Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Penantian
...Selamat membaca semuanya.. ...
Mata Frederick memandangi lekat putrinya yang merenggut kesal, melipat tangan di dada menatap ke arahnya marah. Dia tidak menjawab omelan wanita itu, dari dia datang hingga sekarang. Omelan merujuk pada rencana membunuh pria bernama Kim Do Woo, dendam yang terpendam sejak kejadian itu, masih tersimpan erat dalam dirinya.
"Kalau tidak dibunuh, lebih baik buat tangannya patah!" aura dingin terpancar di matanya, hembusan napas Frederick memahami kekesalan putrinya.
Dia ikut merasa marah karena pria itu sudah berani menyentuh putrinya. Tapi, kontrak kerja mereka masih panjang. Dan itu mengharuskan mereka menunda rencana tersebut.
Lalu pembahasan beralih pada sniper saat di Hotel. Rania marah karena Papahnya terlihat begitu tenang dan biasa saja, padahal dia rasanya sudah ingin mencabik pembunuh bayaran itu.
"Jika sudah tertangkap bilang padaku, aku juga ingin ikut andil dalam proses eksekusi bajingan itu," Rania bersuara sambil berjalan meninggalkan ruangan Papahnya, sebelum menghilang dari pintu, dia kembali membalikkan badan dengan ekspresi yang berubah lebih cerita.
"Papah.." panggilnya dengan nada manja, Papahnya memandang dia menunggu Rania melanjutkan ucapannya. "Acara pertunangannya buruan! Rania tidak mau terlalu lama," lanjutnya merengek mengundang gelak tawa dari Frederick. Pria itu tahu betul bahwa putrinya tidak sabar menikah dengan Boris.
Sebuah anggukan mantap dia berikan untuk Putrinya dengan berkata, "Papah akan persiapkan secepatnya. Beberapa hari lagi, jadi tunggu saja ya, sayang.." jawaban yang membuat Rania bersemangat lalu meninggalkan ruangan itu diiringi teriakan.
"Rania sayang Papah!" teriak Rania kencang dari luar hingga terdengar oleh Frederick.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Diletakkannya kotak kayu berukuran sedang tersebut di atas meja perlahan. Jackson dan Jessy memandangi Kakaknya dengan raut wajah bingung serta curiga.
"Titipan dari Nona Rania untuk Jessy," dua bola mata Jessy membulat dan buru-buru membuka kotak tersebut, matanya berbinar dengan senyum yang merekah.
"Buat Jessy, Kak?" deheman singkat Boris menjawab semua rasa curiga tadi. Jackson ikut terkejut dan merasa aneh melihat perhiasan di dalam kotak tersebut yang terbilang sangat banyak.
"Kenapa Kak Rania baik sekali dengan kita? Ini serius tidak masalah kita gunakan kartu dan perhiasan dari dia?" hembusan napas panjang Boris terdengar berat, menandakan dia juga merasa sedikit bingung.
"Kakak tidak tahu. Gunakan saja seperlunya, dan jangan berfoya-foya. Kami belum resmi bertunangan," Jackson dan Jessy tersenyum jahil memandang lekat Kakaknya.
"Cie.. Kakak jadi nikah dengan Kak Rania," goda Jackson dan mendapat colekan dari Jessy pada lengannya.
Boris menatap kedua adeknya dengan tatapan kosong, dia masih merasa ragu dengan keputusan yang dia ambil benar atau salah. Dia takut salah langkah dan justru bisa menyakiti banyak pihak.
"Kakak masih ragu, banyak kejadian di Korea yang membuatku belum pantas bersama dengannya," terdengar tidak bersemangat, keresahan pada lubuk hatinya masih sama. "Apa Kakak pantas?" Jackson memutar bola matanya malas, decakan sebal terdengar dan Jessy tersangkanya.
"Dramatis sekali, melebihi actingku saat bekerja," ejek Jessy disenggol oleh Jackson dan mendapat acungan jempol pria itu.
"Bukankah kalian saling suka?" Boris mengangguk, jentikan jari Jackson terdengar. "Kalau begitu tidak perlu khawatir, ada aku dan Jessy siap membantumu," matanya bersih tatap dengan saudaranya, mereka mengulum senyum dan mengangkat beberapa kali alis mereka seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Ada apa dengan tatapan kalian?" Boris merasa curiga dan perlahan bangkit dari duduknya, berusaha menghindar dari saudara kembar itu. "Jangan macam-macam!" peringatan dari Boris justru membuat mereka berdua tertawa, dirasa ngeri Boris memilih kabur menjauh dari mereka.
Dia masuk ke dalam kamarnya, merebahkan dirinya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya seraya membayangkan wajah cantik Rania. Wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Senyum terbit dibibirnya, melupakan kegundahan yang sempat melanda tadi.
"Sedang apa dia? Rasanya aku ingin cepat bertemu dia lagi," tangannya memegang dada sebelah kiri, merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat saat membayangkan Rania.
"Aku menyukai Rania.. Cantik," gumamnya dengan mata terpejam, hingga dia terlelap dari tidurnya.
...Bersambung.....
Terima kasih sudah mampir ya, jangan lupa like dan komennya. Tunggu bab selanjutnya.
•> Biarkanlah aku tidak konsisten dengan perasaanku dan keputusanku. Aku menyukainya tanpa ada niatan untuk memiiki, karena aku tidak mau egois. Dia tidak menyukaiku. Hanya ini yang bisa aku lakukan agar perasaanku terobati. Bahagia di sana ya. Jangan nakal. Rokoknya dikurangi. 😄