Isabella Laurent adalah definisi sempurna dari kecantikan yang mampu mencuri perhatian siapa pun. Wanita berdarah Spanyol itu memiliki tinggi 169 sentimeter, wajah menawan, tatapan mata yang memikat, serta pesona elegan yang membuat banyak pria berusaha mendapatkan hatinya. Namun, di balik kecantikannya, Isabella bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada keinginan orang lain. Ia memiliki harga diri, keberanian, dan prinsip yang tidak akan pernah ia korbankan demi seorang pria.
Sayangnya, takdir mempertemukannya dengan seseorang yang seharusnya tidak pernah memasuki kehidupannya.
Dominic Lorenzo Imanuel.
Seorang pria yang namanya cukup untuk membuat para pengusaha besar kehilangan keberanian. Ia bukan sekadar pria kaya raya dengan kekuasaan tanpa batas, melainkan seorang mafia berbahaya yang mengendalikan dunia gelap dengan tangan dingin. Kejam kepada musuh, tidak mengenal belas kasihan, dan selalu mendapatkan apa y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Nama Laurent
Isabella menatap Dominic tanpa berkedip. Pertanyaannya masih menggantung di udara, sementara pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya dengan rahang mengeras.
“Who told you about her?” ulang Dominic. Suaranya terdengar lebih rendah dari sebelumnya.
Isabella mengangkat ponselnya, memperlihatkan foto yang baru saja ia terima.
“Ini. Seseorang mengirimkannya kepadaku. Ada foto ibuku bersama seorang pria yang sama dengan pria di dokumen perjanjian keluarga kami.”
Dominic mengambil ponsel itu. Matanya menyipit ketika melihat foto tersebut. Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa pun.
“Do you know him?” desak Isabella.
Dominic mengembalikan ponsel itu.
“I know enough to tell you that you shouldn't be asking questions about him.”
Isabella tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan di wajahnya.
“Seriously? Kau pikir setelah seseorang mengirimiku foto ibuku dengan pesan ancaman, aku akan duduk diam dan pura-pura tidak terjadi apa-apa?”
“That's exactly what I want you to do.”
“Too bad. I'm not your obedient little girl, Dominic.”
Dominic menatapnya tajam. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Isabella sadar bahwa pria itu sedang menahan amarah.
“Listen to me carefully, Isabella. There are things you don't understand. Dan semakin jauh kau menggali, semakin besar kemungkinan seseorang akan menyakitimu.”
“Someone already threatened me. Jadi jangan bicara seolah-olah diam akan membuatku aman.”
Dominic terdiam.
Ia kemudian berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman mansion. Kedua tangannya masuk ke saku celana, sementara pikirannya seolah melayang jauh ke masa lalu.
“Your mother was a remarkable woman,” ucapnya akhirnya.
Isabella membeku.
“Kau mengenalnya?”
Dominic tidak langsung menjawab.
“I met her once. A long time ago.”
“Ketika?”
“Twenty years ago.”
Isabella menelan ludah. Tahun itu sama dengan tahun yang disebutkan dalam dokumen perjanjian keluarga Laurent.
“Kenapa kau tidak pernah menceritakannya?”
“Because it wasn't my story to tell.”
“Lalu cerita siapa? Cerita ayahku?”
Dominic menoleh. Tatapannya kembali dingin.
“Your father should have told you everything.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan bagi Isabella.
Ia mundur selangkah, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Selama ini ia mengenal ibunya sebagai perempuan lembut yang meninggal ketika dirinya masih kecil. Ayahnya selalu mengatakan bahwa ibunya meninggal karena sakit. Tidak pernah ada cerita tentang pria asing, perjanjian keluarga, atau rahasia yang berhubungan dengan darah.
“Tell me one thing,” kata Isabella pelan. “Was my mother involved in your family's business?”
Dominic menatapnya lama.
“She was involved in something much bigger than business.”
Sebelum Isabella sempat bertanya lebih jauh, pintu kamar diketuk keras.
Tok. Tok. Tok.
Seorang pria berpakaian hitam masuk setelah mendapat izin dari Dominic.
“Boss, we have a problem.”
Dominic langsung berubah. Wajahnya mengeras, dan aura dinginnya kembali memenuhi ruangan.
“What happened?”
“There's been an intrusion near the east gate. Our men found a device attached to one of the security cameras.”
“Where is it?”
“Already secured, sir. But there's something else.”
Pria itu melirik Isabella sekilas sebelum kembali menatap Dominic.
“We found a message.”
Dominic mengulurkan tangan.
“Show me.”
Anak buahnya memberikan sebuah tablet. Dominic membaca pesan yang terpampang di layar. Ekspresinya nyaris tidak berubah, tetapi Isabella melihat jemarinya mencengkeram tablet lebih kuat.
“What does it say?” tanya Isabella.
“Nothing you need to know.”
“Stop saying that!”
Dominic mengunci layar tablet.
“Leave us.”
Pria itu segera keluar.
Isabella berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di dada.
“I'm tired of being treated like a child. Aku berhak tahu apa yang sedang terjadi.”
Dominic mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter.
“Fine. Someone managed to get close to this mansion. And they left a message for me.”
“What message?”
Dominic menatapnya dalam-dalam.
