NovelToon NovelToon
Penguasa Danau Keabadian

Penguasa Danau Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.

Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.

Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!

Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.

Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Ingatan yang Menentang Langit

​Cahaya matahari pagi mulai menyinari pucuk-pucuk pegunungan ketika Wang Dahu akhirnya melihat gerbang kayu Desa Cangmu.

​Pemuda bertubuh buncit itu berjalan sambil sesekali menguap lebar. Pakaiannya masih kusut, rambutnya berantakan, dan kedua kakinya terasa nyaris copot setelah berjalan menembus malam.

​Namun, rasa lelah itu seketika kalah telak oleh satu hal yang jauh lebih berisik di dalam kepalanya.

​Suara sang iblis yang terus menggerutu tanpa henti.

​“Dasar manusia bodoh! Jika bukan karena kecerobohanmu, bagaimana mungkin aku bisa kehilangan seluruh kekuatanku?!”

​Wang Dahu refleks mengorek telinganya dengan jari kelingking.

​“Kalau kau terus berteriak seperti itu, kepalaku benar-benar akan pecah.”

​“KAU—!”

​“Iya, iya, aku tahu. Kau hebat. Kau pernah mengguncang sembilan wilayah, membuat para ahli berlutut, dan entah apa lagi dongengmu. Tapi kenyataannya sekarang? Kau bahkan tak bisa keluar dari batok kepalaku. Jadi, bisa tolong diam sebentar?”

​Hening.

​Wang Dahu tersenyum puas. Akhirnya ia bisa menikmati sisa perjalanan tanpa mendengar ocehan beracun selama beberapa saat.

​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Begitu melewati pekarangan rumah warga, ia berpapasan dengan seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman. Wanita itu menatapnya dengan pandangan heran.

​“Dahu? Dari mana saja kau semalaman? Ayahmu mencarimu ke mana-mana kemarin!”

​Senyum Wang Dahu seketika surut. Ia langsung mempercepat langkah menuju rumahnya.

​Begitu tiba di pekarangan, ia mendapati Wang Shun sedang duduk di depan pintu sambil telaten memperbaiki cangkul tua. Rambut lelaki itu telah memutih di banyak bagian, dan guratan lelah tampak jelas di wajahnya.

​Melihat putranya datang, Wang Shun langsung bangkit berdiri tergesa.

​“Dahu!”

​“Ayah!”

​Wang Shun segera memeriksa tubuh anaknya dari ujung kepala sampai kaki. “Kau pergi ke mana saja? Ayah mencarimu sampai larut malam. Kau tahu betapa khawatirnya Ayah?”

​Wang Dahu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku… pergi mencari kayu bakar agak jauh. Terus sempat tersesat di hutan.”

​Wang Shun menatapnya lekat-lekat cukup lama. Jelas sekali pria tua itu tidak sepenuhnya percaya dengan alasan klise tersebut.

​Namun, ia memilih tidak memarahi putranya. Wang Shun hanya menghela napas lega.

​“Sudahlah. Yang penting kau sudah selamat sampai rumah. Masuklah, masih ada sisa bubur di dapur.”

​Wang Dahu mengekor di belakang ayahnya. Di atas meja kayu yang sudah lapuk, hanya tersedia satu mangkuk bubur encer dan beberapa potong sayuran asin kering.

​Wang Shun mendorong mangkuk itu ke hadapan Dahu. “Makanlah. Kau pasti lapar setelah semalaman di luar.”

​Dahu menatap mangkuk tersebut, lalu beralih menatap wajah kurus sang ayah. “Ayah sudah makan?”

​“Sudah.”

​Tepat setelah kata itu meluncur, perut Wang Shun berbunyi kencang.

​Suasana mendadak hening.

​Wang Dahu menghela napas pasrah. Ia mengambil sendok, lalu membagi bubur itu rata ke dalam dua mangkuk terpisah.

​“Ayah, kalau mau berbohong, setidaknya tunggu sampai perut Ayah diajak kompromi dulu.”

​Wang Shun terbatuk canggung, merona malu. “Kau ini, anak nakal...”

​Meski begitu, senyum hangat terbit di bibir pria tua itu. Mereka makan bersama dalam keheningan yang menenangkan.

​Untuk sejenak, Dahu melupakan danau menyeramkan, si iblis bawel, dan segala keanehan yang baru saja menimpanya. Ia hanya ingin menikmati pagi yang damai di sisi sang ayah.

​Usai sarapan, Dahu membantu membersihkan gudang kecil di belakang rumah.

​Tempat itu penuh dengan peralatan tani berkarat, keranjang usang, serta beberapa peninggalan mendiang ibunya. Ketika ia hendak menggeser sebuah peti kayu berdebu, pandangannya jatuh pada sebuah buku tipis kusam di baliknya.

​“Buku apa ini?”

​Dahu meniup sampulnya. Debu tebal beterbangan, membuatnya langsung bersin berturut-turut.

​“Hatchi!”

