Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Satu Foto, Satu Sekolah Ikut Campur
Kalau ada satu hal yang paling dibenci Rendra Adijaya setelah berbicara di depan banyak orang, jawabannya adalah menjadi bahan pembicaraan banyak orang.
Sayangnya, semesta tampaknya punya hobi khusus menguji batas kesabarannya.
Pagi itu, Rendra baru saja tiba di kelas XI-A ketika Aldi menyambutnya dengan wajah yang terlalu bersemangat untuk ukuran manusia yang belum sarapan dengan benar.
“Ren. Sini, gue mau nunjukkin sesuatu.”
“Kalau itu video lo joget di depan kaca, gue nggak tertarik.”
“Fitnah. Joget gue berkualitas.”
“Berkualitas buat orang kehilangan keinginan hidup.”
“Bacot. Lihat dulu HP gue.”
Aldi menyodorkan ponselnya.
Di layar, terlihat sebuah unggahan dari akun gosip sekolah yang cukup terkenal di kalangan siswa. Foto yang digunakan adalah foto Rendra dan Naya saat turun dari angkot oranye di gerbang sekolah beberapa hari sebelumnya.
Foto itu diambil dari sudut yang membuat mereka terlihat seperti pasangan yang baru datang ke acara pernikahan mewah.
Padahal, Rendra cuma duduk di dalam angkot sambil berusaha meyakinkan Naya bahwa membeli satu jalur angkot merupakan keputusan yang masuk akal.
Sebuah keputusan yang, kalau dipikir lagi, memang tidak masuk akal.
Di bawah foto itu terdapat tulisan:
GARUDATAMA CONFESSIONS
Katanya cuma teman kelompok, tapi dianterin kendaraan pribadi tiap hari? Kalau bukan pacar, terus apa? Sponsor kehidupan?
Komentarnya sudah mencapai puluhan.
Ada yang menggoda mereka. Ada yang menduga keduanya diam-diam berpacaran. Ada pula yang mengomentari angkot oranye milik keluarga Adijaya seolah-olah kendaraan itu merupakan karakter utama dalam drama televisi.
Aldi menggulir layar sambil menahan tawa.
“Anjir, Ren. Lo sekarang punya julukan baru.”
Rendra menatapnya tanpa ekspresi.
“Apa?”
“Pangeran Angkot.”
“Gue bakal kubur lo di tempat sampah.”
“Jangan, dong. Nanti gue jadi legenda sekolah.”
Rendra mengambil ponselnya sendiri. Ia membuka unggahan tersebut, membaca komentar demi komentar, lalu berhenti pada satu komentar yang membuat dahinya berkerut.
Kasihan ceweknya. Kayaknya nggak bisa nolak karena cowoknya anak orang kaya.
Senyum tipis yang tadi muncul di wajah Aldi perlahan menghilang ketika ia melihat ekspresi Rendra berubah.
“Ren?”
“Gue baca.”
“Ya, gue tahu. Maksud gue, jangan langsung ngamuk.”
“Gue nggak ngamuk.”
Aldi melirik tangan Rendra yang mencengkeram ponsel terlalu erat.
“HP lo mau pensiun dini, tuh.”
Rendra melonggarkan genggamannya.
Ia ingin membalas komentar itu. Ingin menjelaskan bahwa Naya tidak pernah dipaksa menerima tumpangan. Ingin meminta akun tersebut menghapus unggahannya.
Namun, ia teringat percakapannya dengan Naya beberapa waktu lalu.
Kalau lo takut kehilangan seseorang, itu bukan alasan buat mengendalikan orang tersebut.
Rendra mengembuskan napas perlahan.
“Gue mau tanya Naya dulu.”
Aldi berkedip.
“Wah.”
“Apa lagi?”
“Biasanya lo udah menyusun rencana pembelian perusahaan pemilik akun.”
“Gue nggak pernah—”
Aldi mengangkat alis.
Rendra berhenti bicara.
“...Oke. Pernah kepikiran.”
“Nah, gitu dong. Jujur kepada sahabat sendiri.”
“Lo bukan sahabat. Lo gangguan berjalan.”
