NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI

PENGANTIN PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

yang penting cuan

Keheningan malam yang damai di "Istana Majapahit" buatan Cesa mendadak runtuh berantakan ketika pintu gerbang depan depan dan pintu utama rumah dibuka dengan kasar dari luar. Suara gelak tawa yang bising dan langkah kaki yang ramai berdentum di lantai marmer, seketika merusak alunan musik instrumen klasik yang sedang bergema di ruangan tersebut.

Devan datang. Pria itu melangkah masuk dengan gaya yang sangat sombong, angkuh, dan penuh dengan aura tengil khasnya. Ia mengenakan kemeja hitam satin yang sengaja dibuka tiga kancing atasnya, memamerkan kalung rantai perak di lehernya, dipadukan dengan celana kain slim-fit. Devan tidak datang sendirian. Di sebelah kanan dan kirinya, berjalan dua teman laki-lakinya yang tak kalah tengil. Salah satunya adalah Brian, cowok berambut pirang terang dengan wajah tampan blasteran China-Indonesia yang malam itu mengenakan jaket bomber bermerek. Di sisi lainnya ada Dodo, cowok dengan gaya rambut mulet yang khas, mengenakan kaos oversized dan celana jeans yang robek-robek parah di bagian lutut hingga pahanya.

Yang membuat suasana semakin heboh dan kacau, Devan juga membawa serta enam orang wanita random berpenampilan seksi dengan pakaian mini dan riasan tebal, yang jelas-jelas merupakan para wanita pemandu lagu alias LC (Lady Companion) yang sengaja ia sewa dan bawa pulang dari club malam tempatnya berpesta.

Keenam wanita itu bergelayutan di lengan Devan, Brian, dan Dodo sambil tertawa-tawa dengan suara centil.

Devan sengaja membawa pasukan ini pulang dengan satu tujuan pasti: mengganggu, membalas dendam, dan menghancurkan ketenangan Cesa setelah insiden banner dan pengguntingan baju semalam. Devan ingin menunjukkan bahwa dia adalah penguasa rumah ini dan bisa berbuat semaunya.

Namun, langkah kaki Devan dan pasukannya seketika terhenti begitu mereka sampai di ruang tengah utama. Mata Devan membelalak sempurna, sementara Brian dan Dodo melongo lebar melihat pemandangan ajaib di depan mereka. Keenam wanita LC itu bahkan menghentikan tawa centil mereka dan menatap dengan pandangan bingung sekaligus syok.

Di depan mereka, Cesa masih anteng duduk di atas kursi singgasana raksasa ala Kerajaan Majapahit, dengan wajah bermasker pink terang, dress satin abu-abu seksi, dan dikelilingi oleh barisan pelayan yang sedang memijat serta menyuapinya buah.

"Hah?! Apa-apaan ini?!" teriak Devan dengan nada tengilnya yang meninggi, memecah keheningan. Ia berjalan mendekati kursi singgasana Cesa sambil berkecak pinggang. "Heh, pengantin pengganti! Lo ngapain pake kursi ginian di rumah gue?! Terus muka lo kenapa kayak babi pink begitu?! Hancur banget estetika rumah mewah gue, anjir!" bentak Devan, mencoba memprovokasi.

Cesa perlahan membuka matanya. Di balik masker pink yang sudah mengeras, matanya menatap Devan dan rombongannya dengan pandangan yang sangat datar dan dingin. Bukannya panik, takut, atau marah melihat suaminya membawa enam wanita seksi ke dalam rumah, Cesa justru menunjukkan sikap yang sangat bodo amat. Ia bahkan tidak beranjak senti pun dari kursi singgasana besarnya.

Cesa menoleh ke arah pelayan yang memegang piring buah. "Bi, suapin anggur lagi satu. Yang gedean," ucap Cesa santai, mengabaikan keberadaan Devan sepenuhnya.

Melihat dirinya dikacangin total, ego Devan sebagai cowok tengil langsung terluka. Ia mendengus kesal dan langsung menarik salah satu wanita LC yang paling seksi untuk duduk di pangkuannya di atas sofa yang terletak tepat di hadapan kursi singgasana Cesa.

