NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELESAI DENGAN TANDA TANYA

Suasana kantor firma hukum tempat Elma bekerja tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa staf berlalu-lalang membawa tumpukan dokumen, sementara suara percakapan dan dering telepon terdengar silih berganti dari berbagai sudut ruangan.

Di ruang kerjanya, Elma sedang menatap layar laptop dengan ekspresi serius. Sejak pagi, ia sudah memeriksa beberapa dokumen yang berkaitan dengan kasus Evelyn. Perkara yang semula terlihat sederhana itu ternyata berkembang menjadi persoalan yang cukup rumit.

Ada sejumlah klausul kontrak yang saling berkaitan, bukti pelanggaran yang harus diverifikasi, serta kepentingan beberapa pihak yang membuat penanganannya tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Namun hari ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah surat resmi dari pihak agensi Evelyn baru saja tiba di meja kerjanya. Surat tersebut berisi pemberitahuan bahwa pihak agensi secara sepihak memutuskan untuk menarik seluruh tuntutan dan mengakhiri perselisihan kontraktual yang sebelumnya mereka ajukan.

Elma membaca surat itu sekali lagi. Kemudian, ia membacanya untuk kedua kalinya. Keningnya sedikit berkerut.

"Ini benar-benar keputusan mereka?" gumamnya pelan.

Ia memeriksa kembali nama perusahaan, nomor perkara, serta tanda tangan perwakilan hukum yang tercantum di bagian akhir dokumen. Tidak ada kesalahan administratif. Surat itu sah dan disampaikan melalui prosedur resmi. Artinya, pihak agensi memang benar-benar membatalkan tuntutan mereka.

Elma menyandarkan punggungnya pada kursi. Ada kelegaan yang perlahan muncul setelah beberapa hari terakhir ia menghabiskan banyak waktu untuk menyusun strategi menghadapi perkara tersebut. Akan tetapi, kelegaan itu tidak sepenuhnya menghilangkan rasa penasaran yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Bagaimana mungkin pihak yang sebelumnya begitu bersikeras menuntut tiba-tiba berubah pikiran Padahal, beberapa hari lalu, mereka bahkan sudah mengisyaratkan akan membawa persoalan tersebut ke pengadilan apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Elma mengambil ponselnya dan membuka kembali beberapa pesan elektronik dari pihak agensi. Ia mencoba menemukan kemungkinan adanya perubahan sikap yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Namun, tidak ada. Semuanya berjalan seperti biasa sampai akhirnya surat pembatalan itu datang.

Pintu ruangannya terbuka.

"Sudah dengar kabarnya?" Karin muncul sambil membawa dua cangkir kopi. Ia meletakkan salah satunya di meja Elma, kemudian menarik kursi di hadapannya.

Elma mengangkat pandangan. "Kau sudah membaca suratnya?"

Karin mengangguk antusias. "Sudah. Aku bahkan sempat mengira ada kesalahan pengiriman ketika membaca pemberitahuan dari pihak agensi."

Elma tersenyum tipis. "Aku juga sempat berpikir begitu."

"Jadi, kasus Evelyn benar-benar selesai?"

"Secara hukum, iya. Mereka menarik tuntutan dan menyatakan tidak akan melanjutkan sengketa tersebut."

Karin mengembuskan napas lega. "Akhirnya! Aku sudah cukup lelah melihat tumpukan dokumen kasus itu di meja kita. Belum lagi setiap hari harus memeriksa kembali bukti-bukti yang mereka kirimkan."

Elma terkekeh kecil. "Kau terdengar lebih bahagia daripada aku."

"Tentu saja. Aku tahu betapa banyak waktu yang kau habiskan untuk kasus ini. Bahkan, beberapa malam terakhir kau masih memeriksa dokumen ketika sebagian besar karyawan sudah pulang."

Karin mengambil cangkir kopinya. "Jadi, sekarang kita bisa bernapas lega."

Elma mengangguk, tetapi tatapannya kembali tertuju pada surat di hadapannya. "Seharusnya begitu." Jawabnya ambigu.

Karin memperhatikan perubahan ekspresi sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. "Kenapa? Kau masih memikirkan sesuatu?"

Elma menggeser surat tersebut ke arah Karin.

"Menurutmu, apa alasan sebenarnya mereka membatalkan tuntutan?"

Karin membaca sekilas dokumen itu sebelum mengangkat bahu. "Mungkin mereka menyadari bahwa melanjutkan perkara ini hanya akan merugikan perusahaan mereka sendiri."

"Mungkin." Elma menjawab dengan keraguan.

"Atau mereka mendapatkan kesepakatan lain yang lebih menguntungkan."

Elma menggeleng pelan. "Jika memang begitu, seharusnya ada pembicaraan mengenai kesepakatan tersebut. Setidaknya, mereka akan mengajukan beberapa persyaratan sebelum memutuskan untuk mengakhiri perkara."

"Tapi mereka tidak melakukannya, bukan?" Sambung Karin.

"Tidak. Mereka hanya menyampaikan bahwa tuntutan dibatalkan dan persoalan dianggap selesai."

Karin mengernyit. "Memang agak aneh."

Elma mengangguk. "Sejak awal, pihak agensi terlihat sangat serius. Mereka memiliki tim hukum sendiri, mengumpulkan bukti, bahkan beberapa kali menolak tawaran penyelesaian yang kami ajukan. Aku sudah mempersiapkan kemungkinan bahwa perkara ini akan berlangsung lebih panjang."

Ia berhenti sejenak. "Tetapi sekarang, mereka justru mundur tanpa meminta apa pun."

