NovelToon NovelToon
Obsesi Cinta Tuan Arogan

Obsesi Cinta Tuan Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Matcha Lala

Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Darren menatap sahabatnya. "Lah Lo nyuruh Nadia memakai pakaian tertutup, sedangkan lo matanya jelalatan ke Jessica. Enggak adil itu mah," ucap Darren.

Dimas menatap Darren. "Diem, gue lagi males debat," ucap Dimas.

Darren tersenyum miring setelah itu ia menatap Nadia yang hanya diam. "Mau pesan apa nad?," ucap Darren.

Nadia menatap Darren. "Yang biasanya aku pesan aja kak," ucap Nadia.

"Oke, gue pesankan," ucap Darren.

Dimas mengerutkan dahinya. "Kalian sering jalan bareng?," ucap Dimas.

Darren menatap Dimas. "Sebelum Lo nikah, gue sama Nadia sudah Deket. Jadi jangan banyak bicara, pilih apa yang mau Lo pesan, jangan bertele tele," ucap Darren.

Dimas mengepalkan kedua tangannya dan dan memegang paha Nadia. Gadis itu terkejut bukan main, saat merasakan tangan sang suami berasa di pahanya.

"Paha Lo terlalu terekspos," ucap Dimas.

"Maaf kak," ucap Nadia.

Darren menghela nafas dengan kasar dan memesan makanan untuk mereka bertiga setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan pun tiba. Mereka langsung memakan makanan tersebut, dan tangan kiri Dimas Masih setia berada di paha Nadia. Gadis itu sudah terbiasa dan membiarkan tangan suaminya di pahanya.

"Selesai makan, gue langsung pulang aja. Kayaknya kalian lagi butuh waktu berdua," ucap Darren.

"Oke," ucap Dimas.

Dimas membalas dengan singkat, setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Nadia menatap Darren yang terlihat tidak mood.

"Kakak kenapa?," ucap nadia.

Darren menatap Nadia. "Enggak papa kok, makan yang banyak. Kalau mau nambah kasih tau gue aja," ucap Darren sambil menampilkan senyum manisnya ke arah Nadia.

"Ini sudah cukup bangat tau kak, makasih atas traktirannya," ucap Nadia.

Darren mengusap rambut Nadia dengan lembut. "Enggak masalah, apapun yang Lo mau, gue bakal penuhi," ucap Darren.

Dimas menepis tangan Darren. "Lo bisa jangan sentuh sentuh enggak? Inget dia istri gue," ucap Dimas.

Darren tertawa kecil. "Eh ternyata Lo akui juga, kirain enggak di akui," ucap Darren.

Dimas menatap tajam Darren, Nadia yang melihatnya langsung mengusap lembut tangan Dimas. "Udah kak, jangan berantem di sini ya. Banyak orang di cafe ini," ucap Nadia.

Dimas menganggukkan kepalanya, Darren hanya diam dan memilih untuk melanjutkan memakan makanannya. Setelah selesai mereka langsung pulang ke rumah masing masing. Di dalam mobil, dimas hanya diam karena masih kesal saat mengingat Darren mengusap rambut Nadia tadi. Nadia yang melihat suaminya hanya diam langsung meletakkan telunjuk tangannya ke lengan Dimas.

Dimas menatap Nadia yang tengah menatapnya. "Apa?," ucap Dimas.

"Kakak jangan marah ya, tadi kak Darren cuman bercanda kok. Aku dan kak Darren real teman aja, enggak ada hubungan yang lain," ucap Nadia.

"Mau kalian punya hubungan pun gue enggak peduli, Karena gue punya Jesica, jadi jangan salah paham sama sikap gue tadi," ucap Dimas.

Nadia langsung menundukkan kepalannya dan memainkan jari tangannya karena merasa sedih. Dimas benar benar selalu melukai hatinya, namun Nadia hanya bisa diam dan pasrah. Ini sudah resikonya menikah dengan pria yang hatinya ada di wanita lain. Mobil berhenti di halaman rumah, Nadia langsung keluar dari dalam mobil tanpa sepatah katapun.

Dimas menatap Nadia dan mengejar Nadia. "Tunggu," ucap Dimas.

Nadia membalikkan tubuhnya. "Iya kak," ucap Nadia.

"Gue enggak suka liat Lo sedekat itu sama Darren. Gue kesal liat kalian berinteraksi, gue juga enggak suka liat Lo memakai pakaian pendek ini. Gue enggak suka Lo di tatap banyak pria, gue enggak suka nadia," ucap Dimas.

Jujur saja, Dimas sebenarnya adalah pria yang posesif. Dia tidak suka melihat miliknya di lihat oleh orang lain. Dulu Dimas sudah memberi tau Jessica agar berpakaian lebih tertutup, namun gadis itu mengancamnya akan memutuskan Dimas jika pria itu banyak bicara. Nadia tersenyum kecil, dan memegang tangan sang suami.

