NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Sup Kelinci Pertama

Malam semakin larut, dan suhu di luar gubuk reyot itu merosot tajam, membawa angin malam musim semi yang menusuk tulang. Namun, di dalam sudut dapur yang sederhana itu, suasana terasa begitu kontras.

Aroma gurih kaldu kelinci bercampur bawang hutan dan sedikit garam mengepul memenuhi ruangan kecil tersebut, mengusir bau apek tanah dan jerami basah yang biasanya melekat erat.

Di atas meja kayu yang reot, sebuah mangkuk tanah liat besar diletakkan di tengah-tengah. Di dalamnya, kuah sup berwarna keputihan mengepulkan uap panas, dengan potongan-potongan daging kelinci yang empuk berendam di antara serpihan umbi hutan.

Lin Wanru duduk bersila di atas kursi kayu pendek, menatap mangkuk tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk. Sebagai seorang CEO di dunia modern, ia terbiasa menikmati hidangan fine dining di restoran bintang lima dengan piring porselen mewah dan pelayan pribadi.

Tapi malam ini, di hadapan mangkuk tanah liat yang retak dan sendok kayu seadanya, ia merasa hidangan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah ia santap seumur hidupnya.

Nyonya Lin mengambil tiga pasang sumpit kayu buatan tangan yang permukaannya sudah agak halus karena sering dipakai. Wanita paruh baya itu menyerahkan sepasang sumpit kepada Wanru dan Lin Bao. Wajah pucatnya tampak berbinar, dihiasi senyuman tulus yang sudah lama sekali tidak pernah terlihat.

"Makanlah, selagi masih hangat," ucap Nyonya Lin dengan suara parau yang bergetar karena terharu.

Belum sempat Nyonya Lin selesai merapikan mangkuknya, Lin Bao yang sudah tidak bisa menahan gejolak air liurnya sejak proses memasak tadi, langsung menyambar sumpit.

Bocah delapan tahun itu dengan tidak sabar mengambil potongan daging kelinci terbesar dari dalam mangkuk menggunakan sumpitnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut dalam satu suapan besar.

"Akh! Hah... hah! Panas! Panas!"

Lin Bao serta merta melompat dari tempat duduknya, memegang kedua pipinya sambil membuka lebar-lebar mulutnya, dan membiarkan uap panas keluar. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, matanya berair karena menahan rasa panas yang membakar lidahnya yang malang.

Nyonya Lin langsung panik. "Astaga, Bao-er! Kenapa ceroboh sekali?! Siapa suruh langsung menelan daging yang baru diangkat dari tungku? Cepat minum air putih ini!" seru ibunya sambil menyodorkan mangkuk air dingin.

Lin Bao langsung meneguk air dingin itu hingga tandas. Setelah rasa panas di lidahnya sedikit mereda, bocah itu terengah-engah sambil menjulurkan lidahnya sedikit.

Melihat tingkah konyol adiknya, Lin Wanru tidak kuasa menahan tawa. Ia tersenyum geli sambil menggelengkan kepala. "Makanya, jangan seperti kuda kelaparan yang baru lepas kandang, Bao-er. Makanan itu tidak akan lari ke mana-mana. Pelan-pelan saja menikmatinya."

Lin Bao mengusap bibirnya yang sedikit merah, lalu cengengesan tanpa rasa bersalah. "Dagingnya harum sekali, Kak! Aku tidak sabar tadi... Rasanya benar-benar luar biasa, seperti terbang ke langit!" bela bocah itu dengan mata berbinar-binar penuh semangat, hingga membuat rasa lapar di perutnya kembali bergemuruh.

Suasana kembali tenang, digantikan oleh suara deburan angin malam di luar dinding kayu. Nyonya Lin mulai mengambil sendok kayu untuk membagikan isi sup ke dalam mangkuk kecil masing-masing.

Dengan gerakan penuh kehati-hatian dan rasa sayang yang teramat besar, Nyonya Lin memilih potongan daging kelinci yang paling empuk, bagian paha yang tebal dan penuh daging, lalu memindahkannya ke dalam mangkuk Lin Wanru.

Tidak lupa, ia juga menambahkan beberapa sendok kuah kental yang gurih.

"Makanlah yang banyak, Nak..." ucap Nyonya Lin, menatap Wanru dengan mata yang berkaca-kaca. "Tubuhmu butuh banyak tenaga untuk pulih. Kamu sudah bekerja keras hari ini demi mendapatkan ini semua."

Wanru tertegun. Ia menatap potongan daging paha kelinci di mangkuknya, lalu beralih menatap wajah ibunya yang kurus dan penuh kerutan.

Di dunia aslinya, Wanru dibesarkan sebagai anak yatim piatu di panti asuhan, di mana segala sesuatu harus diperebutkan sendiri dan tidak pernah ada orang dewasa yang secara khusus mendahulukannya dalam hal makanan.

Kehangatan kasih sayang yang ditunjukkan Nyonya Lin ini terasa begitu tulus, hingga menyentuh bagian paling dalam dari hatinya yang selama ini membeku di balik topeng kesuksesan korporasi.

"Ibu, makanlah juga bagian paha ini. Ibu dan Bao-er juga sama lelahnya," protes Wanru halus, dan mencoba mendorong mangkuk itu kembali ke tengah.

Namun Nyonya Lin menggeleng tegas, seraya menepis tangan Wanru dengan pelan. "Tidak, Ibu sudah tua, tidak butuh banyak makan. Kamu dan adikmulah yang harus tumbuh besar. Cepat makan, jangan membantah."

