kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR YANG MENGUBAH SEGALA NYA.
Beberapa hari terakhir rasanya kayak mimpi indah banget. Arka yang dulunya dingin kayak patung, sekarang sering senyum ke gue. Kita ketawa bareng, ngobrol lama, gue bahkan hampir lupa kalau dulu semua orang takut sama dia.
Sampai sore itu, Bunda Stella manggil gue ke ruang tamu. Ayah Abian juga ada di sana, sama Abang. Wajah mereka serius banget, bikin jantung gue mulai deg-degan.
"Aluna, sini nak duduk dulu," Bunda menyapa lembut.
Gue duduk tegak, tangan meremas ujung rok. "Bunda, Ayah… gue salah apa?"
yang ada di fikiran gue sekarang, " gue ada salah kah?, kenapa mereka semua manggil gue? tapi gue enggak nga ngapain.
Ayah Abian tersenyum tipis, menepuk pundak gue pelan. "Bukan begitu, Nak. Justru ada hal penting yang mau kami sampaikan. Hal yang sudah dibicarakan kedua keluarga sejak lama."
Gue mengerutkan kening. "Hal apa yahh?"
"Keluarga kita sama keluarga Danendra sudah bersahabat sejak lama,dan dulu bunda sama mommy Amara sudah janji kalau anak bunda cewek dan anak mommy Amara cowok kami udah sepakat akan menjodohkan mereka.
Bunda melanjutkan. "Dan sekarang… Mommy Amara sama Daddy Daffa mengajukan satu permintaan."
"Permintaan apa?" tanya gue pelan, sedikit takut dan deg- degan, perut gue rasanya juga mau mual dikit.
Ayah Abian menatap gue lekat-lekat.
"Mereka mau pertunangan Kamu sama Arkananta Danendra segera di lakukan. "
"HAH?!! YANG BENAR AJA YAAAHH AKU SAMA ARKA BAHKAN BARU AKRAB BEBERAPA HARI INI LOHH MASAA IYAAA KITA TIBA-TIBA BERTUNANGAN GINI?." teriak gue yang sedikit terkejut mendengar itu.
mereka semua yang adaa disana menatap Aluna dengan tatapan datar dan sedikit tajam.
"hewhehehe maapp yah, bun, abang janji enggak akan lakuin itu lagi."
"kalau kamu enggak mau sama Arka besok kita bilang langsung sama keluarga Danendra kalau kamu enggak mau tunangan sama arka. " kata ayah gue dengan nada dingin dan tatapan datar nya.
Gue melongo, mulut gue terbuka sedikit tanpa sadar mendengar apa yang dikatakan ayah gue.
gue melihat ke arah bunda gue yang nampak sangat sedih pas ayah gue bilang begitu. " luna pikir dulu yah, tapi yahh luna masih sekolah sekarang apa enggak kecepatan?"
"kamu masih bisa sekolah seperti biasa kok." ucap ayah gue dengan nada lebih lembut
"Gue… sama Arka?!" yang benar ajaa ini bahkan enggak adaa di fikiran gue dulu, gue bahkan enggak cinta sama dia.
"Benar," Bunda mengangguk pelan. "Keluarga Danendra keluarga yang baik. Arka anak yang bertanggung jawab."
"Tapi… tapi Bunda!" gue berdiri tanpa sadar. "Kita kan cuma teman deket! Gue sama dia belum ada apa-apa! Lagian dia itu… dingin banget! ,kita juga enggak saling cinta Gimana kalau dia nolak?!"
Daniel menepuk punggung gue pelan. "Tenang dulu, Luna. Belum tentu dia nolak kok."
"Terus gimana kalau dia nerima cuma karena terpaksa bang? Gue nggak mau dipaksa, Bang!"
Ayah Abian berdiri, menatap gue lembut tapi tegas.
"Kami nggak akan memaksa kamu, Aluna. Besok Daddy Daffa sama Mommy Amara datang ke sini. Kamu boleh bicara langsung sama Arka. Tanyakan sendiri apa yang dia rasakan."
Malam itu gue nggak bisa tidur. Berguling ke kiri ke kanan, kepala penuh tanda tanya. pikiran gue berantakan, dan omongan ayah bunda gue tadi enggak bisa lepas dari kepala gue.
Jodoh sama Arkananta Danendra? Sosok yang dingin, tenang, sempurna?
Kalau dia nerima… apakah itu berarti kita bakal jadi pasangan beneran? Atau cuma pura-pura di depan keluarga?
Dan kalau dia nolak… gimana perasaan gue nanti? 😔
SKIP.
Pagi harinya, pintu rumah diketuk. Jantung gue meloncat keluar.
Mereka datang. Daddy Daffa, Mommy Amara… dan di belakang mereka, berdiri sosok yang gue pikirkan semalaman.
Arkananta Danendra berdiri tenang, wajahnya kembali datar seperti biasa. Tapi saat matanya bertemu dengan mata gue… ada sesuatu yang berbeda di sana.
Ada kegelisahan. Dan sesuatu yang lain — yang gue belum berani kenali namanya.
okayy cukup sampai sini dulu yahhh, ini udah gue revisi kok. cerita yang sekarang mungkin akan sedikit nyambung dengan cerita yang gue bikin kemarin.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SUBSCRIBE DAN KOMEN YAHHH, GUEE MAKSAAAAA SOALNYA HEHE ˃͈◡˂͈
soalnya gue udah bikin lebih dari 600 kata dan itu enggak mudah bagi gue, jadi tolong dukungan yahh😗😗
kalau rame besok kita bikin yang lebih menarik lagi okayy. (◠‿◕)