Rumah tangga yang kelihatan harmonis hanya topeng belaka.
Hutang orang tua yang menumpuk kepada mertua, membuat terjadinya perjodohan yang terpaksa dan membuat Jihan terpenjara oleh kekerasan bathin dan fisik.
Sakit hati yang dialami jihan, sampai melupakan apa arti cinta yang sesungguhnya.
Dari rasa nyaman saling bertukar cerita, membuat dua insan yang dimabuk asmara terjebak oleh cinta terlarang, sehingga membuat keduanya susah untuk berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhang zhing li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Yang Kekuh Memohon
Inikah yang dinamakan cinta? Kalau kita ikhlas mempersilakannya masuk ke hati, kita harus mampu menanggung segala kebahagiaan dan luka yang diakibatkan rasa itu.
Beberapa orang pergi dari kehidupanmu. Tapi bukan berarti kisahmu berakhir. Yang berakhir hanyalah bagian mereka dalam kisah hidupmu.
Kukira saat cintaku untukmu mati, aku juga akan mati. Lalu apakah cinta itu akan benar-benar mati. Tapi anehnya, aku tetap hidup, meski dalam kesendirian. Cinta tak pernah mati. Jika tak berbalas, ia akan mengalir kembali untuk melembutkan dan menyucikan hati.
Tangan sudah terpegang kuat oleh Ibu, agar aku tidak keluar untuk menemui mas Bayu, yang kini sudah mengiba pada Bapak. Berkali-kali kepala Ibu terus mengeleng-geleng agar tidak menuruti kemauan.
"Jangan ... kamu jangan ke sana, Nak! Terlalu berbahaya untukmu mendatangi suami yang sudah menyakiti hatimu," cegah beliau.
"Jihan, tahu apa yang menjadi kekhawatiranmu, Bu. Aku akan kesana sebentar saja, agar bisa menjelaskan maksud kita supaya dia tidak menyusahkan bapak diluar," pintaku.
"Tapi apakah kamu akan baik-baik saja dengan menemui Bayu nanti?" Ibu yang sudah cemas.
"Insyaallah, Bu. Ada bapak dan ibu yang bisa melindungiku jika mas Bayu berbuat jahat."
"Ya sudah, kalau kamu benar-benar ingin menemui atas semua penjelasan."
"Iya, Bu."
Tangan Ibu tak lepas terus mengandengku, untuk segera menghampiri dua pria yang kini sedang ngobrol serius. Dari ekpresi wajah beliau, kelihatan tegang dan sedang emosi tingkat tinggi.
"Ayolah, Pak. Maafkan menantumu ini!" pinta Mas Bayu yang masih bersujud dikaki beliau, dengan cara memegangi satu kaki disebelah kanan.
"Jangan mengiba begitu kau, Mas!" sautku saat sudah berdiri diteras rumah bersama Ibu.
"Jihan ... Jihan, maafkan aku. Tolong maafkan kesalahanku." Mas Bayu sudah berlari, dengan cara secepat kilat menghampiriku.
"Hilih, jangan sok drama kamu, Bayu. Kesalahan kamu sudah tidak bisa dimaafkan, kami sekeluarga sudah terlalu sakit hati sama kamu yang tidak punya hati lagi," simbat Ibu yang terdengar mulai emosi juga.
"Aku mohon, Jihan. Jangan dengarkan mereka. Aku ini suami yang kamu cintai, masak kamu tega membiarkanku dalam keadaan sedih begini," rengek suami yang sedang bersujud dibawah telapak kaki.
"Maafkan aku, Mas. Sudah beberapa tahun aku memberi kesempatan kamu. Tiap ada waktu selalu berharap agar kamu bisa sadar, tapi pada kenyataannya kamu malah menjadi-jadi."
"Aku khilaf melakukan itu. Maaf ... maafkan aku, sayang!" Mas Bayu masih saja merayu.
"Sudah. Undur diri kau dari sini, sekarang! Kami tidak sudi lagi menerima menantu seperti kamu. Dasar suami yang tak tahu diuntung. Beraninya hanya sama perempuan lemah. Cepat ... cepat pergi dari sini!" usir Bapak dengan lantangnya.
