang datang dan menggebrak mejanya. Dania pun terkejut dan melihat ke arah orang tersebut, ternyata Sasha yang menggebrak mejanya.
Wajah Sasha terlihat merah padam, tatapannya tajam seolah siap untuk menerkam, dan tangannya bahkan mengepal.
"Lo kenapa?" tanya Dania bingung.
"Ada hubungan apa lo sama Randy?" tanya Sasha.
"Apa urusannya sama lo?" tanya Dania.
"Jelas ada urusannya, gara-gara lo Randy jadi jauhin gue!" geram Sasha.
Dania mengerutkan dahinya menatap Sasha dan mulai berjalan mendekati Sasha.
"Kok, jadi gara-gara gue, sih?" ucap Dania berpura-pura polos.
"Dasar kegatelan, lo itu bodoh atau pura-pura bodoh sih, ha?" tanya Sasha.
Dania menjadi kesal mendengar ucapan Sasha, Dania bahkan sudah mengepalkan tangannya.
"Apa lo bilang?" tanya Dania geram dan menatap Sasha tajam.
Sasha pun menyunggingkan senyuman sinis.
"Ke-ga-te-lan!" ucap Sasha dengan penuh penekanan.
Sasha mendorong Dania hingga Dania menabrak seseorang. Dania pun melihat ke arah orang tersebut dan ternyata Baim yang menahannya, dia tak sampai terempas ke lantai.
Baim pun berjalan mendekati Sasha.
"Aaarrgghh... sakit, sakit!" Sasha meringis saat Baim mencengkram bahunya dengan kuat.
Dania terkejut melihat apa yang Baim lakukan, dia tak menyangka Baim akan membelanya setelah semua yang dia lakukan pada Baim.
"Sekali lagi lo bikin rusuh di kelas, gue bakal laporin lo ke Guru, biar sekalian orangtua lo disuruh datang ke sini!" ancam Baim sambil mengempaskan tubuh Sasha.
sasha pun menabrak meja yang ada di belakangnya, dia bergegas kembali ke kursinya dengan geram dan menghentakkan kakinya.
Sementara itu, Baim berjalan menuju kursinya.
"Cepat duduk, aku mau duduk juga," ucap Baim.
Dania duduk dan disusul oleh Baim yang juga mulai duduk.
"Kok, lo masih mau belain gue? padahal 'kan gue--"
Belum sempat Dania menyelesaikan ucapannya, Baim sudah memotongnya.
"Gue ga belain siapapun, ini udah jadi tanggung jawab gue sebagai ketua kelas," ucap Baim.
"Tapi tetap aja. Makasih, ya," ucap Dania tulus dan tersenyum.
"Hhmmm ..." Baim hanya berdehem tanpa melihat Dania.
Tak lama, Guru pun dan memulai kegiatan belajar.
Dua jam kemudian.
Bell istirahat berbunyi dan murid-murid berhambur keluar kelas menuju kantin. Dania, Mia dan Ina bergegas menuju kantin. Sesampainya di kantin, mereka bertiga langsung memesan makanan dan selang beberapa menit, makanan pun datang.
Dania mulai memakan makanannya, Tapi di tengah kegiatan makannya, ponsel Dania bergetar.
Satu pesan masuk dan pesan itu dari Randy.
Dania pun tersenyum dan mulai membaca pesan Randy.
Randy; Makan yang banyak love, biar tambah montok♥
Dania mengerutkan dahinya membaca pesan Randy, dia melihat ke sekeliling dan melihat Randy dari kejauhan yang ternyata juga tengah melihatnya. Dania pun tersenyum dan membalas pesan Randy.
Dania; Emang aku ga montok apa?
Randy; Kurang sedikit, hehe.
Dania; Huh, aku ga mau tambah montok, nanti kebablasan jadi gendut.
Randy; Ya ga apa-apa, biar enak dipeluk. Aku terima kamu apa adanya, kok.
Dania; Dasar gombal.
Randy; Biarin, yang penting kamu cinta aku.
Dania; Ihhh, enggak tuh.
Randy tak membalas pesan Dania.
Dania melihat Randy dan ternyata Randy pun melihat ke arahnya, tapi tatapannya kini berubah menjadi dingin. Dania tersenyum dan mulai mengetik pesan.
Dania; Maksud adek nggak salah lagi bang, enggak salah lagi adek cinta abang, cinta pokoknya sama abang, suer♥♥♥♥
Dania melihat Randy yang tengah membaca pesan darinya, Randy sedang tersenyum lebar membaca pesan dari Dania.
'Dasar, cowok aneh,' gumam Dania sambil tersenyum.
***
Bel pulang berbunyi. Dania, Mia dan Ina jalan bersama menuju parkiran.
"Jalan dulu, yuk, ke Mall, kek," ucap Mia.
"iya yuk, bosen nih," ucap Ina.
Dania tersentak saat Mia menepuk bahunya.
"Lo ikut 'kan?" tanya Mia.
Dania pun berpikir sejenak.
'Gue ga boleh boros, Randy 'kan belum gajian,' batin Dania.
"Ayolah, udah lama, lho, kita ga jalan bareng," ucap Ina.
"Oke deh, tapi bentar ya, aku bilang Randy dulu," ucap Dania.
Mia dan Ina mengangguk.
Dania langsung mengirimkan pesan pada Randy.
Dania; Aku pergi sama Ina sama Mia, ya, cuma makan doang paling.
Randy; Oke, tapi abis itu langsung pulang, ya.
Dania; Iya.
Randy; Kalau gitu aku langsung ke tempat kerja.
Dania; Iya, hati-hati, ya.
Randy tak membalas pesan Dania, sepertinya dia sedang mengemudi. Dania, Mia dan Ina bergegas menuju mobil Ina dan pergi menuju Mall yang berada di daerah Jakarta Pusat.
Sesampainya di Mall.
"Duh, laper nih. Makan dulu, yuk," ucap Mia.
Dania dan Ina pun mengangguk.
"Ada restauran Chinesse food enak di lantai tiga A, kesana, yuk!" ajak Mia.
Dania Ina pun mengikuti Mia menuju lantai tiga A.
Sesampainya di lantai tiga A, mereka bertiga bergegas menuju restauran yang di maksud. Setelah memilih meja, merekan pun mulai memesan makanan.
Sambil menunggu pesanan datang, Dania asyik memainkan ponselnya. di tengah kegiatannya, Dania melihat ke arah seorang pelayan Restauran yang kira-kira berada sekitar empat meter dari tempat duduk Dania. Pelayan itu terlihat sedang dimarahi oleh salah satu pengunjung Restauran, Dania melihatnya tak suka, Dia mengepalkan tangannya dan matanya mulai memerah.
Dania pun bangun dari duduknya.
Brak.
Dania menggebrak meja dengan keras, membuat semua pengunjung Restauran tersebut terkejut dan melihat ke arahnya, pelayan itu pun tak kalah terkejutnya saat melihat Dania.
Mia dan Ina pun menatap bingung pada Dania.
"Lo kenapa?" tanya Mia.
"Sorry, gud pulang duluan," ucap Dania kemudian bergegas keluar dari restauran. Belum sempat sampai di pintu keluar, sekali lagi Dania melihat ke arah pelayan Restauran itu dan ternyata pelayan Restauran itu pun tengah melihatnya.
Dania pun memalingkan wajahnya dan bergegas meninggalkan Restauran tersebut dengan wajah merah padam, dan tangannya yang masih mengepal.