Kenneth memutuskan untuk mengasuh Keyra ketika gadis kecil itu ditinggal wafat ayahnya.
Seiring waktu, Keyra pun tumbuh dewasa, kebersamaannya dengan Kenneth ternyata memiliki arti yang special bagi Keyra dewasa.
Kenneth sang duda mapan itupun menyayangi Keyra dengan sepenuh hatinya.
Yuk simak perjalanan romantis mereka🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuKa Fortuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ken Sedang Bir4hi
34
Hari itu Ken tak kunjung pulang.
Kantor Jacob Oetama-yang kini resmi berada di bawah kendalinya_ masih terang ketika gedung-gedung lain mulai mematikan lampu. Dari balik kaca jendela ruang kerjanya, kota tampak seperti lautan cahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Ken menutup satu berkas, lalu membuka yang lain.
Ada banyak orang kepercayaan di perusahaan itu. Nama-nama lama yang setia pada Jacob, profesional yang paham ritme kerja, dan manajer-manajer yang sebenarnya bisa menangani semuanya tanpa kehadirannya. Namun Ken tahu, ada hal-hal yang tidak bisa hanya diserahkan.
Beberapa keputusan harus diambil sendiri.
Ia melepas kacamata, memijat pangkal hidungnya. Rapat demi rapat berjalan sejak pagi, membahas restrukturisasi, audit lanjutan, hingga persoalan lama yang sempat dibiarkan menggantung sebelum Jacob wafat. Nama Jacob masih sering disebut di ruangan itu, dan setiap kali itu terjadi, Ken merasakan tanggung jawabnya bertambah berat.
“Pak, ini revisi terakhir dari tim hukum,” ujar asistennya sambil meletakkan map.
Ken mengangguk. “Terima kasih. Saya lihat sekarang.”
Ketika pintu kembali tertutup, Ken bersandar sejenak. Pikirannya melayang, bukan pada angka atau kontrak, melainkan pada rumah. Pada Keyra. Pada wajah yang biasanya menunggunya pulang, meski tak pernah menuntut.
Ia melirik jam. Sudah lewat jam delapan malam.
“Sebentar lagi,” gumamnya pada diri sendiri.
Ken kembali bekerja. Ada saat-saat di mana ia harus turun tangan langsung, menandatangani keputusan penting, menenangkan klien lama, memastikan arah perusahaan tetap sesuai dengan nilai yang Jacob tinggalkan. Ini bukan sekadar bisnis baginya, ini amanah.
Dan malam itu, di antara tumpukan dokumen dan sunyi kantor, Ken memilih bertahan sedikit lebih lama, agar esok, ketika ia pulang, ia bisa hadir sepenuhnya.
.
Ken terdiam cukup lama menatap layar ponselnya.
Deretan panggilan tak terjawab itu terasa seperti teguran yang sunyi namun mengena. Nama Keyra berulang kali muncul, waktu-waktu yang berjarak tidak terlalu jauh satu sama lain. Dari siang menjelang sore, lalu berhenti menjelang malam.
Dadanya menghangat, bersamaan dengan rasa bersalah.
Ia menyandarkan punggung ke kursi kerjanya, mengusap wajah lelahnya perlahan. Kantor Jacob yang kini ia ambil alih masih menyisakan aroma dingin profesionalisme, dinding kaca, lampu putih, tumpukan berkas yang tak kunjung habis. Semua terasa kaku. Terlalu rapi. Terlalu sepi.
“Seharusnya aku meneleponmu…” gumamnya lirih.
Tanpa berpikir lebih lama, Ken menekan nama itu.
Nada sambung terdengar satu kali. Dua kali.
“Om Ken?”
Suara di seberang terdengar tertahan, lega sekaligus menyimpan sesuatu.
“Ada apa Sweetheart? Om di sini,” jawab Ken cepat. “Maaf. Om baru lihat ponsel.”
Hening sesaat. Ken bisa membayangkan Keyra menggigit bibirnya, kebiasaan kecil saat ia menahan perasaan.
“Om sibuk banget ya hari ini?” tanya Keyra, berusaha terdengar biasa saja.
