Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome to Japan
Walau pun berat jalan yang di lalui tapi akan terasa ringan bila di pupuk dengan doa dan harapan
...*****...
Tak terasa mereka sudah sampai di bandara Internasional Haneda. Pada saat akan turun dari pesawat, Ryu Zaki menyapa sambil menepuk pundak Riri.
"Sampai jumpa lagi dan hati-hatilah! Di sini, sangat berbahaya." lalu, Ryu pun meninggalkannya.
Sesaat dia hanya diam dan termenung. Tak lama kemudian dia pun pergi meninggalkan bandara dan berkeliling Tokyo.
"Hah, gimana nih?! Aku harus kemana?" Riri benar-benar merasa kebingungan dan tak tahu harus kemana. Tiba-tiba saja, dia melihat sosok pria yang tak asing lagi di matanya. Benar ternyata dia memang mengenalnya.
"Pria itu ... bukankah yang duduk di samping ku? Hmm, kalau tidak salah namanya Ryu Zaki, kalau begitu aku minta tolong saja padanya."
Dia pun pergi menemui Ryu dan berharap, Ryu mau membantunya. Saat itu, Ryu tengah asyik memakan sepotong roti, lalu Riri yang baru datang dia berdiri tepat di depan Ryu.
"Hai, masih ingatkan padaku? Kau Ryu Zaki, kan? Aku benar kan?" Ryu, hanya tersenyum dan sambil mengedip-ngedipkan matanya, rasa tak percaya ia berdiri di hadapannya saat ini. Lalu, Riri pun melambaikan tangannya dan berkata.
"Hai ... apa yang kamu lihat? Kamu masih ingatkan padaku? Aku lapar, aku minta rotimu, ya?" Ia pun merampas roti itu dari tangan Ryu dan spontan, Ryu berteriak padanya.
"Hai ...! Kau ini apa-apaan, sih?! Merampas makanan orang sembarangan. Nggak tahu sopan santun, ya? Kenapa kamu menemui ku, apa kamu mengikuti ku? Ah, jangan-jangan dari tadi kau mengikuti ku hingga kemari."
Riri tak tinggal diam, mendengar dirinya di tuduh seperti itu. Dia pun angkat bicara, "Eits, sembarangan! Aku hanya tidak sengaja melihatmu di sini. Makanya, aku kemari." katanya sambil terus mengunyah roti yang di rampas nya tadi.
"Sudahlah, mengaku saja!"
"Aku bilang tidak, ya tidak! Sudahlah, itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah aku butuh tempat penginapan. Tapi, aku sudah sangat lelah dan nggak tahu tempat penginapannya dimana. Aku mohon bantulah aku. Please ...!" katanya sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Hah, menyusahkan saja. Aku mau bantu, tapi ada syaratnya. Gimana? Setuju, nggak?"
"Apa ...? Syarat? Kamu tidak mau menolongku dengan ikhlas?" protesnya pada Ryu.
"Terserah kamu! Mau atau tidak?"
"Ok, setuju. Apa syaratnya?"
Lama sekali Ryu berpikir, dia juga merasa sangat bingung. Di satu sisi dia juga tidak tega harus meninggalkan gadis itu sendirian. Di sisi lain, jika dia mengajak gadis itu untuk ikut dengannya pulang ke rumahnya, pasti ayahnya akan sangat marah. Sungguh, dilema yang melanda jiwa.
Akhirnya, setelah penuh pertimbangan, dia memutuskan.
"Ok, untuk sekarang aku akan coba membantumu untuk mencari tempat tinggal."
Ryu mencari-cari tempat, akhirnya mendapatkan satu tempat.
Mereka pun tiba di tempat penginapan, segera Ryu memesan kamar untuk Riri. Namun, Riri hanya diam dalam kebingungan. Lalu, Ryu pun menghampirinya dan bertanya.
"Kamu kenapa, apa ada yang salah?"
