mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5.BOS ASU
Jam dinding di area kubikel kantor sudah menunjukkan pukul 12.10 WIB. Bel tanda istirahat telah berbunyi 10 menit yang lalu. Silla langsung bangkit dari kursi kerjanya dengan gerakan menyentak, merapikan letak ponsel dan dompetnya dengan asal, lalu setengah berlari keluar dari ruangan.
Langkah kakinya yang terburu-buru berbunyi nyaring di sepanjang koridor menuju kantin. Wajahnya ditekuk, matanya menatap tajam ke depan, Langkah kakinya menghentak keras di atas lantai marmer koridor kantor, setengah berlari menuju kantin. Perutnya sudah keroncongan, tetapi yang lebih membakar dadanya saat ini adalah kekesalan yang sudah di ubun-ubun.Sembari berjalan cepat, bibirnya tak berhenti berkomat-kamit, misuh-misuh tanpa peduli tatapan rekan kerja yang berpapasan dengannya menatap nya aneh.
"Bisa gila lama-lama! Kerja kejar tayang kayak lagi ikut proyek roro jonggrang," umpat Silla dengan suara setengah berbisik, menahan jengkel agar tidak terdengar karyawan lain yang kebetulan lewat.
Ia mempercepat langkahnya, hampir menyenggol vas bunga di dekat pintu lift. "Kemarin revisi laporan keuangan belum kelar, sudah ditimpa lagi sama berkas audit dari divisi sebelah ditambah lagi suruh rangkum sama analisis rasio dama koreksi data . Dikira tangan gue ada sepuluh apa?! Baru mau napas bentar, si guguk udah nanya progress di grup WhatsApp. Gak tahu orang lapar apa ya?!"
" Sengaja banget itu si bos gila! Mentang-mentang berkuasa, semua laporan dilempar ke meja gue," gerutu Silla emosi ,wajahnya ditekuk kesal.
"Deadline jam satu siang? Waras gak sih?! Bilang aja sengaja mau balas dendam gara-gara dulu gue yang mutusin! Dasar CEO rese, mantan gak tahu diri!" Silla menghentakkan kakinya lebih keras saat belok ke arah lift.
Ingatannya kembali pada tumpukan map tebal di mejanya yang meluber seperti gunungan sampah di meja kerja nya. Mantan kekasihnya yang menjabat sebagai CEO di kantor itu benar-benar memanfaatkan jabatan untuk menyiksanya secara profesional. Setiap revisi kecil selalu dibesar-besarkan oleh nya, dan tugas-tugas absurd selalu jatuh ke tangannya.
"Awas aja ya. Kalau bukan karena cicilan paylater, sama butuh makan, udah gue lempar itu keyboard ke mukanya yang sok ganteng itu! Liat aja, gue habisin bakso super pedas siang ini, biar sekalian panas ini hati sama perut!"
Silla terus mengomeli nasibnya sepanjang jalan, mempercepat langkahnya menuju pintu kantin seolah-olah makanan di sana adalah satu-satunya obat penawar dari kediktatoran sang mantan rese.
Silla melirik jam di pergelangan tangannya sembari terus berjalan cepat. "Waktu istirahat cuma sejam, pasti sekarang antrean kantin pasti udah kayak ular naga. Sialan, kalau tahu begini mending tadi pagi gue bawa bekal sendiri!" gerutunya lagi
Silla terus mengomeli nasibnya sepanjang jalan, mempercepat langkahnya menuju pintu kantin seolah-olah makanan di sana adalah satu-satunya obat penawar dari kediktatoran sang mantan.
∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆∆
Suasana kantin kantor yang tadinya terasa begitu tenang mendadak terasa mencekam bagi Sila. Baru saja ia menyuap sendok pertama nasi gorengnya, bayangan tinggi besar tiba-tiba menghalangi cahaya lampu di atas mejanya.
Sila mendongak, dan sedetik kemudian, selera makannya langsung hilang begitu saja. Di hadapannya berdiri Sagara, CEO di kantornya yang sekaligus merupakan mantan pacarnya yang paling rese dan jail itu lagi.
"Kosong kan? Bagus, gue duduk sini," ucap sagara tanpa permisi, langsung menghempaskan tubuhnya di kursi tepat di depan Sila
"Di ruangan depan semua orang manggilnya saya ,sekarang gue ?dasar Labil"sinis silla
Pria itu menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap Sila dengan senyum jahil yang amat familiar—dan amat Sila benci.
