Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 — HASRAT DAN RASA BERSALAH
Bu Kanti tidak berlama-lama. Wanita itu meninggalkan teko tanah liat yang mengepulkan uap berbau melati di atas meja, lalu melangkah mundur keluar pintu dengan gerakan halus tanpa suara. Sebelum pintu tertutup, ia sempat menatap Raka dan Siska bergantian. Tatapan itu bukan tatapan ramah seorang ibu, melainkan tatapan seorang peternak yang sedang menghitung masa kawin hewan ternaknya.
"Minumlah," bisik Bu Kanti sebelum menghilang di balik kegelapan senja. "Supaya hangat. Supaya nyatu."
Pintu tertutup. Kunci berputar sendiri—lagi.
Keheningan kembali menyergap ruang tengah Joglo. Namun kali ini, keheningan itu memiliki tekstur yang berbeda. Jika sebelumnya terasa tajam dan penuh ancaman, kini udaranya terasa tebal, lengket, dan berdenyut.
"Jangan diminum," kata Nara tegas, menatap teko itu seolah berisi sianida.
"Tapi baunya, Nar..." Raka menelan ludah. Jakunnya naik turun. Mata Raka yang cekung terpaku pada teko itu. "Baunya kayak... kayak rumah."
Aroma teh itu memenuhi ruangan dalam hitungan detik. Bukan bau teh biasa. Itu campuran aroma bunga kantil, gula batu, dan sedikit sentuhan musk—aroma tubuh manusia yang berkeringat. Aroma itu merangsang kelenjar ludah sekaligus membuat kepala pusing.
Lala, yang sejak tadi diam di pojok, tiba-tiba tertawa kecil. Ia berjalan mendekati meja, menuang isi teko ke dalam gelas-gelas kecil.
"Lo mau ngeracunin kita, La?" tuduh Dion, tangannya masih gemetar memegang pulpen yang tintanya bocor.
"Ini bukan racun, Mas Dion," kata Lala, menyesap sedikit cairan itu lalu menjilat bibirnya. "Ini stamina. Kalian butuh tenaga buat malem ini. Malem ini bakal panjang."
Tanpa diduga, Raka menyambar satu gelas. Gerakannya cepat, didorong oleh rasa lapar dan dahaga yang tidak wajar. Sebelum Nara sempat mencegah, Raka sudah menenggaknya habis.
"Raka!" teriak Nara.
Raka membanting gelas itu ke lantai. Prang!
Ia terengah-engah. Wajahnya yang pucat perlahan memerah. Urat-urat di lehernya menonjol.
"Panas..." desis Raka. "Badan gue... panas banget."
Raka mulai membuka kancing kemejanya dengan kasar. Keringat mengucur deras dari dahinya, membasahi dada yang terdapat bekas luka cakar itu. Anehnya, luka cakar itu kini terlihat berdenyut, berwarna merah menyala seolah ada bara api di balik kulitnya.
Pukul sembilan malam, listrik padam total.
Kegelapan di dalam Joglo terasa absolut. Hanya ada cahaya bulan samar yang menembus celah ventilasi, menciptakan garis-garis biru pucat di lantai tegel.
Suhu ruangan meningkat drastis. Udara terasa seperti di dalam sauna. Oksigen menipis, digantikan oleh feromon yang kental.
Di sudut ruangan, Siska duduk memeluk lutut. Ia merasa aneh. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena dingin. Ada rasa menggelitik di perut bagian bawahnya, sebuah sensasi yang asing dan menakutkan bagi gadis yang selalu menjaga kesucian dirinya.
Ia merasa... kosong. Dan kekosongan itu menuntut untuk diisi.
"Sis..."
Suara Raka terdengar serak, dekat sekali.
Siska mendongak. Dalam remang-remang, ia melihat Raka merangkak mendekatinya. Raka sudah melepas bajunya. Tubuhnya berkeringat, berkilau minyak. Matanya gelap, pupilnya membesar menutupi iris, menyisakan cincin hitam yang menatap Siska dengan lapar.
"Jangan deket-deket, Rak," bisik Siska. Suaranya lemah, tidak bertenaga. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa berat, seolah lantai itu adalah magnet.
"Gue takut, Sis..." Raka terus merangkak, napasnya memburu seperti binatang buas yang terluka. "Di sini gelap. Banyak suara. Cuma lo yang terang."
Raka tidak berbohong soal ketakutannya. Tapi ketakutan di Desa Wanasari tidak membuat orang lari; ia membuat orang mencari pelarian instan. Dan pelarian paling purba bagi manusia adalah penyatuan daging.
"Raka, istighfar..." Siska mencoba memundurkan badannya, tapi punggungnya membentur tembok.
Tangan Raka menyentuh kaki Siska.
Panas.