"Yasudah, aku enggak bakal pakai rok lagi. Maaf ya, Karena sudah lancang berpakaian terbuka di depan banyak orang," ucap Nadia.

Dimas memeluk Nadia, entah kenapa sejak liburan waktu itu Dimas tidak bisa berjauhan dengan Nadia. Setiap di dekat Nadia, dia merasakan kenyamanan dan merasa dirinya benar benar di jaga oleh Nadia.

"Bukannya gue mau egois, tapi gue memang enggak suka liat milik gue menjadi pusat perhatian pria lain," ucap dimas.

Nadia tersenyum kecil. "Iya, sekali lagi maaf ya kak," ucap Nadia.

Dimas menganggukkan kepalannya dan tiba tiba saja kedua orang tua Dimas datang. "Wah, pemandangan yang indah," ucap ibunya Dimas.

Ibu dari Dimas tertawa kecil melihat anaknya yang terlihat posesif memeluk nadia. Dimas melepaskan pelukannya dan menatap kedua orang tuannya yang berdiri di belakangnya.

"Mama, papa. Kapan sampainya? Kok enggak kasih tau kalau mau kesini," ucap Dimas.

"Mama dan papa mau buat kejutan untuk kamu, makannya mama dan papa diam diam dateng ke sini," ucap ibunya Dimas.

"Oh yasudah, masuk ma, pa," ucap Dimas.

Kedua orang tua Dimas masuk ke dalam rumah, Nadia langsung membuatkan minuman dan menyiapkan beberapa cemilan. Dimas? Pria itu tengah duduk bersama dengan kedua orang tuannya.

"Kapan istri kamu hamil hmm? Mama sudah enggak sabar dapat cucu dari kamu dan nadia, ingat Dimas usia kamu semakin lama semakin bertambah. Usia mama dan papa juga semakin bertambah, jadi mama dan papa mau menggendong cucu sebelum tuhan menjemput ajak mama dan papa," ucap ibunya Dimas.

"Mama kok bicara seperti itu sih?," ucap Dimas.

"Mama hanya mengingatkan saja, jangan bilang kamu belum menyentuh istri kamu?," ucap ibunya Dimas.

"Ma," ucap ayahnya Dimas sambil memegang bahu istrinya.

"Sudah, jangan terlalu memaksa. Mungkin Dimas mau fokus kerja, mama yang sabar ya," ucap ayahnya Dimas.

"Enggak bisa pa, mama pengen banget gendong cucu," ucap ibunya Dimas.

"Ma, Dimas capek kalau mama terus meminta hal hal yang belum tentu bisa di dapatkan. Itu butuh proses ma, enggak bisa instan. Dimas harap mama bisa sabar, kalau sudah takdirnya pasti mama akan punya cucu," ucap Dimas.

Ibu dari Dimas langsung terdiam, mendengar ucapan dari anaknya. Nadia yang akan membawa minuman dan cemilan langsung menghentikan langkahnya.

"Udah ya ma, dimas juga lagi berusaha. Mama jangan terlalu memaksa mereka ya, jika tuhan sudah mengizinkan pasti mereka akan memiliki anak," ucap ayahnya Dimas.

Ibu dari dimas menganggukkan kepalanya. "Maafin mama ya dim, mama terlalu egois," ucap ibunya Dimas.

"Enggak papa kok ma, Dimas paham. Tapi Dimas mohon mama bersabar," ucap Dimas.

Ibu dari Dimas menganggukkan kepalanya. Setelah tenang barulah Nadia datang dan meletakkan minuman serta cemilan di atas meja. Ibu dari Dimas memegang perut Nadia.

"Semoga segera isi ya, mama udah enggak sabar ngelus perut buncit kamu," ucap ibunya Dimas.

"Doain aja ya ma," ucap Dimas.

Ibu dari Dimas menganggukkan kepalanya, setelah itu dians pun diam dan merasa bersalah pada sang ibu. Ia tidak menyangka ibunya benar benar sangat ingin memiliki cucu darinya dan Nadia. Ayah dari Dimas memegang bahu anaknya.

"Jangan terlalu di pikirkan, kalau sudah waktunya pasti kalian memiliki anak," ucap ayahnya Dimas.

Dimas hanya tersenyum. 'bagaimana mau memiliki anak, menyentuh Nadia lebih dalam saja aku belum pernah. Maafin aku ma, pa,' batin Dimas.

Terdengar suara bel berbunyi, Dimas pun langsung membuka pintu rumah dan terkejut saat melihat wanita yang berstatus sebagai kekasihnya berada di depan rumah.

"Halo sayang," ucap Jessica dan langsung memeluk erat Dimas. tanpa mereka sadari, ayah dari Dimas melihat kejadian itu.

"Apa apaan ini?," ucap ayahnya Dimas.

1
Novansyah
lanjut kk menurut AQ bagus sih
Novansyah
bagus kk lanjut update nya tapi jangan lama2
Zuri Atulaini
ini novel gila jangan di baca aku gk mau langjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!