Sila menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang memegang sendok sudah mengepal menahan emosi yang siap meledak saat ini juga.
"Ini kantin luas, pak CEO yang terhormat. Kursi kosong ada ratusan. Kenapa harus di sini?kenapa harus tepat di depan mata saya " ketus Sila, matanya menatap tajam ke arah sagara.
"Sengaja," jawab sagara enteng, matanya mengerling menggoda. "Soalnya di sini pemandangannya paling indah. Bisa ngelihat muka lo yang kalau lagi ngambek mirip ikan buntal. Gemesin bawaannya pengen gue kekep."
Braak!
Sila sengaja meletakkan sendoknya dengan agak keras ke atas piring. Napasnya mulai memburu, wajahnya memerah karena kesal emosi nya begitu memuncak mendengar lontaran kata dari mulut ceo rese itu "sagara, jaga omongan ya! Ini di kantor. Jangan panggil 'kamu-kamu' seakan kita masih ada hubungan!"
Sagara justru terkekeh geli. Bukannya takut melihat Sila yang emosian, ia malah semakin tertantang untuk menjaili mantan kekasihnya itu.
"Pas kerja lo ga marah tuh gue panggil kamu"
"Itu beda,itu pas kerja!sekarang gue lagi istirahat jangan ganggu gue.Paham?!"
Sagara memajukan tubuhnya, berbisik pelan, "Hubungan kerja kan masih ada, Sayang... eh, maksud saya, Sil. Lagian galak banget sih, pantesan sampai sekarang masih jomblo. Kewalahan ya nyari cowok yang se-sabar se-kaya dan se-ganteng gue?"
"Gue. Gak. Jomblo!" bohong Sila, giginya gematuk menahan geram. Tangan Sila sudah mengepal kuat di bawah meja, rasanya ingin sekali menyiramkan jus stobery di samping piringnya tepat ke wajah tampan bin menyebalkan milik sagara
"Oh ya?" Sagara tersenyum miring, sama sekali tidak percaya. Ia lalu mengulurkan tangannya, dengan santai mencuri satu tusuk sate ayam dari piring Sila dekat nasi goreng dan memakannya tanpa dosa. "Masa sih? Kok tiap malam minggu gue cek lokasi lo di aplikasi ojek online, lo cuma bolak-balik kamar mandi sama kasur doang?"
"SAGARA!!! ITU PRIVASI!!!" pekik Sila akhirnya, membuat beberapa karyawan di meja sebelah sempat menengok kaget. Sila buru-buru menurunkan volume suaranya, namun matanya melotot tajam bagaikan ingin menusuk Arka hidup-hidup. "Pergi gak lo dari sini? Sebelum piring ini melayang ke muka lo!"
Bukannya pergi sagara malah semakin tertarik meledek mantan nya itu,Ia menatap piring nasi goreng milik silla"masih suka makan nasi goreng begini ternyata.Selera kamu ga berubah ya,tetep ekonomis.."
Silla memejamkan mata nya menahan emosi"nasi goreng ini enak,pak sagara yang terhormat..ga buat sakit kepala."Sagara terkekeh dan menyandarkan punggung nya ke kursi.
"Owh benarkah?padahal dulu yang sering buat sakit kepala itu drama kamu sendiri"
"Terserah lo."balas silla malas
Sagara tertawa renyah, suara tawa baritonnya terdengar sangat menyebalkan di telinga Sila. Pria itu bangkit dari kursinya sambil merapikan jas mahalnya, lalu mengacak rambut Sila sekilas dengan gemas sebelum Sila sempat menepisnya.
"Gue pergi deh,cintaku Jangan lupa dihabisin ya makannya. Nanti jam satu siang ke ruangan gue ya, bawa laporan yang kemarin. Jangan telat, atau gue hukum cium pipi sampe bengkak," bisik sagara sambil mengedipkan sebelah matanya penuh godaan, lalu melenggang pergi dengan senyum kemenangan.
Sila mencengkram garpunya kuat-kuat, menatap punggung sagara yang menjauh dengan dada yang kembang kempis karena emosi yang meluap. "Dasar mantan sinting! Rese! Nggak tahu diri!" umpat Sila tertahan, merutuki nasibnya yang harus terjebak di kantor yang sama dengan monster jail itu.