​“Bahkan buku pun sepertinya jijik melihat wajah bodohmu,” suara si iblis menyindir tajam di benaknya.

​Dahu mendengus pelan. “Setidaknya aku punya hidung untuk bersin. Kau bahkan tidak punya wujud.”

​Si iblis mendengus kesal dan memilih bungkam.

​Dahu mengabaikannya dan membuka halaman pertama buku itu. Judulnya terpampang dengan tinta yang nyaris pudar: Dasar-Dasar Pengenalan Tanaman Obat.

​Ia mulai membalik lembar demi lembar. Awalnya ia hanya sekadar iseng membaca.

​Namun, setelah melewati beberapa paragraf, ia mendadak terpaku.

​Ia menutup kembali buku tersebut. Lalu, dengan sedikit rasa penasaran, ia mencoba mengingat kembali tulisan yang baru saja dibacanya barusan.

​“Daun Rumput Embun... tumbuh subur di tempat lembap... berkhasiat meredakan demam ringan... tapi jika dikonsumsi berlebihan bisa memicu pusing hebat...”

​Dahu terbelalak kencang.

​Ia mengingat semuanya.

​Bukan sekadar poin intinya saja. Ia bahkan menghafal mati susunan kalimatnya, bentuk ilustrasi gambarnya, hingga letak noda tinta di halaman tersebut.

​Penasaran, ia membuka kembali buku itu dan melahap halamannya dengan kecepatan tinggi.

​Satu halaman. Dua halaman. Lima halaman. Sepuluh halaman.

​Begitu menutup bukunya, ia kembali melafalkan isinya di luar kepala.

​Tidak ada satu detail pun yang terlewat.

​Wang Dahu berdiri mematung di tengah gudang yang remang-remang.

​“Ada apa dengan kepalaku...?”

​Ia mengambil buku lain di dalam peti—sebuah catatan usang tentang siklus musim dan teknik bercocok tanam. Ia membaca sekilas isinya.

​Hasilnya sama persis.

​Segala informasi visual yang masuk ke matanya kini terekam sempurna di dalam otaknya layaknya gulungan prasasti abadi. Ia bahkan bisa mendeteksi ada satu kata yang salah eja di halaman tengah buku pertanian itu.

​Bulu kuduk Dahu meremang seketika.

​Selama delapan belas tahun hidupnya, ia selalu dicap sebagai anak lamban. Ia butuh waktu berhari-hari hanya untuk menghafal dasar bacaan, sementara anak desa lain bisa melakukannya dengan mudah.

​Tapi sekarang...?

​“Jangan-jangan aku mendadak jadi jenius?” gumamnya tak percaya.

​Ia buru-buru mencubit pipinya sendiri dengan kuat.

​“Aduh! Sakit!”

​Dahu meringis, tapi detik berikutnya bibirnya perlahan menyunggingkan senyuman lebar.

​“Kalau ini sakit, berarti ini nyata!”

​“Tidak mungkin.”

​Suara si iblis mendadak terdengar jauh lebih serius dari biasanya.

​Dahu langsung menoleh ke sudut gudang. “Apa yang tidak mungkin?”

​“Ulangi isi halaman ketujuh dari buku obat itu tadi!”

​Dahu menaikkan alisnya. “Wah, mau mengujiku rupanya?”

​“Cepat lakukan!”

​Dahu menutup matanya sejenak, lalu mulai merapalkan isi halaman ketujuh selangkah demi selangkah. Ia menyebutkan nama latin tanaman, ciri fisik daunnya, habitat tumbuh, khasiat spesifik, hingga catatan efek samping di bagian paling bawah.

​Belum puas, iblis itu menyuruhnya membacakan halaman delapan dan sembilan.

​Semuanya dijawab tanpa cela.

​Untuk waktu yang cukup lama, kesadaran di dalam kepala Dahu mendadak sunyi senyap. Si iblis terbungkam seribu bahasa.

​Dahu tertawa kecil dalam hati. “Bagaimana? Hebat, kan?”

​“Diam.”

​“Bukankah kau sudah hidup ribuan tahun? Pernahkah kau melihat manusia dengan daya ingat sesempurna ini?”

​“Sudah kubilang, tutup mulutmu!”

​Dahu terkekeh geli. Untuk pertama kalinya, ia sukses membuat makhluk sombong yang mengaku penguasa sembilan wilayah itu skakmat kehabisan kata-kata.

​Namun jauh di dalam dimensi penyegelan, iblis kuno itu sama sekali tidak merasa ini adalah lelucon.

​Ia tengah dilanda gelombang kecurigaan hebat.

​Kekuatan yang terserap ke dalam raga Dahu memang belum sepenuhnya aktif, tapi peningkatan kapasitas mental yang drastis ini jelas bukan anugerah biasa. Apakah ini efek samping dari energi kuno itu? Atau justru tubuh Wang Dahu sejak awal menyembunyikan rahasia mengerikan yang belum terungkap?

​Iblis itu tidak menemukan jawabannya. Dan untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, ketidaktahuan itu membuatnya merasa tidak tenang.

