Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 KESALAHPAHAMAN YANG ABSURD
Sebelum Kamilah sempat menurunkan ponsel dari telinganya, suara Elisa kembali memotong dengan nada penuh konspirasi yang amat menggebu-gebu.
"Oh ya, Kamilah! Satu lagi yang sangat penting dan hampir saja aku lupa!" seru Elisa terengah-engah di seberang telepon. "Rizky Syah dan kakak perempuanmu, Roya Ye, itu teman satu SMA dulu! Tapi mereka terkenal tidak pernah akur sama sekali. Walau begitu, rumitnya... semua orang di forum sekolah dulu bilang kalau mereka berdua itu sebenarnya saling mencintai, tapi saling menyakiti!"
Kamilah membelalakkan matanya, menghentikan langkah kakinya di koridor rumah sakit. "Maksudmu?"
"Jujur ya, aku curiga selama bertahun-tahun ini Kak Roya tidak pernah menerima pria mana pun yang mendekatinya karena sebenarnya dia masih punya hubungan terselubung dengan Rizky Syah!" lanjut Elisa bersemangat tanpa jeda.
Kamilah memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. "Baiklah, aku mengerti. Nanti malam kita bicarakan lagi ya di tempat biasa," pamit Kamilah lalu buru-buru mematikan sambungan teleponnya sebelum kepalanya makin pecah.
Tepat saat ia menghela napas panjang, ponsel di genggamannya bergetar menandakan sebuah pesan chat masuk dari nomor baru—yang tak lain adalah nomor milik Rizky Syah.
Rizky Syah: Sepertinya semalam kita tidak pakai pengaman.
Rizky Syah: Bagaimana kalau aku hamil?
Membaca pesan absurd dari seorang penguasa besar Kota Jakarta tersebut, Kamilah tak sanggup menahan senyum sinisnya. Jarinya menari cepat di atas layar touch screen.
Kamilah: Laki-laki tidak bisa hamil.
Detik berikutnya, balasan dari Rizky kembali masuk dengan sangat cepat.
Rizky Syah: Bagaimana jika kamu yang hamil?
Kamilah mendengus kesal di tempatnya berdiri. Jelas-jelas pria ini menunjukkan tabiat aslinya sebagai buaya darat yang tak mau bertanggung jawab! batin Kamilah jengkel.
Tak mau kalah dan enggan terlihat lemah, Kamilah mengetik balasan dengan nada mengancam.
Kamilah: Hati-hati ya. Kakak perempuanku sangat galak dan aku punya banyak saudara! Jangan coba-coba menindasku!
Beberapa detik kemudian, Rizky hanya membalas dengan sebuah stiker karakter kartun yang gemetar ketakutan. Kamilah yang mengira ancamannya berhasil hanya bisa menggeprak udara pelan dengan wajah puas.
"Kamilah! Kemarilah, Nak!" panggil suara Kakek Ye dari dalam kamar rawat VIP.
Kamilah buru-buru memasukkan ponsel ke tasnya dan melangkah masuk kembali. "Ada apa, Kakek?"
Kakek Ye menatap cucunya dengan lembut, lalu melirik ke arah Ikram Pratama. "Jangan terus-terusan menemaniku di sini. Pergilah jalan-jalan dengan Ikram. Lagi pula, beberapa hari lagi kakakmu Roya akan pulang dari luar negeri. Suruh dia datang menemuiku sendirian nanti."
Kamilah hanya mengangguk penurut. Kakek Ikram yang ikut senang melihat kedekatan mereka langsung menimpali, "Nah, betul itu! Cepatlah pergi jalan-jalan, biarkan kami para tetua mengobrol santai di sini."
"Mari, Kamilah," ajak Ikram ramah sambil membukakan pintu dengan sangat sopan untuk Kamilah.
Mereka berdua pun melangkah keluar menyusuri lorong rumah sakit VIP yang sepi. Namun baru beberapa meter melangkah, sosok pria tinggi berjas gelap yang sedang berdiri santai sambil merokok di dekat jendela lorong langsung menyita perhatian Kamilah.
Pria itu adalah Rizky Syah.
Rizky mematikan rokoknya di asbak berdiri, lalu menatap Kamilah dan Ikram dengan pandangan dingin yang tajam. Saat Ikram berjalan sedikit di depan untuk memberi ruang, Rizky melangkah mendekati Kamilah dan berbisik dengan nada menyindir yang amat pedas tepat di samping telinganya.