Lin Wanru mengangguk pelan, sembari menahan rasa haru di dadanya. Ia pun mengambil sepotong daging kelinci itu dan menggigitnya perlahan. Teksturnya empuk, gurih, berpadu sempurna dengan rempah bawang hutan yang sederhana.

Namun, saat ia melihat cara adiknya, Lin Bao, mengunyah daging tersebut dengan begitu lahap seolah itu adalah hidangan istana kaisar, sebuah pemikiran analitis melintas di kepala sang mantan CEO.

Lin Bao mengunyah daging itu dengan mata terpejam menikmati, sementara Nyonya Lin tampak menyedot kuah sup dengan senyuman kecil di bibirnya. Mereka tampak begitu bahagia hanya karena semangkuk sup kelinci sederhana.

Wanru terdiam sejenak, dan menghentikan sumpitnya. "Ya ampun... melihat reaksi mereka, sepertinya mereka baru pertama kali makan daging seumur hidup mereka," batin Wanru, gelombang rasa iba dan miris menghantam dadanya seketika.

"Bagaimana sistem nutrisi dan protein mereka tercukupi selama ini di desa terpencil ini? Tidak heran jika tubuh anak-anak di sini kurus kering, sistem imun mereka lemah, dan gampang terserang penyakit."

Sebagai seorang ahli agrikultur dan bioteknologi modern, Wanru tahu betul bahwa kekurangan protein hewani dan asam amino esensial dalam jangka panjang akan merusak pertumbuhan fisik, menurunkan fungsi kognitif otak anak-anak, serta memperpendek angka harapan hidup manusia.

Selama ini, keluarga Lin hanya hidup dari sekam padi encer dan akar tanaman liar, sebuah pola makan yang secara biologis adalah bentuk perlahan dari penggerogotan tubuh.

"Makan malam ini memang menyelamatkan kami dari kelaparan hari ini," pikir Wanru menganalisis situasi finansial dan biologis keluarganya secara rasional, "tapi ini tidak cukup. Kelinci hutan ini akan habis malam ini. Besok pagi, kami akan kembali dihadapkan pada perut kosong. Dan dalam waktu tiga hari, utang tiga tael perak kepada Paman Dehai harus dilunasi."

Sup kelinci ini adalah awal yang bagus, tetapi ini baru menyelesaikan masalah jangka pendek selama beberapa jam ke depan. Karena perang yang sesungguhnya baru akan dimulai esok hari.

"Kak! Kenapa melamun? Dagingnya enak lho, kalau tidak dimakan nanti keburu diambil sama Bao-er lho!" celoteh Lin Bao dengan mulut yang masih penuh oleh makanan, dan membuyarkan lamunan Wanru.

Wanru tersenyum kecil. Ia menatap adiknya yang comel dengan noda kuah di sudut bibirnya. "Iya, bawel. Ini aku makan. Tidak akan ada yang mengambil jatahmu, dasar anak rakus."

"Ibu, besok kita bisa membuat sup ini lagi kalau Kakak pergi ke hutan kan?" tanya Lin Bao polos sambil menatap ibunya.

Nyonya Lin tersenyum getir, meski ia berusaha menutupinya di depan anak-anaknya. "Hutan itu tempat yang berbahaya, Bao-er. Tidak setiap hari keberuntungan berpihak pada kita. Besok, Ibu harus kembali ke sumur desa untuk mencuci pakaian tetangga agar kita bisa mendapat sedikit biji gandum."

Mendengar ucapan ibunya, Wanru merasakan tekad di dalam dadanya semakin menguat. Ia tidak boleh membiarkan ibunya kembali membanting tulang di sungai es demi upah yang tidak seberapa.

Ia adalah seorang ahli strategi bisnis. Ia memiliki pengetahuan tentang agrikultur modern, teknik pengolahan pangan, dan pengelolaan sumber daya alam yang tidak diketahui oleh orang-orang di era dinasti kuno ini.

Wanru meletakkan sumpit kayunya dengan perlahan. Ia mengangkat wajahnya, dan menatap Nyonya Lin dan Lin Bao dengan sorot mata yang jernih, penuh keyakinan, dan memancarkan wibawa yang membuat kedua orang di hadapannya tertegun sejenak.

"Ibu tidak perlu lagi pergi mencuci pakaian di sungai es mulai besok," ucap Wanru dengan suara tenang namun terdengar tegas.

Nyonya Lin menghentikan mangkuk di tangannya, lalu menatap putri sulungnya dengan kening yang berkerut bingung. "Lalu... bagaimana kita bisa bertahan hidup, Wan-er? Utang Pamanmu..."

Wanru menyunggingkan senyuman tipis yang misterius namun penuh percaya diri. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis yang elegan.

"Mulai besok, kita tidak akan lagi bergantung pada belas kasihan orang lain atau sisa-sisa makanan di hutan liar," kata Wanru mantap. "Aku punya rencana. Kita akan mengubah nasib keluarga Lin dari mangkuk sup sederhana ini."

Bersambung...

1
Iyus Iyus
baguuuss
Iyus Iyus
mampus tu
Osie
keluarga lin warung kudu jd konglomerat ..no cinta cintaan ya thor kudu sukses n kaya raya dulu..cinta cintaan no kesekian ratus dah
Aurora: Lin Wanru mungkin ya, bukan Lin warung, typo 😅
siap... tapi jika othor berkata lain jidonya bisa segera hadir 😃🤗
total 1 replies
Osie
aura ceo jaman modern emang gak kaleng kaleng..kena mental dah duo penjaga rumah lelang
The Dream26: Novel 'RUMAH' telah hadir, karya spektakuler dan seru untuk di nikmati, penasaran?, mampir ya kak
total 1 replies
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!