"Tidak ... tidak, Pak. Jangan lakukan itu pada menantu kesayanganmu ini."
"Cuiih, kesayangan yang tidak bisa diharapkan," Bapak sudah meludah seperti jijik sekali dengan kata-kata mas Bayu.
"Sekarang cepetan pergi dari sini, atau kamu mau babak belur dihajar massa karena kami teriakkin maling," ancam Bapak.
"Eh, iya ... iya, Pak. Jangan lakukan itu. Aku akan pergi dari sini sekarang, tapi jangan apa-apakan diriku dan memanggil warga," Ketakutan Mas Bayu yang sekarang mengerutkan wajah.
"Maaf, Pak, Bu, Jihan. Aku memang salah, dan tidak bisa dimaafkan kesalahan besar itu, tapi asal kalian tahu jika kedatangan ke sini memang tulus untuk meminta maaf pada kalian."
"Kami tidak peduli. Sekarang undur diri dari sini! Sebelum mulutku ini berteriak. Cepat!" Bentak Bapak.
"Iiiiyyya, Pak. Maaf."
Langkah Mas Bayu sudah berbalik berjalan tergesa-gesa. Wajah Bapak kali ini benar-benar murka.
Tes, tanpa dipaksa sebuah titikkan embun tiba-tiba jatuh. Entah mengapa melihat sikap Mas Bayu sekarang aku merasa tersentuh, tapi semua sudah hancur berkeping-keping, maka tidak bisa kembali utuh seperti sediakala pada waktu itu.
"Aku sangat mencintaimu sampai kapanpun itu, tapi kenapa tidak sedikitpun melirik akan ketulusanku kepadamu? Hormatku sebagai istri selalu kau injak-injak. Kepatuhan yang terjaga selama ini selalu kau abaikan. Kurang baik apa aku padamu," guman hati sedih.
Ibu yang melihatku sudah ikutan mengalirkan anak sungai yang begitu deras, langsung memeluk dengan kepala bersandar dibahu beliau. Rasa nyaman dan tenang mulai hadir. Tangan beliau berkali-kali menepuk bahu, agar diri ini bisa meredakan kesedihan.
"Tidak usah kamu tangisi pria seperti itu. Tidak ada gunanya dan bermanfaat. Kesalahannya begitu besar dan tidak bisa dimaafkan. Kamu sudah melakukan pelayanan yang terbaik padanya, namun Bayu telah buta dan menyia-nyiakan itu semua," Bapak ikutan membujuk agar tangisan ini segera mereda.
"Benar, Nak. Tidak baik menangisi pria yang tidak berguna itu. Lebih baik kamu sekarang pikirkan masa depan, dan proses perpisahan kalian, agar kelak kamu bisa mencari kebahagiaan dimasa depan tanpa harus susah bersama Bayu. Biarkan dia tahu rasa, sebab terlalu mengabaikan kamu!" Saut Ibu menasehati.
"Iya Pak, Bu. Mungkin Jihan disini terlalu lemah untuk menghadapi Mas Bayu. Terima kasih kalian sudah membantu dan memperjuangkanku."
"Iya, sama-sama, Nak. Orangtua tidak akan tinggal diam melihat anaknya dalam kesusahan, maka jangan khawatir jika kami tidak akan membantu kamu. Sampai kapanpun kami akan selalu bersama kamu walau status sudah menjadi milik orang lain sekalipun," ujar Bapak.
"Iya, Pak. Terima kasih."
Kami bertiga terhanyut dalam menyayangkan sikap suami yang dikira bisa diandalkan. Pada kenyataannya hanya topeng belaka, dengan menutupi rumah tangga yang tak sehat. Tidak mengerti jalan pikiran mas Bayu, sebab selama ini aku tidak pernah macam-macam dan tidak memuaskan pelayanan. Kalau dipikir semuanya sudah kupenuhi, namun sayang seribu sayang suami selalu saja tidak terima akan pelayanan itu.
come on sattt selidiki kuyyy
hmmz bawa kabur jihan sat wkwkwk