NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Isekai
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 6: Permintaan Putriku

Alice POV

Beberapa hari berlalu, Ibuku yang mengetahui kalau aku pingsan karena buku pengetahuan umum, buku tersebut disita olehnya membuatku tidak bisa mempelajarinya lagi.

Memang, di satu sisi aku merasa lega. Tapi disisi lain, aku tidak bisa tenang sebelum aku memperbesar mana-ku agar aku tidak selemah diriku yang sekarang di masa mendatang nanti.

Tak hanya buku ditahan oleh Ibuku, aku bahkan setiap hari diharuskan membantunya menjahit, merapikan pakaian, membersihkan kamar, serta mempelajari buku yang seharusnya usiaku pelajari.

Jujur, ini seperti menghinaku yang sudah dewasa untuk belajar buku tentang kanak-kanak yang tidak cocok denganku.

"Tetep lakukan seperti itu, Sayang. Ibu mau pergi membantu Anna menjemur pakaian."

"Ya."

Selagi Ibuku pergi, diam-diam aku menyelinap keluar dari kamarnya menuju ke perpustakaan selagi tidak ada siapapun disini karena semua orang sibuk saat pagi menjelang siang, memungkinkan aku untuk bisa bergerak bebas.

•••••

Memasuki ruangan perpustakaan sekali lagi, Alice yang berusaha untuk mencari buku tentang pengetahuan umum yang dibaca sebelumnya berharap ia menemukannya lagi.

Karena kalau ia tidak menemukannya, ia tidak bisa tenang sebelum ia memahami semua yang ada didalam buku tersebut selain tentang mana agar ia bisa menyimpan semuanya di benaknya untuk digunakannya di masa mendatang.

"....."

Tidak jauh dari Alice berada, seorang gadis kecil berambut classic bob berwarna putih, Eri, tatapan mata emerald tertuju pada Alicia yang sibuk mencari buku di rak tanpa menyadari kalau Eri berada di lantai atas yang duduk dekat jendela memperhatikannya.

"Kenapa tidak ada disini?"

Bingung sekaligus heran, Alice terus-menerus mencari buku yang ingin dibacanya berharap Luna tidak menahannya di suatu tempat tanpa mengembalikannya ke perpustakaan.

"Disini tidak ada... disini juga... disini sama... disitu juga sama...."

Satu-persatu buku-buku di rak yang dilihat olehnya, tidak ada satupun buku tentang pengetahuan umum yang dibacanya membuatnya terlihat jengkel.

"Ugh... ini tidak ada habisnya."

Sekilas, diujung mata Alice melihat seseorang yang berada didekat jendela dan tanaman hias di lantai atas membuatnya menoleh kearah sana.

"Gawat!"

Segera bersembunyi saat Alice menoleh, Eri tidak ingin dirinya ketahuan karena tugasnya adalah memata-matai Alice untuk melaporkan jikalau ada tindakan mencurigakan darinya.

"Hanya perasaanku saja ya."

Dirasa tidak ada siapapun di sana, Alice kembali mencari buku satu-persatu di rak.

Dilantai atas perpustakaan yang bersembunyi dibawah meja, Eri mengintip dari tempatnya bersembunyi yang penasaran selagi pandangan matanya tertuju pada Alice.

"Kira-kira apa yang dicari olehnya ya."

Ada rasa penasaran yang menyelimuti sorot mata Eri membuatnya hanya bergumam daripada mendekati Alice yang dapat membuat Alice menjauh dari Eri nantinya.

"Argh... kalau begini terus, aku akan kehabisan waktu."

Frustasi dan jengkel karena sulit untuk menemukan buku tersebut diantara buku-buku lain di rak yang luas dan tinggi sekitar dua lantai, Alice hanya bisa menggaruk rambut pirangnya karena sulit untuk menemukan buku yang dicarinya.

"Tidak adakah rangkuman buku itu?"

Meskipun ada rasa jengkel dan frustasi, ia tetap mencari buku tersebut melalui setiap rak berharap menemukannya daripada menyerah lebih awal.

"Dia tidak menyerah ya."

