NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 4. Tekad Sudah Bulat

Kinanti menolehkan kepalanya ke arah kanan. Betapa terkejutnya dia ketika mendapati suaminya, Yudha, tengah menatapnya lekat. Tatapan itu begitu berbeda dari biasanya yaitu teduh, tenang, dan di wajah rupawan itu tidak menyimpan kemarahan sedikitpun.

Untuk pertama kalinya selama delapan tahun pernikahan mereka, Kinanti melihat Yudha menatapnya seperti itu.

“Ya Allah… ini pertama kalinya Mas Yudha menatapku dengan tatapan seteduh itu, nyaman dan buat hatiku tenang,” gumam Kinanti lirih.

Namun, rasa bahagia yang sempat muncul di dalam hatinya seketika bercampur dengan ketakutan.

Pengalamannya selama bertahun-tahun membuat Kinanti selalu waspada setiap kali suaminya memperhatikannya. Dia takut telah melakukan kesalahan tanpa disadarinya yang akan berakhir dengan pukulan.

Kinanti buru-buru berdiri, kemudian berjalan mendekati ranjang Yudha dengan langkah ragu-ragu.

“Maafkan aku, Mas Yudha,” ucapnya pelan wajahnya tertunduk, telapak tangannya sampai berkeringat dingin.

Suaranya terdengar jelas ketakutan.

Selama ini, setiap kali Kinanti melakukan kesalahan, Yudha tidak akan pernah segan untuk melampiaskan emosinya.

Tamparan dan kata-kata kasar sudah terlalu sering diterima Kinanti hingga tanpa sadar tubuhnya selalu menegang ketika berada di dekat suaminya.

“Aku tadi sedang sholat, makanya tidak sadar kalau Mas sudah bangun. Mas mau makan atau minum?” tanyanya hati-hati.

Kinanti bahkan sengaja menjaga jarak. Dia berdiri beberapa langkah dari ranjang, seolah-olah jarak itu dapat melindunginya jika sewaktu-waktu Yudha kembali marah.

Yudha tidak menjawab sepatah kata pun. Kondisinya yang masih lemah setelah menjalani operasi membuatnya kesulitan berbicara.

Akan tetapi tangannya terlihat meraih sebuah gelas dari atas meja nakas membuat Kinanti spontan melindungi wajahnya.

“Argh!!” teriak Kinanti.

Yudha menatap keheranan melihat tingkahnya Kinanti yang tiba-tiba menutupi wajahnya. Sedangkan Kinanti karena merasa tidak ada yang sakit terkekeh geli dengan sikapnya.

“Maaf,” cicitnya yang salah tingkah.

Tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya belum sepenuhnya pulih setelah hampir seminggu tidak sadarkan diri.

“Aku cuma haus,” ucapnya lemah Yudha.

Kinanti cepat-cepat mengambil gelas lalu mengisi gelas itu dengan air mineral.

“Sini aku bantuin mas,” Kinanti membantu Yudha dengan telaten dan penuh kehati-hatian.

Yudha hanya menatap intens Kinanti Handa tanpa berbicara lagi

Kinanti pun semakin harap-harap cemas.

Dia menunggu Yudha memarahinya seperti biasanya.

Namun, bukannya kemarahan yang terdengar, sebuah pertanyaan justru membuat tubuh Kinanti seketika membeku.

“Kamu siapa?”

Itulah kata-kata bernada pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Yudha setelah hampir seminggu dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan yang membuatnya koma.

Kinanti terdiam, matanya terlihat membulat sempurna. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Masa Mas lupa denganku?” tanyanya dengan tawa sumbang yang dipaksakan.

“Aku Kinanti Khairunisa, istrinya Mas.” ucapnya kemudian.

Yudha menatap wajah Kinanti cukup lama. Tatapannya polos dan juga kebingungan. Setelah itu, dia menggelengkan kepala perlahan seperti seorang anak kecil yang benar-benar tidak memahami siapa perempuan di hadapannya.

Kinanti semakin dibuat bingung, dadanya terasa sesak. Tiba-tiba ingatannya melayang pada kejadian tepat seminggu yang lalu.

Saat itu, Kinanti terlambat mengantarkan makan siang untuk Yudha. Keterlambatan yang sebenarnya tidak disengaja tersebut justru membuat Yudha kehilangan kesabaran dan menamparnya tanpa memperdulikan perasaannya.

