Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nyonya sultan bunga bunga
Keesokan harinya tepat jam dua belas siang, suasana di lobi utama Gedung alister Mahardika Holdings kembali dilanda gempa batin massal. Setelah kemarin dihebohkan dengan kostum kuning mentereng dan diplomasi jengkol, hari ini para karyawan disuguhi pemandangan yang jauh lebih spektakuler dari nyonya muda alister siapa lagi kalau bukan si cesa bar bar.
Lift khusus eksekutif terbuka dengan bunyi *ting* yang elegan. Dari dalamnya, melangkah keluar Cesa dengan gaya petantang-petenteng yang tingkat kepedeannya sudah melampaui garis khatulistiwa.
Hari ini, Cesa memakai tema *“Nyonya Besar Sultan Sedang Tur Kebun Pribadi.”* Ia mengenakan dress panjang longgar bermotif bunga-bunga mawar merah dan matahari kuning yang ukurannya sebesar-besar gaban. Di kepalanya, bertengger sebuah topi jerami pantai raksasa bermerek desainer ternama yang lebarnya hampir menutupi bahu kanan dan kirinya. Tak lupa, kacamata hitam berbingkai berlian tiruan andalannya terpasang apik, menutupi setengah wajahnya yang dilapisi riasan cetar. Di leher, pergelangan tangan, hingga jari-jarinya, berkilauan perhiasan berlian baru hasil borongan menggunakan kartu hitam Kakek kemarin siang..ia menggesek kartu hitam milik sultan itu tanpa beban sungkan atau rasa bersalah sedikitpun..
"Permisi, rakyat pekerja keras! Tolong jalannya dikosongkan sedikit, topi sultan saya jangan sampai tersenggol ya, harganya setara dengan cicilan motor kalian tiga tahun!" seru Cesa dengan suara cempreng nan barbarnya sembari melambaikan tangan yang penuh cincin berlian berkilau.
Para karyawan di divisi administrasi dan pemasaran langsung saling senggol, menahan tawa sekaligus kagum dengan kebarbaran istri baru direktur utama mereka yang tidak kenal takut ini.
Sekretaris Andi yang kebetulan sedang membawa setumpuk map di koridor depan ruangan Devan langsung mematung. Wajahnya mendadak pucat. "I-Ibu Muda Cesa? Selamat siang. Tuan Devan baru saja menyelesaikan laporan tengah hari dan sedang bersiap untuk—"
"Bagus kalau sudah siap! Minggir, Andi. Ratu Lebah Bunga-Bunga mau menjemput pangeran pandanya untuk makan siang mewah di luar!" potong Cesa tanpa rem.
Tanpa permisi, Cesa langsung menendang pintu ruangan Direktur Utama dengan ujung sepatu hak tingginya yang berwarna merah menyala.
*BRAKK!*
Devan yang sedang merapikan laci mejanya langsung tersentak kaget. Kepalanya mendongak, dan sedetik kemudian, pandangan matanya langsung disuguhi oleh visual mentereng berupa bunga-bunga besar berjalan. Wajah Devan yang tadinya tampan dan berwibawa langsung berubah suram. Urat lehernya menegang, dan demam darah tinggi instan kembali menyerang sistem sarafnya.
"CESA!!! Demi tuhan, lo ngapain lagi ke kantor pakai baju mirip sprei kasur hotel melati begitu, hah?!" bentak Devan emosian, suaranya naik beberapa oktav. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut ngilu. "Terus itu topi... lo mau rapat atau mau ronda malam di pantai, hah?! Lebar banget sampai menutup pintu ruangan gue!"
Cesa mendengus remeh. Dengan bar-bar, ia melangkah maju dan menghempaskan tas Hermes-nya ke atas meja kerja Devan, membuat beberapa pulpen menggelinding jatuh. Cesa menaikkan kacamata hitamnya ke atas topi jerami raksasanya, lalu memamerkan tangannya yang penuh perhiasan di depan muka Devan.
"Heh, Devan kampret! Jaga mulut lo ya! Ini namanya fashion *'Sultan Botanical Garden Collection'*, tahu! Dan lihat ini..." Cesa menggoyangkan jari-jarinya yang dipenuhi cincin berlian hingga berkilauan terkena lampu ruangan. "...ini adalah berlian-berlian suci yang gue beli pakai kartu Kakek kemarin. Gimana? Silau kan mata lo melihat kemewahan duniawi ini? Makanya, gue ke sini mau ajak lo makan siang di restoran bintang lima luar kantor. Kita harus pamer wibawa pasangan sultan di depan umum!"
Devan menatap deretan perhiasan itu dengan dada naik turun menahan amarah. "Lo bener-bener cewek matre gila ya! Lo borong berlian sebanyak ini cuma buat pamer?! Terus lo paksa gue ikut makan siang dengan kostum lo yang bikin malu seisi gedung ini?!"
"Oh, gak mau ikut nih?" Cesa langsung merogoh ponsel dari tas mewahnya dengan gerakan cepat, jempolnya sudah bersiap di atas layar. "Oke, gue telepon Papa Kenan sekarang. Gue bakal bilang kalau Devan nolak diajak makan siang bersama istri sahnya yang sudah dandan cantik jelita berjam-jam, malah membentak-bentak sampai topi pantai mahal gue ini hampir copot. Gimana? Mau dicoret dari daftar warisan sore ini?" ancam Cesa dengan senyum licik andalannya.
Devan memejamkan matanya rapat-rapat. Giginya bergemelatuk menahan geram. Ancaman Papa Kenan dan Kakek adalah kelemahan mutlaknya yang paling menyedihkan. Dengan helaan napas berat penuh keterpaksaan dan kepasrahan pada takdir, Devan akhirnya menyambar jas abu-abunya di sandaran kursi.
"Iya! Gue ikut! Tapi awas ya lo, jalan di belakang gue dan jangan dekat-dekat kalau di koridor! Gue gak mau dikira pawang sirkus berjalan!" ketus Devan dengan wajah memerah padam menahan malu.
Cesa malah tertawa ngakak dengan sangat kencang, lalu dengan bar-bar merangkul lengan jas Devan dengan erat, membuat topi jerami besarnya menyenggol dahi Devan hingga bergeser. "Hahaha! Gak bisa dong, suamiku sayang! Kita harus jalan berdampingan biar aura kekayaan kita berdua makin menembus batas langit!"
Devan hanya bisa pasrah diseret keluar ruangan oleh sang istri sultan yang barbarnya tidak ketulungan, mengabaikan tatapan penuh tawa dari para karyawan di sepanjang koridor kantor.