Takjub atas kegigihan Alice mencari buku tersebut, saat Eri membayangkan kalau ia ada di posisi Alice, ia mungkin sudah menyerah sejak awal karena mustahil menemukan satu buku diantara buku-buku yang lainnya.

Terutama dengan tubuh kecil Alice, sangat mustahil untuk mengambil buku di rak yang tinggi selain meminta tolong pada orang dewasa untuk mengambilkannya.

Beberapa saat berlalu, buku yang dicari Alice tidak kunjung ketemu membuat suasana pagi menjelang siang berubah menjadi siang. Ia yang memutuskan untuk menyudahinya tidak ingin menetap disini karena takut semua orang mengkhawatirkannya, ia pergi meninggalkan perpustakaan.

"Aku harus ikuti dia!"

Tidak ingin berlama-lama, Eri keluar dari persembunyian setelah melihat Alice keluar dari perpustakaan. Ia mengintip dibalik pintu perpustakaan yang terbuka, memastikan kemana Alice pergi.

•••••

Alice POV

Entah kenapa aku merasa seseorang mengawasi aku saat ini.

Meskipun aku sudah memeriksa beberapa hari belakangan ini dengan melihat sekeliling, tidak ada siapapun yang mengikuti aku membuatku bingung apakah ini hanya imajinasi aku atau intuisi ku benar namun orang tersebut bersembunyi sebelum ketahuan olehku.

Apapun itu, abaikan saja.

Lagipula aku tidak melakukan tindakan mencurigakan saat ini jikalau benar-benar ada orang yang mengikuti aku.

Dikarenakan aku tidak menemukan keberadaan buku tentang pengetahuan umum terpaksa aku harus meminta tolong pada Ayahku untuk mengajarkan aku sesuatu yang lain, berharap ia rela meluangkan waktunya untuk mengajarkan aku.

•••••

Di aula makan, para bangsawan menghadiri meja makan yang panjang dengan banyak kursi dengan bahan empuk berwarna merah dan hiasan emas diluar sisinya, mereka duduk bersebelahan dengan keluarga mereka masing-masing.

"Hei Ayah...."

"Hmmm...."

Melirik ke putrinya, Alice, pria berambut taper fade berwarna perak, sepasang mata berwarna emerald, memiliki paras tampan dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 173 cm, bertubuh sedang yang gagah, Ren, penasaran atas apa yang ingin dikatakan oleh putrinya.

"Bisakah kita bicara setelah makan siang?"

"Ya, Ayah tidak masalah."

Kembali fokus menikmati makan siang dengan steak yang dilumuri dengan beberapa bumbu dan saus, Ren menikmatinya dengan perlahan-lahan menggunakan garpu dan pisaunya selagi penasaran tentang apa yang ingin dibicarakan oleh putrinya padanya.

"Sayang, bolehkah Ibu ikut juga?"

"Tidak boleh."

"Eh... kenapa? Padahal Ibu ingin tahu apa yang kamu ingin katakan pada Ayah."

"Pokoknya tidak boleh ya tidak boleh!"

Melihat interaksi antara putrinya dengan cucunya, Arga, sang raja yang menikmati makan siang dengan beberapa sayuran dan daging cincang didalamnya hanya bisa tersenyum pada mereka, tahu kalau putrinya memiliki keluarga yang mampu membuatnya bahagia.

"Yang Mulia, apakah anda yakin dengan keputusan anda?"

Setelah mendengar pertanyaan dari pria disebelahnya yang sempat maju sesaat selagi berdiri, berbisik padanya membuat senyum Arga sirna dalam sekejap tergantikan oleh keseriusan.

"Apa maksudmu, Gerald?"

"Mengenai keputusan anda tentang cucu anda, Nona Alice yang akan menjadi pewaris tahta berikutnya."

"Ya, aku yakin itu soal itu."

Arga tetap berbisik pada Gerald, pria berambut mohawk berwarna hijau tua, sepasang mata berwarna azure, memiliki paras tampan dengan postur tubuh yang ideal mulai dari; tinggi sekitar 174 cm, bertubuh sedang dengan postur tubuh yang tegap, tidak memiliki otot tangan dan kaki, yang tetap berdiri di sisinya, mengangguk lalu bertanya lagi dengan penasaran.

