NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Hampir

​Malam itu terasa sunyi dan berat, seolah udara pun menahan napas. Pukul sebelas malam, aku masih duduk di ranjang utama, menyelesaikan laporan medis untuk Rumah Sakit Merdeka. Lampu kamar kutahan seminim mungkin, hanya lampu baca kecil yang menyala, cukup untuk meredam nyctophobia-ku sekaligus menghormati kebiasaan Arvino.

​Arvino masih berada di ruang kerjanya. Aku tahu dia minum. Aku bisa mencium bau alkohol yang samar, bahkan dari kejauhan. Bau yang memuakkan, bau yang menandakan keputusasaan.

​Sekitar pukul dua belas malam, terdengar suara langkah kaki yang terseret dan canggung di tangga. Arvino.

​Pintu kamar utama terbuka pelan. Arvino masuk. Dia tidak menyalakan lampu, hanya memanfaatkan cahaya remang-remang dariku. Dia berdiri terhuyung-huyung, dasinya terlepas, beberapa kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan dadanya yang bidang. Wajahnya merah padam, bukan karena demam, tapi karena wiski.

​Dia tidak pergi ke sofa. Dia berdiri di samping ranjang, menatapku.

​Aku segera menutup laptopku. Jantungku berdebar kencang. Aku tidak tahu apakah ini Arvino yang mabuk dan emosional, atau Arvino yang marah dan siap melampiaskan.

​"Kak Vino?" panggilku pelan.

​Arvino tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata sayu, pandangannya tidak fokus. Matanya mencari sesuatu, bukan aku, tapi mungkin bayangan yang ia rindukan.

​Perlahan, Arvino menjatuhkan dirinya di sisi ranjang, tepat di depanku. Dia mencondongkan tubuh, bau alkohol menyeruak kuat. Tangannya yang dingin terangkat, menyentuh pipiku.

​Aku membeku. Ini adalah sentuhan pertama yang ia berikan selain sentuhan amarah atau paksaan. Sentuhan yang terlalu lembut, terlalu rapuh.

​"Sarah..." bisiknya, suaranya parau, penuh kerinduan.

​Hatiku mencelos. Tentu saja. Dia sedang merindukan Sarah, dan di tengah kabut alkohol, ia salah mengira aku adalah istrinya yang telah tiada.

​"Sarah... Kenapa kau tinggalkan aku? Aku sendirian..." keluhnya, ibu jarinya mengusap air matanya yang jatuh.

​Arvino mendekat. Aku menahan napas. Jarak di antara kami tinggal sejengkal. Aku bisa merasakan napas panasnya. Aku tahu apa yang akan terjadi. Rasa takut dan rasa rindu yang sudah lama kupendam berperang hebat dalam diriku.

​Saat wajahnya semakin dekat, ia memejamkan mata. Bibirnya menyentuh keningku. Bukan ciuman gairah, hanya ciuman perpisahan yang terlambat, ciuman keputusasaan.

​"Aku merindukanmu..."

​Tiba-tiba, dia membuka mata. Pandangannya yang kabur perlahan menemukan fokus. Dia melihat mataku yang terbuka lebar, melihat rambut hitamku yang panjang, bukan rambut Sarah yang agak pendek. Dia melihat Aluna. Bukan Sarah.

​Kengerian seketika terpancar di wajahnya.

​Arvino menarik diri secepat kilat, seolah aku adalah bara api yang membakar. Dia terhuyung mundur, punggungnya menabrak dinding.

​"Tidak! Tidak! Apa yang kulakukan?!" Arvino menjambak rambutnya sendiri.

​Dia menatap tangannya yang baru saja menyentuhku, lalu menatapku dengan jijik yang diarahkan pada dirinya sendiri, bukan padaku.

​"Aku mengkhianatimu, Sarah! Aku menyentuhnya! Wanita yang kubenci! Wanita yang... wanita yang..." Dia tidak bisa melanjutkan kata 'pembunuh' karena kebenaran Dr. Adrian yang masih menghantuinya.

​"Aku kotor! Aku pengkhianat!" Arvino memaki dirinya sendiri. Dia menendang kursi di dekatnya hingga terbalik.

