Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Setelah mengantarkan minuman ke area VIP, Aruni berjalan menuju area dapur dengan napas sedikit terengah. Kerja keras beberapa jam terakhir mulai menguras tenaganya. Melihat Aruni yang tampak lelah, Desi berjalan menghampiri sembari menyodorkan sebuah botol air mineral.
"Runi, kau minum air mineral ini. Kau terlihat begitu lelah, maaf ya!" ucap Desi, mengukir senyum manis yang menyembunyikan rencana liciknya.
"Eh, terima kasih banyak, Mbak Desi," balas Aruni tulus.
Tanpa sedikit pun rasa curiga, Aruni membuka segel botol tersebut dan meminumnya hingga tersisa setengah. Namun, hanya dalam hitungan detik, pandangannya mendadak mengabur dan kepalanya terasa amat berat.
"Loh, kok aku ngantuk sekali...?" gumam Aruni seraya memegang pelipisnya yang berdenyut.
"Mungkin kamu terlalu kelelahan, Runi. Ayo, sebaiknya kamu aku antar ke kamar istirahat khusus pegawai," ajak Desi sigap, menopang tubuh Aruni yang kian melemas. Aruni hanya bisa mengangguk pasrah.
Desi membawa Aruni naik menggunakan lift menuju lantai 8, bukan lantai bawah tanah tempat istirahat karyawan yang sebenarnya. Sambil menuntun Aruni yang setengah sadar, Desi mengedarkan pandangan mencari sosok suruhan Bu Nova.
Tak lama, seorang pria bertubuh kekar dengan setelan jas hitam dan rambut gondrong yang terikat rapi berjalan menghampiri mereka dari ujung lorong.
"Kau ini lama sekali! Ayo cepat bawa wanita itu ke dalam!" bisik pria itu dengan nada dingin dan terburu-buru.
Desi sempat tertegun sejenak. Seingatnya, Bu Nova berpesan bahwa pria yang menunggu di depan kamar adalah sesosok preman bertato.
‘Aish, mungkin di balik pakaian formal itu tubuhnya dipenuhi tato. Lagipula badannya juga kekar,’ batin Desi menepis ragu.
Tanpa pikir panjang, Desi menyerahkan tubuh Aruni ke dalam dekapan pria bertuksedo itu, lalu bergegas pergi meninggalkan lorong sunyi tersebut.
Pria itu mendorong pintu kamar VIP, lalu menghempaskan tubuh Aruni yang tak berdaya ke atas ranjang besar di tengah ruangan. Sial bagi Aruni karena kamar itu bukanlah kamar pegawai, melainkan kamar type suite tempat Edgar berada.
Di dalam kamar yang remang, Edgar sudah terkulai tak berdaya. Zat afrodisiak dosis tinggi yang tercampur dalam minumannya tadi telah membakar seluruh kesadarannya. Saat tubuh Aruni terlempar dan tidak sengaja menindih tubuh Edgar, sentuhan fisik itu seketika memicu reaksi dahsyat dalam diri Edgar, sebuah pemicu yang selama ini tak pernah berhasil dibangunkan oleh wanita mana pun.
Pria gondrong berjas hitam itu tersenyum menyeringai melihat reaksi Edgar. Tanpa membuang waktu, ia melangkah keluar, mengunci pintu dari luar, lalu meraih ponsel dari saku jasnya.
"Tuan, misi telah selesai. Jangan lupa lunasi sisa pembayarannya!" ucapnya pelan pada orang di balik telepon.
"Kau tenang saja, aku akan langsung transfer!" jawab suara di seberang sana dengan nada puas.
Suara di balik telepon itu tak lain adalah paman Edgar. Dari balik kegelapan lorong hotel, sang paman membatin penuh kemenangan:
‘Akhirnya misiku berhasil. Wanita itu harus bisa membuktikan kalau si pria menyebalkan itu benar-benar mandul atau impoten seperti rumor yang beredar. Jika rencana ini berhasil dan dia tetap tak bisa memberikan keturunan, maka putraku yang akan menggantikan posisi Edgar sebagai pewaris utama Ganendra Group!’
Sementara itu di lantai bawah, suasana pesta mendadak tegang bagi Harry, asisten pribadi Edgar. Beberapa saat lalu, jas milik Harry secara tidak sengaja tersiram wine oleh seorang pelayan, memaksanya harus pergi ke toilet untuk membersihkan diri.
Namun, sekembalinya ke ruangan utama, sosok presdirnya telah lenyap dari pandangannya.
"Tuan Edgar? Di mana beliau...?" gumam Harry panik sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang ramai.
Menyadari ponsel Edgar tidak dapat dihubungi dan tuannya menghilang secara mencurigakan, Harry mulai menyusuri lorong-lorong hotel dengan perasaan cemas yang membuncah, sama sekali tidak menyadari bahwa di lantai 8, takdir tuannya dan gadis pelayan itu sedang bertautan dalam kegelapan
Malam itu, di balik pintu kamar 808 yang tertutup rapat, suasana terasa makin pekat dan panas. Efek obat yang menguasai tubuh Aruni dan Edgar membakar habis seluruh sisa kesadaran mereka, mengikis canggung dan menyisakan gejolak naluri yang tak lagi mampu dibendung.
