NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Menjadi Milikku Lagi

“Kak Raina! Sean dan Shia, tunggu aku datang.”

Pintu tertutup, lalu mesin mobil menyala beberapa menit kemudian. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Ryland meninggalkan tempat persembunyiannya. Tujuannya hanya satu. Mansion utama Maximillian tempat Raina, Sean, dan Shia sekarang berada.

...****************...

Ditempat lain, Raina menurunkan ponselnya setelah panggilan dengan Ryland berakhir. Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara pendingin udara yang terdengar samar di antara keheningan kamar. Raina mengembuskan napas lega.

Setidaknya satu hal sudah beres, dimana Ryland akan datang. Itu berarti ia tidak perlu lagi khawatir mengenai apa yang terjadi di luar mansion. Adiknya tahu apa yang harus dilakukan, dan Raina mempercayainya sepenuhnya.

Ia meletakkan ponsel di atas nakas. Lalu berbalik untuk bersiap tidur, namun ketika itu juga Raina membeku saat Sion masih berada di sana. Pria itu berbaring di tempat tidur, tubuhnya bersandar pada sandaran kepala. Matanya terpejam, wajahnya tenang seperti seseorang yang sudah lama tertidur.

Setidaknya begitulah yang Raina pikirkan. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sejak beberapa menit lalu, Sion tidak pernah benar-benar tidur. Pria itu mendengar semuanya. Dari ucapan Raina yang memastikan keadaan baik-baik saja hingga suara Ryland di seberang telepon. Bahkan kalimat terakhir adik iparnya sebelum panggilan berakhir masih terngiang jelas di kepalanya.

Menarik dan detik berikutnya Sion membuka matanya perlahan. "Kenapa kau tidak memberitahunya?"

Raina yang hendak berjalan menuju kamar mandi langsung berhenti. Ia menoleh seraya berkata, "Kau belum tidur?"

Sion tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya justru tertuju pada ponsel di atas nakas. "Kenapa kau tidak memberitahu adikmu itu bahwa aku ingin bertemu dengannya secara langsung?"

Raina terdiam, ia tidak menyangka bahwa Sion mendengarkan pembicaraannya dengan Ryland… lagi. Sungguh Raina tidak menyangka bahwa Sion sekarang sangat hobi menguping dirinya. Sebenarnya seberapa banyak lagi yang belum Raina ketahui tentang mantan suaminya itu, selain pencemburu dan hobi menguping.

Raina menghela napas pelan sebelum akhirnya berjalan mendekati tempat tidur. "Kalau aku memberitahunya, memangnya apa bedanya?"

"Ada."

Sion menatapnya. "Kau bisa mengatakan, 'Ryland, Kakak iparmu yang tampan ingin bertemu denganmu.'"

Nada suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang samar di baliknya. Raina mengangkat alis. "Kakak Ipar? Siapa Kakak iparnya sekarang? Bukankah kita sudah resmi bercerai."

Sontak perkataan Raina langsung membuat Sion terdiam beberapa saat. Perkataan itu memang tidak ada yang salah, karena memang benar mereka sudah resmi bercerai delapan tahun yang lalu.

Lalu dengan percaya dirinya Sion menjawab, "Kalau begitu kita menikah lagi saja."

"Ryland tidak akan pernah menyetujuinya."

"Namun, bukankah keputusan Sean dan Shia yang lebih kuat?"

"Mm, benar juga," gumam Raina tanpa sadar membenarkan. Sampai ia tersadar, “Tunggu, siapa juga yang mau menikah lagi denganmu?”

Sion menatap Raina beberapa detik. "Kau yakin tidak mau menikah lagi denganku?"

Raina tersenyum kecil. "Menurutmu?"

Jelas itu bukan jawaban, namun entah mengapa berhasil membuat Sion kembali terdiam. Entah apa yang pria itu pikirkan, hingga raut wajahnya berubah dingin dan tak terbaca. Hingga akhirnya Raina memilih untuk membuka topik pembicaraan lain.

Raina kemudian duduk di tepi tempat tidur. "Tanpa aku mengatakan apa pun, kalian pasti akan bertemu."

"Kenapa?"

"Karena dia tahu aku." Tatapan Raina melembut. "Dan aku tahu dia."

Ia berhenti sejenak. "Begitulah keluarga yang sesungguhnya."

Sion tidak mengatakan apa-apa. Sebab sejak kecil Sion tidak pernah mengenal apa itu keluarga yang sesungguhnya. Ia hanya tahu ibunya yang bisa memberikan kasih sayang yang tulus, sedangkan ayahnya hanya mementingkan kekuasaan dan kekayaan. Menganggap semua hal bisa diselesaikan dengan uang dan kekuasaan.

