Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Suara decitan halus pintu kamar tamu lantai atas bergeser membuka, memecah keheningan koridor mansion utama Ashford yang bernuansa klasik.
Florence Nightingale melangkah keluar dengan balutan gaun tidur sutra berwarna abu-abu arang. Perban putih tebal yang membebat erat pergelangan tangan kirinya tampak kontras, menyerupai borgol tak kasat mata yang menegaskan betapa rapuhnya kondisi mental wanita itu hari ini.
Efek obat penenang yang diberikan dokter tadi siang belum sepenuhnya hilang, membuat langkah kakinya sedikit limbung. Namun, tekad toksik dan ego yang mengakar kuat di dalam dadanya jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik di tubuhnya.
Florence tidak bisa tinggal diam di kamar itu dan membiarkan Dominic terlepas dari genggamannya. Di kepalanya, dunia harus berputar sesuai dengan poros yang ia ciptakan sendiri.
Dengan mata menyalang tajam dan napas memburu, Florence menelusuri koridor lantai atas, lalu menuruni anak tangga melingkar menuju lantai bawah. Instingnya langsung membimbingnya ke kamar pribadi Dominic—ruangan luas berinterior maskulin dengan dominasi warna hitam dan cokelat tua yang terletak di ujung sayap timur.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat.
Ada celah selebar beberapa sentimeter yang memperlihatkan pendar lampu kuning hangat dari dalam.
Tanpa mengetuk pintu, Florence mendorong daun pintu itu dengan kasar hingga terbuka lebar.
Di dalam kamar, Dominic berdiri membelakangi pintu, tengah melepas jas tuxedo-nya dengan gerakan lelah.
Mendengar suara hantaman pintu dan aroma parfum chanel yang teramat familier, Dominic menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya perlahan, mendapati wanita yang baru saja menyayat pergelangan tangannya sendiri pagi tadi kini berdiri di ambang pintu kamarnya dengan tatapan menuntut.
"Florence..." panggil Dominic datar, suaranya sarat akan kelelahan yang luar biasa. "Kau seharusnya beristirahat di kamar tamu. Kenapa turun ke sini?"
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Florence melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Sifat egois yang melekat pada dirinya mendadak menyeruak keluar tanpa saring.
"Kenapa kau seperti ini, Dominic?!" seru Florence, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian kamar. Wajah cantiknya mengerut penuh ketidakpahaman yang dibuat-buat. "Selama ini kita baik-baik saja! Apa kau berselingkuh dariku? Apa kau sudah menemukan wanita baru?!"
Florence menatap Dominic dengan tatapan menuduh, seolah-olah apa yang terjadi pagi tadi—penolakan mentah-mentah atas lamarannya, gaun pengantin yang berakhir sia-sia, hingga darah yang mengotori mawar putih—adalah hal sepele yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Gadis itu bersikap seakan-akan penolakannya semalam hanyalah sebuah candaan kecil yang harus dimaklumi oleh Dominic.
Dominic menatap wanita di hadapannya dengan tatapan nanar. Ada rasa tak percaya yang bercampur dengan kemuakan yang teramat sangat.
"Baik-baik saja?" ulang Dominic dengan tawa miris yang keluar dari tenggorokannya.
"Florence, kali ini... bisakah kau tidak menganggap remeh dan mempermainkan penolakanmu sendiri? Aku benar-benar menjalani hubungan ini untuk menata masa depan, bukan untuk berjalan di tempat dan menghabiskan hari-hari dalam tekanan tanpa tahu ke mana arah hubungan kita akan bermuara!"
Dominic mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya.
"Aku ingin menikah, Florence! Aku ingin membangun keluarga. Dan aku tidak bisa terus-menerus bertahan jika hubungan ini terasa seperti lelucon abadi tanpa ada ending bahagia di atas sumpah suci pernikahan! Tapi demi Tuhan... setelah apa yang kau lakukan, aku sama sekali tidak punya tenaga lagi untuk memaksa. Mari kita sudahi hubungan ini. Cukup."
Mendengar kata-kata 'sudahi' itu, mata Florence membelalak lebar. Darahnya mendadak mendidih.
Ego tingginya terluka parah.
"Sudahi?!" teriak Florence histeris, melangkah maju mendekati Dominic. "Semudah itu kau mengucapkan kata-kata itu setelah sepuluh tahun kita bersama?! Kau egois, Dominic!"
"Aku egois?!" Dominic membalas dengan suara membentak yang membuat dinding kamar itu bergetar.
“Aku yang egois karena ingin kepastian setelah satu dekade?! Selama sepuluh tahun aku mengalah padamu! Aku menuruti semua maumu, aku bersabar menghadapi sifat dinginmu, dan aku membiarkanmu memegang kendali penuh atas hidup kita! Dan sekarang kau bilang aku egois?!"
Florence mendadak terhuyung mundur selangkah, napasnya memburu tidak teratur.