​Dahu kembali menatap buku obat di tangannya.

​Jika ia benar-benar dikaruniai kemampuan mengingat secara sempurna, maka jalan di hadapannya terbuka sangat lebar. Ia tidak lagi buta huruf atau tertinggal. Ia bisa mempelajari apa saja.

​Ia bisa melahap kitab-kitab dasar. Ia bisa memahami farmasi, taktik bertarung, pola formasi, bahkan teknik pemurnian pil jika kelak ia menemukan panduannya.

​Namun, satu masalah besar tetap mengadang: ia belum memiliki kitab kultivasi.

​Tanpa jalur latihan energi, sehebat apapun ingatannya, ia tetap tidak akan bisa memetik tenaga spiritual.

​Dahu berpikir keras. Sesaat kemudian, ingatannya melayang pada sebuah bangunan megah di pusat Desa Cangmu.

​Paviliun Buku Keluarga Liu.

​Tempat itu menyimpan berbagai gulungan kitab dasar dan catatan kultivasi milik para tetua keluarga Liu. Dulu, Dahu sempat nekat ingin masuk sekadar untuk melihat-lihat, tapi penjaga gerbang langsung mengusirnya dengan cambuk karena menganggapnya rendahan tak tahu diri.

​Dulu ia ciut. Tapi sekarang?

​Ia tidak berniat membuat keributan. Ia hanya ingin menumpang membaca. Jika diizinkan masuk, ia akan menyerap seluruh isi buku di sana dengan ingatan barunya. Jika diusir, ia akan memikirkan cara lain.

​Dahu merapikan bukunya dan memasukkannya kembali ke dalam peti.

​“Ayah, aku mau pergi ke pusat desa sebentar,” ujar Dahu keluar dari gudang.

​Wang Shun yang masih sibuk dengan cangkulnya mendongak. “Mau ke mana?”

​“Ke Paviliun Buku. Mau belajar membaca dan melihat beberapa hal.”

​Wang Shun tertegun sejenak. Ia hampir mengira pendengarannya bermasalah. “Belajar?”

​Dahu mengangguk mantap. “Aku ingin mendalami tanaman obat. Siapa tahu suatu hari nanti bisa berguna untuk mencari tambahan penghasilan keluarga.”

​Pria tua itu menatap putranya lekat-lekat, lalu tersenyum teduh. “Kalau itu niatmu, pergilah. Tapi ingat, jangan mencari masalah dengan orang-orang Keluarga Liu.”

​“Aku mengerti, Ayah.”

​Dahu tidak berniat menjelaskan ambisinya yang sebenarnya tentang kultivasi—belum saatnya. Ia ingin membuktikan dulu efektivitas kemampuan barunya.

​Menjelang tengah hari, Dahu berjalan santai menuju kompleks utama Desa Cangmu.

​Di dalam kepalanya, si iblis kembali bersuara memperingatkan. “Jangan besar kepala, bocah. Ingatan yang tajam tidak otomatis membuatmu langsung menjadi kuat.”

​“Aku tahu,” jawab Dahu tenang dalam batinnya. “Menghafal gerakan pedang bukan berarti aku bisa langsung mengalahkan pendekar, dan menghafal resep pil bukan berarti obatnya bisa meracik sendiri tanpa bahan. Tapi setidaknya, aku tidak perlu membaca buku yang sama seratus kali hanya untuk paham.”

​Kali ini, si iblis memilih tidak mendebatnya.

​Dahu melanjutkan langkahnya dengan mantap. Ia belum menjadi kultivator, ia bahkan belum tahu bagaimana cara menarik energi alam ke dalam tubuhnya. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa memiliki senjata yang mematikan.

​Ketika atap megah Paviliun Buku Keluarga Liu mulai tampak di ujung jalan, napas Dahu terasa makin teratur.

​Ia tidak datang untuk mencari gara-gara dengan Liu Ruyan.

​Ia tidak datang untuk menagih luka hati.

​Ia datang untuk merangkak naik.

​Dan jika dunia kultivasi ini hanya tunduk pada mereka yang berkuasa, maka ia akan menghafal dan menguasai seluruh rahasia di dunia ini hingga kekuatan itu jatuh ke tangannya.

​Dahu berhenti tepat di depan pintu gerbang paviliun yang dijaga ketat. Ia mendongak menatap plakat kayu bertuliskan nama tempat itu, lalu menarik napas panjang.

​“Baiklah. Mari kita lihat seberapa banyak rahasia yang bisa kubawa pulang hari ini.”

​Tanpa ia sadari, di balik kurungan segel di alam bawah sadarnya, sang iblis kuno menatap punggung pemuda itu dengan tatapan rumit.

​“Ingatan yang menentang langit...” kepalannya mengerat di dalam kegelapan. “Bocah ini... benar-benar semakin di luar kendali.”

​Dahu melangkah melewati pintu gerbang.

1
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjuttt
Muhamad U Fadillah Udwm: jangan sampe tengah jalan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!