NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Di Gerbang Hijau Bab 15: Jembatan Kata Dan Aroma Harapan

Valaria kemudian berjalan menuju jendela kamarnya. Ia menatap ke luar, menembus kegelapan malam di mana hujan masih setia membasahi bumi. Di tengah deru air itu, Valaria merasakan gairah dan tekad yang baru. Dengan kata-kata ini, ia akan menemukan jalan keluar. Ia akan membuktikan bahwa seorang perempuan desa juga bisa meraih impian setinggi langit, mengurus keluarga tidak hanya dengan otot, tetapi juga dengan kecerdasan dan kekuatan pena.

Pagi itu, desa diselimuti kesejukan yang menenangkan setelah semalam suntuk diguyur hujan deras. Udara yang terhirup terasa murni dan dingin, membawa aroma khas tanah basah yang membangkitkan semangat. Kabut tipis masih menggantung rendah di pucuk-pucuk pohon, menyerupai selimut lembut yang enggan beranjak. Di ufuk timur, sinar matahari mulai mengintip malu-malu dari balik sisa-sisa awan kelabu.

Di dapur sederhana keluarga mereka, Valaria sudah bergerak lincah sejak fajar menyingsing. Ruangan itu terasa hangat berkat kayu bakar yang mulai berkobar di tungku. Aroma asap kayu bercampur dengan wangi fermentasi singkong yang manis dan sedikit asam. Valaria mengenakan kain sederhana yang dililitkan di pinggang dan kemeja usang, namun sorot matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

Hari ini adalah hari pembuktian. Selama beberapa hari terakhir, Valaria telah bekerja keras mengolah singkong menjadi tepung halus.

"Akhirnya," gumam Valaria pelan sembari merasakan tekstur tepung singkong buatan sendiri di ujung jemarinya. Begitu halus, putih, dan bersih.

Ia memutuskan untuk membuat variasi hidangan: tape goreng (rondo royal), bakwan renyah, dan kue kecil tradisional. Valaria merindukan cita rasa yang berbeda dari jajanan pasar biasa, dan ia yakin penduduk desa akan merasakan hal yang sama.

Ia mulai mencampur tepung dengan air sedikit demi sedikit, mengaduknya perlahan hingga membentuk adonan kental yang berkilau. Ia menambahkan sedikit gula dari kaleng tua dan sebutir telur yang sengaja ia sisihkan.

"Sedikit manis, sedikit gurih. Semoga ini berhasil," bisiknya penuh harap.

Suara mendesis saat adonan menyentuh minyak panas di wajan menjadi melodi pagi yang sempurna. Aroma harum gorengan itu segera memenuhi seisi rumah, menggoda siapa pun yang menciumnya.

"Sudah siap!" seru Valaria sembari menata gorengan di atas tampah beralaskan daun pisang. Tape goreng berwarna keemasan dan bakwan sayur yang renyah tertata rapi di sana.

Ibu, dengan wajah letih namun penuh harap, menjadi orang pertama yang mencicipi. Beliau mengambil sepotong tape goreng yang masih mengepul, meniupnya sebentar, lalu menggigitnya. Mata Ibu terpejam sejenak, meresapi kelembutan tekstur yang dihasilkan oleh tepung buatan putrinya.

"Nak," suara Ibu sedikit bergetar karena emosi. "Ini... ini jauh lebih enak dari biasanya. Tepungmu membuat teksturnya sangat lembut. Kamu benar-benar berbakat."

Pujian itu membuat dada Valaria sesak oleh kebahagiaan. "Benarkah, Bu?"

"Ya. Jual ini, Ayah yakin pasti laris manis," timpal Ayah yang ikut mencicipi dengan anggukan mantap.

Karena memiliki misi lain, Valaria menyerahkan tanggung jawab berjualan hari ini kepada Ibu dan Raka. Mereka akan membawa keranjang-keranjang itu ke tepi jalan utama dekat pasar.

"Aku minta maaf tidak bisa ikut berjualan, Bu. Tapi hasil dari kota nanti pasti akan sangat membantu kita," ujar Valaria. Di tangannya, ia memegang tas kain lusuh berisi harta karunnya: lembaran kertas penuh tulisan tangan. Syair dan puisi yang ia susun dalam keheningan malam.

Perjalanan menuju pusat kota terasa panjang, namun semangat di dadanya membakar rasa lelah. Ia tiba di depan sebuah bangunan megah bergaya kolonial yang meski catnya mulai kusam, tetap memancarkan wibawa. Itulah Gedung Persatuan Surat Kabar dan Radio Lokal.