Kinanti sontak memegangi pipinya sendiri. Tubuhnya bergidik ngeri-ngeri sedap ketika harus kembali mengingat kejadian tersebut, seolah-olah rasa sakit dan penghinaan itu kembali dirasakannya.

“Astagfirullahaladzim… Ya Allah, semoga saja kejadian itu tidak terulang lagi,” batinnya.

“Apakah benar kamu istriku?” tanya Yudha lagi.

Tangannya terangkat memegangi kepala karena tiba-tiba rasa nyeri menusuk kepalanya.

Kinanti semakin kebingungan. Di satu sisi, dia takut Yudha kembali marah. Namun, disisi lain, dia juga tidak tega melihat suaminya yang sedang kesakitan.

Dia hanya berdiri terpaku. Pikirannya kosong hingga mulutnya sedikit menganga membentuk huruf O.

“Kinan, kamu baik-baik saja?” tanya Yudha dengan suara lirih.

Tubuh Kinanti tersentak. Dia buru-buru menggelengkan kepala hingga bicaranya tergagap.

“Eh… a-anu, aku baik-baik saja, Mas.” Kinanti berusaha tersenyum meski gugup.

“Kalau begitu, aku panggil dokter dulu, ya, untuk memeriksa kondisi Mas Yudha.”

Kinanti segera berbalik dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu. Dia merasa malu karena ketahuan melamun.

Sementara itu, Yudha hanya memperhatikannya. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman tipis, setipis benang.

“Istriku ternyata manis, cantik dan menggemaskan,” cicitnya.

Senyuman itu membuat Kinanti yang sempat menoleh kembali tertegun.

Itulah senyuman pertama yang terlihat di wajah Yudha sejak mereka resmi menikah delapan tahun lalu.

Selama ini, Kinanti bahkan hampir lupa bagaimana rupa suaminya ketika tersenyum.

Ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya, tetapi bersamaan dengan itu muncul pula kegelisahan yang tidak bisa diabaikan.

Kinanti bersyukur karena untuk pertama kalinya Yudha tidak membentaknya, tidak menghinanya, bahkan tidak menunjukkan sedikit pun amarah.

Namun, kebahagiaan itu terasa belum lengkap. Ada satu pertanyaan besar yang terus berputar di dalam pikirannya.

Apakah Yudha benar-benar berubah?

Atau jangan-jangan suaminya mengalami amnesia?

Kinanti berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan pikiran yang semakin kacau. Sesekali dia menunduk, mencoba menyusun kembali semua kejadian yang baru saja dialaminya.

Selama perjalanan menuju ruangan dokter yang menangani Yudha, berbagai kemungkinan memenuhi kepalanya.

“Apakah Mas Yudha benar-benar kehilangan ingatannya? Kalau iya, seberapa parah?” batinnya.

Langkah Kinanti melambat. Namun, ada secercah harapan yang diam-diam tumbuh di dalam hatinya.

Suasana sepi dari koridor rumah sakit khusus perawatan VIP tak dihiraukannya.

“Ya Allah… kalau memang Mas Yudha kehilangan sebagian ingatannya, semoga setelah ini dia bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga musibah ini membuat hatinya berubah. Semoga Mas Yudha bisa mencintaiku dan menerimaku sebagai istrinya,” lirihnya dalam hati.

Kinanti kemudian menghela nafas panjang. Dia sadar, dirinya tidak seharusnya berharap terlalu banyak. Bagaimanapun, perubahan seseorang bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan.

Tetapi setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan, sedikit kelembutan dari suaminya saja sudah cukup membuat hati Kinanti kembali memiliki harapan.

Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Yudha selesai melakukan pemeriksaan.

Kinanti berdiri di samping dokter dengan wajah penuh kecemasan. Begitu dokter meletakkan kembali alat pemeriksaannya, Kinanti langsung bertanya.

“Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan suami saya? Kenapa dia sampai tidak mengenali saya?” tanyanya penasaran.

Dokter itu tersenyum tipis, berusaha menenangkan Kinanti.

“Dari hasil pemeriksaan sementara, kemungkinan besar suami Ibu mengalami amnesia parsial atau kehilangan ingatan sebagian. Kondisi seperti ini dapat terjadi setelah seseorang mengalami cedera kepala atau trauma akibat kecelakaan.”

Kinanti mengangguk perlahan, tetapi wajahnya masih menunjukkan kebingungan.

“Amnesia parsial itu maksudnya bagaimana, Dok?” tanyanya kembali.