"Baru saja tidur denganku, lalu sekarang ikut perjodohan dengan pria lain? Kamilah... kamu benar-benar tahu cara bersenang-senang," bisik Rizky penuh penekanan sebelum berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu balasan.
Kamilah membeku di tempatnya, menahan kekesalan yang membakar dada sembari terus berjalan di samping Ikram yang sama sekali tidak menyadari interaksi singkat dan beracun tersebut.
Malam harinya, di sebuah klub malam eksklusif di pusat kota, dentuman musik bertempo sedang memenuhi ruangan yang temaram. Kamilah dan Elisa duduk di salah satu sudut meja bar, saling mengentakkan gelas minuman mereka.
"Kamilah, kakakmu Roya akan segera pulang, kan?" tanya Elisa memulai pembicaraan di tengah riuhnya dentuman musik.
"Iya," jawab Kamilah singkat sebelum meneguk minumannya. Ia kemudian menatap Elisa lekat-lekat dengan raut serius. "Yang tadi pagi kamu ceritakan padaku tentang Rizky dan Kak Roya... apa maksudnya yang sebenarnya?"
Elisa langsung merogoh ponselnya dan menyodorkan layarnya tepat ke depan wajah Kamilah. "Nih, lihat sendiri kalau tidak percaya! Mereka berdua punya nama akun media sosial barengan yang dibikin sama para fans mereka dulu! Namanya 'Lili Liar Forum CP'. Pasangan ini sangat populer di internet sejak zaman sekolah!"
Kamilah melotot menatap layar ponsel Elisa yang berisi foto-foto lama Kakak perempuannya, Roya Ye, bersanding dengan Rizky Syah saat mereka masih berseragam sekolah.
Gawat... gawat besar! jerit Kamilah dalam hati dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Jadi selama ini gosip itu benar?! Aku... aku sudah menodai pria yang dicintai oleh kakak perempuanku sendiri! Kalau Kak Roya tahu aku tidur dengan Rizky Syah, apa dia bakal menghabisiku?!
"Padahal ya," lanjut Elisa tanpa menyadari kepanikan luar biasa sahabatnya, "Rizky Syah sebelumnya pernah mengatakan dalam sebuah wawancara bisnis kalau dia punya seorang wanita yang sangat dia cintai tapi tidak bisa dia miliki. Dengan status dan kekuasaannya, siapa lagi wanita yang tak bisa dia miliki kalau bukan Kak Roya Ye? Iya, kan?"
Kamilah hanya bisa mengangguk-angguk kaku seperti robot, kepalanya makin pusing membayangkan skandal keluarga yang teramat rumit ini.
"Hai, Cewek cantik! Eh, ada Nona Elisa juga di sini?" tiba-tiba sebuah suara ramah menyapa mereka.
Kamilah mendongak dan melihat Sahril—salah satu teman dekat kakaknya sekaligus pengusaha muda yang terkenal ramah—sudah berdiri di dekat meja mereka.
"Sahril! Bukankah sudah kubilang jangan memanggilku begitu?" protes Kamilah dengan raut wajah kesal.
Sahril tertawa terkekeh. "Baik, baik! Kamilah, kamu mau bergabung bersama kami tidak? Kami semua teman-teman kakakmu sedang kumpul di dalam ruangan VIP."
Elisa yang memang berjiwa sosial tinggi langsung menyenggol lengan Kamilah. "Boleh! Ayo, Kamilah!"
Sebelum Kamilah sempat menolak, Elisa sudah menarik tangannya mengikut langkah Sahril menuju ruangan VIP yang berada di lantai atas.
"Teman-teman, lihatlah siapa yang kubawa kemari!" seru Sahril dengan nada tinggi saat mendorong pintu ruangan VIP yang luas dan mewah tersebut.
Kamilah melangkah masuk dengan ragu-ragu. Udara dingin beraroma parfum mahal dan liquor langsung menyambutnya. Namun, saat matanya menyapu seluruh isi ruangan VIP, napas Kamilah mendadak tercekat seketika.
Di sofa utama ruangan itu, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka santai, sedang memegang gelas kristal berisi whisky. Pria itu menatap Kamilah dengan seringai tipis yang amat berbahaya, seolah-olah mangsa yang ditunggu akhirnya melangkah masuk ke dalam sarangnya sendiri.
Pria itu tak lain adalah Rizky Syah.
Jantung Kamilah serasa berhenti berdetak. Pertemuan tak terduga ini di depan teman-teman kakaknya membuat darahnya mendadak dingin.