NovelToon NovelToon
The Character!! Kembali Menjadi Figuran

The Character!! Kembali Menjadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menjadi NPC
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: dopamine girl's

Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.

Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:

Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Saat ini Vian berada di pangkuan sang daddy.di depan televisi yang menampilkan animasi ,Vian terdiam dengan pikiran nya yang liar.

Rangga memeluk erat Vian yg ada di pangkuan nya ,ia sangat menikmati momen seperti ini .

Dan mommy nya-diana.datang menghampiri mereka dengan mampan yg berisi segelas susu putih dan kopi hitam . dengan senyuman yang selalu menghiasi.

"Hai baby , minum susu dulu ya"ucapnya lembut ,Vian menatap lamat diana.sebelum menampilkan senyum manis nya "makasih mommy"ucapnya dan dihadiahi kecupan di pipi putih nya."iya sayang"

Diana duduk disamping sang suami , dengan kepala yang menyender pada dada bidangnya,namun matanya tak terlepas sedikit pun dari Vian , putra kecilnya.

"Vian mommy mau beri tahu sesuatu pada vian"ucapnya lembut dengan sorot mata teduh ke arah nya."nanti di mansion akan ada saudara baru, umur nya sama dengan Vian namun beda 3 bulan.dan ia lebih besar dari Vian. Jadi Vian panggil aja kakak ya, namanya ashilia.kak as"lanjut nya lagi.Vian mengangguk tanpa melepaskan pandangan dari animasi di layar. Seolah kabar besar itu hanya angin lewat baginya.

Namun beberapa menit berlalu, kelopak mata kecilnya mulai turun-naik, seperti berusaha keras tetap terbuka. Setiap kali musik kartun berganti, Vian tersentak pelan-lalu kembali hampir terlelap.

Rangga menyadari itu. Ia mengusap pelan punggung Vian, membuat tubuh kecil itu semakin tenggelam dalam pelukannya.

"Ngantuk, hm?" gumamnya pelan.

Vian tidak menjawab, hanya menggumam kecil sambil kembali merebahkan kepala di dada Rangga. Napasnya mulai teratur, hangat, dan berat-tanda kantuknya sudah tak bisa ditahan.

Diana yang melihat nya tertawa kecil - mengusap kening kecil Vian dengan lembut . " Selamat tidur sweetie"

Vian terusik "Mommy... Vian ngantuk," ucapnya pelan. Ia menutup mulut dengan tangan mungilnya sambil menguap, seolah ingin meyakinkan Diana.

Diana tersenyum lembut sambil melirik Rangga.

Rangga langsung paham; ia mengangkat Vian dari depan, menggendongnya seperti anak kecil. Vian memekik pelan karena malu.

"Dad... Vian udah besar, turun..." bisiknya dengan pipi memerah.

Diana dan Rangga hanya tertawa kecil. Diana mengusap kepala Vian, sementara Rangga menepuk punggungnya dengan irama lembut.

"Daddy nggak apa-apa, mau gendong orang dewasa juga... kalau itu Vian," ujar Rangga sambil bercanda.

Sentuhan itu perlahan membuat mata Vian semakin berat. Suara lembut kedua orang tuanya, ditambah pelukan hangat, membuat rasa nyaman merayapi tubuh kecilnya. Tak sampai lima menit, Vian sudah terlelap di gendongan Rangga-bibirnya sedikit terbuka, layaknya bayi.

...****************...

Di mansion Dharmawangsa, suasananya jauh dari kata tenang. Para pelayan sibuk mondar-mandir, membawa kotak dekorasi dan nampan penuh hidangan. Meja makan panjang sudah dipenuhi makanan berbagai jenis, sementara balon serta dekorasi bertema animasi anak memenuhi hampir setiap sudut ruangan.

Ruangan itu tampak seperti pesta ulang tahun.

Bukan sekadar penyambutan.

Ashila berdiri di tepi koridor lantai dua, menyaksikan semuanya dari atas. Ada rasa aneh yang menyusup tanpa permisi-campuran getir, iri, dan kehampaan yang menelusup pelan. Saat ia pertama kali datang, mansion ini sunyi. Tidak ada hiruk pikuk. Tidak ada dekorasi. Tidak ada pelukan. Bahkan sapaan hangat pun tidak.

Yang menyambutnya waktu itu hanyalah tatapan dingin penuh penilaian-dari para pelayan, dari ayah... dan dari kakak laki-lakinya.

 

Ashila mundur pelan ke anak tangga paling atas, lalu duduk. Dari sana, ia kembali menatap ruangan yang kini begitu hidup, begitu berwarna-begitu tidak seperti masa kedatangannya sendiri.

Ponsel di tangannya dimainkan tanpa arah. Pikiran negatif mulai muncul satu per satu, membentuk hipotesis aneh yang membelit dadanya.

Aku hanya menumpang.

Aku bukan prioritas.

Sekarang... aku tidak dibutuhkan lagi.

Ia tersentak kecil saat tangan besar menepuk halus pucuk kepalanya.

"Bang Vano...?" bisiknya.

Vano duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat namun cukup dekat untuk terasa hangat. Tatapannya lembut-lembut dengan cara yang jarang Ashila lihat. Namun di balik itu, ada sesuatu yang berat, seperti rindu yang tersimpan lama.

"As tau kan..." Vano mulai bicara pelan, "Vian itu... spesial. Dari kecil dia banyak sakit. Umur yang harusnya dia pakai buat main, malah habis buat obat-obatan, suntikan, dan rumah sakit."

Vano tersenyum samar, pahit namun penuh kasih.

"Dia dulu ceria banget. Selalu senyum ke siapa pun... polos. Kalau minum obat, pasti merengek. Tapi dia anak yang kuat."

Ada jeda. Napas Vano terdengar lebih berat.

"Abang sayang banget sama Vian."

Ia menoleh, menatap Ashila dalam-dalam.

"Dan abang harap... kamu bisa jagain dia. Kayak kakak."

Ashila terdiam. Tidak berani mengangguk, tapi juga tidak sanggup menolak. Ada sesuatu yang menyesakkan di dada-perasaan yang sulit dijelaskan antara iri, takut, dan keinginan untuk diterima.

Setelah beberapa detik, Vano berdiri. Ia menepuk pundaknya pelan, lalu berbalik meninggalkannya. Ashila hanya bisa melihat punggung lebar itu menjauh, perlahan menghilang di balik lorong panjang mansion.

Memang Punggung orang-orang penting baginya selalu terlihat seperti itu... semakin kecil, semakin menjauh. Dan akhirnya....

Selalu pergi.

Selalu meninggalkannya sendirian.

Mungkin setelah Vian kembali... tugasku selesai.

Mungkin aku akan dibuang lagi.

Seperti dulu.

Tanpa ia sadari, air mata mulai mengalir. Ia menunduk cepat, mencoba menahan suara tangis yang bergetar di tenggorokan.

"Aku... nggak mau dibuang..." gumamnya nyaris tak terdengar.

Dengan langkah gontai, ia bangkit.

Meninggalkan hiruk pikuk di bawah, ia berjalan menuju kamarnya. satu-satunya tempat di mansion ini yang terasa aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!