Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Setelah lantai dua puluh, anak-anak tangga di menara itu menjadi lebih curam dan lebih sempit. Dindingnya dipenuhi pahatan wajah bertudung kain, dan setiap lantai yang mereka injak membawa bau yang berbeda: besi berkarat di lantai dua puluh lima, air busuk di lantai tiga puluh tujuh, belerang di lantai empat puluh.
Lu Heng masih berjalan di depan, tetapi telapaknya tidak lagi menyala tanpa jeda. Seekor serigala batu dari kegelapan lantai tiga puluh menggores bahunya, dan ia mengusap darah di lengannya dengan gerakan kasar.
Yu Tian melirik luka itu sekilas, dan Lu Heng membalas tatapannya dengan mata menyala.
"Aku tidak butuh dikasihani." Telapaknya mengepal di sisi tubuh, dan darah menetes dari ujung jarinya ke lantai batu.
Yu Tian mengangkat bahu dan melangkahi bangkai serigala itu.
"Aku tidak mengatakan apa-apa." Nada ringannya saja sudah membuat Lu Heng mengertakkan gigi, dan ia mendahului mereka menaiki tangga tanpa menoleh lagi.
Mereka berhenti di lantai empat puluh. Lu Heng duduk menjauh dengan punggung bersandar ke dinding, napasnya berat dan cincin di jarinya berpendar redup. Lan Shuang justru melangkah ke sisi Yu Tian dan duduk sejengkal darinya, lalu menyodorkan kantong air dari pinggangnya tanpa berkata apa-apa. Yu Tian menerimanya, meneguk dua kali, dan mengembalikannya.
"Dari siapa kau belajar pedang?" tanya Lan Shuang, dan matanya jatuh pada gagang pedang putih itu.
Yu Tian menyandarkan kepala ke dinding dengan mata setengah terpejam. "Dari seseorang yang jauh lebih pandai daripada gurumu, dan tidak akan pernah kau temui."
'Dari diriku sendiri, tentu saja.'
Lan Shuang mendengus pendek, tetapi sudut bibirnya naik sedikit. Di seberang ruangan, mata Lu Heng mengukur sejengkal jarak di antara bahu mereka berulang kali.
Lantai demi lantai terlewati. Burung besi menukik dari langit-langit dan jatuh berdentang di bawah api Lu Heng. Ular api melata keluar dari retakan dinding dan hangus menjadi abu.
Setiap kali Lu Heng mendarat dengan kuda-kuda goyah, Yu Tian sudah melangkah ke sisi kanannya sebelum cakar atau taring sempat menyentuh. Lan Shuang berjalan sejajar dengan Yu Tian, dan semakin tinggi mereka naik, semakin dekat pula jarak antara jubah abu-abu itu dan kerudung biru tua di sampingnya.
Di lantai enam puluh enam, aula itu sunyi dan dindingnya penuh wajah pahatan yang mulutnya terbuka. Yu Tian menahan langkah dan mengangkat tangan. Dari mulut-mulut batu itu merembes kabut hijau pucat yang berbau manis dan getir, menyebar di lantai setinggi mata kaki.
'Racun. Tubuh suci ini tidak kebal terhadapnya.' Ia menarik lengan jubah Lan Shuang ke belakang punggungnya dan menutup hidung gadis itu dengan lipatan lengannya sendiri. "Tahan napas. Jangan bergerak."
Lu Heng sudah mengangkat telapaknya dengan api merah yang menyala. "Aku bakar saja."
Yu Tian menoleh tanpa berkedip. "Satu percikan, dan seluruh lantai ini meledak. Kalau kau ingin jadi arang, silakan, tapi jangan seret kami."
Lu Heng membeku dengan api yang masih bergetar di telapak tangannya, lalu perlahan mengatupkan jari. Yu Tian mencari titik ketiga dari kiri, wajah pahatan yang matanya sedikit lebih dalam dari yang lain, dan menekankan sebutir inti monster ke rongga matanya.