“THE KING CANNOT PROTECT WHAT DOES NOT BELONG TO HIM.”
Isabella mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
“It means someone is trying to provoke me.”
“Atau mereka sedang membicarakanku?”
Dominic tidak menjawab. Dan diamnya justru menjadi jawaban paling menakutkan.
Satu jam kemudian, Isabella turun ke ruang makan. Ia belum bisa tidur setelah semua kejadian malam itu. Pikirannya dipenuhi wajah ibunya dan foto misterius yang kini tersimpan di ponselnya.
Di ruang makan, Dominic sedang berbicara dengan seorang pria berambut abu-abu yang tampak berusia sekitar lima puluh tahun. Ketika Isabella muncul, percakapan mereka langsung terhenti.
“Good evening,” sapa Isabella.
Pria itu berdiri sopan.
“Miss Laurent.”
Isabella duduk tanpa menunggu dipersilakan.
“Siapa dia?” tanyanya sambil menunjuk pria tersebut.
Dominic meletakkan cangkir kopinya.
“Alessandro. He's my right-hand man.”
Alessandro mengangguk.
“It's a pleasure to meet you, Miss.”
“Isabella saja.”
“Of course.”
Dominic memberi isyarat kepada Alessandro untuk pergi. Namun sebelum pria itu melangkah keluar, ia sempat berkata pelan kepada Dominic.
“Boss, we should discuss the old agreement.”
Isabella langsung menoleh.
“Old agreement?”
Alessandro terdiam. Dominic menatapnya dengan sorot mata yang cukup untuk membuat pria itu segera meninggalkan ruangan.
Isabella menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Interesting. Jadi memang ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku.”
Dominic menghela napas.
“Eat your dinner, Isabella.”
“Aku kehilangan selera makan.”
“Then drink something.”
“Dominic!”
Pria itu menatapnya, lalu akhirnya duduk di seberang Isabella.
“Ask me.”
Isabella sedikit terkejut.
“Apa?”
“You want answers, don't you? Then ask me one question. I'll answer what I can.”
Isabella menatapnya beberapa saat sebelum mengumpulkan keberanian.
“Apakah ibuku masih hidup ketika perjanjian keluarga Laurent dibuat?”
Dominic tidak segera menjawab. Tatapannya turun ke meja, kemudian kembali kepada Isabella.
“Yes.”
Jantung Isabella berdegup lebih cepat.
“Apakah dia tahu tentang perjanjian itu?”
“Yes.”
“Dan apakah dia mengenal ayahmu?”
Dominic mengangguk pelan.
“Very well.”
Isabella merasakan tenggorokannya mengering.
“Lalu kenapa ayahku tidak pernah menceritakan semua ini?”
“That is a question you should ask him.”
Isabella menggeleng.
“Aku ingin mendengarnya darimu.”
Dominic berdiri dan berjalan mendekati jendela.
“Your mother made a choice twenty years ago. A choice that changed two families forever.”
“Pilihan apa?”
Dominic menoleh. Kali ini, tidak ada senyum tipis di wajahnya. Hanya tatapan serius yang sulit dibaca.
“I'm not the person who should tell you.”
Isabella ikut berdiri.
“Kalau begitu, siapa?”
Sebelum Dominic sempat menjawab, ponsel Isabella bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama.
Ia membukanya dengan tangan gemetar.
YOU ASKED THE WRONG MAN, ISABELLA.
Pesan kedua muncul beberapa detik kemudian.
YOUR MOTHER DIDN'T DIE BECAUSE SHE WAS SICK.
Isabella merasa seluruh tubuhnya membeku.
Lalu sebuah foto baru masuk.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan yang sangat mirip ibunya sedang berdiri di depan sebuah bangunan tua. Wajahnya terlihat lebih muda, tetapi Isabella mengenalinya dengan pasti.
Itu ibunya.
Di bawah foto tersebut tertulis satu kalimat:
SHE WAS ALIVE THE LAST TIME DOMINIC SAW HER.
Isabella perlahan mengangkat wajahnya.
Dominic berdiri tidak jauh darinya. Tatapan mereka bertemu.
“Dominic...” Suara Isabella hampir tidak terdengar. “When was the last time you saw my mother?”
Dominic tidak bergerak.
“Answer me!”
Pria itu menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak Isabella mengenalnya, ia terlihat seperti seseorang yang sedang berjuang menghadapi masa lalunya sendiri.
“Twenty years ago,” jawabnya.
“Was she alive?”
Dominic menatap foto di ponsel Isabella.
“Yes.”
Isabella mundur selangkah. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Then why did everyone tell me she was dead?”
Dominic mendekat, tetapi Isabella segera mengangkat tangannya untuk menghentikannya.
“Don't come closer.”
“Isabella, listen—”
“No! Jangan sentuh aku.”
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini, sebuah pesan terakhir muncul.
ASK YOUR FATHER WHO YOUR REAL FATHER IS.
Isabella membaca kalimat itu berulang kali. Napasnya tercekat.
Perlahan, ia menatap Dominic.
“Who am I, Dominic?”
Dominic tidak menjawab.
Dan di tengah keheningan mansion itu, sebuah rahasia yang telah terkubur selama dua puluh tahun mulai menemukan jalan untuk menghancurkan segalanya.
jangan lupa mampir kakk..🤭