NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Resonansi di Balik Kokpit

Tetes air mata yang hangat lolos menyusuri pipi Mahika, membasahi ujung pasmina navy yang ia kenakan. Benteng pertahanan yang selama ini ia bangun dengan begitu kukuh yang dilapisi oleh kelelahan mental, trauma keluarga toksik, serta keputusasaan dari masa lalunya runtuh sepenuhnya hanya dalam hitungan detik. Kata-kata Mahija bukan sekadar kalimat manis pemikat hati, melainkan sebuah pengakuan jujur yang menghujam tepat di sudut hatinya yang paling sepi.

Mahika menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jarinya meremas ujung dress panjangnya dengan begitu erat, berusaha menyembunyikan getaran hebat di bahunya. Rasa haru, hangat, dan sensasi jatuh cinta yang salting luar biasa meleleh dalam dadanya. Selama bertahun-tahun ia terbiasa dianggap sebagai beban atau sekadar sarana utang budi, namun hari ini, di hadapan seorang perwira tegap berseragam PDU lengkap, ia diakui sebagai tempat pulang.

Mahija yang melihat wanita di depannya menunduk sambil terisak pelan tidak mampu menyembunyikan binar kelembutan di matanya. Pria itu menatap Mahika dengan penuh kasih. Tanpa ragu dan tanpa kesan menggurui, Mahija mengangkat tangan kanannya perlahan.

Dengan sangat lembut, jemari tegap sang perwira mengelus puncak kepala Mahika yang terbalut hijab navy. Gerakannya begitu telaten, penuh kehati-hatian seolah-olah ia sedang menyentuh barang kaca yang paling berharga di dunia.

"Jangan menangis..." bisik Mahija dengan suara bariton yang teramat halus. Sebuah tersenyum tulus terukir di bibirnya. "Saya kasih pin ini bukan buat bikin kamu sedih, tapi buat bukti kalau kamu gak pernah sendirian lagi. Kamu berharga, Mahika. Sangat."

Usapan lembut di kepalanya membuat dada Mahika semakin bergemuruh hebat. Rasanya seperti seluruh rasa lelah yang menumpuk dari masa lalunya menguap begitu saja. Wajahnya yang sudah memerah merona kini makin membakar. Ia terpejam sejenak, menikmati usapan hangat yang terasa sangat melindungi itu. Namun, di tengah suasana romantis yang begitu magis, haru, dan sarat akan emosi mendalam di dalam hangar pesawat yang dingin itu...

"Ehem! Permisi, Komandan..."

Sebuah suara samar, sedikit serak khas bangun tidur, tiba-tiba terdengar dari arah atas. Suara itu berasal dari dalam kokpit pesawat tempur jet latih yang terparkir persis di samping mereka!

Klak.

Kaca canopy kokpit pesawat jet tempur itu perlahan terangkat sedikit. Dari dalam ruang kendali burung besi tersebut, muncul sebuah kepala yang masih mengenakan flight suit (seragam pilot) lengkap dengan helm penerbang yang baru saja dilepas setengah. Wajahnya tampak masih agak kusut, khas seseorang yang baru saja terbangun dari tidur nyenyak.

Itu adalah Fian adik kandung Mahija yang juga seorang penerbang jet tempur TNI AU. Sosok pria muda yang terkenal sangat humoris, santai, dan selalu punya cara bertingkah fleksibel di mana pun ia berada. Mahika langsung tersentak kaget. Usapan tangan Mahija di kepalanya terhenti seketika. Mahika mendongak kaget dengan mata membelalak lebar, air matanya mendadak tertahan di pelupuk mata akibat rasa terkejut yang luar biasa.

Mahija sendiri ikut melotot kaget. Alis tebal sang perwira langsung menukik tajam, menatap ke arah kokpit pesawat di atasnya dengan raut wajah yang bertransisi cepat dari penuh rasa sayang menjadi penuh keheranan.

"Fian?!" seru Mahija dengan suara tertahan namun penuh penekanan. "Kamu... ngapain kamu di dalam sana?!"

Fian mengucek matanya pelan, menggeliat kecil di dalam ruang kokpit yang sempit itu, lalu menopang dagunya di tepi dinding kokpit sambil menatap ke arah Mahija dan Mahika di bawahnya dengan cengiran tanpa dosa.

"Ya ketiduran lah, Bang," sahut Fian santai dengan nada bicara yang kocak. "Habis atraksi air show tadi kan capek banget. Pas markir pesawat masuk hangar, adem banget di dalam sini. Yaudah, selonjoran sebentar... eh, kebablasan tidur nyenyak."

"Kamu tidur di kokpit dari tadi?!" Mahija menepuk jidatnya sendiri. "Terus... kamu denger semuanya?"

Fian mengangguk-angguk mantap tanpa rasa bersalah sedikit pun. Matanya mengedip goda ke arah kakak kandungnya. "Denger dong! Dari bagian 'suara kamu itu ketenangan buat saya', bagian 'warna navy kesukaan saya', sampai drama nangis-nangis terharu barusan. Semuanya masuk ke telinga saya dengan kejelasan skala seratus persen, Komandan!" celekit Fian dengan gaya bicaranya yang jenaka.

"Fian!" tegur Mahija, wajahnya yang biasanya kaku kini ikut merona tipis karena malu luar biasa di depan adiknya sendiri.

