seorang gadis bernama Clarisa Oktaviani harus melahirkan seorang anak karena sebuah insiden yang tidak dia harapkan terjadi kepadanya.
Clarisa terpaksa berhenti kuliah karena memiliki seorang anak di luar nikah dan karena hal itu juga membuat orang tua Clarisa mengusirnya dari rumah dan meninggalkan kehidupan serba berkecukupannya.
mampukah Clarisa Oktaviani menjalani hidupnya bersama anaknya dalam kehidupan yang serba kekurangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan dua saudara
waktu berlalu begitu cepat kini sudah waktunya bagi Abi dan Yusuf kembali ke jogjakarta.
"Abi,Yusuf apa kalian berdua sudah siap?, taksinya sudah menunggu didepan hotel ini." Jelas Bara.
"aku tunggu didepan ya." lanjut Bara sambil melangkah pergi meniggalkan Yusuf dan Abi.
Yusuf segera membantu Abi memakai sepatunya setelah selesai mereka berdua segera keluar dari hotel menyusul Bara.
waktu terus berjalan menit dan detik berlalu begitu cepat. Abi, Yusuf dan Bara sudah sampai kota asal mereka.diperjalan kali ini Abi dan Bara tertidur sepanjang jalan. Begitu pesawat lepas landas barulah mereka terbagun dan kaget saat tau mereka telah sampai.
"Ayooo Abi mobil kang Dadang sudah menunggu kita" Yusuf mengajak Abi segera turun.
"Abi masih mengantuk gendong" Mintanya manja.
Yusuf segera menggendong Abi dan membawanya masuk kedalam mobil.
tigapuluh menit perjalanan mereka sudah sampai kerumah Umi salamah.
setelah mengetok pintu Bibi Irah membuka pintu untuk mereka dan mempersilahkan masuk.
Risa yang baru saja keluar dari kamar melihat Yusuf dan Abi berjalan masuk segera menghampiri.
"Abi." ucapnya berhambur memeluk dan meneteskan air mata haru.
"Bunda lepaskan tangan Abi nyeri." Abi berbicara sambil meringis
"oh maafkan bunda nak mana yang sakit?" Risa bertanya dengan wajah kwatir.
"lengan kiri, udah tidak apa hanya saja jika ditekan kuat masih nyeri." Abi menjawab dengan bibir ternyum.
Umi yang datang dari dapur segera menyapa, "kok behenti disitu ayoo masuk kita makan dulu nanti lagi ngobrolnya disambung." tegur Umi
"Ayo Abi bunda sudah buatkan makanan kesukaanmu." Risa berkata sambil menggendong badan kecil Abi kemudian melangkah kedapur diikuti oleh Yusuf,Umi dan Bara.
sesampainya dapur mereka semua makan dengan lahap, Bibi irah dan mang dadangpun tak ketinggalan ikut serta menghabiskan makanan yang tersaji dimeja, Umi dan Yusuf memang sudah menganggap mang Dadang dan Bi irah keluarga.
selesai makan Bara segera berpamitan pulang.
"Abi istirahtlah nak kamu pasti leleh biar bunda temani" Risa berbicara sambil mengusap lengan Abi pelan.
Abi mengagukan kepalanya dan manarik tangan bundanya untuk segera masuk kekamar tamu tempat Risa tidur selama menginap dirumah Umi.
sepeningalan Risa dan Abi. Umi mengajak Yusuf untuk mengobrol diruang tamu.
Umi menceritakan semua massa lalu Risa dan Abi,selesai bercerita Umi bertanya apa Yusuf masih mau menjadiakan Risa pelabuhan Cintanya terahirnya.
dengan Bismillah Yusuf menjawab bahwa ia tak akan mengubah keputusannya.
waktu terus berjalan meju, haripun terus berganti tak terasa Abi sudah dua minggu pualang dari kairo.
Saat ini Umi sedang mempersiapkan segala keperluan Risa dan Yusuf menikah.
Yusuf menginginkan diadakan pegajian setelah selesai ijab kabul sebagai rasa syukurnya terhadap yang maha kuasa.
Umi dan Risa menyetujui keinginan Yusuf itu bahkan Risa dan Abi juga ingin membaca beberapa ayat al-qur'an diacara itu.
Yusuf sangat senang mendengar keinginan Abi dan Risa itu ia juga tak mau ketinggalan memperdengarkan suara merdunya.
"jadi resepsi akan diadakan dihari kedua karna hari pertama hanya Akan dihadiri keluarga dan tetengga serta ibu Arisan saja, benar begitu Yusuf?" tanya Umi.
"ya betul sekali Umi memang pintar" sahut Yusuf memuji.
Umi tidak menyahut ia segera berlalu setelah pertayaannya dijawab Yusuf.
Yusuf menyipitkan matanya melihat Abi membawa kartas undangan sangat banyak.
