Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Dimas sedang berbaring di atas kasur sambil memikirkan bekas luka yang ada di tangan Nadia. Pria itu berpikir keras, mungkin karena bekas luka itu sangat tidak asing baginya.
"Kayaknya gue pernah liat bekas luka itu deh?, tapi di mana ya?, ya Allah kok gue sekarang pikun banget. Masa gue enggak bisa inget sih? Itu bekas luka enggak asing banget loh?," gumam Dimas.
Drtt.... Drtt....
Ponsel Dimas tiba tiba bergetar pertanda ada panggilan masuk. Pria itu segera meraih ponsel yang terletak di samping kasur dan senyuman pun terukir di bibir Dimas, saat melihat yang meneleponnya adalah Jessica.
"Hai sayang, ada apa? Kamu rindu sama aku ya?," tanya Dimas bersemangat menunggu jawaban dari kekasihnya.
[" Ada apa? Emangnya aku harus ada alasan untuk menelepon pacar sendiri hah? Jangan bikin aku marah ya, aku enggak rindu sama kamu!,"] ucap Jessica.
"Bukan gitu maksud ku, tapi tumben sekali kamu meneleponku pagi pagi banget, makanya aku kira kamu rindu sama aku," ucap Dimas.
["Alah alasan, bilang aja Lo udah risih sama gue. Inget ya, Lo udah janji beliin gue mobil mewah,"] ucap Jessica.
Dimas sedikit kesal saat mendengar kekasihnya berbicara lo-gue saat mereka teleponan.
"Iya nanti kita beli," ucap Dimas.
["Aku maunya SEKARANG,"] ucap Jessica.
"Tapi aku lagi enggak enak badan akibat alkohol yang kamu berikan kepadaku semalam," ucap Dimas.
["Jadi Lo nyalahin gue? Lo aja yang terlalu lemah, baru aja minum alkohol tapi udah sakit. Dasar banci! Lemah banget jadi cowok!,"] ucap Jessica.
Jessica langsung mengakhiri telepon secara sepihak. Dimas hanya pasrah, lalu ia menelepon toko penjual mobil, untuk mengirimkan mobil ke alamat rumah yang sudah ia kirim. Dan pria itu langsung mengambil jaketnya untuk menghampiri kekasihnya itu.
"Mau kemana?," ucap Nadia karena melihat suaminya sidah memakai jaket.
"Mau pergi," ucap dimas singkat.
"Tapi, kamu lagi enggak enak badan. Lebih baik kamu istirahat aja di rumah," ucap Nadia yang menghawatirkan suaminya.
Namun dimas hanya diam dan langsung keluar dari kamar.
"Aku mau izin ke supermarket kak, apa kakak mengizinkannya?," ucap Nadia.
"Oke, gunakan saja kartu yang gue kasih. Inget langsung pulang jangan keluyuran," ucap Dimas.
Setelah itu dimas masuk ke dalam mobil dan menghidupkannya. Setelah mobil pria itu sudah menjauh dari rumah, Nadia langsung menghela nafas.
"Pasti kak Dimas mau ke rumah wanita yang ia cintai," gumam Nadia dengan ekspresi sendu.
*******
"Dasar cowok lemah, gitu aja langsung sakit. Baru aja alkohol bagaimana kalau racun yang gue kasih," gumam Jessica kesal sambil melempar ponselnya di atas kasur.
Wanita itu mengambil amplop coklat, sambil tersenyum kemenangan, saat melihat amplop coklat yang ada di tangannya itu.
"Dasar bodoh,gue sebenarnya tau rasanya saat meminum alkohol itu. Makanya gue kasih ke Lo, biar Lo mabuk supaya gue bisa dapetin tanda tangan cowok bodoh kayak Lo. Sebentar lagi gue akan menjadi orang kaya," gumam Jessica.
Dimas menyetir dengan hari hati dan sampai di rumah kekasihnya. Ia pun langsung keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah Jessica. Seketika amplop yang ada di tangan Jessica Langsung di sembunyikan ke laci meja. Setelah itu ia pun menghampiri Dimas yang sedang duduk di sofa rumahnya.
"Mana mobilnya?," ucap Jessica.
"Sabar sayang, sebentar lagi sampai," ucap Dimas dengan senyum manis.
"Bagus, kita jalan jalan yuk. Katanya mau kumpul bareng teman teman kamu kan?," ucap Jessica.
"Ah, aku sampai lupa. Ya sudah kita langsung ke cafe saja," ucap Dimas.