Sentuhan itu membakar kulit Siska yang tertutup kain rok panjang. Siska tersentak, napasnya tercekat. Logikanya berteriak haram, tapi tubuhnya mengkhianatinya. Ada gelombang kelegaan saat kulit mereka bersentuhan, seolah rasa takut akan kematian yang menghantui mereka berhari-hari tiba-tiba sirna sesaat.
"Bantu gue, Sis..." rintih Raka. Ia membenamkan wajahnya di pangkuan Siska. "Kepala gue sakit... berisik... suara bayi itu berisik banget... cuma kalau gue deket lo suaranya ilang."
Tangan Siska, yang seharusnya mendorong Raka, justru bergerak sendiri menyentuh rambut Raka yang basah oleh keringat. Ia mengelusnya.
Nara dan Dion ada di sisi lain ruangan, tertidur pulas—atau dibuat pingsan oleh pengaruh aroma teh tadi. Hanya Lala yang terjaga. Lala duduk di atas lemari bufet, kakinya berayun, matanya berkilat mengawasi "pertunjukan" di bawah sana.
"Terus..." bisik Lala dari kegelapan. Suaranya seperti angin yang mendesau. "Jangan dilawan. Lepasin aja. Tuhan nggak liat ke sini. Atapnya tebel."
Kalimat itu meruntuhkan pertahanan terakhir Siska.
Tuhan nggak liat.
Rasa putus asa Siska berubah menjadi kepasrahan fatalistik. Jika ia akan mati besok, apa gunanya menjaga diri? Jika ia sudah dianggap kotor oleh Bayi Merah itu, kenapa tidak sekalian tenggelam dalam lumpur?
Raka mengangkat wajahnya. Wajah itu bukan lagi wajah Raka yang ramah. Itu wajah laki-laki yang dikuasai insting. Ia menarik Siska, menciumnya kasar.
Bukan ciuman romantis. Itu benturan gigi dan bibir. Rasa besi darah pecah di mulut mereka. Siska mengerang tertahan, air mata mengalir di sudut matanya, tapi tangannya mencengkeram bahu Raka erat-erat.
Di lantai yang dingin dan kotor itu, di tengah kepungan teror tak kasat mata, mereka bergumul.
Pakaian robek. Napas beradu. Desahan dan isak tangis bercampur aduk.
Raka melakukannya dengan kasar, seolah ia sedang mencoba membunuh rasa takut di dalam dirinya dengan cara menumbukkannya ke tubuh Siska. Dan Siska menerimanya dengan pasrah, menjadikan rasa sakit itu sebagai hukuman atas dosa-dosanya yang (ia rasa) tak terampuni.
Di mata Raka, yang ia lihat bukan Siska.
Halusinasi mengambil alih.
Wajah Siska berubah-ubah menjadi wajah Rini, lalu menjadi wajah Wanita Sumur. Kulit Siska yang disentuhnya terasa basah dan berlendir, seperti lumut sumur. Tapi itu justru membuatnya semakin gila.
"Mas Raka hebat..." bisik suara Wanita Sumur di telinga Raka, tumpang tindih dengan isak tangis Siska. "Isi lagi... sampai penuh..."
Sementara di mata Siska, ia melihat langit-langit Joglo terbuka. Ia melihat ribuan bayi merah merayap turun, menontonnya, menertawakannya.
"Ibu baru... Ibu baru..." kikik bayi-bayi itu.
Pelepasan itu terjadi cepat, meledak, dan hampa. Tidak ada afterglow. Tidak ada kehangatan.
Begitu selesai, Raka ambruk di samping Siska.
Hawa panas di ruangan itu lenyap seketika, digantikan oleh dingin yang menusuk tulang. Seolah entitas desa itu sudah kenyang menyedot energi syahwat mereka dan pergi meninggalkan ampasnya.
Siska terbaring menatap kegelapan. Tubuhnya sakit semua. Bajunya berantakan. Jilbabnya terlepas, terinjak di lantai.
Realitas menghantamnya seperti palu godam.
"Apa yang gue lakuin..." bisik Siska. Suaranya pecah.
Ia menarik kakinya, meringkuk menjadi bola kecil. Rasa jijik merayap naik dari perut ke tenggorokan. Ia merasa kotor. Najis.
"Astagfirullah... Astagfirullah..." Siska mencoba menyebut asma Allah, tapi bibirnya terasa terbakar. Setiap kali ia mengucap istighfar, ia merasa ada paku yang ditancapkan ke lidahnya.
Raka terbangun dari kemabukannya. Ia duduk, memegangi kepalanya yang pening. Ia melihat Siska yang menangis, melihat kondisinya sendiri yang setengah telanjang.
Ingatan itu kembali. Rasa daging. Rasa keringat.
"Sis?" panggil Raka gemetar. Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh bahu Siska.
"JANGAN SENTUH GUE!" jerit Siska histeris. Ia menendang Raka menjauh, merangkak mundur sampai menabrak dinding. "Jauh-jauh! Lo setan! Lo setan!"
