NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Terbangun di gubuk reyot

Kesadaran datang bukan sebagai sambutan hangat, melainkan hantaman bertubi-tubi di kepala. Aroma apek jerami tua yang membusuk, lembabnya tanah yang menguap, serta suara tetesan air yang jatuh secara berirama langsung menyergap indra penciuman Lin Wan.

"Di mana ini? Bukankah tadi aku sedang di perjalanan untuk memimpin inspeksi mendadak ke fasilitas gudang logistik utama di pelabuhan selatan, dan akan rapat tertutup bersama para investor asing?" batinnya berteriak.

Lin Wan, atau di dunia modern dikenal sebagai CEO muda yang dikenal dingin dan sangat teliti, mencoba menggerakkan jemarinya.

Sial. Yang dirasakannya justru rasa sakit luar biasa di sekujur tubuh. Kulitnya terasa tipis seolah menempel langsung pada tulang, dan tenggorokannya terbakar hebat bagaikan ditelan pasir gurun.

Ketika ia perlahan membuka mata, pemandangan yang menyambutnya sama sekali bukan langit-langit kaca gedung pencakar langit atau lampu LED minimalis.

Ia menatap bilah-bilah kayu lapuk yang menghitam, dengan celah-celah menganga yang memperlihatkan langit kelabu sarat awan hujan. Atap jerami di atasnya bocor, sisa air hujan menetes tepat ke sisi ranjang kayunya yang keras.

"Nak... Kaukah itu, Wan-er? Kau sudah sadar, Nak?"

Sebuah suara serak, parau, dan gemetar memecah keheningan.

Lin Wan menoleh dengan susah payah. Di sisi ranjang, duduk seorang wanita paruh baya dengan pakaian kain kasar yang penuh tambalan.

Wajah wanita itu pucat pasi, tulang pipinya menonjol akibat kekurangan gizi, dan napasnya memburu diiringi batuk tertahan yang menyiksa dada. Itu adalah tubuh seorang ibu yang tergerus penyakit menahun dan kemiskinan ekstrem, dialah Ibu Lin.

Sebelum Lin Wan sempat memproses memori asing yang mendadak menyerbu kepalanya, memori tentang gadis berusia delapan belas tahun bernama sama yang mati kelaparan di tubuh ini, sebuah suara isakan kecil terdengar dari sudut ruangan.

Seorang bocah laki-laki berusia sekitar delapan tahun bernama Lin Bao, meringkuk di atas tumpukan kain usang. Matanya bengkak dan merah, menatap Lin Wan dengan ketakutan luar biasa.

"Kakak... Jangan mati... Perut Bao-er sakit sekali, kita tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan..." lirih anak itu, suaranya nyaris hilang tersangkut di tenggorokan.

Lin Wan menarik napas dalam-dalam. Ingatan tubuh ini mengalir deras ke dalam kepalanya. Dinasti Liang, sebuah era kekaisaran kuno di mana hukum rimba dan kemiskinan menguasai kaum bawah.

Ayah mereka telah tiada karena wajib militer, meninggalkan utang yang menumpuk. Ibu jatuh sakit parah karena kerja paksa mencuci pakaian di sungai es demi sesuap nasi, sementara ia sendiri, Lin Wan versi asli telah ambruk dan menghembuskan napas terakhirnya akibat kelaparan tepat tadi malam.

"Sial," rutuk sang CEO modern dalam hati. "Baru saja aku menandatangani kontrak miliaran, sekarang aku harus memikirkan cara agar tidak mati kelaparan di gubuk reyot zaman kuno?"

"Ibu... Bao-er..." Suara Lin Wan keluar begitu serak dan lemah, bahkan nyaris tak terdengar. Ia memaksakan diri untuk duduk, meski kepalanya terasa berputar hebat. "Aku... aku baik-baik saja. Jangan menangis."

Ibu Lin mengusap air matanya dengan ujung lengan baju yang sudah tipis. Senyum getir pun terukir di wajah pucatnya. "Ibu tidak berguna... Ibu tidak bisa mencarikan kalian makanan. Panci di dapur benar-benar kosong, bahkan ampas beras terakhir sudah habis kemarin."

Belum sempat Lin Wan memikirkan langkah pertama untuk bertahan hidup, ketukan kasar mendadak menghantam pintu kayu reyot itu. Bukan sekadar ketukan, melainkan hantaman keras menggunakan tungkai kayu.

Brak! Brak! Brak!

"Hei! Buka pintu sialan ini! Jangan pura-pura mati di dalam!" teriak suara melengking penuh amarah dari luar.

Ibu Lin langsung tersentak, tubuhnya bergetar hebat hingga batuknya kembali kambuh. "Itu... Pamanmu..." bisiknya penuh teror.

Pintu reyot itu tidak dikunci dengan benar karena memang tidak ada gembok yang bisa dipasang. Dengan sekali dorongan kasar, pintu terbuka lebar, dan menampakkan sesosok pria berbadan gempal dengan pakaian licik dan mata menyipit. Di belakangnya berdiri dua orang algojo pasar berbadan tegap sambil membawa tongkat kayu.

Paman Lin (Paman kedua mereka bernama Lin Dehai) melangkah masuk dengan angkuh, menebarkan bau apek minuman keras dan keringat. Ia lantas meludah ke lantai tanah dengan jijik.

