NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Hujan di Kota Metropolitan

Suara derit pintu besi berkarat terdengar nyaring di lorong sempit lantai dua rumah susun sederhana kawasan Pasar Induk. Rian mendorong pintu kamar kosnya yang berukuran tiga kali tiga meter itu dengan bahu kanannya, sementara tangan kirinya menjinjing kantong plastik hitam berisi sebungkus nasi bungkus dingin dan dua botol air mineral ukuran kecil.

Begitu ia melangkah masuk, aroma apak khas ruangan tanpa ventilasi yang memadai langsung menyambut indra penciumannya. Dinding semennya yang mengelupas di beberapa sudut menampilkan warna abu-abu kusam, diterangi oleh satu bohlam kuning 15 watt yang berayun pelan setiap kali angin malam bertiup dari celah ventilasi atas.

Rian meletakkan kantong plastik itu di atas meja kayu kecil yang reyot—satu-satunya furnitur layak pakai di ruangan selain kasur busa tipis di lantai sudut ruangan. Ia melepas sepatu ketsnya yang basah dan kotor akibat genangan air hujan sepulang sekolah tadi, lalu duduk bersila di atas kasur.

Di luar, deru kendaraan bermotor dari jalan raya utama yang berjarak sekitar dua ratus meter terdengar seperti dengungan lebah raksasa. Hujan rintik-rintik masih turun, mengetuk atap seng dengan irama monoton yang menenangkan.

Namun, ketenangan di luar itu sangat kontras dengan badai kecil yang tengah bergolak di dalam kepala Rian.

Klik.

Begitu ia memejamkan mata dan memusatkan kesadaran, panel transparan berwarna biru keemasan yang tadi siang muncul di sekolah kini kembali terbentang jelas di dalam retinanya. Garis-garis cahaya tipis membentuk teks melayang yang sangat rapi:

[ Status Inang: Rian ] [ Usia: 17 Tahun ] [ Ranah Kultivasi: Tempa Tubuh (Body Tempering) - Tingkat 1 (Awal) ] [ Kekuatan Fisik: 3.2x Manusia Normal ] [ Energi Qi Internal: 15 / 100 ] [ Misi Aktif: Menemukan Tempat Konsentrasi Qi Pertama (Belum Selesai) ]

Rian membuka matanya perlahan. Cahaya biru dari panel itu memantul di bola matanya yang kini tampak jauh lebih jernih dan tajam dibanding kemarin.

"Jadi... ini bukan mimpi," bisik Rian pada dirinya sendiri, suaranya terdengar serak di ruangan yang sepi. Kejadian di koridor sekolah tadi siang masih terpatri jelas di benaknya. Sensasi saat ia menyentuh siku Bara—bagaimana gelombang kejut kecil tak kasat mata keluar dari ujung jarinya dan mematahkan tulang lengan pemuda itu—terasa begitu nyata.

Ia mengangkat tangan kanannya, membolak-balikkan telapak tangannya di bawah cahaya remang-remang bohlam kuning. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari tangan seorang remaja biasa yang sering bekerja kasar. Kulitnya sawo matang, ada bekas luka gores kecil di buku jarinya. Namun, jika ia memusatkan sedikit perhatian ke dalam, ia bisa merasakan aliran kehangatan yang samar-samar berdenyut di sepanjang pembuluh darahnya, mengalir dari pusar ke ujung-ujung jarinya.

Bara dan yang lainnya pasti sekarang sedang ketakutan di suatu tempat, pikir Rian.

Ia tahu betul sifat kelompok Bara. Mereka adalah tipe pengbully yang hanya berani pada orang lemah yang tidak bisa melawan. Begitu mereka mendapati mangsanya membalas dengan cara yang tidak masuk akal—bahkan melumpuhkan tanpa menyentuh secara kasar—ketakutan akan mengubah mental mereka menjadi ciut.

"Tapi, masalahnya tidak akan selesai sampai di situ," gumam Rian, meraih bungkus nasi di atas meja. Ia membuka kertas pembungkusnya yang mulai basah oleh uap panas. Nasi putih dengan sepotong kecil ayam goreng tepung yang sudah dingin dan keras. Makanan termurah yang bisa ia beli dengan sisa uang sakunya minggu ini.

Saat ia hendak menyuap sesendok nasi, tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya.

Tok... tok... tok.

