Terlahir serupa tidak membuat kehidupan Mawar Atmaja dan Melati Atmaja memiliki kisah yang sama, karena setelah kelahiran mereka, kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, sehingga kedua saudara kembar itu harus hidup terpisah.
Sang kakak Melati dibawa Ibunya merantau di kota besar, sementara Mawar harus tinggal bersama ayahnya yang seorang petani di desa nya.
Sampai akhirnya keduanya sudah dewasa dan dipertemukan kembali, saudara kembar itu terlibat dalam cinta segitiga, sang adik kembar yang diam-diam mencintai suami dari kakak kembarnya, berniat ingin merebut Rafael Kusuma Hadinata, segala cara telah Mawar lakukan supaya Rafael tertarik padanya, karena iri dengan kehidupan Melati yang berkecukupan, serta memiliki suami yang tampan dan kaya raya, Rafael adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar batu bara, membuat Mawar semakin berambisi untuk memiliki apa yang saudara kembarnya miliki, sampai pada suatu malam semuanya terjadi begitu saja, Rafael dijebak oleh Mawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NASIB BAIK ATAU BURUK???
Melati terkejut mendengar pertanyaan lelaki yang ada didepannya, dia berusaha mengingat kejadian tempo hari di Bandara, dan ketika Melati berhasil mengingat wajah lelaki yang bertabrakan dengannya waktu itu, dia tersenyum seraya menjabat tangan Aldino.
"Ah iya aku lupa, perkenalkan namaku Melati, aku baru bekerja disini selama beberapa hari." Melati berjabatan tangan dengan Aldino dan mereka berkenalan secara formal disana.
"Sekali lagi maaf dan Terima kasih ya Melati, aku tidak menyangka jika Aurelia bisa akrab denganmu dalam waktu sesingkat ini, padahal biasanya dia sangat tertutup pada orang yang baru dijumpainya." Aldino menggendong Aurelia yang tertidur kelelahan.
"Mungkin kebetulan saja dia ingin berteman denganku, kalau bisa tolong sering-sering ajak dia bermain ya, karena ku lihat dia selalu mengeluh jika harus bermain seorang diri."
"Baiklah, kami pergi dulu." Aldino berpamitan seraya menyunggingkan senyumnya.
Tanpa terasa hari berganti dengan cepat, kedekatan Aurelia dengan Melati semakin terhalin setiap harinya, bahkan Melati sering dimintai tolong oleh Aldino untuk menjaga Aurelia selama dia belum pulang bekerja, jadi setelah jam pelajaran Aurelia selesai, gadis kecil itu akan menunggu pekerjaan Melati di Play Group selesai, baru setelah itu, Aurelia ikut ke kontrakan Melati, mereka menghabiskan waktu bersama disana, sampai dia minggu berlalu, tiba-tiba kesehatan Melati menurun, dia sering kelelahan dan merasa ingin muntah, tapi tidak bisa dimuntahkan, Aurelia yang selalu bersama Melati ketika jam belajarnya selesai merasa hawatir, gadis kecil itu memeluk Melati dengan berurai air mata.
"Ibu peri tidak boleh sakit ya, kalau ibu peri sakit Aurel sama siapa nanti, ibu peri harus ke Dokter ya, biar Papa yang antar ibu peri ke Dokter." Ucap Aurelia sesegukan.
"Ibu tidak apa-apa sayang, sepertinya ibu hanya masuk angin saja, istirahat sebentar juga akan baik-baik saja, Aurelia bisa tidak bermain sendiri dulu, ibu harus istirahat sebentar, kalau Aurel ingin makan atau minum panggil ibu di kamar ya." Jelas Melati seraya mengecup kening gadis kecil itu.
Aurelia menganggukan kepalanya seraya mengusap air matanya, gadis kecil itu berjanji akan menjadi anak yang baik selama Melati beristirahat di kamarnya, Melati menyunggingkan senyumnya dengan berjalan tertatih ke kamarnya.
Sore itu Aldino pulang lebih cepat karena ingin mengajak Aurelia dan Melati makan malam bersama di restaurant, tapi sesampainya di kontrakan Melati, rumah kecil itu nampak gelap dari luar, dengan panik Aldino mencoba menghubungi Melati melalui ponselnya, tapi dia tidak menjawab telepon nya, dan di dalam rumah itu Aurelia sudah berjanji akan menjadi anak yang baik, dan dia benar-benar tidak rewel ataupun nakal, ketika gadis kecil itu mendengar suara ponsel Melati, gadis kecil yang tertidur disamping Melati yang sedang terbaring pucat itu, berusaha menjawab telepon itu tapi tangannya tidak mampu menggapai ponsel yang ada di atas meja.
Bruugh...