"Wah, wah! Pintar juga sandiwara kalian! Dikira dengan berbaring seperti orang mati, utang-utang kalian bisa lunas begitu saja?" cibir Lin Dehai, seraya melipat tangan di dada sambil menyapu pandangan merendahkan ke seluruh sudut gubuk.

Lin Wan menyipitkan mata. Jiwa seorang negosiator ulung langsung bangkit di balik tatapan lemah tubuh remajanya. Ia lalu menatap pria paruh baya di hadapannya dengan dingin.

"Utang apa yang kau maksud, Paman?" suara Lin Wan terdengar dingin, memotong ucapan pria itu tajam.

Lin Dehai terkejut sesaat. Keponakannya yang biasanya penakut, gemetar, dan hanya bisa menangis jika melihatnya, kini menatapnya dengan sorot mata setajam pisau belati. Ada wibawa yang aneh dan mencekam dari seorang gadis ingusan yang terbaring lemah itu.

"Berani sekali kau melawan bahasa pamanmu, hah?!" bentak Lin Dehai, wajahnya pun memerah menahan amarah. "Ayahmu meminjam tiga tael perak untuk biaya pengobatannya dulu sebelum mati! Karena ayahmu sudah mampus, dan ibumu sakit-sakitan tidak berguna, kalian adalah milikku!"

Lin Dehai melangkah mendekati ranjang, sambil menunjuk-nunjuk wajah Lin Wan. "Tuan Muda dari rumah bordil di ujung kota bersedia membayar empat tael perak untuk membeli gadis ini! Cukup untuk melunasi utang kalian dan memberi sisa sedikit bagiku. Besok pagi, kalian harus menyerahkan Lin Wan secara baik-baik, atau gubuk reot ini akan kurobohkan rata dengan tanah!"

Mendengar kata 'dijual ke rumah bordil', Ibu Lin menjerit histeris dan langsung bersujud di lantai tanah, sambil mencengkeram kaki Lin Dehai.

"Jangan, Kakak ipar! Jangan jual Wan-er! Dia masih anak-anak! Tolong kasihanilah kami..." ratap Ibu Lin sambil terbatuk darah.

Buk!

Lin Dehai menendang bahu Ibu Lin dengan kasar hingga wanita itu tersungkur ke belakang. "Singkirkan tangan kotor mu, wanita sialan! Hidup kalian sudah tidak bernilai! Mau makan dari mana lagi kalau bukan dari hasil penjualan anak ini?"

Lin Bao menangis histeris, lalu memeluk tubuh ibunya yang terjatuh. Sementara itu, darah di kepala Lin Wan mendidih. Di dunia modern, orang-orang seperti Lin Dehai sudah lama ia hancurkan di meja pengadilan atau dilibas lewat strategi korporasi.

Di sini, pria biadab ini bahkan berani menyakiti seorang ibu yang sekarat di depan matanya.

Dengan sisa tenaganya, Lin Wan bangkit dari ranjang. Kakinya yang gemetar dipaksakan berdiri tegak. Ia merapatkan giginya, dan menatap lurus ke mata Lin Dehai tanpa secuil pun rasa takut.

"Tiga tael perak, katamu?" suara Lin Wan rendah, namun terdengar dingin dan menusuk tulang.

Lin Dehai mengerutkan keningnya dan tertegun oleh aura gadis di depannya. "Benar! Kenapa? Mau menyerahkan diri secara sukarela?"

"Dengar baik-baik, Paman yang mulia," Lin Wan melangkah maju selangkah, dan menatap tajam pria gemuk itu. "Utang tiga tael perak itu... akan kuperhitungkan setiap kepingnya. Dalam waktu tiga hari aku sendiri yang akan melunasi seluruh utang itu ke hadapanmu."

Suasana di dalam gubuk mendadak sunyi senyap. Lin Dehai terpaku sejenak, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak hingga perutnya bergetar.

"Ha ha ha ha ha ha ha! Melunasi tiga tael perak dalam tiga hari? Makan saja kalian masih minta belas kasihan anjing di jalanan, berani-beraninya bicara besar! Jangan salahkan aku jika dalam tiga hari kepalamu kugunduli dan menyeretmu paksa ke rumah bordil!" maki Lin Dehai.

Cuih!

Ia meludahi lantai sekali lagi, lalu berbalik bersama kedua algojonya. "Ingat! Tiga hari! Jika tidak, nyawa kalian bertiga melayang!"

Brak! Pintu dibanting tertutup dengan kasar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam gubuk bocor tersebut.

Ibu Lin menangis tersedu-sedu, sambil memeluk Lin Bao erat. "Wan-er... apa yang harus kita lakukan? Dari mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam tiga hari? Kita pasti akan mati..."

Lin Wan menarik napas panjang, lalu menatap tetesan air hujan yang jatuh melalui atap yang bocor. Di dalam dadanya, api ambisi berkobar terang.

"Mati kelaparan? Dijual ke rumah bordil? Jangan harap," batinnya tajam.

Ia menoleh pada ibu dan adiknya, lalu berkata dalam hati, "Di dunia ini, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan strategi. Mulai hari ini, nasib keluarga ini ada di tanganku."

Bersambung...

1
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!