Teriakan Siska membangunkan Nara dan Dion.
"Ada apa?!" Nara menyalakan senter hp-nya, menyorot ke sudut ruangan.
Pemandangan itu membuat Nara membeku.
Siska yang berantakan, menangis sambil menutupi tubuhnya dengan sisa baju yang robek. Raka yang telanjang dada, tampak bingung dan bersalah, dengan luka cakar di dadanya yang kini berdarah segar.
Darah dari dada Raka menetes ke lantai.
Tes. Tes. Tes.
Dan di mana darah itu jatuh, lantai tegel itu berasap.
"Kalian..." Nara tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
"Gue nggak sadar, Nar!" Raka membela diri, suaranya panik. "Sumpah! Gue kayak dirasukin! Badan gue gerak sendiri!"
"Alasan!" teriak Siska, melempar tasbihnya yang putus ke muka Raka. "Lo perkosa gue! Lo hancurin gue!"
"Gue nggak perkosa! Lo juga mau tadi!" bentak Raka defensif, rasa bersalahnya berubah menjadi amarah untuk menutupi malu.
"CUKUP!" Nara berdiri di antara mereka. "Pake baju lo, Rak. Siska, sini."
Nara memeluk Siska yang gemetar hebat. Gadis itu baunya aneh. Bau sperma bercampur bau tanah kuburan.
"Kita udah langgar aturan paling fatal," kata Dion pelan. Ia menyorotkan senter ke arah pojok lain. "Lala mana?"
Lala tidak ada di atas bufet.
Tapi di tempat Lala tadi duduk, ada tulisan di dinding kayu. Tulisan itu dibuat menggunakan kapur sirih merah.
Satu benih sudah ditanam.
Tunggu panennya 9 bulan lagi...
...atau 9 jam lagi.
Dion mundur, wajahnya pucat. "Bayi setan... Siska bakal..."
"Diem lo, Yon!" bentak Nara.
Siska semakin histeris membaca tulisan itu. Ia mulai memukuli perutnya sendiri.
"Keluar! Keluar!" Siska memukul perutnya yang rata dengan kepalan tangan. "Gue nggak mau hamil anak setan! Keluar!"
"Sis, berhenti!" Nara menahan tangan Siska. "Itu cuma tulisan buat nakutin lo!"
Tapi malam itu, teror fisik mulai muncul.
Raka tiba-tiba mengerang kesakitan. Ia jatuh berlutut, memegangi selangkangannya.
"Sakit... anjing, sakit banget!"
Nara menyorotkan senter ke arah Raka.
Di paha bagian dalam Raka, muncul bisul-bisul hitam yang tumbuh dengan cepat. Bisul itu melepuh, pecah, dan mengeluarkan nanah berbau busuk. Kulit di sekitar organ vitalnya menghitam seperti gangren.
"Ini hukuman..." bisik Dion horor. "Penyakit kelamin instan. Kutukan zina di tanah keramat."
Raka berguling-guling kesakitan. Rasanya seperti ada silet yang mengiris-iris dari dalam saluran kencingnya.
Sementara itu, Siska muntah.
Ia tidak memuntahkan makanan. Ia memuntahkan bunga melati.
Kelopak-kelopak bunga melati putih yang masih segar keluar dari mulut Siska, bercampur lendir. Satu, dua, sepuluh... terus menerus. Seolah perutnya telah berubah menjadi kebun bunga.
"Uwek... tolong..." Siska tersedak kelopak bunga.
Nara panik, menepuk punggung Siska. "Keluarin, Sis! Terus!"
Di tengah kekacauan itu—Raka yang kulitnya melepuh dan Siska yang muntah bunga—pintu kamar mandi terbuka perlahan.
Lala keluar dari sana. Ia sudah berganti pakaian. Ia memakai daster putih bersih. Wajahnya berseri-seri seperti pengantin baru.
Lala tersenyum melihat penderitaan teman-temannya.
"Wah," kata Lala riang. "Udah 'sah' ya? Selamat ya. Semoga anaknya mirip bapaknya."
Lala menatap Raka yang sekarat karena rasa sakit.
"Tapi ati-ati, Mas Raka. Biasanya pejantan yang udah selesai kawin... langsung dimakan sama betinanya."
Seketika, bayangan Siska di dinding berubah.
Bayangan Siska bukan lagi gadis yang menangis. Bayangan itu membesar, rambutnya menjadi liar seperti ular, dan tangannya berubah menjadi cakar yang siap menyobek.
Raka melihat bayangan itu. Ia menjerit, mundur ketakutan hingga terpojok.
Malam itu, rasa bersalah dan hasrat telah membuka pintu gerbang bagi kehancuran fisik mereka. Raka membusuk dari bawah, dan Siska membusuk dari dalam. Tidak ada sabun yang bisa mencuci dosa ini.