mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.bos rese
Suasana kantin kantor pagi itu terasa sangat hidup. Silla dan Hana asyik mengobrol di pojok ruangan, sesekali tertawa terbahak-bahak sampai menjadi pusat perhatian karyawan lain.
"Demi apa, Han?! Anak SMA?!" Silla hampir tersedak es teh manisnya.
Hana mengangguk pasrah sambil menopang dagu, "Iya, Sil! Bocah labil itu tiap hari nungguin di depan lobi kantor Argadana bawa susu kotak sama roti cokelat. Katanya, 'Kak Hana, semangat ya kerjanya, jangan lupa sarapan dari aku.' Astaga, dia enggak tahu apa ya kalau aset perusahaan yang gue kelola aja bisa buat beli pabrik susunya?"
Silla tertawa geli, sesaat melupakan beban kerjaannya. Namun, tawa itu langsung terhenti seolah ada remote yang menekan tombol mute. Atmosfer di sekitar mereka mendadak dingin.
Dari kejauhan, sesosok pria dengan setelan jas rapi berjalan tegap mendekati meja mereka dengan senyum meremehkan yang sangat khas. Sagara.
"Oh, jadi ini yang namanya efisiensi waktu kerja?" Sagara bersedekap, menatap Silla dengan tatapan menuntut, lalu beralih tersenyum sopan pada Hana. "Selamat pagi, Ibu CEO Hana. Maaf kalau karyawan saya agak kurang tahu diri jam segini sudah asyik bergosip."
Silla langsung menegakkan punggungnya, menatap Sagara dengan tatapan tajam yang siap menusuk. Mood bagusnya pagi ini runtuh seketika.
"Maaf Pak Sagara yang terhormat, ini masih jam tujuh lewat empat puluh lima menit. Jam kantor baru mulai jam delapan tepat. Jadi, hak saya dong mau sarapan atau ngobrol sama Bu Hana. Lagipula, Bu Hana ini tamu VIP Anda, harusnya Anda senang saya menjamu beliau dengan baik."
Sagara Tersenyum tengil, menarik kursi di sebelah Silla tanpa permisi
"Menjamu atau numpang curhat, Silla? Saya tadi dengar samar-samar ada yang bilang 'mantan menyebalkan'. Siapa yang kamu maksud? Kayanya di kantor ini mantan kamu cuma satu, dan kebetulan dia ganteng, sukses, dan sekarang jadi bos kamu."
Sila langsung Memutar bola mata malas
"Percaya diri Anda itu benar-benar di atas rata-rata ya, Pak. Tolong bedakan antara percaya diri dan tidak tahu malu. Dan satu lagi, kita di sini sedang membahas bisnis antara Argadana dan perusahaan kita, jangan bawa-bawa masa lalu yang sudah saya buang ke tempat sampah."
Sagara terkekeh, sengaja mendekatkan wajahnya ke arah Silla"Oh ya? Kalau sudah dibuang ke tempat sampah, kenapa muka kamu langsung merah begitu waktu saya datang? Grogi ya ditatap mantan?"
"Ini merah karena saya menahan emisi kemarahan melihat muka menyebalkan Anda, Pak Sagara!"
Sagara Langsung mengubah ekspresi menjadi bos yang otoriter tapi tetap menyebalkan
"Oke, cukup dramanya. Silla, berhubung mood kamu lagi bagus setelah bergosip, tolong siapkan berkas proposal kerja sama dengan Argadana. Ingat, saya minta dicetak tiga rangkap, pakai map warna biru tua—ingat, biru tua, bukan biru muda—dan antarkan ke ruangan saya dalam waktu lima belas menit. Sekarang."
"Lima belas menit?! Pak, dokumen itu tebalnya lima puluh halaman! Mesin fotokopi kantor kita bukan pakai kekuatan sihir!"
Sagara Berdiri sambil merapikan jasnya, menatap Silla dengan kedipan mata yang meledek
"Saya tidak mau tahu. Kamu kan mantan sekaligus.. sekretaris terbaik saya, pasti bisa dong? Oh, dan satu lagi... buatkan saya kopi hitam, gulanya setengah sendok teh saja. Antar sekalian bersama dokumennya. Jangan lambat, Silla."
"Sagara!! Lo sengaja ya?!" Silla refleks memanggil nama aslinya karena terlalu kesal.
Sagara melihat sambil tersenyum kemenangan
"Di kantor panggil saya 'Pak', Silla. Saya tunggu di ruangan saya. Selamat pagi, Hana, saya duluan ke ruangan rapat."
Sagara melenggang pergi dengan santai, meninggalkan Silla yang napasnya sudah memburu akibat menahan kekesalan. Sementara itu, Hana yang menonton perdebatan panas tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawa melihat tingkah kekanak-kanakan dua orang di depannya ini.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