"Bolehkah saya tahu kenapa anda begitu yakin?"

Terkekeh mendengar kebingungan Gerald, Arga tidak mempermasalahkannya karena ia juga sama karena tidak tahu mengapa ia ingin mengandalkan cucunya, Alice menjadi ratu berikutnya menggantikannya sebagai raja untuk melebihi apa yang ibunya, Luna miliki.

"Entahlah, mungkin hanya intuisi-ku sebagai seorang kakek."

Tidak mengatakan apapun lagi, Gerald mengangguk lalu mundur perlahan-lahan berdiri dibelakang kursi dimana Arga duduk.

"Gadis kecil itu ya."

Sekilas, tatapan mata azure terlihat dibalik sorot mata sipit yang diarahkan ke Alice yang sedang jengkel pada Luna, ibunya melalui percakapan mereka tentang sesuatu yang Gerald tidak ketahui.

Diam-diam, Gerald menggunakan appraisal untuk memeriksa kapasitas mana di tubuh Alice yang membuatnya menghela nafas panjang dengan nada pelan, tidak disangka kalau pewaris tahta berikutnya tidak seperti Arga yang memiliki mana dalam jumlah banyak, cucunya sama sekali tidak memilikinya melainkan hanya api yang sebesar lilin yang sangat kecil.

"Kenapa anda segitu yakin dengan gadis itu, Yang Mulia?"

Masih tidak bisa dipercaya kalau keputusan Arga benar-benar mutlak ingin menjadikan Alice pewaris tahta, menurut Gerald akan lebih baik diwariskan oleh orang lain daripada gadis lemah yang tidak memiliki bakat maupun berkah.

"Ada apa dengan orang itu? Ia sebelumnya menatap ke gadis yang aku ikuti, apakah ia juga memiliki hal sama dengan apa yang kulakukan?"

Ada ketidaksenangan yang datang dari arah berbeda membuat Gerald menyadari kalau itu berasal dari Eri, putri dari Lisa.

Gerald yang tersenyum kecil tidak memperlihatkan sikap mencurigakan membuat Eri semakin yakin kalau pria itu memiliki maksud lain, bukan sepertinya yang memata-matai Alice untuk diberitahu pada ibunya bila ada sikap mencurigakan darinya.

•••••

Alice POV

Tunggu sebentar... sabar... jangan sekarang....

Selagi aku tetap duduk bersama Ayahku di sebelahku, aku tidak meninggalkan aula makan yang membuat orang lain bingung kenapa aku tidak pergi meninggalkan aula makan setelah makan siang, membuatku hanya melambaikan tangan pada mereka selagi mempertahankan senyum palsu.

Memang, ini terlihat menjijikkan.

Mengingatkan aku akan masa laluku. Dimana aku berpura-pura tegar, tidak terlihat lemah maupun rendah dihadapan orang lain agar tidak dimanfaatkan oleh mereka agar aku terlihat kuat menghadapi masalah apapun.

Tapi kenyataannya aku malah berakhir seperti ini, aku tidak ingin mengulangi itu untuk kedua kalinya.

Kali ini, aku akan gunakan kepalsuan itu untuk menutupi identitas asliku, bukan untuk digunakan sebagai tameng melainkan untuk bersandiwara saat ini agar tidak ada siapapun yang curiga padaku kalau gadis kecil sepertiku memiliki pemikiran dewasa.

Setelah semuanya pergi meninggalkan aula makan, keheningan mulai dirasakan disekitar diantara aku dan Ayahku.

"Jadi, apa yang ingin kau katakan pada Ayah, Sayangku?"

Benar, aku tidak bisa menunda waktuku karena aku tidak ingin bernasib sama seperti kehidupan lamaku.

Menatap ke Ayahku dengan wajah serius, aku menguatkan tekad aku untuk beranikan diri mengatakan ini padanya meskipun aku tahu ia akan menentang permintaanku.