Naya baru tiba beberapa menit kemudian. Ia meletakkan tas di bangkunya, menyapa Keysha, lalu menyadari Aldi dan Rendra sedang menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Kenapa kalian berdua?”
Aldi langsung mengangkat ponsel.
“Selamat pagi, selebritas Garudatama.”
Naya menatap layar.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah datar.
“Pangeran Angkot?”
Aldi mengangguk bangga. “Julukan kalian sedang naik daun.”
“Gue tanya siapa yang bikin julukan itu.”
“Internet.”
“Internet nggak punya mulut. Orang yang punya.”
Aldi menurunkan ponselnya sedikit.
“Gue cuma menyampaikan informasi.”
Naya mengambil ponselnya sendiri dan membuka unggahan tersebut. Ia membaca caption, kemudian menggulir komentar-komentar di bawahnya.
Awalnya ia tampak tidak terlalu peduli. Rumor soal dirinya dan Rendra memang sudah beredar sejak kejadian di gerbang sekolah. Namun, semakin jauh ia membaca, semakin jelas bahwa beberapa orang mulai membuat kesimpulan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Naya tidak keberatan orang menganggap mereka berpacaran. Ia bisa menghadapi gosip semacam itu.
Yang membuatnya kesal adalah komentar yang menyiratkan bahwa ia tidak punya pilihan.
“Ini orang-orang nggak capek, apa, bikin cerita sendiri?” gumamnya.
Rendra berdiri di samping meja.
“Kalau lo mau, gue bisa minta pihak sekolah menghubungi pemilik akun.”
Naya mengangkat wajah.
“Bisa, atau mau?”
Rendra terdiam.
“Dua-duanya.”
“Ren.”
“Apa?”
“Gue belum bilang mau melaporkan unggahan ini.”
Rendra mengatupkan mulutnya.
Ia tahu Naya tidak sedang marah besar. Nada bicaranya biasa saja, tetapi itu justru membuatnya sadar bahwa ia hampir mengambil keputusan untuk orang lain lagi.
“Gue cuma nggak suka mereka bicara seolah-olah lo dipaksa,” katanya akhirnya.
“Gue juga nggak suka.”
“Jadi—”
“Tapi gue bisa menangani bagian gue sendiri.”
Rendra menunduk sebentar, lalu mengangguk.
“Oke. Kalau lo butuh bantuan, bilang aja.”
Naya memperhatikannya sejenak.
“Terima kasih. Itu baru jawaban yang benar.”
Aldi yang sedari tadi mendengarkan langsung menyela.
“Boleh nggak gue ikut belajar? Soalnya kalau Keysha nggak membalas chat gue selama lima menit, gue langsung mengirim tanda tanya tiga kali.”
Keysha, yang baru kembali dari meja guru, menoleh tajam.
“Pantesan HP gue berisik kayak alarm kebakaran.”
“Gue khawatir!”
“Gue cuma ke ruang guru, Aldi!”
Rendra memijat pelipis.
Ternyata, masalah di kelas mereka tidak akan pernah selesai selama Aldi masih punya akses internet.
Saat jam istirahat, Naya duduk bersama Rendra di meja dekat kantin. Ia membuka kembali unggahan tersebut dan menunjukkan bagian komentar yang paling mengganggunya.
“Lihat ini. Ada yang bilang gue sengaja dekat sama lo karena keluarga lo kaya.”
Rendra mengerutkan kening.
“Kenapa mereka berpikir begitu?”
“Karena orang suka membuat kesimpulan dari informasi yang cuma setengah.”
“Kalau begitu, kita harus menjelaskan yang sebenarnya.”
Naya menatapnya.
“Kita?”
Rendra langsung menyadari kesalahannya.
“Maksud gue, kalau lo mau menjelaskan. Gue bisa membantu memberikan informasi yang benar tentang bagian gue.”
Naya mengangguk kecil.
“Lebih baik. Tapi gue nggak mau bikin unggahan balasan yang malah memperpanjang keributan.”
“Jadi kita diam saja?”
“Bukan begitu. Kita lihat dulu apakah ini cuma gosip biasa atau sudah mengarah ke pelecehan dan penyebaran informasi pribadi. Kalau sudah keterlaluan, kita laporkan lewat jalur yang benar.”
