"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pintu gudang berderit tertutup di belakang mereka, memutus cahaya lampu halaman yang tadinya sedikit menembus masuk. Yang tersisa hanya cahaya keperakan dari celah-celah atap seng yang berkarat, jatuh dalam garis-garis tipis di atas lantai berdebu.
"Berlagak jadi pahlawan, ya?" Sebuah dorongan keras di dada membuat Juna terjungkal ke lantai. Debu mengepul, menempel di rambut dan seragamnya yang masih basah oleh parfum dan kuah sayur dari pagi tadi. "Sok jagoan banget lu, padahal cuma anak beasiswa yang nggak punya apa-apa."
Juna menahan diri dengan kedua tangan, mencoba mendorong tubuhnya bangkit. Baru setengah jalan, sebuah tendangan keras menghantam rusuknya, memaksanya kembali tersungkur sambil terbatuk keras. Rasa asin memenuhi mulutnya.
"Kemarin lu diem aja, sekarang malah belagu," ucap yang lain, sepatunya menekan punggung Juna hingga dadanya menempel rata ke lantai dingin. "Anak miskin harusnya tahu diri."
Pintu gudang berderit lagi. Dua bayangan lain melangkah masuk dari luar, yang sedari tadi rupanya hanya menunggu di ambang pintu sambil merekam dengan ponsel. Kini enam pasang kaki mengelilinginya dari segala penjuru, dan sejak detik itu tidak ada lagi jeda antara satu pukulan dengan pukulan berikutnya. Sepatu menghantam perut, tangan mencengkeram rambut lalu membenturkan wajahnya ke lantai, lutut menekan tengkuknya hingga ia tak bisa mengangkat kepala.
"Orang miskin kayak lu seharusnya cuma perlu jilatin kaki gue," salah satu dari mereka berjongkok, mengangkat dagu Juna dengan ujung sepatunya, memaksa Juna menatap ke atas sebelum wajahnya kembali diinjak turun. "Nggak usah sok-sokan sekolah di sini, lu itu cuman setara dengan anjing, bahkan lebih rendah."
"Masuk jalur beasiswa? Orang tua lu nggak punya duit yahh? miskin banget!" sahut yang lain, tertawa sambil menampar telinga Juna dengan telapak tangan terbuka hingga berdenging nyaring, membuat separuh dunia Juna seketika terasa dikelilingi kabut suara. "Malu-maluin aja lu ada di sekolah ini."
Juna meringkuk, kedua lengan menutupi kepalanya, namun setiap kali ia berhasil menahan satu pukulan, dua pukulan lain menembus dari sisi yang tak sempat ia lindungi. Rasa sakit tidak lagi terasa sebagai titik-titik terpisah di tubuhnya—semuanya melebur menjadi satu gemuruh panas yang menelan seluruh kesadarannya.
'Sialan... sialan semua orang di tempat ini...'
Suara tawa mereka terdengar semakin jauh, seolah Juna sedang tenggelam perlahan ke dasar sesuatu yang gelap dan berat.
"Udah, udah," salah satu dari mereka akhirnya meludah ke lantai dekat wajah Juna, mengangkat tangan memberi isyarat berhenti. "Ntar mampus beneran, baru repot ngurusnya."
Satu per satu langkah kaki menjauh, pintu gudang berderit terbuka lalu tertutup lagi, dan tawa mereka perlahan ditelan angin malam di luar. Hening yang tersisa terasa lebih menyakitkan daripada pukulan-pukulan tadi.
Rintik hujan mulai jatuh, menembus celah atap, satu per satu menetes membasahi pipi Juna yang tergeletak menghadap ke atas. Ia mencoba menggerakkan jarinya—tidak ada respons yang berarti. Tubuhnya terasa seperti bukan lagi miliknya, seolah semua tulang di dalamnya telah dipatahkan lalu disusun kembali secara sembarangan.
Pandangannya mengabur di tepi, gelap yang merambat dari sudut matanya perlahan menutup segalanya.
'Apa aku akan mati... di tempat kotor kayak gini...'
Tepat ketika kesadarannya nyaris padam sepenuhnya, sesuatu berkedip di hadapan matanya yang setengah terbuka—cahaya biru pucat, melayang tanpa bobot di udara gudang yang gelap, seolah dunia di sekitarnya berhenti sejenak hanya untuk cahaya itu.
[SISTEM PENGUASA AKTIF]
[Mendeteksi kondisi kritis pada pengguna]
[Memberikan hadiah darurat: Dasar Pembangunan Tubuh Awal]
Sebuah kehangatan asing menjalar dari tengah dadanya, menyebar cepat ke setiap ujung jari tangan dan kaki. Rasa sakit yang tadinya mencengkeram seluruh tubuhnya perlahan surut, digantikan sensasi berdenyut seperti darah baru yang dipompa paksa ke otot dan tulang yang sebelumnya remuk. Juna bisa merasakan retakan-retakan kecil di rusuknya menyatu kembali, memar di wajahnya mengempis, luka di sudut bibirnya menutup dengan sendirinya.
Ia membuka mata lebar-lebar, menatap langit-langit gudang yang bocor, dadanya naik turun dengan napas yang untuk pertama kalinya sejak tadi tidak lagi terasa menyiksa.
'Apa... apa ini barusan?'