Gerakan tangan Rian terhenti di udara. Alisnya sedikit berkerut. Di rumah susun ini, hampir tidak pernah ada orang yang datang bertamu ke kamarnya, apalagi pada pukul delapan malam seperti ini. Para tetangga di lantai ini sibuk dengan urusan hidup masing-masing; ada buruh pabrik yang kelelahan, pedagang sayur yang baru pulang subuh nanti, atau preman jalanan yang sering mabuk di tangga darurat.

Tok... tok... tok.

Ketukan itu terdengar lagi, lebih tegas namun tetap pelan.

Rian meletakkan sendoknya kembali ke atas piring. Ia berdiri perlahan, merasakan bagaimana setiap otot di tubuhnya bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna, tanpa ada rasa kaku atau nyeri punggung seperti yang biasa ia rasakan setiap bangun tidur setelah bekerja paruh waktu.

Ia melangkah mendekati pintu kayu tripleks yang tipis itu. Tanpa langsung membuka kunci grendelnya, Rian menempelkan telinganya ke permukaan kayu.

"Rian? Nak Rian, apakah kamu ada di dalam?"

Suara seorang perempuan paruh baya terdengar dari luar. Suaranya sedikit bergetar, diselingi batuk kecil yang tertahan.

Mendengar suara itu, ketegangan di wajah Rian langsung mencair. Ia segera menarik gerendel besi dan membuka pintu lebar-lebar.

Di luar, berdiri seorang wanita paruh baya berambut sebahu yang diikat longgar. Wajahnya tampak pucat, garis-garis kelelahan tercetak jelas di sekitar mata dan sudut bibirnya. Ia mengenakan jaket kain katun tipis yang sudah agak luntur warnanya. Wanita itu adalah Bi Inah, pemilik warung kelontong kecil di lantai dasar rusun yang sering memberikan sisa sayuran atau tempe gratis kepada Rian ketika uang saku pemuda itu benar-benar habis.

"Bi Inah? Ada apa malam-malam begini datang ke sini? Masuklah, Bi," sambut Rian dengan nada ramah, buru-buru menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan.

Bi Inah menggeleng pelan, tangannya meremat ujung jaketnya sendiri dengan gelisah. Ia tidak melangkah masuk, melainkan menoleh ke kanan dan ke kiri lorong yang sepi sebelum kembali menatap Rian.

"Tidak usah masuk, Nak Rian. Bibi cuma mau mengantar ini..." Bi Inah mengulurkan sebuah mangkuk plastik tertutup rapat yang dibungkus dengan kain serbet bersih. "Tadi Bibi masak sop tahu sedikit berlebih di warung. Bibi ingat kamu mungkin belum makan malam, jadi Bibi bawakan."

Rian menatap mangkuk di tangan Bi Inah, lalu beralih menatap mata wanita paruh baya itu. Di balik rasa lelah di wajah Bi Inah, Rian bisa menangkap kilatan kecemasan yang mendalam. Sebagai orang yang peka sejak kecil, Rian tahu persis kapan seseorang sedang menyembunyikan masalah besar.

"Bibi..." Rian menerima mangkuk itu dengan kedua tangannya. Begitu tangan mereka bersentuhan sesaat, Rian merasakan tangan Bi Inah terasa dingin dan sedikit bergetar. "Bibi kelihatan pucat sekali. Ada apa di bawah? Apakah preman pasar itu datang lagi?"

Mendengar kata "preman pasar", bahu Bi Inah langsung merosot turun. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.

"Badrol dan anak buahnya datang lagi sore tadi, Rian," bisik Bi Inah dengan suara tercekat, takut suaranya didengar oleh tetangga sebelah. "Mereka menaikkan uang keamanan lapak sebesar tiga kali lipat bulan ini. Katanya kalau tidak dibayar besok pagi, lapak Bibi akan dibongkar paksa, atau... atau anak buahnya akan mengganggu Rani di kampus."

Rani adalah anak perempuan sematawayang Bi Inah yang sedang kuliah tingkat akhir di universitas swasta di kota ini—satu-satunya alasan mengapa Bi Inah membanting tulang siang dan malam di warung kecilnya.

Rian terdiam. Wajahnya yang tadinya tenang perlahan-lahan menjadi dingin. Badrol adalah kepala preman yang menguasai seluruh kawasan pasar induk dan rumah susun ini. Bertahun-tahun lamanya, Badrol memeras para pedagang kecil dengan dalih uang keamanan, dan tidak ada seorang pun yang berani melawan karena Badrol memiliki backing aparat korup di kepolisian sektor setempat.

"Berapa banyak yang mereka minta, Bi?" tanya Rian pelan, suaranya terdengar datar namun mengandung tekanan aneh yang membuat Bi Inah tanpa sadar menatap pemuda itu dengan terkejut.