Aurelia jatuh tersungkur ke lantai dan membuat barang yang ada di atas meja terjatuh, ponsel Melati pun ikut terjatuh, hingga akhirnya gadis kecil itu bisa menerima panggilan telepon dari Papanya.
"Hallo, ini siapa, ibu peri sedang sakit, dia tidak bisa menjawab telepon." Suara lugu Aurelia membuat Aldino semakin panik.
"Aurel sayang ini Papa, kalian dimana nak, katakan pada Papa, biar Papa yang akan membawa ibu peri ke Dokter." Seru Aldino dengan panik.
"Aurel di kamar ibu peri pa, dari tadi siang ibu peri tidur dan tidak bangun lagi, Aurel takut Papa."
"Sayang keluarlah, buka pintu rumah ini, saat ini Papa ada di luar, cepatlah sayang." Aldino berdiri tepat di pintu depan kontrakan itu, nampak wajahnya sangat cemas, bagaimanapun dia merasa bertanggung jawab dengan keadaan Melati saat itu, karena setelah bekerja di Play Group Melati masih harus mengurus dan menjaga anaknya, meski dia memberi gaji pada Melati, tetap saja lelaki itu merasa hawatir.
Aurelia berusaha membuka kunci kontrakan Melati, gadis kecil itu bersusah payah meraih kunci yang menggantung di atas tembok, tanpa berpikir panjang, dia mendorong kursi kecil dan naik naik di atasnya, dengan begitu dia akan lebih mudah mengambil kunci yang menggantung itu.
Cekleek...
Aurelia menghambur ke pelukan Papanya, dia menjelaskan tentang kondisi Melati, Aldino berlari ke arah kamar Melati, nampak perempuan itu terbaring dengan wajah yang pucat, Aldino membopongnya ke mobil dan membawanya ke Rumah Sakit.
Dokter memeriksa keadaan Melati selama beberapa menit, hingga akhirnya seorang Dokter perempuan keluar dari ruangan pemeriksaan, Dokter itu menghampiri Aldino dan menjabat tangannya.
"Selamat ya Pak, istri anda sedang hamil, dan usia kehamilan nya sembilan minggu, anda tidak perlu hawatir, istri anda hanya kelelahan dan kurang vitamin saja, setelah ini saya akan memberikan resep vitamin apa saja yang harus diminum nya."
Deegh...
Jantung Aldino seakan berhenti untuk sesaat setelah mendengar penjelasan Dokter itu, hampir dua minggu dia mengenal Melati, dan dia sangat tau jika Melati belum mempunyai suami, karena dia hanya tinggal seorang diri, bahkan setiap hari Aldino menitipkan Aurelia disana dengan tanpa rasa curiga.
Apakah perempuan itu bukan orang baik-baik, tapi melihat sikapnya pada Aurel, sepertinya dia perempuan yang baik, aah sudahlah itu bukan urusanku, lebih baik ku katakan semua ini padanya, batin Aldino didalam hatinya penuh tanya.
Aurelia berlari memeluk Papanya, Aldino membuka lebar tangannya dan mendekap putri kecilnya. "Papa, ayo kita jenguk ibu peri, aku sangat mencemaskan nya." Aurelia berkata dengan wajah sendunya.
Aldino menghembuskan nafasnya panjang, antara ragu dan bimbang, dia sangat ingin bertanya dengan Melati, apakah dia sudah memiliki suami.
"Terima kasih ya Pak, sudah membawaku kesini, jika tadi Aurel tidak bersama ku, entah apa yang akan terjadi." Melati masih terbaring di atas brangkar dengan senyum kecil nya.
Nampak Aldino hanya menganggukan kepalanya, lidahnya seakan keluarga untuk berkata, sampai akhirnya Melati bertanya tentang diagnosa Dokter pada dirinya, Aldino menundukan wajahnya seraya memberikan kertas resep pemberian Dokter.
"Ini adalah Vitamin untuk menjaga kandunganmu tetap sehat, kau terlalu kelelahan dan kurang vitamin saja." Jelas Aldino tidak memandang wajah Melati.
Bagaikan disambar petir di sore hari, Melati terkejut dengan membulatkan kedua matanya, dia memegangi perutnya dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Maaf jika aku lancang, setauku kau tidak memiliki suami, bagaimana kau bisa hamil Mel?." Tanya Aldino dengan menundukkan kepalanya.
Sontak saja Melati menangis tersedu-sedu setelah mendengar pertanyaan Aldino, dia baru bisa menyadari keadaan saat itu, jika dia tengah hamil anak Rafael, setelah mereka resmi berpisah, tidak kuat menahan deritanya, Melati turun dari ranjang dan berlari ke luar Rumah Sakit, dia menangis dengan membungkam mulutnya, Aurelia yang mencemaskan ibu perinya, meminta Papanya untuk mengejarnya.
...Bersambung....