Air mata frustrasi bercampur aduk di pelupuk matanya. Wanita itu merosot terduduk di tepi ranjang besar Dominic, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sebelum akhirnya meluapkan seluruh alasan busuk yang selama ini ia pendam.
"Kau tidak mengerti, Dominic..." tangis Florence pecah, suaranya parau dan bergetar hebat. "Aku benci pernikahan... karena orang tuaku! Kau tahu bagaimana hancurnya keluargaku dulu! Aku tumbuh tanpa arah, tanpa bimbingan, tersesat dalam kegelapan... aku bahkan sempat menggunakan tato di tubuhku, merokok, dan hidup bebas tanpa aturan karena aku kehilangan arah hidup!"
Florence mendongak, menatap Dominic dengan mata merah padam dan air mata yang membasahi pipinya.
"Bagi wanita sepertiku, bertahan hidup hingga hari ini dan menikmati setiap detik kebebasan adalah bentuk apresiasi diriku sendiri! Apakah salah jika aku menolak lamaran itu?! Aku benar-benar tidak bisa, Dominic... aku belum siap menghadapi ikatan suci itu karena aku takut gagal seperti orang tuaku!"
Dominic berdiri kaku di hadapannya. Kilat kemarahan di matanya perlahan berubah menjadi kekecewaan yang sangat dalam.
"Sepuluh tahun, Florence..." ucap Dominic lirih, suaranya amat berat dan menyayat. "Sepuluh tahun kau terus menggunakan alasan trauma masa lalumu untuk mengikatku dalam ketidakpastian. Dan sampai detik ini... kau masih belum siap? Lalu apa arti diriku bagimu? Apa yang kurang dariku selama ini?"
Florence menggeleng-gelengkan kepalanya panik, meraba-raba selimut ranjang Dominic. "Tidak ada yang kurang darimu! Tapi pernikahan itu menakutkan bagiku!"
"Sudah... sudah tidak usah dibahas lagi," potong Dominic dengan suara dingin yang mutlak. Pria itu memalingkan wajahnya, menolak melihat air mata Florence. "Lagi pula, kita sudah berakhir, Florence. Apapun alasanmu, aku sudah lelah."
Mendengar keputusan mutlak itu, ekspresi wajah Florence mendadak berubah drastis. Isak tangisnya berhenti seketika, digantikan oleh senyum sinis dan tatapan penuh kebencian yang menusuk.
"Munafik," desis Florence tajam, berdiri tegak dengan mata melotot. "Apa kau sudah menemukan gadis suci dan murni di luar sana, hah? Lalu sekarang kau ingin mencampakkanku demi gadis murahan itu?!"
Dominic terkesiap, rahangnya mengeras.
"Jaga ucapanmu, Florence!"
"Jangan berani membentakku!" Florence maju, menunjuk tepat di dada Dominic dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Dulu... kau pernah mengatakan kepadaku bahwa kau tidak akan pernah terganggu meskipun aku sudah tidak suci lagi! Kau bilang masa laluku tidak penting! Kau bilang kau menerima segala kekurangan dan noda di tubuhku!"
Suara Florence makin melengking, mencerminkan keputusasaan dan jiwa posesif yang sakit.
"Kenapa sekarang kau malah berpaling seperti ini?! Kau menerima semua masa laluku, Dominic! Tapi kenapa sekarang kau melepaskanku begitu saja padahal kau pernah berjanji untuk menggenggam tanganku selamanya sejak dulu?! Jadi itu semua kebohongan?! Kau jahat, Dominic! Kau pria jahat!"
Dominic rasanya ingin meledak menghadapi wanita di hadapannya.
Hatinya menjerit menolak tuduhan itu.
Demi Tuhan, Dominic tidak pernah mempermasalahkan masa lalu Florence atau kenyataan bahwa wanita itu tidak lagi suci saat mereka memulai hubungan—ia menerima Florence dengan segenap ketulusan hatinya, bahkan tidak pernah sekalipun mengangkat topik sensitif itu selama sepuluh tahun belakangan.
Namun Florence, seperti biasa, selalu memutarbalikkan fakta dan memanipulasi situasi agar dirikannya sendiri terlihat sebagai korban, sementara Dominic selalu diposisikan sebagai pria jahat yang paling berdosa.
Di dalam kepalanya, bayangan wajah Florence yang penuh tuntutan dan histeris itu tiba-tiba berbenturan dengan sosok lain.
Sebuah kontras yang begitu telak.
Bayangan Ester Alba melintas di benaknya—gadis muda berusia 22 tahun yang polos, yang merintih dalam kepasrahan, yang tidak menuntut kemewahan atau aturan rumit, melainkan memberikan kehangatan dan rasa dibutuhkan yang selama ini dicari-cari oleh Dominic dari seorang wanita.
Ester tidak pernah meneriakinya, dan tidak pernah mempermainkan harga dirinya.
Ester adalah ketenangan di tengah badai kemusnahan.
Melihat Dominic terdiam melamun dan tidak menjawab tuduhannya, Florence makin menjadi-jadi. Ia mencengkeram kerah kemeja Dominic, mengguncang-guncang tubuh pria itu.