Rendra memikirkan jawaban itu.
Dulu, ia mungkin langsung menganggap masalah bisa selesai jika punya cukup uang atau kekuasaan. Tinggal mencari pemilik akun, menekan mereka, lalu memastikan unggahannya hilang.
Masalahnya, menghapus satu unggahan tidak otomatis menghapus apa yang sudah dipercaya orang.
Dan memaksa orang diam bukan berarti mereka memahami kebenaran.
“Kalau akun itu mengunggah hal lain lagi?” tanyanya.
“Kita simpan bukti dan laporkan kalau perlu. Jangan menyerang balik.”
Rendra mengangguk.
“Gue nggak akan melakukan apa-apa tanpa membicarakannya dengan lo.”
Naya tersenyum tipis.
“Bagus. Pertumbuhan karakter.”
“Gue merasa seperti tanaman yang baru diberi pupuk.”
“Jangan terlalu bangga. Baru tumbuh dua daun.”
Rendra menatapnya datar.
“Dua daun lebih baik daripada tidak ada daun.”
“Benar juga.”
Mereka tertawa kecil. Untuk sesaat, masalah unggahan itu terasa lebih ringan.
Sampai ponsel Naya bergetar.
Sebuah notifikasi muncul dari akun Garudatama Confessions.
Unggahan baru.
Naya membukanya.
Foto kali ini menampilkan Rendra yang sedang berdiri di samping meja Naya pada pagi tadi. Sudut pengambilannya memperlihatkan Rendra sedang menunduk ke arah ponsel Naya, seolah-olah sedang memeriksa apa yang dilakukannya.
Caption-nya lebih provokatif.
UPDATE: Katanya bukan pacar, tapi kok kayak ngawasin terus? Naya nyaman nggak, sih?
Naya terdiam.
Rendra membaca tulisan itu dari sampingnya. Wajahnya langsung mengeras, bukan karena dirinya dijadikan bahan gosip, melainkan karena orang-orang kembali berbicara seolah-olah mereka tahu apa yang dirasakan Naya.
“Gue nggak sedang mengawasi lo,” katanya pelan.
“Gue tahu.”
“Gue cuma mau lihat unggahannya.”
“Gue tahu, Ren.”
Ia berhenti.
Naya mengunci layar ponselnya.
“Yang bikin gue kesal bukan cuma fotonya. Mereka bisa mengambil kejadian biasa, lalu membuat cerita sendiri sampai orang lain ikut percaya.”
Rendra terdiam beberapa saat.
“Kalau gue menjauh dari lo di sekolah, apa rumor ini bakal berhenti?”
Naya menatapnya.
“Gue nggak tahu. Tapi jangan mengubah cara lo bersikap cuma karena mereka.”
“Gue nggak mau bikin lo nggak nyaman.”
“Kalau gue nggak nyaman, gue bakal bilang. Lo juga harus belajar percaya kalau gue bisa menyampaikan itu sendiri.”
Rendra mengangguk pelan.
“Oke.”
Bel masuk berbunyi sebelum mereka sempat membicarakan hal lain.
Naya berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Rendra mengikutinya kembali ke kelas, kali ini tanpa mencoba mencari solusi instan.
Namun, sesampainya di bangku, Naya membuka kembali akun tersebut untuk memeriksa komentar terbaru.
Ada satu komentar dari akun tanpa foto profil.
Pendek saja.
Kalau kalian tahu siapa Rendra sebenarnya, kalian bakal lebih kaget lagi.
Naya membaca kalimat itu dua kali.
Entah kenapa, komentar tersebut terasa berbeda dari lelucon biasa tentang angkot atau rumor pacaran.
Ia membuka profil pengirimnya.
Akun baru. Tidak ada unggahan. Tidak ada informasi yang bisa membantu mengenali pemiliknya.
Naya menatap layar beberapa detik sebelum mematikan ponsel.
Di sebelahnya, Rendra sedang membuka buku pelajaran tanpa mengetahui apa yang baru saja ia baca.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Naya bertanya-tanya apakah seseorang hanya sedang mencari perhatian, atau memang mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui.
Dan ia tidak menyukai kedua kemungkinan tersebut.