Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 — Aku Pijitin, Ya
Setibanya di Vila Kusuma, Arya tidak langsung membuka laptop untuk menyusun portofolio.
Ia mengganti pakaian, lalu masuk ke ruang kebugaran. Perdebatan di kafe masih menyisakan panas di kepalanya. Daripada memikirkan wajah Karina, ia memilih mengangkat beban.
Baru dua set, pintu kaca terbuka.
Anindya muncul dengan pakaian olahraga hitam dan rambut yang diikat tinggi. Kainnya sederhana, tetapi lekuk tubuh yang selama ini tertutup blazer kini terlihat jelas.
Tangan Arya berhenti di tengah gerakan.
Anindya mengangkat alis. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Mas Arya menatapku seperti baru pertama kali melihat manusia olahraga."
Arya cepat-cepat meletakkan dumbel. "Aku hanya heran kamu masih punya tenaga. Tanganmu tadi gemetar."
"Makanya aku ke sini. Kata pelatih, olahraga membantu membuang emosi buruk."
"Pelatihmu benar."
"Tapi dia juga bilang bentuk tubuhku bagus."
Arya terbatuk.
Anindya menahan senyum. "Mas Arya setuju?"
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi tatapannya menunggu dengan sungguh-sungguh. Arya mencoba mencari jawaban aman. Tidak ada.
"Bagus," katanya akhirnya.
"Cuma bagus?"
"Sangat bagus. Sudah puas?"
Pipi Anindya memerah. Ia berbalik menuju treadmill agar Arya tidak melihat senyum lebarnya. "Lumayan."
Ia menekan tombol terlalu cepat. Sabuk treadmill bergerak mendadak dan membuat langkahnya goyah.
Arya sigap memegang lengannya. "Pelan. Kamu mau olahraga atau mau terbang keluar jendela?"
"Salah tombol."
"Direktur Grup Kusuma kalah oleh treadmill?"
"Di kantor tidak ada tombol yang langsung melarikan lantai di bawah kakiku."
Arya menurunkan kecepatannya, kemudian mengatur kemiringan kecil. "Mulai dari sini. Jaga napas. Jangan mengejar angka hanya karena malu."
Anindya mengikuti arahannya. Di cermin besar, keduanya tampak seperti pasangan biasa yang sedang berolahraga sepulang kerja. Tidak ada kontrak, warisan, atau mantan istri yang berteriak. Pemandangan sederhana itu membuat dada Anindya terasa penuh.
"Apa?" tanya Arya ketika menangkap tatapannya lewat cermin.
"Aku sedang mengingat instruksi pelatih."
"Pelatih yang mana?"
"Yang bayarannya satu miliar dan masih suka mengeluh."
Arya tertawa pendek. Suara itu membuat suasana ruang kebugaran yang dingin berubah ringan.
Arya menggeleng, lalu kembali berlatih. Akan tetapi, konsentrasinya tidak lagi sama. Setiap kali Anindya berlari di depannya, matanya seperti punya kehendak sendiri.
Ia pernah hidup bersama Karina bertahun-tahun. Seharusnya perempuan cantik bukan hal yang membuatnya gugup. Namun, Anindya berbeda. Perempuan itu bisa berdiri dingin menghadapi kontrak bernilai miliaran, lalu tersipu hanya karena satu pujian darinya.
Setelah tiga puluh menit, Arya menyelesaikan latihan punggung. Ia duduk di bangku, mengusap keringat dengan handuk.
Anindya mematikan treadmill. "Sudah?"
"Sudah. Bahuku agak kaku."
"Tengkurap. Aku pijitin, ya."
Arya menatap bangku panjang di sudut ruangan. "Kamu bisa memijat?"
"Aku bisa belajar. Anggap saja pelayanan istri setelah suaminya membelanya di depan mantan."
"Aku membelamu karena kamu benar. Bukan supaya dapat bayaran."
"Kalau begitu, anggap ini bonus."
Anindya menunjuk matras tebal. Wajahnya begitu serius hingga Arya akhirnya menurut. Ia berbaring tengkurap, masih mengenakan kaus olahraga.
Telapak Anindya menyentuh kedua bahunya.
Tekanan pertama terlalu lemah.
"Terasa?" tanyanya.
"Seperti dielus anak kucing."
Anindya mendengus, lalu menambah tenaga.
Tekanan kedua tepat mengenai otot yang kaku. Arya menarik napas panjang. "Nah, itu baru pijatan."
"Banyak tuntutan."
"Kamu sendiri yang menawarkan."
"Suami orang kaya memang manja."
"Aku baru tahu status itu dari istriku."
"Kalau ototmu kaku begini, besok jangan memaksakan latihan berat."
"Baru dua hari olahraga bersama, sudah mengatur jadwalku?"