​Dia berjalan ke sudut ruangan, bersandar ke dinding, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat. Itu bukan lagi tangisan duka karena kehilangan, melainkan tangisan malu dan jijik atas kelemahannya sendiri. Dia telah mencapai batas moralnya.

​Aku hanya duduk diam di ranjang. Aku tidak bergerak, tidak bicara. Aku mengamati kehancurannya. Sentuhan tadi, meskipun didasari kesalahpahaman, menggerus sisa-sisa kebencian yang ia genggam. Namun, dia terlalu terikat pada kesetiaan mati untuk membiarkan dirinya maju.

​"Aku harus menceraikannya," bisik Arvino ke dinding. "Aku harus menceraikannya agar aku tidak mengkhianati Sarah lagi."

​Aku terkesiap. Cerai. Kata itu membuat hatiku mencelos, bukan karena Arvino, tapi karena Lili.

​Aku turun dari ranjang, berjalan mendekatinya dengan hati-hati.

​"Kak Vino," panggilku pelan. "Lupakan apa yang terjadi. Kakak mabuk."

​Arvino mengangkat wajahnya. Matanya merah dan bengkak. Dia menatapku dengan pandangan yang benar-benar hancur.

​"Aku akan menceraikanmu. Kau akan bebas. Kau akan bisa hidup dengan martabatmu, dan aku akan berhenti mengkhianati Sarah," ulangnya, nadanya putus asa.

​"Bagaimana dengan Lili?" tanyaku, itu satu-satunya hal yang penting.

​"Papa akan merawatnya. Atau Mama. Aku akan memastikan Lili baik-baik saja," kata Arvino.

​Aku menggeleng. "Tidak. Lili baru saja kehilangan ibunya. Dia tidak boleh kehilangan satu-satunya sosok ibu yang dia kenal sekarang. Kakak ingat apa kata Papa? Jika kita cerai, Papa akan mengklaim Lili."

​Kata-kataku mengenai sasaran lagi. Ekspresi putus asa Arvino semakin dalam.

​Aku menatapnya dengan dingin, memaksakan diri untuk mengabaikan rasa kasihan yang mulai tumbuh. "Kakak tidak bisa menceraikanku. Kakak terlalu takut kehilangan Lili. Jadi, lanjutkan saja kontrak kita. Kakak tidur di sofa. Aku tidur di ranjang. Dan jangan pernah menyentuhku lagi, apalagi saat Kakak mabuk."

​Aku berbalik dan kembali ke ranjang.

​Arvino hanya berdiri di sana, terperangkap di antara kesetiaannya pada yang mati dan ketakutannya pada yang hidup. Dia tahu aku benar. Dia tidak bisa menceraikanku.

​Akhirnya, dia mengambil bantalnya dari sofa dan melemparkannya ke lantai. Dia tidak bisa tidur di sofa yang sama denganku. Dia melangkah keluar kamar, menuju kamar kerjanya, meninggalkan aku sendirian di ranjang.

​Aku berbaring, memejamkan mata. Sentuhan singkatnya tadi, meskipun ditujukan pada wanita lain, adalah pengakuan pertama Arvino atas kesepiannya. Pengakuan yang tidak ia berikan dengan sadar.

​Aku tahu, benteng Arvino sebentar lagi akan runtuh. Tapi aku harus memastikan dia jatuh ke dalam jurang penyesalan, bukan jurang kebebasan dengan Clara.

...****************...

Bersambung...

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
ya mengajar kan kita bahawa,separah apapun luka itu,jika kita mampu memaafkan dengan iklas walaupun tidak akan membuat pecahan kaca bisa utuh kembali.
kalea rizuky
bodoh aja harga diri di injak mau balik bilang aja lu gatel bodoh bt di jadiin ban serep doank lu mau najis
kalea rizuky
laki menjijikkan
kalea rizuky
egois ne si sarah uda mati aja nyusain
kalea rizuky
enak jaa minta maaf dihh
kalea rizuky
move on donk masak mau bekas kakak sendiri
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!