Mereka berdua pun langsung menyusul teman temanya yang sudah lama menunggu di cafe tempat mereka sering berkumpul. Saat sampai di cafe mereka langsung menghampiri, Darren, Raka, Ardana, dan Razan ya g tengah tertawa.
"Maaf telat," ucap Dimas.
"Santai bro, udah biasa. Serasi bener baju kalian, mentang mentang pacaran jadi couple kalau mau kemana mana," ucap Razan.
Raka dan Ardana hanya tertawa kecil saat mendengar ucapan dari Razan. Sedangkan Darren hanya diam dan fokus ke ponsel miliknya.
"Gimana kabar cewek yang Lo suka dari SMA? Udah ketemu belum? Jangan bilang belum," ucap Ardana.
"Tau aja Lo, susah ketemu sama dia. Soalnya setelah dia nolak cinta gue, dia ngilang begitu aja," ucap Razan.
"Memangnya dia gadis seperti apa? Sampai bisa meluluhkan hati Mr. Razan Setiawan yang tampan ini? Hahaha," ucap Raka.
"Dia itu cewek yang lucu, terus ramah banget. Senyumannya menenangkan hati gue, dia juga suka melukis. Setiap melukis dia akan terlihat semakin cantik, intinya cewek yang gue suka berbeda dari cewek di luaran sana," ucap Razan sambil membayangkan wajah gadis yang ia cintai.
"Wah, beruntung banget kalau Lo bisa dapetin dia. Semoga aja Lo bisa ketemu sama cewek yang Lo suka," ucap Dimas.
"Hadeh mimpi Bae lo zan, mana ada di dunia ini cewek yang ramah, rata rata cewek bar bar semua, paling sekarang mukanya udah burik," ucap Jessica.
"Sutt, diem jangan sirik," ucap Ardana.
"Udah, boleh makan enggak nih?," ucap Raka.
Darren hanya diam dan mengotak Atik ponselnya. Melihat Raka yang sudah kelaparan mereka pun memilih untuk makan makanan yang sudah tersedia di hadapan mereka. Setelah selesai mereka memilih untuk berkeliling, karena sudah cukup lama mereka tidak berkumpul.
"Sayang kita ke taman hiburan yuk," ucap Jessica.
"Iya nanti, kita ke pantai dulu ya," ucap Dimas.
"Iya ke pantai dulu lah, kita mau cuci mata ini mah," ucap Raka dan Ardana secara bersamaan.
"Cewek mulu, dapet aja enggak. Dasar laki laki mata keranjang," ucap ketus Darren.
"Hahaha kebiasaan kalian enggak pernah berubah ya," ucap Razan.
"Kak kok baru ngomong sih, coba aja dari tadi pasti seru," ucap Jessica.
"Dih, enggak ada waktu bicara sama Lo, terus jangan panggil gue kakak, jijik," ucap ketus Darren.
"Kakak kan lebih tua dari aku, jadi biar lebih sopan, aku panggil kamu dengan sebutan kakak," ucap Jessica dengan lembut.
Darren hanya diam dan melihat ke arah luar jendela mobil. Ia pun tak sengaja melihat Nadia, yang sedang membawa barang belanjaan dengan susah payah. Ia merasa iba kepada gadis itu, yang harus membawa semua barang belanjaan yang begitu banyak seorang diri.
"Stop! Gue turun di sini aja," ucap Darren.
Sopir pun menghentikan mobilnya di tepi jalan raya. Saat Darren akan membuka pintu mobil, Ardana langsung menahan tangannya.
"Kita kan mau jalan jalan, kok Lo berhenti di sini sih?," ucap Ardana.
"Lepas, urusan gue lebih penting. Kalian aja yang pergi," ucap Darren sambil menepis tangan Ardana setelah itu ia pun keluar dari dalam mobil.
"Kagak asik!," ketus Ardana.
"Sudahlah, mungkin Darren memang ada urusan mendesak," ucap Raka.
Razan menatap ke arah belakang dan tanpa sengaja, melihat seorang gadis yang mirip dengan dengan gadis yang ia cintai sedang ada di seberang jalan, saat Razan akan keluar dari mobil, mobil pun berjalan.
'ah, mungkin hanya mirip. Aish, razan. Mata Lo ini udah rada rada kayaknya. Cewek lain Lo anggap cewek yang Lo suka. Dasar, Lo udah terlalu bucin Razan hehehe,' batin Razan.