Dalam remang cahaya kamar suite, Edgar merengkuh tubuh Aruni ke dalam dekapannya. Setiap sentuhan terasa membakar kulit mereka. Aruni, yang tak lagi mampu berpikir jernih akibat pengaruh obat, hanya bisa menahan napas saat Edgar mulai mengecup leher jenjangnya. Bisikan halus dan des4han pasrah lolos dari bibirnya, mempertegas betapa kuatnya pengaruh zat tersebut pada mereka berdua.
Perlahan, pakaian yang mereka kenakan tak lagi menjadi penghalang. Aruni, yang terbuai oleh rasa hangat yang mengaliri seluruh tubuhnya, ikut menuntun jemarinya melepaskan kancing kemeja Edgar satu demi satu. Gelombang gair4h yang melingkupi ruangan itu membuat keduanya semakin tenggelam dalam pusaran yang sama.
Edgar, yang selama ini dikenal dingin dan tak tersentuh oleh wanita mana pun, malam itu benar-benar kehilangan kendali. Sentuhan demi sentuhan Aruni menjadi satu-satunya pemicu yang meruntuhkan pertahanannya. Dalam kungkungan malam yang semakin larut, tumpuan emosi dan hasrat yang membakar membawa mereka pada puncak penyatuan yang intens dan tanpa jarak.
Garis takdir dua insan yang semula tak saling mengenal itu resmi bertautan erat malam itu. Rencana jahat yang dirancang orang lain justru mempertemukan mereka dalam ikatan yang tak terduga.
Hingga akhirnya, ketika tenaga mereka benar-benar terkuras habis dan efek obat perlahan mereda, keheningan kembali menguasai kamar 808. Keduanya pun tumbang dalam lelap karena kelelahan hebat, tertidur berdampingan di atas ranjang tempat tidur dengan napas yang berangsur teratur, tanpa menyadari betapa besarnya perubahan yang akan terjadi pada jalan hidup mereka setelah malam ini berlalu.
Di sudut lorong lain di lantai delapan, sesosok pria berbadan tegap dengan deretan tato yang menyembul dari balik kerah bajunya berdiri gelisah. Sudah hampir satu jam ia bolak-balik menatap jam di pergelangan tangannya, namun sosok pelayan yang berjanji akan menyerahkan Aruni padanya tak kunjung muncul.
"Kemana wanita itu membawa korban? Tidak beres ini, sebaiknya aku hubungi kembali Bu Nova!" ujar pria bertato itu cemas.
Tanpa membuang waktu, ia segera menekan tombol panggil di ponselnya.
Di tempat terpisah, ponsel Nova berdering nyaring. Ia tersenyum yakin saat mengangkatnya, menduga sang preman akan mengabarkan bahwa Aruni sudah berhasil dijerat. Namun, raut wajahnya seketika berubah pucat saat mendengar suara di balik telepon.
"Apa?! Kau bilang dia belum menyerahkan Aruni padamu?!" seru Nova dengan suara tertahan, matanya membelalak panik. "Dasar wanita tidak becus! Tunggu di sana, aku akan hubungi Desi sekarang juga!"
Nova mematikan panggilan dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup kencang saat ia menekan nomor Desi. Satu kali, dua kali, hingga panggilan kelima, hanya nada dering panjang yang terdengar.
"Sialan! Kenapa wanita itu tidak mengangkat teleponku?!" umpat Nova berapi-api, frustrasi karena rencananya terancam berantakan.
Sementara itu, jauh di area basement hotel yang remang dan sepi, Desi justru sedang tersenyum lebar. Ia berdiri di samping mobil mewah milik suruhan Tuan David yakni pamannya Edgar.
Dengan jemari yang gemetar karena gembira, Desi sibuk menghitung lembaran uang tunai bernominal besar dari dalam dua amplop tebal di tangannya. Satu amplop dari Nova untuk menjebak Aruni, dan satu amplop lagi dari orang kepercayaan David karena berhasil menyusupkan zat afrodisiak ke dalam minuman Edgar.
"Aduh, nikmatnya... Malam ini aku mendadak kaya raya!" bisik Desi penuh kepuasan, matanya berbinar menatap tumpukan uang di tangannya. Panggilan telepon dari Nova yang terus bergetar di dalam tasnya sama sekali tidak ia hiraukan.
Dalam euforia kemenangan itu, Desi sama sekali tidak menyadari kecerobohannya. Karena keserakahan dan ketergesaannya, ia telah menyerahkan Aruni kepada pria berjas yang salah. Bukannya jatuh ke tangan preman suruhan Nova, Aruni justru dipandu masuk ke dalam ranjang sang Presiden Direktur, menjalin takdir baru yang kelak akan menghancurkan semua rencana licik mereka.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..