"Katakan, Dominic! Siapa wanita itu?! Siapa yang sudah meracuni pikiranmu?!" jerit Florence histeris.
Sementara itu, di lantai bawah mansion utama Ashford, suasana terasa jauh berbeda.
Di ruang keluarga yang luas, setelah kerabat besar berangsur pulang dan situasi mulai mereda, Angelo—bocah 13 tahun keponakan Dominic—mendadak bosan merengek meminta sesuatu pada guru privatnya.
"Miss Ester... ayolah! Temani aku bermain piano sebentar!" bujuk Angelo sambil menarik-narik ujung lengan gaun krem Ester dengan penuh semangat.
"Paman Dominic sedang sibuk di atas mengurus 'kekasih yang menyebalkan'. Biarkan aku melatih nada-nadaku denganmu!"
Ester, yang sejak tadi berusaha menjaga sikap tenang di tengah ketegangan rumah tersebut, akhirnya mengangguk kecil dengan senyuman ramah. "Baiklah, Angelo. Hanya sepuluh menit, ya. Setelah itu kita lanjutkan latihan tata bahasa."
Angelo bersorak gembira. Ia menarik tangan Ester menuju sudut ruang keluarga di mana sebuah grand piano hitam mengilap bertengger megah di dekat pilar porselen putih.
Ester duduk dengan anggun di bangku beludru panjang di depan piano. Jemari lentiknya yang terawat mulai meraba tuts-tuts gading piano dengan hati-hati.
Ting... nong... plang...
Alunan nada-nada klasik yang lembut dan melankolis mulai mengalir keluar dari instrumen mewah tersebut.
Ester memainkan sebuah melodi syahdu—sebuah lagu pengantar tidur yang menenangkan, berpadu dengan suara petikan tuts amat teratur yang diajarkan pada Angelo. Bocah itu berdiri di samping Ester, sesekali menekan tuts rendah mengikuti arahan sang guru privat.
Alunan piano itu begitu jernih, mengalir lembut ke seluruh sudut ruangan, bahkan merayap naik menembus lantai kayu dan lorong hingga ke ambang pintu kamar Dominic di lantai atas.
Di dalam kamar, di tengah cengkeraman tangan Florence dan isak tangis histeris wanita itu, alunan melodi piano itu terdengar samar-samar.
Dominic, yang sedang menahan puncak kesabarannya menghadapi amukan Florence, mendadak menghentikan napasnya.
Telinganya menangkap suara musik yang begitu menenangkan di tengah kekacauan dunia yang sedang meruntuhkan kewarasannya.
Itu adalah alunan piano dari Ester.
Bagi Dominic, alunan musik itu bagaikan jangkar yang menariknya kembali dari dasar lautan amarah. Suara itu begitu kontras dengan jeritan melengking Florence di hadapannya.
"Kau mendengarku tidak, Dominic?!" Florence membentak keras, menyadari kekasihnya sedang melamun menatap ke arah pintu kamar yang terbuka. "Kenapa kau malah melamun saat aku sedang bicara?! Siapa yang bermain piano di bawah?!"
Dominic perlahan melepaskan cengkeraman tangan Florence dari kerah kemejanya. Pria itu menyingkirkan tangan wanita itu dengan gerakan yang sangat dingin dan terukur—sebuah gerakan yang tidak menyisakan kehangatan sedikit pun.
"Cukup, Florence," bisik Dominic tajam, suaranya bagaikan bilah es yang siap membelah udara. "Pergilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Jangan membuatku makin muak padamu hari ini."
Tanpa mengindahkan jeritan protes Florence yang kembali meledak, Dominic membalikkan badan, melangkah keluar dari kamar pribadinya, meninggalkan wanita itu seorang diri di dalam ruangan yang dipenuhi gema amarahnya sendiri.
Dominic berjalan tenang menuruni anak tangga, mengikuti arah asal alunan melodi piano yang makin lama makin jelas terdengar.
Langkah kakinya membawa dirinya mendekati sudut ruang keluarga.
Di sana, di bawah pendar lampu kristal yang hangat, duduklah Ester Alba. Cahaya lampu menyoroti garis wajah samping gadis itu yang tampak begitu damai, fokus, dan memesona.
Jemarinya menari di atas tuts piano, menciptakan harmoni yang meredakan seluruh luka bakar di dada Dominic hari ini.
Angelo, yang melihat kedatangan pamannya, langsung mengangkat tangan melambaikan salam. "Paman! Lihat, Miss Ester sedang mengajariku ketukan tempo yang benar!"
Ester menghentikan pergerakan jemarinya seketika.
Alunan musik itu terhenti, menyisakan keheningan yang manis. Ia mendongak perlahan, mendapati Dominic berdiri di dekat pilar, menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman, rasa terima kasih, dan hasrat yang diam-diam membakar dalam diam.
Di balik senyuman sopannya yang tampak polos di hadapan Angelo, sudut bibir Ester terangkat tipis membentuk seringai kemenangan yang tak kasat mata.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