"Aku investor kesehatanmu. Aku ikut lari, menyiapkan sarapan, sekarang memijat. Wajar kalau aku mengawasi aset."
"Jadi aku aset?"
Tangan Anindya berhenti sesaat. "Aset paling penting."
Arya tidak langsung membalas. Ia tahu Anindya sedang bercanda, tetapi nada lembut di balik kalimat itu terlalu nyata. Selama menikah dengan Karina, dirinya dianggap mesin yang harus bekerja, membayar utang, lalu diam ketika lelah. Di rumah ini, bahkan bahunya yang kaku diperhatikan.
"Anindya."
"Hm?"
"Terima kasih untuk hari ini."
"Karena aku memutus pertemanan atau karena pijatan gratis?"
"Keduanya. Aku tahu keputusan tadi tidak mudah."
Anindya kembali menggerakkan tangannya. "Aku kehilangan teman yang kukira kukenal. Tapi aku tidak kehilangan orang yang kupilih. Jadi hitungannya masih untung."
Arya tersenyum menghadap matras. Perempuan ini bahkan mampu menyusun patah hati seperti laporan keuangan, lalu menyelipkan pengakuan di bagian laba.
Percakapan mereka diselingi bunyi pendingin udara dan musik pelan dari pengeras suara. Jari-jari Anindya menekan dari bahu ke punggung atas dengan gerakan canggung, tetapi berhati-hati.
Arya perlahan rileks.
Semalam ia baru tidur setelah mabuk. Pagi tadi ia berlari, siang menghadapi Karina, lalu sore mengangkat beban. Kelopak matanya semakin berat.
"Kalau sakit, bilang," ujar Anindya.
Tidak ada jawaban.
"Mas Arya?"
Anindya menunduk. Napas Arya sudah teratur. Pria itu benar-benar tertidur di matras ruang kebugaran.
Ia duduk di sampingnya dan memperhatikan wajah yang kini tenang. Saat terjaga, Arya selalu menahan rahang, seolah dunia bisa menyerangnya kapan saja. Dalam tidur, garis keras itu menghilang.
"Kamu gampang sekali percaya padaku," bisiknya.
Ia mengulurkan telunjuk, lalu menyentuh pipi Arya pelan.
Tidak ada reaksi.
Anindya menjadi lebih berani. Ia menekan ujung hidungnya sekali.
Arya bergerak sedikit.
Anindya langsung menarik tangan, menahan napas. Setelah memastikan pria itu tetap tidur, ia menutup mulut agar tawanya tidak pecah.
"Kalau sadar, pasti aku diejek sebulan."
Ia keluar sebentar dan kembali membawa selimut tipis dari sofa ruang santai. Dengan gerakan perlahan, ia menutupi tubuh Arya sampai pinggang. Pendingin udara di ruangan itu cukup dingin untuk membuat kulit lengannya merinding.
Anindya hendak pergi, tetapi tangannya tertahan.
Dalam tidur, Arya tanpa sadar menggenggam dua jarinya.
Anindya membeku.
Genggaman itu tidak kuat. Ia bisa menarik diri kapan saja. Namun, ia memilih duduk kembali di lantai, bersandar pada bangku dan membiarkan tangannya ditahan.
Beberapa menit kemudian, Arya membuka mata.
Hal pertama yang dilihatnya adalah selimut. Hal kedua adalah Anindya yang tertidur sambil duduk, kepalanya miring di tepi bangku. Dua jari perempuan itu berada di dalam genggamannya.
Arya segera melepaskan tangan, tetapi gerakannya membangunkan Anindya.
"Sudah bangun?" Anindya mengucek mata.
"Kenapa kamu tidur di lantai?"
"Karena ada seseorang yang menahan tanganku seperti anak kecil takut ditinggal."
"Aku?"
"Masa Pak Darto?"
Arya menatap tangannya sendiri, lalu berdeham. "Kamu bisa saja melepaskannya."
"Bisa. Aku tidak mau."
Jawaban tanpa ragu itu membuat Arya terdiam.
Anindya berdiri dan melipat selimut. "Pijatannya enak?"
"Sampai tertidur."
"Berarti aku berbakat. Besok tarifnya satu pujian."
"Mahal sekali."
"Kalau tidak sanggup, cari pemijat lain."
Arya ikut berdiri. Saat Anindya melewatinya, ia berkata, "Aku sanggup."
Langkah Anindya terhenti sepersekian detik.
Arya mengambil botol air, tetapi bayangan tubuh Anindya dalam pakaian olahraga kembali melintas di kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, ia tidak hanya melihat ketulusan perempuan tersebut.
Ia melihatnya sebagai seorang wanita.
Dan itu jauh lebih berbahaya daripada kontrak mana pun.