Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.
Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.
Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.
Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Laras Pradipta
Makan siangnya lezat. Suasananya tenang dan damai, tapi tetap ramai, karena kedua perempuan itu sangat heboh dan penuh semangat. Nenek Sari bertanya tentang diriku, tapi segera sadar aku memang tidak nyaman membicarakan diri sendiri, dan keduanya menghormatinya lalu mulai membahas pernikahan. Mereka menanyaiku macam-macam, soal warna, bunga, dan beberapa hal lain yang bahkan tidak kumengerti. Tapi mereka paham aku belum berpengalaman, dan bilang akan menjelaskan semuanya serta mencarikan beberapa majalah supaya aku lebih paham.
Kami makan, dan lasagna keju brie pesananku benar-benar salah satu makanan terenak yang pernah kumakan. Cuma kalah dari kue cokelat buatan Ibu waktu aku kecil. Hatiku menghangat hanya dengan mengingatnya.
Karena Nenek Sari dan Ratna memesan hidangan penutup, aku ikut memesan petit gateau dengan es krim vanila dan saus ceri cokelat, dan rasanya sungguh luar biasa. Aku sanggup menghabiskan beberapa porsi sekaligus.
Kami keluar dari sana. Aku kenyang sekali, padahal itu aneh kalau mengingat porsi di piring yang sedikit. Lalu kami pergi ke salon di lantai paling atas.
Salonnya besar sekali. Ada lebih dari lima belas kursi, perempuan di mana-mana, dan di bagian belakang ada kursi-kursi lain yang berbeda, juga beberapa ranjang pijat. Terlalu banyak hal untuk kuserap sekaligus.
"Ratna, sahabatku, lama banget nggak ketemu."
"Hai, Maya, apa kabar? Aku agak menghilang karena beberapa kali liburan keluarga."
"Liburan memang enak. Tapi cerita dong, kalian mau ngapain, dan siapa gadis cantik ini?"
"Gini, kami mau sore penyegaran, ini menantuku Laras, dan kami bertiga mau tampil baru."
"Kami mau perawatan kuku, pijat relaksasi, rambut, waxing, dan apa pun yang termasuk di paketnya," kata Nenek Sari dengan senyum lebar.
"Wa... waxing?" tanyaku pelan, supaya hanya Nenek yang dengar.
"Nggak usah malu, Nak. Nggak ada yang akan mengusik privasimu kalau kamu nggak nyaman."
"Aku lewati bagian itu saja kalau kalian nggak keberatan." Aku kembali merasa malu.
"Begini saja, kamu cuma di kaki dan ketiak, dan daerah intimmu kita tunda dulu, gimana?" Itu terdengar seperti jalan tengah yang bisa diterima, jadi aku setuju.
Kami mulai dengan pijat, dan rasanya benar-benar nikmat. Nenek Sari dan Ratna telanjang bulat, tapi aku minta tetap memakai pakaian dalam, dan semua orang mengerti ketidaknyamananku dan tidak keberatan.
Kami lanjut ke kuku, lalu rambut. Kami selalu dilayani dengan sangat baik, terus ditawari makanan dan minuman, setiap tahap dikerjakan dengan tenang dan nyaman. Waktu rambutku dikeramas, aku terkesan dengan kehati-hatian mereka, dan pijatan di kulit kepalaku nyaris membuatku tertidur. Rasanya seperti di surga.
Sebelum rambut diselesaikan, selagi masker pelembap bekerja, kami pindah ke waxing. Sesuai kesepakatan, hanya kaki dan ketiak. Aku mengaku rasanya sakit dan tidak terlalu nyaman, tapi aku merasa makin cantik tanpa bulu-buluku. Sempat terpikir untuk menghilangkan bulu di daerah intim juga, tapi langsung kuurungkan, aku tidak akan sanggup membiarkan mereka menyentuhku begitu.
Rambutku dikeramas lagi, lalu di-blow, dan aku jadi lebih cantik lagi. Jadi perempuan yang tidak kukenali.
Aku sedang memandangi diriku di cermin ketika Ratna datang dari belakangku dengan mata berbinar.
"Kenapa nggak pakai salah satu gaun yang kita beli?"
"Tapi di sini nggak ada, kan?"
"Itu gampang diatur." Ratna mengambil tasnya dan menelepon, dan tak lama seorang laki-laki masuk. Ratna menyerahkan alat dari toko itu kepadanya dan menyuruhnya ke mobil untuk menyimpan semua belanjaan, tapi membawakan gaun biru toska yang dia beli. Ratna menunjukkan foto gaun itu, yang aku tidak mengerti kenapa dia memotretnya, tapi laki-laki itu mengangguk lalu pergi.
Setelah beberapa waktu laki-laki itu kembali membawa sebuah tas, dan Ratna memberikannya padaku, menyuruhku ke kamar mandi untuk berganti. Dan ketika aku keluar dari kamar mandi itu dan melihat diriku di cermin, aku tidak mengenali diriku. Itu bukan aku.
Nenek Sari menghampiriku, mengambil pakaian lamaku dari tanganku, lalu menarik sebuah tong sampah logam ke tengah di antara kami. Dia membuang pakaianku ke dalamnya.
"Untuk awal yang baru. Semoga masa lalu hanya jadi kenangan hal-hal baik yang pernah dijalani, dan semua yang buruk tinggal di dalam tong ini."
Mataku berkaca-kaca. Mungkin dia tidak tahu kisahku, tapi sejak awal dia seperti memahamiku lebih dari siapa pun, dia mengerti beratnya pakaian-pakaian tua itu, beratnya beban yang kupikul. Dan gerakan itu, sekecil apa pun, membuat semua perbedaan.
Aku memeluknya tanpa berpikir, menangis di bahunya seperti anak kecil. Itu tidak direncanakan, bukan sesuatu yang kuduga akan kulakukan, tapi dia balas memelukku dan merangkulku, membuatku merasakan kehangatan yang sama seperti di pelukan Ibu tersayang.
"Untung kita belum dirias, kalau sudah, bisa kacau, ya kan, Para Cantik?" kata Maya, membuatku menoleh ke sekeliling dan baru sadar mata Ratna dan Nenek Sari penuh air mata.
Kami pergi merias wajah, tapi sebelumnya kami berhenti sebentar untuk cuci muka, baru lanjut ke tahap terakhir sebelum pulang. Setidaknya kurasa kami akan pulang, kami sudah berjam-jam di sini.
Rias wajah sebenarnya bukan tahap terakhir, tapi penata riasnya sangat sibuk dan kami belum buat janji, jadi kami harus menunggu, dan selama itu kami mengerjakan beberapa hal lain.
"Kamu cantik sekali, sampai kelihatan seperti perempuan lain," kata Ratna, dan semua orang di sekitar setuju.
"Aku curiga Satria bakal kena serangan jantung lihat kamu begini. Bisa-bisa dia memajukan pernikahan lebih cepat lagi," kata Nenek Sari, membuat semua orang tertawa. Semua, kecuali aku.
Setelah berpamitan kami pulang ke rumah mereka, dan kata-kata Nenek Sari tidak mau keluar dari kepalaku: "Bisa-bisa dia memajukan pernikahan lebih cepat lagi." Kata-kata itu menjadi beban berat di pundakku, dan aku tak tahu lagi apakah aku siap menghadapinya seperti sebelum hari ini.
* * *