"Ayah, dengarkan aku, aku ingin kamu mengajarkan aku untuk menjadi kuat."

"Eh... menjadi kuat?"

Aku mengangguk sekali padanya, tetap memperlihatkan tekad aku melalui sorot mataku selagi menatapnya.

•••••

"Tunggu... eh... apa maksudnya ini?"

Tidak dapat memahami apa yang dikatakan oleh Alice padanya, Ren benar-benar bingung untuk memahami apakah ia halusinasi atau tidak saat ini.

Daripada ia berada di kebingungan, ia menatap ke Alice dengan wajah heran mencoba untuk mengetahuinya sekali lagi.

"Bisakah kau katakan lagi pada Ayah, Sayangku?"

"Aku ingin Ayah melatih fisikku untuk menjadi kuat."

"Ternyata benar dugaan ku!"

Tidak dapat dipungkiri kalau apa yang didengar oleh Ren benar-benar nyata, ia kebingungan kenapa putrinya memiliki pemikiran untuk menjadi lebih kuat dibalik tubuhnya yang lemah sebagai gadis kecil yang menuruni istrinya, Luna yang menjadi ibu untuk Alice.

"Bolehkah Ayah tahu alasanmu, Sayang?"

"Ya," angguk Alice tanpa ada keraguan sedikitpun.

"Aku ingin menjadi kuat agar aku bisa mengemban tugasku mewujudkan keinginan Kakek untuk menjadi penerus tahta kerajaan."

"Sudah sejauh itu?!"

Saking terkejutnya, Ren sampai melompat dari kursinya karena tidak menyangka putrinya memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan oleh gadis seusianya.

"Sial. Apa yang kau katakan pada putriku, Ayah Mertua?!"

Ada rasa marah dan benci, Ren memegang keningnya untuk menahan pusingnya agar ia tidak marah pada Arga, tidak ingin masalah sepele dibesar-besarkan.

Padahal Ren berpikir kalau Arga, ayah mertuanya akan memberitahu itu pada Alice nanti, tapi sepertinya ia sudah memberitahu pada putrinya saat Ren tidak ada di istana.

"Bolehkah aku belajar, Ayah? Aku tidak ingin menjadi lemah dan diremehkan orang lain saat aku menjadi pewaris tahta berikutnya."

"Argh! Aku tidak bisa melihatnya."

Menurut Ren, tatapan putrinya seperti menusuk  hatinya saat ini. Ia tidak tega untuk menolaknya saat melihat tatapan polos penuh permohonan di kilauan mata crimson miliknya menatapnya, membuat Ren tahu kalau ia tidak bisa melakukan apapun selain menyerah.

"Baiklah, Ayah akan ajarkan padamu."

"Yeay~"

Bersorak kegirangan atas bujukan dan rayuan dari mata polos dengan wajah memohon yang diperlihatkan Alice pada Ren, Alice melompat-lompat seolah-olah menang untuk meyakinkan ayahnya untuk tidak menolaknya dengan tegas.

"Tapi, kau harus belajar hal dasar terlebih dahulu."

"Ya, aku paham."

Melihat putrinya memahami apa yang dikatakannya, senyum menghiasi wajah Ren membuatnya meletakkan tangannya diatas rambut pirang putrinya, mengusap-usap rambutnya dengan lembut.

"Kalau begitu, Ayah beri waktu selama sebulan. Jika kau ada perubahan, Ayah akan berikan hadiah nanti."

"Beneran?"

"Ya."

"Asyik... Ayah akan berikan hadiah padaku~"

Melihat putrinya sekali lagi kegirangan, harapan Ren adalah putrinya menyerah agar ia tidak mengajarkan teknik pedang padanya agar ia tidak dimarahi oleh Arga, ayah mertuanya karena mengajarkan putrinya hal yang seharusnya tidak diajari padanya.

Tanpa sepengetahuan mereka, diluar aula makan terlihat Eri yang mendengar percakapan mereka hanya menampilkan senyum kecil di bibirnya, ia tidak sabar untuk memberikan informasi yang diinginkan oleh ibunya saat ini.

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!