“Artinya, tidak semua ingatannya hilang. Ada bagian tertentu dari masa lalunya yang masih dia ingat, tetapi ada pula informasi atau kejadian tertentu yang tidak bisa diakses untuk sementara waktu.” jelasnya.

“Jadi… Mas Yudha bisa saja lupa kepada saya, tetapi masih mengingat orang lain?”

“Bisa saja. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang lupa kejadian tertentu, ada yang kesulitan mengingat orang-orang terdekat, dan ada pula yang secara bertahap mendapatkan kembali ingatannya.”

Kinanti terdiam. “Apakah ingatannya bisa kembali, Dok?”

“Insyaallah bisa, tetapi kita tidak dapat memastikan kapan. Bisa dalam hitungan hari, minggu, bahkan lebih lama. Yang terpenting, jangan terlalu memaksanya untuk mengingat sesuatu.”

Kinanti mengangguk. “Kalau begitu, saya harus bagaimana, Dok?”

“Temani dia, bantu dia merasa aman, dan jangan membuatnya tertekan. Kalau dia tidak mengenali seseorang, jangan dipaksa. Perkenalkan diri secara perlahan. Biarkan otaknya memproses semuanya dengan tenang.”

Kinanti kembali mengangguk. “Baik, Dok. Saya mengerti.”

Setelah dokter pergi, Kinanti masih berdiri di tempatnya.

Amnesia. Kata itu terus terngiang di kepalanya. Anehnya, di balik rasa khawatir yang begitu besar, ada perasaan lain yang tidak bisa disembunyikan.

Untuk pertama kalinya, Kinanti melihat sisi Yudha yang selama ini hanya bisa dia impikan. Tatapan teduh. Suara lembut.

Dan senyuman yang begitu asing, tetapi diam-diam membuat hatinya berdebar.

Kinanti menatap pintu kamar rawat Yudha.

“Kalau benar Mas Yudha kehilangan sebagian ingatannya, apakah aku boleh berharap dia akan melupakan semua keburukannya kepadaku?”

Kinanti menggigit bibirnya, lalu menundukkan kepala.

“Dan kalau nanti ingatannya kembali apakah Mas Yudha akan kembali menjadi Yudha yang dulu? pria yang sikapnya selalu kasar kepadaku”

Pertanyaan itu membuat hati Kinanti kembali diliputi kecemasan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

“Biarlah untuk sekarang aku tetap merawat Mas Yudha. Aku akan mendampinginya sampai kondisinya benar-benar pulih. Bagaimanapun, dia adalah suamiku dan aku tidak tega meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.”

Kinanti menarik napas panjang. Namun, setelah beberapa saat, tatapannya berubah menjadi lebih tegas.

“Tapi setelah Mas Yudha sembuh, aku tetap akan menyerahkan berkas gugatan cerai itu. Keputusanku tidak boleh berubah hanya karena sekarang Mas Yudha bersikap lembut kepadaku.”

Kinanti menundukkan kepalanya. Ada rasa sakit yang kembali memenuhi dadanya ketika mengingat semua perlakuan buruk yang selama ini diterimanya.

“Aku sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan. Aku tidak ingin kembali ke kehidupan yang sama hanya karena sekarang Mas Yudha kehilangan sebagian ingatannya.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kalau suatu hari ingatannya kembali dan dia kembali menjadi Yudha yang dulu, aku tidak yakin aku akan sanggup menghadapinya lagi.”

Kinanti mengusap sudut matanya yang mulai basah. “Jadi, untuk saat ini aku akan merawat Mas Yudha dengan sebaik-baiknya. Aku akan tetap menjadi istrinya sampai dia sembuh. Tetapi setelah semuanya selesai, aku akan pergi.”

Hatinya terasa berat ketika mengucapkan keputusan itu dalam hati.

“Maafkan aku, Mas Yudha. Kali ini aku harus memilih diriku sendiri. Aku tetap akan mendoakan kesembuhanmu, tetapi aku tidak ingin kembali mempertaruhkan hidup dan kebahagiaanku hanya demi mempertahankan pernikahan yang selama ini membuatku terluka.”

Kinanti menghela nafasnya dengan panjang.“Semoga setelah sembuh nanti Mas Yudha bisa menjadi orang yang lebih baik. Dan semoga aku juga diberi kekuatan untuk benar-benar mengakhiri semuanya.”

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!