Fian malah tertawa terkekeh-kekeh. Ia lalu menyandarkan kedua tangannya di pinggir kokpit, menatap ke arah Mahika yang saat ini sudah menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena salting dan malu yang tingkat dewa.

Fian lalu menyeletuk dengan gaya humorisnya yang khas, "Jadi... gimana nih, Mba Mahika? Berarti dalam waktu dekat kita udah bisa bikin panitia syukuran makan rendang, kan? Kan hilalnya udah kelihatan terang benderang banget ini di dalam hangar!"

Brak!

Celetukan polos nan kocak dari adiknya itu makin menghancurkan suasana romantis dan mengubahnya menjadi momen salting brutal bagi Mahika. Wajah Mahika kini benar-benar merah padam sampai ke leher. Sungguh, rasanya Mahika ingin meminjam tombol eject pesawat tempur itu sekarang juga agar bisa dilontarkan keluar pangkalan dan menghilang ke dasar laut! Bagaimana bisa momen paling emosional dalam hidupnya ditonton secara langsung oleh adik Mahija dari atas kokpit pesawat?!

Mahija melirik ke arah Mahika yang semakin menyembunyikan wajahnya sambil menunduk kaku, bahunya gemetar bukan lagi karena menangis haru, melainkan karena menahan malu dan salah tingkah yang tak tertolong. Melihat reaksi Mahika yang begitu menggemaskan, Mahija tidak bisa menahan senyum gemasnya, meski matanya kemudian mendelik tajam ke arah Fian di atas.

"Fian, cepat keluar dari kokpit sebelum saya suruh kamu lari keliling runway lima puluh putaran pakai seragam pilot lengkap!" ancam Mahija dengan nada tegas bercampur canda.

"Siap, Komandan! Ambil langkah seribu, balik kanan bubar jalan!" sahut Fian cepat sambil tertawa lepas.

Pria muda itu dengan lincah memanjat keluar dari kokpit pesawat tempur, melompat turun ke tangga hangar dengan gerakan cekatan khas perwira muda yang energik. Saat melewati posisi Jaka dan Hansen yang berdiri lima meter di belakang yang sejak tadi juga sudah menahan tawa sampai perut mereka sakit

Fian sempat menyikut lengan Jaka sambil berbisik gembira, "Aman, Jak! Rendang aman, komandan kita sukses besar hari ini!"

Jaka dan Hansen hanya bisa mengangguk-angguk sambil menepuk dada dengan raut wajah bangga sekaligus geli melihat tingkah adik-kakak di kesatuan mereka itu.

Fian kemudian berjalan santai melintasi Mahija dan Mahika, tak lupa memberi hormat konyol pada kakaknya sebelum melempar senyum ramah pada Mahika. "Kak Mahika, salam kenal ya! Saya Fian, adiknya Bang Mahija yang paling ganteng setelah Bang Mahija. Jangan kapok main ke sini ya, Kak!"

Setelah Fian akhirnya menghilang di balik pintu keluar hangar sambil bersiul riang, suasana di dalam bangunan raksasa itu perlahan kembali tenang. Namun, sisa kehangatan dan rasa salah tingkah masih menggantung tebal di udara. Mahija menghela napas panjang, merapikan letak jas PDU-nya, lalu kembali memfokuskan perhatian sepenuhnya pada Mahika. Pria itu melangkah setengah tapak lebih dekat, menundukkan sedikit kepalanya untuk melihat wajah Mahika yang masih enggan mendongak.

"Mahika..." panggil Mahija pelan, nada suaranya kembali menjadi begitu hangat dan penuh kelembutan.

Mahika pelan-pelan menurunkan telapak tangan yang menutupi wajahnya. Manik matanya yang masih basah oleh sisa air mata berkilat menatap Mahija. "Mahija... adik kamu itu bener-bener ya. Saya malu setengah mati..."

Mahija terkekeh pelan. Suara tawa yang begitu renyah dan menenangkan. Tanpa ragu, ia kembali mengulurkan tangannya, mengelus lembut puncak kepala Mahika sekali lagi untuk menenangkan kepanikan gadis itu.

"Maafkan Fian ya. Dia memang begitu anaknya, suka ceplos-ceplos. Tapi apa yang dia bilang tadi... soal makan rendang..." Mahija menggantung kalimatnya, menatap lurus ke dalam mata Mahika dengan kedalaman rasa yang tidak berkurang sedikit pun.

"...saya harap itu benar-benar bisa jadi kenyataan di masa depan kita."

Mahika menggigit bibir bawahnya pelan. Jantungnya berdetak begitu kencang, menciptakan resonansi kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa takut akan masa depan, bayang-bayang trauma masa lalu, dan rasa ragu perlahan terkikis habis, digantikan oleh kepastian hangat yang dipancarkan oleh pria di hadapannya.

Mahika perlahan melepaskan pegangan erat pada bajunya, lalu dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menerima kotak beludru biru berisi pin wing miniatur bernama dirinya dari tangan Mahija.

"Terima kasih..." bisik Mahika lirih namun tulus, menyunggingkan sebuah senyuman tipis paling manis yang pernah Mahija lihat seumur hidupnya.

Mahija tersenyum lebar, tatapannya penuh kemenangan dan kehangatan. Di dalam hangar pesawat yang megah itu, di bawah naungan saksi bisu besi-besi terbang penjaga langit, dua hati yang tadinya saling asing dan penuh benteng pertahanan kini telah resmi menemukan resonansinya yang sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!