Karin meletakkan surat tersebut. "Menurutmu, ada seseorang yang memengaruhi keputusan mereka?"

"Aku tidak tahu. Lebih tepatnya, aku kurang yakin".

"Bagaimana kalau ternyata ada pihak ketiga yang turun tangan?" Karin menduga.

Elma terdiam. Kemungkinan itu sebenarnya sudah muncul dalam pikirannya sejak pertama kali membaca surat pembatalan tersebut. Namun, ia belum ingin menarik kesimpulan tanpa bukti yang jelas.

"Aku tidak akan menuduh siapa pun tanpa dasar yang kuat," jawabnya akhirnya. "Selama pihak agensi sudah mengambil keputusan secara resmi, tugas kita hanya memastikan semua dokumen penutupan perkara terselesaikan dengan benar."

"Kau benar. Kita tidak perlu mencari persoalan baru ketika masalahnya sudah selesai."

Elma tersenyum kecil. "Setidaknya untuk sekarang."

Karin tertawa. "Kau benar-benar tidak bisa berhenti menjadi pengacara, bahkan di luar ruang sidang."

"Karena pekerjaan kita memang seperti itu. Satu perkara selesai bukan berarti semua kemungkinan sudah berakhir."

Karin menggeleng sambil tersenyum. Ia mengenal Elma cukup lama untuk mengetahui bahwa perempuan itu tidak akan mudah merasa puas sebelum memahami duduk perkara secara menyeluruh. Bagi Elma, kemenangan bukan hanya tentang berhasil menyelesaikan sengketa. Ia juga ingin memastikan setiap keputusan memiliki dasar yang jelas dan tidak meninggalkan persoalan tersembunyi.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Kali ini sosok atasan mereka muncul dengan sebuah map di tangan.

"Selamat pagi."

Elma dan Karin segera berdiri. "Selamat pagi, Pak."

Pria paruh baya itu tersenyum sambil meletakkan map di meja. "Saya baru saja menerima pemberitahuan resmi mengenai kasus Evelyn. Sepertinya kita mendapatkan kabar baik pagi ini."

Elma mengangguk. "Benar, Pak. Pihak agensi sudah mengirimkan surat pembatalan tuntutan."

"Saya sudah membacanya." Sang atasan menarik kursi dan duduk di hadapan mereka.

"Sejujurnya, saya cukup mengapresiasi cara kamu menangani perkara ini, Elma. Kasus tersebut memiliki potensi berkembang menjadi sengketa yang lebih besar. Apalagi, pihak yang terlibat bukan perusahaan kecil. Ada banyak kepentingan yang harus kita pertimbangkan."

"Terima kasih, Pak."

"Saya tahu kamu dan Karin sudah menghabiskan cukup banyak waktu untuk memeriksa seluruh bukti dan menyusun strategi. Namun, hasil akhirnya cukup memuaskan. Tidak ada gugatan lanjutan, tidak ada persoalan hukum yang berkembang, dan nama klien kita tetap aman."

Elma mendengarkan dengan saksama.

"Ini juga menjadi bukti bahwa Anda mampu mengendalikan perkara yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi. Saya harap Anda bisa mempertahankan kinerja seperti ini."

"Tentu, Pak. Saya akan berusaha."

Atasannya kemudian membuka map yang dibawanya. "Untuk sementara, kasus Evelyn kita nyatakan selesai. Pastikan seluruh dokumen penutupan perkara sudah diarsipkan dengan benar. Jangan sampai ada berkas yang tertinggal."

"Baik, Pak."

"Setelah itu, saya ingin kamu mulai memeriksa perkara baru yang akan saya serahkan. Ada beberapa dokumen yang perlu ditinjau sebelum kita mengambil langkah berikutnya."

Elma mengangguk. "Baik. Saya akan memeriksanya."

Sang atasan menutup map tersebut, lalu kembali menatap Elma. "Dan satu lagi. Jangan terlalu memaksakan diri. Saya tahu kamu memiliki kebiasaan menyelesaikan semuanya sekaligus, tetapi pekerjaan tidak akan pernah habis."

Karin langsung tersenyum mendengar perkataan itu. "Saya sudah sering mengatakan hal yang sama kepadanya, Pak."

Elma melirik Karin. "Sepertinya kalian berdua sudah bersekongkol."

Atasannya tertawa kecil. "Kalau begitu, kali ini dengarkan kami. Kamu sudah menyelesaikan pekerjaan yang cukup berat. Ambil sedikit waktu untuk beristirahat sebelum memulai perkara berikutnya."

"Baik, Pak. Terima kasih atas pengertiannya."

Setelah memberikan beberapa arahan, sang atasan meninggalkan ruangan.

Karin langsung menoleh kepada Elma. "Bagaimana? Kau dengar sendiri, kan? Bahkan bos kita menyuruhmu beristirahat."

Elma merapikan beberapa dokumen di hadapannya. "Aku memang akan beristirahat."

"Bagus. Karena aku tidak ingin besok pagi menemukanmu sudah duduk di sini sebelum semua orang datang."

Elma tertawa. "Aku tidak separah itu."

"Kau yakin?"

"Baiklah, aku mengakuinya. Aku memang sedikit berlebihan."

Keduanya tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, suasana kerja mereka terasa lebih ringan. Tidak ada lagi pembahasan mengenai tuntutan, bukti pelanggaran kontrak, ataupun kemungkinan persidangan yang harus dipersiapkan. Setidaknya, kasus Evelyn tidak lagi menjadi beban di meja kerja mereka. Namun, jauh di dalam pikirannya, Elma masih menyimpan pertanyaan yang belum memiliki jawaban.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!