Raina menatap wajah dingin pria itu, lalu menyadari sesuatu. "Kenapa? Kau ingin bertanya sesuatu padaku?"

"Ryland akan datang ke sini."

"Itu bukan pertanyaan."

"Dia akan masuk ke mansion ini."

"Dan itu juga bukan pertanyaan."

Sion menghela napas pendek. "Raina."

"Apa?"

"Aku hanya ingin tahu apakah dia datang sebagai adikmu..." Tatapan Sion berubah sedikit lebih tajam. "...atau sebagai pria yang merasa perlu melindungi kakaknya dari mantan suaminya sendiri."

Raina terdiam sesaat, lalu terkekeh. "Akhirnya kau mengakuinya juga."

Sion mengernyit. "Apa? Kenapa tertawa? Status mantan suami hanya akan berlaku untuk sementara, karena secepatnya kita pasti akan menikah lagi, Raina."

"Percaya diri sekali?"

"Tentu saja, karena aku memiliki Sean dan Shia."

Raina menatapnya beberapa saat. Kemudian senyumnya perlahan menghilang. "Kenapa begitu? Sean dan Shia itu anakku."

“Anak kita! Bukankah kau mengatakannya sendiri padaku, kalau Sean dan Shia adalah anak kandungku?” balas Sion.

“Benar juga,” gumam Raina seperti orang bodoh.

“Sudahlah, kita bahas besok lagi saja. Sebaiknya kita tidur sekarang.”

Sion langsung menarik Raina untuk berbaring di sampingnya. Membawa tubuh kecil Raina dalam dekapannya, sedangkan Sean dan Shia masih terlelap disisi ranjang yang lain. Awalnya Raina berniat memberontak, tetapi aroma tubuh Sion seakan menenangkan dirinya. Hingga tanpa sadar ia mulai terlelap begitu saja.

“Raina, aku bisa pastikan kau akan menjadi milikku lagi,” ucap Sion sembari mengecup lembut kening wanita yang pernah menjadi istrinya itu.

...****************...

Cahaya matahari pagi perlahan menyusup melalui celah tirai. Kamar itu masih dipenuhi keheningan ketika sepasang mata kecil perlahan terbuka. Sean menguap pelan, lalu mengedip beberapa kali sebelum mengangkat kepalanya dari bantal.

Di sampingnya, Shia masih meringkuk di bawah selimut. Sean hendak kembali tidur ketika sesuatu di seberang tempat tidur menarik perhatiannya. Ia membeku dan seketika matanya membesar.

Di sana, Papahnya sedang tidur. Dan pria itu memeluk Mamahnya dengan begitu erat seolah takut wanita itu akan menghilang begitu saja jika dilepaskan. Lengan Sion melingkar di pinggang Raina. Wajahnya bahkan terlihat jauh lebih tenang daripada biasanya.

Sean menatap pemandangan itu beberapa detik. Kemudian ia menoleh kepada Shia dan berusaha membangunkannya. “Shia.”

Tidak ada jawaban, ia pun mencoba sekali lagi. “Shia.”

Adiknya hanya menggumam. Sean spontan mendekat dan mengguncang bahunya. “Shia, bangun.”

“Apa...?”

“Lihat.”

Shia membuka satu mata dengan malas. “Apa?”

Sean menunjuk ke arah kedua orang dewasa itu. “Papah sedang peluk Mamah.”

Shia langsung membuka kedua matanya dan langsung duduk begitu saja. “Benarkah?”

Sean mengangguk serius. Keduanya menatap Sion dan Raina, lalu saling berpandangan. Seolah melalui pandangan itu keduanya bisa berkomunikasi satu sama lain. Tidak sampai tiga detik kemudian, mereka mengambil keputusan yang sama.

“AKU DI TENGAH!” Sean langsung melompat dari tempat tidurnya.

“Tidak! Aku dulu!” Shia ikut berlari.

“Sean, minggir!”

“Tidak, Aku kakak! Kakak harus duluan.”

“Aku adiknya! Kakak harus mengalah pada adik.”

“Kalau begitu siapa cepat, dia dapat yang pertama,” ujar Sean.

Bersambung….

1
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
Budhe Satryo
semoga nanti g bisa bngun adik kecilmu kalu Ndak dngn rayna 😄😄😄
Budhe Satryo
good rayna setidaknya ad kenang"an dr mantan suami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!