NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3

Detingan sendok terdengar di ruangan yang serba putih ,tak ada furniture penghias di ruangan itu–seolah tempat ini menjadi pelampiasan kehampaan seorang vian yang bosan dengan kehidupan nya.

Matanya mulai melirik sebentar ke arah wanita paruh baya yang duduk di sampingnya –menunggu makanan  vian habis dengan sabar.

“Nek , "Vian ingin pulang"satu kata yang terlontar di mulut Vian mampu mengejutkan wanita itu ,ia tersenyum sedu dengan tangan yang mulai mengusap lembut rambut hitam nya.

"Bibi bersyukur akhirnya Aden ingin pulang setelah sekian lama"ucapnya lirih dengan senyuman yang masih menghiasi.

“ setelah makan kita telepon Daddy untuk menjemput, ya?” lanjut Bi Inah lembut sambil mengelus rambut hitam Vian yang lembut.

Vian mengangguk kecil. Gerakan singkat itu terlihat sangat lucu di mata Bi Inah, sampai ia tak menahan diri untuk mencubit pipi tembem itu.

“Nenek!!” protes Vian dengan suara naik satu oktaf. Bi Inah tertawa renyah, tawa lega yang sudah lama tak ia rasakan. Di dalam hati, ia bersyukur, tuan mudanya mulai kembali ceria, mulai kembali berekspresi seperti dulu .

---

Sementara itu, di lantai tinggi sebuah gedung bisnis, seorang pria berjas hitam sedang berkutat serius di balik tumpukan berkas. Tangannya bergerak cepat, matanya membaca teliti, seakan dunia hanya berisi angka dan tanda tangan.

Hingga suara dering ponsel memutus fokusnya.

Nama yang tertera di layar membuat detak jantungnya melonjak.

“Bi Inah? Kenapa dia menelpon?” gumamnya, suaranya tercekat. “Apa kondisi Vian memburuk?”

Ia langsung mengangkat telepon itu tanpa pikir panjang.

“Bi—bagaimana kondisi Vian? Apa Vian drop lagi?” tanyanya buru-buru, khawatirnya menembus nada suara.

Di seberang, hanya ada keheningan beberapa detik. Namun bagi Rangga Dharmawangsa, itu cukup untuk membuat kakinya terasa goyah.

Baru setelah itu suara lembut Bi Inah terdengar.

“Tenang, Tuan Besar. Tuan Muda justru membaik. Lebih sehat.” Bi Inah berhenti sejenak, lalu menambah dengan nada geli, “Bahkan sekarang Tuan Muda merengek ingin pulang. Dari tadi tak berhenti bilang mau pulang.”

Rangga terdiam. Hening. Meragukan pendengarannya sendiri.

“P-pulang? Vian?” suaranya bergetar.

“Iya, Tuan Besar. Penantian Anda tidak sia-sia.”

Ada jeda. Dan dalam jeda itu, Rangga menunduk, menutup mata. Ia tak tahu harus tertawa, menangis, atau berterima kasih pada siapa pun yang mendengarnya. Bayangan putra bungsunya yang selalu menolak untuk pulang, selalu menarik diri, selalu menutup hati… kini meminta dijemput.

Tanpa sadar air mata jatuh dari matanya.

“Terima kasih, Bi… Tolong bilang Vian sabar, Daddy dan Mommy akan menjemputnya segera.”

Ia langsung bangkit, meraih jasnya, dan keluar ruangan dengan langkah lebar.

Saat ia hampir bertemu pintu, seorang pria seumuran masuk membawa berkas.

“Deon, kosongkan jadwal gue dua hari ke depan.”

“Hah? Rangga, lo mau ke mana? Jangan bilang lo mau lempar tugas lo ke gue lagi!” seru Deon, sudah setengah marah.

Rangga hanya menoleh dengan senyum tengil—senyum yang jarang muncul dan hanya Deon yang pernah melihatnya.

“Cuma dua hari!” serunya sambil berjalan cepat meninggalkan sahabat masa kecil itu.

“RANGGA DHARMAWANGSA!!” pekik Deon, suara frustrasi memenuhi ruangan kantor.

---

Sesampainya di mansion, Rangga langsung masuk dengan terburu-buru, memanggil nama istrinya dari setiap sudut.

Tak lama, seorang wanita cantik muncul dari lorong, seorang gadis kecil berdiri di sampingnya sambil memegang gaun sang wanita.

“Mas? Kenapa sudah pulang…?” tanya Diana pelan.

Rangga mendekat tanpa menunggu, meraih istrinya ke dalam pelukan dan memeluknya erat. Ada isak pelan di bahu Diana.

“Diana… Vian ingin pulang,” bisiknya, suara pecah di telinga istrinya.

Diana terpaku. Ia melepas pelukan itu, menatap suaminya dalam-dalam, mencari kebohongan yang mungkin terselip di mata itu.

“Mas… beneran?”

Rangga mengangguk satu kali, tegas.

Air mata Diana jatuh begitu saja. Selama ini, putra kecilnya selalu menolak pulang. Selalu menghindar. Selalu merasa rumah adalah tempat yang menyakitinya.

Dan kini, untuk pertama kali dalam waktu lama… anak itu memanggil mereka.

Diana memeluk suaminya lagi, kali ini lebih erat, lebih lama. Rasa rindu, bersalah, dan lega bercampur jadi satu.

“Kalau begitu kita harus berangkat sekarang. Aku nggak mau dia nunggu.”

Ia meraih tas kecil tapi sebelum melangkah, ada tarikan lembut di kain bajunya.

“Mommy… mau ke mana? As mau ikut…” tanya si kecil di sampingnya, Ashilia, dengan mata bulat polos.

"as tunggu di sini ya nanti juga ada bang Vano  , mommy dan Daddy mau jemput Vian dulu"setelah itu Diana pergi meninggalkan shila dengan menyeret ragga di belakang nya.

Ashilia menatap lamat punggung ke 2 orang itu , ashilia terdiam beberapa saat sampai ke 2 punggung itu menghilang "padahal as juga ingin ikut"monolog nya kecil sebelum pergi menuju kamar miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!