"Tiga... tiga juta rupiah, Rian," isak Bi Inah pelan, menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. "Mana mungkin Bibi punya uang sebanyak itu dalam waktu semalam? Tabungan Bibi sudah habis untuk biaya pendaftaran wisuda Rani bulan lalu. Ya Tuhan... apa yang harus Bibi lakukan?"

Rian menatap Bi Inah lekat-lekat. Di dalam pikirannya, panel sistem tiba-tiba berkedip lembut, mengeluarkan sebuah notifikasi baru yang tidak terduga:

[ Misi Cabang Baru Diaktifkan: Menyelamatkan Warisan Kebaikan ] [ Deskripsi: Bantu Bi Inah menyelesaikan masalah pemerasan di kawasan pasar induk tanpa membiarkan identitas kultivator Anda terbongkar sepenuhnya. ] [ Hadiah: Peningkatan Energi Qi ke Tingkat Menengah (+30 Qi) dan Teknik Mata Dewa Pengamat. ]

Rian menarik napas dalam-dalam. Matanya bergeser menatap mangkuk sop tahu yang masih mengepulkan uap hangat di tangannya—pemberian tulus dari seorang wanita yang bahkan hidupnya sendiri sedang berada di ambang kehancuran. Selama bertahun-tahun ia hidup sebatang kara di lingkungan yang kejam ini, kebaikan kecil dari Bi Inah adalah salah satu dari sedikit hal yang membuatnya percaya bahwa dunia ini belum sepenuhnya busuk.

"Bibi, masuklah dulu ke dalam. Duduk dan tenangkan diri," kata Rian dengan suara yang sangat tenang dan berwibawa, membuat Bi Inah merasa seolah-olah ia sedang mendengarkan ucapan seorang orang tua yang bijaksana, bukan seorang anak SMA berusia tujuh belas tahun.

"Tapi, Rian..."

"Masuklah, Bi," ulangi Rian lembut namun tegas. Ia menuntun lengan Bi Inah masuk ke dalam kamar kosnya yang sempit, lalu menyuruh wanita itu duduk di atas kursi kayu satu-satunya, sementara dirinya berdiri di dekat meja.

Bi Inah duduk dengan canggung, memperhatikan ruangan Rian yang sangat rapi meskipun sangat sederhana. "Kamu sendiri bagaimana, Rian? Kamu bahkan makan malam hanya dengan nasi putih..."

"Aku baik-baik saja, Bi," jawab Rian sambil meletakkan mangkuk sop itu di atas meja. Ia menatap lurus ke mata Bi Inah. "Soal Badrol dan uang tiga juta itu... Biarkan aku yang urus."

Bi Inah terperanjat kaget. Ia langsung menggeleng kuat-kuat, melambaikan kedua tangannya dengan panik. "Jangan, Rian! Jangan berani-berani mencari masalah dengan Badrol! Kamu itu anak sekolah, yatim piatu, nanti kamu bisa... bisa dibunuh oleh mereka! Jangan cari mati, Nak!"

Rian tersenyum tipis. Senyuman itu tidak terlihat seperti senyuman seorang remaja yang putus asa; senyuman itu terlalu tenang, hampir mirip dengan senyuman seseorang yang sedang melihat sekumpulan semut yang ribut di atas tanah.

"Bibi, aku tidak cari mati," kata Rian pelan, melangkah ke dekat jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu jalanan kota yang basah oleh hujan. "Hari ini di sekolah, aku sudah belajar satu hal penting."

Bi Inah mendongak, menatap punggung Rian yang kini tampak berdiri tegak, memancarkan bayangan yang seolah-olah menutupi seluruh cahaya remang di ruangan itu.

"Apa itu, Rian?" tanya Bi Inah dengan suara bergetar karena cemas.

Rian menoleh sedikit, menatap bayangannya sendiri di kaca jendela yang berembun.

"Bahwa di dunia ini, orang lemah yang terus diam hanya akan diinjak-injak sampai mati," jawab Rian dingin. "Dan mulai hari ini... aku bukan lagi orang yang bisa diinjak."

Sebelum Bi Inah sempat mencerna arti dari kalimat itu, Rian mengangkat tangan kanannya dan mengetukkan jarinya pelan ke udara kosong di depannya. Di dalam retinanya, angka energi Qi perlahan berdenyut, bersiap menyambut malam pertama perjalanannya di dunia modern sebagai satu-satunya kultivator yang tersisa di muka bumi.

1
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!