Valaria mengatur napasnya yang tercekat sebelum mendekati pintu masuk kantor surat kabar. Ia menyapa seorang wanita paruh baya yang sibuk membawa tumpukan koran.

"Permisi, Nyonya," kata Valaria sopan. "Apakah saya bisa menawarkan tulisan, puisi, atau sajak untuk dimuat di sini?"

Wanita itu mengerutkan dahi, menatap pakaian sederhana Valaria dari atas ke bawah. "Kami jarang menerima kontribusi luar, Nona, kecuali karyanya memang luar biasa. Tapi, cobalah bicara dengan meja redaksi di dalam."

Setelah menunggu cukup lama di ruang tunggu yang berbau tinta dan kertas, Valaria akhirnya ditemui oleh seorang asisten redaksi. Dengan hati berdebar, Valaria menyerahkan puisi paling emosional yang ia tulis, berjudul "Bisikan di Tengah Kabut Pagi".

Asisten itu awalnya tampak acuh, namun saat matanya mulai menelusuri baris-baris kalimat Valaria, raut wajahnya berubah. Ia terdiam cukup lama, membaca setiap bait dengan cermat. Diksi yang digunakan Valaria sederhana namun jujur, memotret kepahitan dan keindahan desa dengan cara yang sangat menyentuh.

Tak lama, Pemimpin Redaksi, seorang pria tua berkacamata tebal bernama Tuan Baskara, keluar dari ruangannya. Beliau memegang kertas Valaria dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Luar biasa! Ini adalah suara baru yang kami butuhkan. Puitis, jujur, dan mudah dicerna oleh rakyat," seru Tuan Baskara lantang. "Siapa namamu, Nak?"

"Valaria, Tuan."

"Kami akan memuat karyamu, Valaria. Kami butuh konten lokal yang menyentuh hati pembaca," ujar Tuan Baskara sembari menawarkan kerja sama rutin. Valaria diminta mengirimkan karya dua kali seminggu.

Tuan Baskara menjelaskan sistem honorariumnya: Rp3.000 untuk dua puisi, Rp3.500 untuk satu cerita pendek, dan Rp5.000 untuk sebuah artikel. Untuk ukuran masa itu, angka tersebut adalah jumlah yang sangat besar bagi Valaria. Sebagai tanda kerja sama, Tuan Baskara memberikan uang muka sebesar Rp1.500 untuk puisi pertama tersebut.

Dengan tangan gemetar karena haru, Valaria menerima uang itu. Namun, ia tidak berhenti di situ. Ia segera menuju gedung radio di sebelah. Di sana, ia bertemu penyiar yang tengah mencari materi saiar. Valaria menawarkan sebuah syair tentang harapan. Pihak radio sangat menyukai gaya bahasanya yang segar dan membeli syair tersebut seharga Rp3.000.

Valaria keluar dari gedung itu dengan membawa uang Rp4.500 di tangannya. Sebuah kemenangan besar dari kekuatan kata-kata. Ia segera menuju pasar untuk membelanjakan uang tersebut sesuai kebutuhan mendesak keluarga:

• Buku tulis baru: Rp1.000

• Pensil: Rp200

• Penghapus: Rp100

• Kentang: Rp1.000

• Telur: Rp750

• Minyak goreng: Rp1.300

• Total Belanja: Rp4.350

Tersisa uang Rp150 di kantongnya yang ia simpan erat-erat. Saat berjalan pulang, ia melihat kedai orang tuanya dari kejauhan. Kedai itu sudah sepi, keranjang-keranjangnya kosong melompong.

Raka yang melihat kakaknya datang dari jauh langsung berlari menyambut dengan antusias. "Kak Valaria! Habis! Ludes semua! Gorenganmu luar biasa!" seru Raka sembari melompat kegirangan.

Valaria tersenyum lebar senyum tulus yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia memeluk Raka, meski bau minyak dan singkong masih menempel di baju adiknya.

Sore itu, mereka pulang bersama menyusuri jalanan desa yang mulai kering. Di satu tangan Valaria membawa bahan makanan bergizi, di tangan lain ia membawa janji masa depan yang lebih cerah. Kabut telah benar-benar hilang, dan matahari sore bersinar penuh, seolah merestui langkah Valaria. Ia tahu ini baru permulaan, dan pena di tangannya akan menjadi jembatan bagi keluarganya menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!