"Oh, lo mau main cuek-cuekan sama gue? Oke, lihat nih ya!" seru Devan dengan sengaja. Ia mulai bermesraan secara berlebihan di depan mata Cesa. Devan merangkul pinggang wanita LC itu, membelai rambutnya, dan sengaja tertawa kencang-kencang sambil berbisik mesra di telinga sang wanita. Brian dan Dodo yang paham rencana Devan langsung ikut-ikutan bermesraan dengan wanita LC lainnya, mencoba menciptakan suasana panas untuk memancing api cemburu atau kemarahan Cesa.

"Aduh, Sayang, kamu haus gak? Mau aku ambilin minum?" ucap Devan dengan suara yang sengaja dibuat manis dan keras, matanya melirik ke arah Cesa untuk melihat reaksinya.

Namun, ekspektasi Devan hancur total. Cesa benar-benar menampilkan level kebodoamatan yang sudah mencapai tingkat dewa. Bagi Cesa, keberadaan Devan dan pasukan wanita seksinya itu tidak lebih menarik daripada segerombolan semut yang sedang berjalan di lantai. Cesa sama sekali tidak melirik ke arah adegan mesra buatan Devan. Ia malah sibuk menikmati pijatan di kakinya yang dirasa mulai merenggangkan otot-ototnya yang lelah setelah seharian berenang dan membuat gosip keliling komplek.

Cesa kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di sandaran kursi singgasana, lalu membuka aplikasi kamera depan. Ia melihat wajahnya yang bermasker pink di layar ponsel, lalu mengambil beberapa foto selfie dengan gaya dua jari (peace) yang kocak di atas kursi singgasana Majapahit-nya. Setelah itu, ia kembali menaruh ponselnya dan menguap lebar.

"Mang, kipasnya agak kencangan dikit dong. Gerah nih, ada hawa-hawa polusi udara masuk dari club malam," sindir Cesa dengan nada santai namun menusuk tajam, merujuk pada rombongan Devan.

Devan yang mendengar sindiran itu langsung melepaskan rangkulannya dari wanita LC di pangkuannya. Wajah cowok tengil itu memerah karena kesal. Rencana untuk membuat Cesa cemburu atau mengamuk gagal total karena sifat barbar dan masa bodoh Cesa yang berada di luar nalar manusia normal.

"Heh, Cesa! Lo punya kuping kagak sih?! Lo gak liat gue bawa siapa aja ke rumah ini?! Gue ini suami lo ya, dan gue bebas bawa siapa aja ke sini! Lo jangan sok-sokan jadi ratu di kursi kayu kuno ini!" bentak Devan lagi, melangkah maju dan berdiri tepat di depan Cesa dengan tatapan menantang.

Cesa perlahan menegakkan posisi duduknya, menatap Devan tepat di matanya. Di balik masker pink yang retak karena ia mulai berbicara dengan artikulasi jelas, Cesa tersenyum meremehkan.

"Eh, Devan monyet Ragunan. Lo mau bawa enam LC, mau bawa satu kompi pasukan kasino, atau mau bawa seluruh isi kebun binatang ke sini juga gue gak peduli, tahu gak? Yang penting lo jangan ganggu fasilitas sultan gue malam ini. Kalau lo berisik lagi dan ganggu kenyamanan gue, kartu kredit bokap lo yang ada di tangan gue bakal gue pake buat borong satu mall besok pagi, dan lo gak bakal dapet jatah sepeser pun buat bayar LC-LC lo ini. Paham lo, cowok tengil?" ancam Cesa dengan nada yang sangat tenang namun penuh intimidasi brutal.

Mendengar ancaman pemblokiran dana dari kartu kredit sang papa—yang entah bagaimana bisa dikuasai penuh oleh Cesa—Devan seketika bungkam. Brian dan Dodo yang tadinya ikut tertawa tengil langsung saling berpandangan dengan wajah ciut, sementara enam wanita LC itu hanya bisa melongo melihat bagaimana seorang gadis berusia 20 tahun dengan wajah bermasker pink bisa membuat seorang Devan yang terkenal arogan mati kutu dalam satu kalimat. Cesa yang melihat kemenangan mutlaknya kembali tersenyum puas, menyandarkan tubuhnya di kursi singgasana Majapahit, dan melanjutkan ritual santai ala istri sultannya dengan penuh kemenangan, membiarkan Devan berdiri mematung di tengah ruangan dengan kekesalan yang tertahan di tenggorokan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!