Klik!
Kabut hijau itu tersedot masuk ke lantai, dan wajah-wajah batu itu menutup mulutnya satu per satu.
"Kau paham formasi?" Lan Shuang menurunkan lengan jubah Yu Tian dari wajahnya, dan matanya yang jernih lebih terang daripada yang pernah ia tunjukkan.
Yu Tian melepaskan lengan bajunya dan berbalik.
"Sedikit." Ia melangkah ke tangga lebih cepat daripada biasanya, dan di belakang mereka Lu Heng menarik napas pendek tanpa berkata apa pun.
Di lantai tujuh puluh delapan, lutut Lu Heng menekuk di tengah serangan, dan seekor kera besi hampir menghantam kepalanya sebelum pedang putih menembus punggung makhluk itu dari belakang. Yu Tian menarik pedangnya, melemparkan sebutir pil pemulih ke dada Lu Heng tanpa menoleh, dan berjalan terus. Lu Heng menggenggam pil itu sampai kukunya memutih dan menelannya dengan rahang mengeras. Ia tidak mengucapkan terima kasih.
Menjelang lantai seratus, monster-monster di sana sudah setara Istana Roh, dan Yu Tian menebas mereka satu per satu tanpa memperlambat langkah. Lu Heng hanya mampu membakar yang tersisa. Ketika mereka akhirnya sampai di lantai seratus tiga, tidak ada satu pun monster menunggu. Aula itu luas dan hening, dengan lantai perak yang berpendar lembut dan sebuah tangga spiral naik ke langit-langit.
'Satu lantai lagi. Hadiah dari jiwa si pembangun menara.' Yu Tian menyandarkan punggung ke pilar dan memejamkan mata sebentar.
Tidak lama kemudian, bahu kirinya terasa berat. Kepala Lan Shuang telah terkulai di sana dengan napas teratur, dan lengan jubah di pergelangan kirinya masih menutup gelang itu. Yu Tian membuka satu mata, menatap langit-langit lama sekali, dan tidak bergerak sedikit pun.
...------...
Lu Heng duduk di sisi lain aula dengan kedua lutut tertekuk. Qi di dantiannya nyaris kosong, dan cincin perak di jarinya terasa dingin tanpa denyut. Ia sudah menghitung berapa kali Lan Shuang menoleh ke arah pemuda itu sepanjang lantai-lantai tadi, dan ia berhenti ketika angkanya melewati batas yang bisa ia terima. Sekarang, di bawah cahaya perak itu, kepala gadis itu bersandar di bahu orang asing, dan pemuda itu tidak mengusirnya.
'Aku yang menopang nama kami. Aku yang berdiri di depan setiap monster. Dan dia bersandar pada pundak orang asing yang baru kemarin muncul.' Kukunya menekan telapak tangannya sendiri sampai berdarah. Ia menunduk, dan cincin di jarinya berdenyut sekali, dua kali, dengan cahaya biru yang makin gelap. Aula itu begitu hening sampai ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Sebuah bisikan masuk ke kepalanya, bukan lewat telinga, rendah, tenang, dan sangat dekat.
'Kau lelah, bukan? Lelaki itu terlalu kuat, dan kau tahu itu. Bunuh dia. Setiap tetes Qi yang kau rebut dari tubuhnya akan menjadi milikmu, dan kau tidak perlu lagi meminjam kekuatan dari siapa pun.'
Lu Heng tidak bergerak, tetapi ujung jarinya mendingin.
Lu Heng mengangkat kepalanya perlahan. Pandangannya jatuh pada leher Yu Tian yang terbuka, pada gagang pedang putih di pinggangnya, dan pada kepala Lan Shuang yang masih bersandar tenang di bahu itu. Ibu jarinya memutar cincin sekali. Ia tidak menjawab suara itu. Tetapi ia juga tidak mengatakan tidak.