Riri akhirnya berkata jujur.
"Jadi, sebenarnya aku nggak punya uang. Aku mau minta tolong sama kamu,"
"Oh, jadi kamu panik karena nggak punya uang? Lalu, kenapa kamu minta tolong padaku untuk mencarikan mu tempat penginapan?"
"Ok, kalau kamu nggak mau nolong, ya sudah. Aku bisa tidur di pinggir jalan dan terima kasih atas waktumu, permisi!" Dia pergi meninggalkan Ryu begitu saja.
Namun, dia berbalik lagi dan mendekati Ryu.
"Oh, ya alasan saya menemui mu adalah karena saya pikir kamu adalah orang yang baik. Tapi, ternyata malah sebaliknya. Permisi dan sekali lagi terima kasih!"
Riri pun pergi meninggalkan Ryu, kali ini dia tak berbalik lagi. Ryu yang saat itu masih kebingungan dengan sikapnya. Seolah tak menyangka ia akan mengatakan semua itu.
Setelah, ia sadar ia pun langsung mengejar, Riri yang belum terlalu jauh dari tempat itu.
"Hah, sial. Pergi kemana dia, kenapa cepat sekali menghilangnya. Aku harus mencari kemana, tempat ini kan cukup luas. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, di tambah lagi dia tak tahu apa-apa tentang tempat ini. Aku harus segera menemukannya." gumamnya dalam hati.
Hari telah berganti tak terasa sinar mentari pagi sudah mulai meninggi, hingga membuat seseorang terbangun dari tidurnya yang lelap.
Pagi itu, Riri terbangun dari tidurnya setelah semalaman lelah mencari tempat penginapan. Namun, pada akhirnya ia tidur di sebelah cafe, Maid cafes. Maid cafes yang terletak di daerah Akihabara (Tokyo).
"Ughhh, lelahnya. Rasanya badanku pegal semua. Oh, bukankah ini cafe. Tapi bentuknya unik sekali. Lalu, ia putuskan untuk pergi dari tempat itu. Sambil memegang perutnya yang keroncongan karena lapar.
Dari kejauhan ia seperti melihat sosok pria yang ia kenal. Semakin dekat sosok itu, semakin membuatnya tahu siapa sosok itu sebenarnya.
"Bukankah itu, Ryu. Kenapa dia bisa ada disini? Untuk apa dia disini, hah ... sudahlah tidak penting juga buatku. Lagi pula, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa. Pastinya dia kesini bukan untuk mencari ku. Lebih baik aku pergi dari sini."
Dia segera melangkahkan kakinya. namun terhenti karena ada yang memanggilnya.
"Tunggu ...!" teriak Ryu, Ryu yang baru saja berlari merasa sesak napas dan lelah karena mengejar Riri yang ada di depannya saat ini. Ia pun mengatur napas dan mencoba untuk bicara.
"Huh ... huh ... hai, kau kemana saja? Aku mencari mu semalaman. Bahkan, aku tidak sempat tidur. Aku merasa sangat bersalah padamu. Tolong, maafkan aku. Syukurlah, Allah masih mengizinkan aku bertemu denganmu lagi. Hah, Alhamdulillah. Aku sangat bersyukur, kamu baik-baik saja."
"Tunggu, bukankah kamu orang Jepang? Tapi, kenapa kamu mengenal Allah?"
"Ya, aku memang orang Jepang. Tapi keturunan, ibuku adalah orang Indonesia yang beragama Islam dan ayahku yang orang Jepang," tuturnya pada Riri yang mendengarkannya dengan saksama.
"Lalu, agama ayahmu apa?"
"Hemmm, sepertinya kamu sangat penasaran, gimana kalau kita sarapan dulu? Soalnya, aku dengar suara perutmu yang lapar minta di isi,"
"Ups, maaf, ya sebenarnya ...,"
"Tidak perlu di jelaskan. Ayo, ikut aku!"
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya