Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE KAMAR KITA
Menghabiskan akhir pekan di kediaman utama keluarga Sinclair menjadi sesuatu yang tidak pernah Elma duga sebelumnya, ia tidak menduga jika hal itu terasa begitu menyenangkan. Setelah sekian lama hubungan mereka dipenuhi jarak, kesalahpahaman, dan percakapan yang sering kali berakhir tanpa penyelesaian, dua hari terakhir justru terasa berbeda. Maxime menghabiskan lebih banyak waktu bersama Elma, bahkan beberapa kali dengan sengaja menunda pekerjaannya hanya untuk menemani sang istri.
Di hadapan keluarga Sinclair, mereka juga tidak lagi terlihat seperti dua orang yang sekadar menjalankan kewajiban sebagai pasangan suami istri.
Maxime sesekali menunjukkan perhatian kecil. Memastikan Elma sudah makan, mengingatkan agar istrinya tidak terlalu lama berdiri ketika sedang berbincang dengan Oma Margaret, bahkan tanpa diminta mengambilkan minuman kesukaannya. Hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah lama dirindukan Elma.
Oma Margaret tentu menjadi orang yang paling bahagia melihat perubahan tersebut. Perempuan lanjut usia itu bahkan beberapa kali melontarkan komentar yang membuat Elma salah tingkah.
Maxime sendiri tampaknya tidak keberatan. Justru, pria itu terlihat menikmati setiap kesempatan untuk memperlihatkan bahwa Elma adalah istrinya.
Namun, akhir pekan yang menyenangkan itu harus berakhir ketika Senin pagi tiba. Elma harus kembali pada rutinitas pekerjaannya. Pagi itu, Elma tiba di kantor dengan langkah ringan, Ia mengenakan blus berwarna krem yang dipadukan dengan rok kerja berpotongan elegan. Rambutnya tertata rapi, sementara senyum tipis terus menghiasi wajahnya sejak memasuki gedung kantor.
"Selamat pagi." Sapanya.
Karin yang sedang memeriksa beberapa dokumen di mejanya langsung mengangkat kepala. "Selamat pagi."
Namun, setelah menjawab sapaan tersebut, Karin tidak segera kembali pada pekerjaannya. Matanya justru memperhatikan Elma dengan saksama. Elma yang baru saja meletakkan tas di meja menyadari tatapan itu.
"Ada apa?" tanyanya.
Karin menyipitkan mata. "Tidak ada."
"Kalau tidak ada, kenapa melihatku seperti itu?"
Karin menyandarkan punggungnya pada kursi. Senyum penuh arti mulai muncul di wajahnya. "Aku hanya sedang memastikan sesuatu."
"Memastikan apa?"
"Apakah aku sedang berbicara dengan Elma Laurent yang biasanya atau seseorang yang baru saja memenangkan lotre."
Elma mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Karin tertawa kecil. "Lihat wajahmu."
"Ada apa dengan wajahku?"
"Terlalu cerah."
"Karin."
"Dan senyummu." Karin menunjuk wajah Elma. "Astaga, bahkan sebelum aku mengucapkan selamat pagi, kamu sudah tersenyum sendiri."
Elma segera mengalihkan pandangan sambil berpura-pura sibuk merapikan dokumen. "Aku memang sedang merasa senang. Apa itu salah?"
"Tentu saja tidak." Karin mengangguk cepat. "Aku justru sangat mendukung."
Elma menatapnya curiga. "Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu katakan."
Karin mendekatkan kursinya. "Jadi, bagaimana akhir pekanmu?"
"Baik."
"Baik saja?"
"Sangat baik."
Karin langsung menepuk meja pelan. "Nah! Aku sudah menduganya!"
Elma menahan senyum. "Menduga apa?"
"Bahwa akhir pekanmu bersama Tuan Maxime Sinclair berjalan sangat menyenangkan. Benar bukan?"
"Karin!"
"Apa?" Karin memasang wajah polos. "Aku hanya bertanya."
"Kamu tidak perlu bertanya dengan ekspresi seperti itu."
"Ekspresi seperti apa?"
"Ekspresi seseorang yang sedang menunggu gosip."
Karin tertawa semakin lebar. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menggodamu lagi."
Elma menghela napas lega. Namun, beberapa detik kemudian Karin kembali membuka suara.
"Tapi serius, Elma. Aku senang melihatmu seperti ini."
Senyum Karin kali ini berbeda. Tidak ada godaan ataupun keisengan di sana. "Aku tahu beberapa waktu terakhir bukan masa yang mudah bagimu. Kamu sering terlihat kelelahan, bahkan terkadang datang ke kantor dengan pikiran yang entah berada di mana."
Elma terdiam.
"Tapi hari ini kamu terlihat jauh lebih baik. Aku senang rumah tanggamu mulai membaik."
Elma menatap sahabatnya dengan ekspresi lebih lembut. "Terima kasih, Karin."
Karin mengangguk. "Dan sampaikan salamku kepada suamimu."
"Untuk apa?"
"Untuk keberhasilannya mengembalikan senyum sahabatku."
Elma spontan tertawa kecil. "Kamu benar-benar tidak bisa berhenti, ya?"
"Memangnya aku salah?"
"Sudah, bekerjalah."
Karin mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tetapi senyum jahilnya belum juga menghilang. "Baik, Nyonya Sinclair."
Elma menggelengkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Setelah sekian lama, ia bekerja dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari hari- hari sebelumnya.
Malam harinya.
Elma baru saja tiba di kediaman mereka setelah melewati hari kerja yang cukup padat. Setelah menyapa para pelayan, ia menaiki tangga menuju kamar yang selama beberapa waktu terakhir ditempatinya seorang diri. Namun, langkahnya terhenti ketika memasuki ruangan. Ada sesuatu yang berbeda. Beberapa bagian lemari terlihat kosong. Meja riasnya juga tidak lagi dipenuhi perlengkapan pribadi seperti biasanya.
Elma mengerutkan kening, ia berjalan mendekati lemari pakaian, lalu membukanya. Hampir seluruh pakaiannya telah dipindahkan. Gaun- gaun, blus, pakaian kerja, hingga beberapa barang pribadinya kini tertata rapi di dalam lemari kamar utama. Elma terdiam beberapa saat, ia kemudian memanggil salah seorang pelayan yang kebetulan melintas di depan pintu.
"Dimana pakaian dan barang- barangku?"
"Dikamar utama nyonya".
"Dikamar utama!" Elma sedikit terkejut
"Siapa yang menyuruhmu memindahkan pakaian saya?".
"Maaf nyonya. Saya melakukannya atas instruksi Tuan Maxime, Nyonya."
Elma mengerjap. "Tuan Maxime?"
"Benar, Nyonya. Beliau meminta kami memindahkan seluruh barang pribadi Nyonya ke kamar utama. Kami sudah memastikan semuanya tertata dengan baik."
Elma tidak langsung menjawab, ia hanya mengangguk kecil sebelum pelayan tersebut berpamitan. Jadi, Maxime yang mengatur semuanya? Elma mengeluarkan ponselnya dan tanpa membuang waktu, ia membuka percakapan dengan suaminya.
Elma: Maxime, apakah kamu menyuruh para pelayan memindahkan pakaianku?
Tidak sampai satu menit, tanda pesan terbaca muncul.
Maxime: Ya.
Elma mengetik kembali.
Elma: Kenapa?
Maxime: Karena aku memintanya.
Elma memutar bola mata. Jawaban yang sangat khas Maxime Sinclair. Singkat, lugas, dan seolah tidak menyadari bahwa istrinya sedang membutuhkan penjelasan.
Elma: Aku tahu itu. Maksudku, kenapa semua pakaianku dipindahkan ke kamar utama?
Kali ini, Maxime membalas sedikit lebih lama.
Maxime: Karena sudah seharusnya begitu.
Elma membaca pesan tersebut sambil mengernyit.
Elma: Maksudmu?
Maxime: Kita suami istri, Elma.
Elma terdiam. Beberapa detik kemudian, pesan berikutnya masuk.
Maxime: Sudah cukup lama kita tidur di kamar yang berbeda.
Elma menggigit bagian dalam bibirnya, menahan senyum yang mulai muncul, ia sebenarnya tahu ke mana arah pembicaraan suaminya. Namun, tetap saja ada sesuatu yang membuat jantungnya berdebar ketika Maxime membicarakan hal itu dengan begitu santai.
Elma: Kamu bahkan tidak membicarakannya denganku terlebih dahulu.
Maxime: Kalau aku membicarakannya, apa jawabanmu? Apa kamu akan setuju?
Elma menatap layar, ia mulai mengetik, menghapusnya, kemudian mengetik kembali.
Elma: Entahlah.
Balasan Maxime datang hampir seketika.
Maxime: Itu bukan jawaban Elma.
Elma tersenyum kecil.
Elma: Kalau begitu, anggap saja aku belum memberikan jawaban.
Beberapa saat tidak ada balasan, Elma mengira percakapan mereka telah selesai. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu mulai membuka beberapa aksesori yang masih berada di dalam tasnya. Namun, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan baru muncul dari Maxime.
Maxime: Tidak masalah. Kita bisa membicarakannya nanti.
Elma membaca pesan itu dengan saksama.
Kemudian, satu pesan berikutnya muncul.
Maxime: Aku akan pulang sedikit lebih malam. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan.
Elma mengetik singkat.
Elma: Baik. Jangan lupa makan malam.
Maxime: Kamu juga.
Elma tersenyum. Namun, sebelum ia sempat meletakkan ponselnya, satu pesan terakhir masuk.
Maxime: Dan satu hal lagi.
Elma: Apa?
Kali ini, balasan Maxime membuat Elma terdiam cukup lama.
Maxime: Tunggu aku di kamar kita.
Elma membaca kalimat itu sekali lagi. Kamar kita. Entah mengapa, dua kata sederhana tersebut terasa begitu berbeda dibandingkan sebelumnya.
Bukan kamar Maxime, bukan pula kamar Elma, melainkan kamar mereka. Elma menatap layar ponselnya dengan pipi yang mulai menghangat. Ia kemudian meletakkan ponsel di atas meja dan memandang pintu kamar utama yang kini menjadi tempat seluruh barang pribadinya tersimpan.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar Maxime menyebut sesuatu sebagai milik mereka berdua.
Dan malam ini, pria itu melakukannya tanpa ragu.
Elma menarik napas perlahan, lalu tersenyum.
Sepertinya, Maxime Sinclair benar-benar sedang berusaha memperbaiki banyak hal di antara mereka. Elma berharap kali ini, mereka bisa berjalan ke arah yang sama.
Sementara itu di tempat lain, Maxime masih duduk di ruang kerjanya. Ponsel di atas meja memperlihatkan percakapan terakhir mereka.
Sudut bibirnya terangkat tipis ketika mengingat ekspresi Elma yang mungkin sedang membaca pesannya. Ia tahu istrinya mungkin akan sedikit malu, bahkan mungkin akan berpura-pura tidak memahami maksudnya. Namun, satu hal yang pasti, Maxime tidak ingin lagi membiarkan jarak menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga mereka. Ia sudah terlalu lama kehilangan kesempatan untuk menjadi seseorang yang bisa Elma andalkan dan sekarang, ia ingin kembali menjadi suami yang selalu menemukan jalan pulang kepada istrinya.
☆