“Iya. Lebih dari yang kuduga,” jawab Ken jujur. “Om terlalu lama di kantor. Tapi itu demi semuanya tetap stabil.”
“Oh…”
Satu suku kata itu terdengar ringan, tapi Ken tahu ada kekecewaan di sana.
Ken memejamkan mata. "Tapi Om jadi kepikiran kamu.”
Itu membuat Keyra terdiam.
“Beneran, Om?”
Nada suaranya berubah, lebih pelan.
“Iya. Anehnya, di tengah semua ini… Om malah membayangkan kamu ada di sini. Duduk di sofa kecil di pojok ruangan. Mengeluh dingin. Atau menggoda Om karena terlalu serius kerja.”
Keyra terkekeh kecil. “Om pasti risih dan nyuruh aku pulang.”
“Mungkin,” Ken tersenyum tipis. “Tapi suasananya pasti berbeda kalau ada kamu.”
Keheningan kembali menyelimuti, kali ini lebih hangat.
“Aku menelepon Om karena… aku ingin mastiin Om baik-baik aja,” ujar Keyra akhirnya. “Dan mungkin… sedikit kangen.”
Kata terakhir itu hampir berbisik.
Ken merasakan sesuatu mengencang di dadanya, bukan gelisah, melainkan keinginan yang lembut namun kuat. “Om juga kangen,” katanya tenang, tanpa ragu.
“Om akan pulang. Tidak lama lagi.”
“Beneran?” Ada cahaya kecil di suara Keyra.
“Benar. Tunggu Om, ya. Satu atau dua jam lagi.”
Sambungan terputus, namun rasa hangat itu tertinggal.
Ken melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan tumpukan pekerjaan yang sejak tadi terasa menekan. Untuk pertama kalinya hari itu, langkahnya ringan. Setelah tubuhnya merasa segar sehabis mandi dan lebih bersemangat, ia akan pulang tanpa ada beban.
Di benaknya hanya ada satu hal,
rumah dan Keyra yang menunggunya di sana.
**
Di dalam president suite room itu, malam telah sempurna datang. Tirai kaca tinggi tak lagi memperlihatkan sisa jingga yang memantul di gedung-gedung sekitar, sementara Ken sudah mandi. Ia berniat pulang, atau setidaknya, ia berkata begitu pada dirinya sendiri sejak satu jam lalu.
Ketukan pelan terdengar.
Ken menoleh, sedikit heran.
“Masuk,” ucapnya.
Pintu terbuka, dan dunia seolah berhenti sesaat.
Keyra berdiri di sana, napasnya belum sepenuhnya teratur, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin perjalanan. Matanya langsung menemukan Ken, dan semua jarak, semua jam yang terlewati tanpa kabar, runtuh begitu saja.
“Om Ken…”
Tanpa kata lain, Ken melangkah cepat masih dalam balutan handuk di bagian bawah tubuhnya.
Keyra bahkan belum sempat menutup pintu sepenuhnya ketika tubuhnya sudah ditarik ke dalam pelukan yang kokoh dan hangat. Erat. Lama. Seolah Ken menahan sesuatu yang nyaris terlepas darinya seharian ini.
“Kamu ke sini,” suara Ken rendah, sedikit serak. “Kenapa nggak bilang?”
Keyra menenggelamkan wajahnya di dada Ken yang masih lembab.
“Abisnya Om lama banget sih,” gumamnya. “Aku kangen.”
Tangan Ken mengusap punggung Keyra perlahan, ritmis, menenangkan. Ia menghela napas panjang, seolah baru sekarang benar-benar bernapas.
“Om juga kangen,” katanya jujur. “Lebih dari yang kamu kira.”
Mereka tetap begitu beberapa saat, hanya berdiri dan saling merasakan kehadiran satu sama lain. Tidak ada tergesa. Tidak ada tuntutan. Hanya rindu yang akhirnya menemukan tempatnya.
Ken sedikit menjauh, menunduk agar sejajar dengan wajah Keyra. Ia menatap gadis itu lama, seolah memastikan Keyra benar-benar ada di hadapannya.