Abi berjalan kearah Yusuf lalu meletakan semua tumpukan kertas undangan yang bulum diberi nama itu kemeja dihadapan Yusuf yang duduk di sofa.
"Bisakah pa ustazd menolong Abi menulis kartu udangan yang belum ada namanya ini?" tanya Abi dengan hati-hati.
"baiklah jagoan kecil sesuai perintahmu" sahut Yusuf.
Hari demi hari berlalu begitu cepat bagi Risa dan Yusuf.
Hari ini adalah hari pernikahan Yusuf dan Risa.
Yusuf mundar mandir didepan kasurnya membuat Bara yang melihatnya pusing.
"ya ampun Yusuf kau sudah mengulang kata itu sudah lebih dari limapuluh kali."celetok Bara kesal
saya terima nikahkanya Clarissa binti Hermawan dengan mas kawin seperangkat Alat sholat dan mahar Rp 259900 itulah yang berulang kali didengar telinga Bara.
"sudahlah lebih baik aku menemui Abi saja." ucap Bara ia berbicara sambil berjalan keluar dari kamar Yusuf.
dratttttt dratttttt
ponsel yusuf berbunyi diatas nakas.
Yusuf mengangkat telponnya.
"Assalamuaikum mang Dadang."
"walaikumsalam den Yusuf, ini wali nikahnya non Risa sudah bersama saya 15 menit lagi kami akan samapai jika tidak terjebak macet." sahut mang Dadang.
"baiklah terima kasih mang Dadang 30 menit lagi acaranya akan dimulai." Yusuf memberi tau mang Dadang.
setelah tak ada lagi yang dibicarakan, Yusuf menggakhiri sambungan telponnya dengan mengucap salam pada mang Dadang.
semantara kamar Umi Abi sudah selesai memakai baju jas dan rambutnya pun sudah ditata rapi oleh seorang Mua terkenal.
"kau sangat tampan Abi." puji Bara.
"terima kasih pujiannya Om Bara." sahut Abi sambil tersenyum manis.
Abi mendekati Bara lalu ia berucap "Abi sangat berterimakasih pada om Bara, yang mau memberikan Roko itu secara cuma-cuma Abi sudah memulai renovosinya Apa om Bara punya kenalan arsitek wanita yang bisa membantu Abi?" tanya Abi
"hmmmm sepertinyan ada nanti akan aku hubunggi terlebih dahulu." sahut Bara.
"oh ya aku dengar Yusuf sudah menemukan Adik dari ibumu di jerman dan akan datang hari ini menjadi wali nikah apa aku benar?"
"ohya Abi bahkan tidak diberi tau Bunda." Tutur Abi.
"Abi....jadi kamu ada disini." ucap Umi salamah.
"apa acaranya sudah dimualai?" tanya Abi.
"belum Abi tapi om Gio adik dari ibumu ada disini dia baru saja datang bersama mang Dadang, ayo kita temui dia." ajak Umi.
Abi mengganggukan kepalanya ia segera mengikuti Umi yang melangkah keluar menuju kamar tamu.
tok...tok...
"masuklah" jawab Gio dari dalam kamar.
"apa kami mengganggumu?" tanya Umi hati-hati.
"tidak apa-apa Umi." jawab Gio singkat.
"seperti janjiku saat ditelpon kamaren aku akan memperkanalkan anak dari kakamu?" Ucap Umi.
"hai kau tampan sekali." ucap Gio melihat Abi yang masih menggenggam tangan Umi.
"terima kasih om." jawab Abi sambil tersenyum.
"apa om ingin bertemu Bunda aku akan mengantarkan om menemuai bunda?" tanya Abi.
"ya aku ingin sekali bertemu dengan kak Risa." sahut Gio tersenyum senang.
"Ayo ikutilah Abi sini." Abi berbicara sambil berjalan keluar dari kamar tamu.
"siapa namamu." tanya Gio.
"Abimanyu alfarizi." jawab Abi.
"namaku Gio"
Abi terus berjalan sampai kekamar paling besar dirumah Umi salamah disanalah Risa sadang dirias oleh seorang Mua.
sesampainya disana Abi memanggil bundanya dan meminta izin masuk bersama Gio.
Risa yang mendengar nama adiknya disebut sang putra segera menjawab. "masuklah nak"
Abi dan Gio segera membuka pintu dan masuk.
"Gio bagaimana kabarmu dek?" tanya Risa.
Risa dan Gio Adiknya Risa... Karena Sudah 7tahun berpisah dengan Risa.
.
sementara Ayah biologisnya Abimanyu..
keberadaanya Masih ngga jelas... beda dengan cerita yang lain biasanya Mereka cepat Dipertemukan... Dengan Abimanyu atau Risa.... Kalo soal Hermawan aku nggak peduli....
utk penulisan kata² asing lebih baik lihat kamus dulu