“Kamu capek?” tanyanya lembut.
Keyra menggeleng, meski matanya jelas berbicara lain.
“Nggak apa-apa. Aku cuma… pengen lihat Om.”
Ken tersenyum kecil, senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Ibu jarinya menyapu pelipis Keyra, menyingkirkan anak rambut yang jatuh. Sentuhan sederhana itu membuat Keyra menutup mata sesaat.
“Kamu bikin Om susah fokus,” ujar Ken pelan, nyaris seperti pengakuan.
Keyra membuka mata, ada cahaya kecil di sana.
“Itu salahku?”
Ken tertawa lirih, lalu menggeleng.
“Bukan. Itu salah Om yang terlalu lama ninggalin kamu.”
Ia menuntun Keyra ke sofa besar di dekat jendela. Mereka duduk berdampingan, bahu bersentuhan. Ken meraih tangan Keyra, menggenggamnya, ibu jarinya mengusap punggung tangan itu dengan gerakan yang hampir tak disadari.
“Maaf ya.” ucap Ken tiba-tiba.
Keyra menoleh. “Maaf untuk apa?”
“Untuk hari ini. Untuk telepon yang nggak keangkat. Untuk bikin kamu datang sejauh ini.”
Keyra menggenggam balik tangan Ken.
“Aku datang bukan karena marah,” katanya pelan. “Aku datang karena rindu.”
Ken menatapnya lama, lalu tanpa banyak kata, ia menarik Keyra ke dalam pelukannya lagi. Kali ini lebih tenang, lebih dalam. Dagunya bertumpu di puncak kepala Keyra, dan bibirnya menyentuh rambut gadis itu sekilas, sebuah kecupan ringan, penuh rasa menjaga.
“Tenang, Sweetheart,” katanya akhirnya. “Om janji, malam ini hanya milik kita. Tanpa laporan. Tanpa gangguan.”
Keyra tersenyum kecil di dadanya.
“Janji?”
“Janji,” ulang Ken, lebih tegas, sambil memeluknya sedikit lebih erat, seolah tak ingin kehilangan hangat itu lagi, bahkan hanya sedetik saja.
Beberapa saat hening, hangat nafas Keyra menyapu dada bidang Ken yang belum mengenakan pakaian.
Darah Ken berdesir hingga ke ubun-ubun. Secara tak terduga, terbit keinginan di dalam benak Ken atas diri gadis itu.
Ken perlahan mengangkat Keyra dari dadanya, lalu dengan gerakan lembut ia menangkap bibir Keyra.
Keyra pasrah, menikmati, membalas ciuman itu.
Ken melumat bibirnya dengan penuh kelembutan seolah mereguk mata air surga yang seketika menuntaskan dahaganya.
Perlahan namun pasti, Ken menurunkan zipper baju Keyra di punggungnya. Keyra tersentak, namun berusaha tenang.
Siapapun tahu apa yang akan dilakukan pria empat puluh tahun itu. Tangan besar itu tak butuh waktu lama untuk membuat gadis mungil itu terpisah dari kain yang menutupinya.
"Om menginginkan kamu, Sweetheart..." Suara Ken bergetar karena menahan hasrat yang telah membara.
Keyra terdiam, tak mengiyakan ataupun menolak. Walau sesungguhnya ia didera ketakutan yang teramat dahsyat karena mengingat soal ukuran senjata Ken.
Namun bagi Ken, sikap diamnya itu sudah cukup menjadi jawaban.
Ketika akhirnya Ken menggendong tubuh mungil Keyra menuju ke ranjang. Keyra tak membantah dan melemaskan otot-otot tubuhnya yang direbahkan ke permukaan kasur empuk.
"Oh My God... Aku takut punyaku robek...." Keyra berbisik dalam hatinya, tapi ia tak menolak ketika Ken mulai mencumbui lehernya, dan menyusupkan tangan ke area intimnya.
Ken sungguh sedang birahi. Dan Keyra datang tepat waktu.
Bersambung...
.
YuKa/ 271225
yuk lah gass ke penghulu