NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog 1

Mahito Katagiri bukanlah nama yang asing di dunia bisnis internasional. Sebagai pendiri sekaligus pemilik kerajaan bisnis Katagiri, ia dikenal sebagai pria tua yang memiliki kekuasaan besar, kekayaan melimpah, serta pengaruh yang mampu mengubah kehidupan banyak orang hanya melalui satu keputusan.

Namun, di balik segala kekuasaan yang dimilikinya, Mahito menyimpan satu keinginan yang belum terwujud: melihat cucu satu-satunya menikah dan membangun keluarga sebelum dirinya menutup mata untuk selamanya.

Cucu yang dimaksud adalah Satoshi Katagiri, pewaris tunggal keluarga Katagiri.

Satoshi merupakan pria blasteran Amerika dan Jepang yang memiliki wajah rupawan, tubuh tegap, serta kecerdasan luar biasa. Di usianya yang masih muda, ia telah berhasil membawa perusahaan keluarganya mencapai puncak kejayaan. Berkat kepiawaiannya dalam mengelola bisnis dan keberaniannya mengambil keputusan, Satoshi berhasil menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Amerika.

Dunia mengenalnya sebagai pria sempurna yang memiliki segalanya.

Uang, kekuasaan, ketampanan, dan kedudukan tinggi.

Akan tetapi, tidak seorang pun mengetahui bahwa di balik kesempurnaan itu, Satoshi menyimpan luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Sejak kecil, hatinya telah menjadi milik seorang gadis yang ia cintai dengan tulus. Gadis itu adalah kekasih masa kecilnya, seseorang yang pernah berjanji akan selalu berada di sisinya. Namun, janji tersebut perlahan berubah menjadi kenangan ketika gadis itu harus pindah ke Nederland bersama keluarganya.

Kepergian itu meninggalkan kehampaan yang tidak pernah berhasil diisi oleh siapa pun.

Satoshi menunggu, meskipun waktu terus berjalan. Ia menyimpan perasaan itu dalam-dalam, menjadikannya alasan untuk menolak setiap wanita yang mencoba mendekatinya. Namun, seiring berjalannya waktu, penantiannya berubah menjadi kemarahan, dan rasa kehilangan perlahan menjelma menjadi kebiasaan untuk mempermainkan perasaan perempuan lain.

Ia mulai berganti-ganti pasangan, menikmati kebebasan tanpa ikatan, seolah-olah dengan menyakiti orang lain, ia dapat melupakan luka yang pernah ditinggalkan seseorang kepadanya.

Hingga suatu hari, Mahito Katagiri memanggilnya ke ruang kerja.

Di atas meja besar berbahan kayu mahoni, sebuah berkas diletakkan di hadapan Satoshi. Pria muda itu meliriknya sekilas sebelum mengangkat wajah.

“Apa ini, Kakek?”

“Calon istrimu,” jawab Mahito tenang.

Satoshi mengernyitkan dahi. “Calon istri?”

“Kau akan menikah dengannya.”

Keheningan memenuhi ruangan selama beberapa saat sebelum Satoshi tertawa pendek, seolah-olah menganggap perkataan kakeknya sebagai lelucon yang tidak lucu.

“Aku tidak berniat menikah.”

“Kau tidak perlu berniat. Pernikahan ini sudah Kakek putuskan.”

Rahang Satoshi mengeras.

Selama hidupnya, ia tidak pernah benar-benar membantah keputusan Mahito. Namun, kali ini berbeda. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menentukan dengan siapa ia harus menghabiskan sisa hidupnya.

Terlebih lagi ketika pandangannya jatuh pada foto seorang gadis berambut hitam panjang dengan wajah cantik dan kulit putih bersih.

Namanya Lili Valley.

Seorang gadis desa sederhana yang asal-usul keluarganya tidak diketahui secara jelas. Ia hidup jauh dari gemerlap kota, tidak memiliki kekayaan maupun kedudukan yang dapat dibanggakan. Tidak ada sesuatu pun dalam berkas itu yang menurut Satoshi pantas menjadikannya pendamping seorang Katagiri.

“Dari sekian banyak wanita di dunia ini, Kakek memilih seorang gadis desa yang bahkan tidak jelas asal-usulnya?” ucapnya dingin.

“Namanya Lili Valley,” tegas Mahito. “Dan ia akan menjadi istrimu.”

“Aku tidak mencintainya.”

“Kau akan belajar menghargainya.”

“Tidak akan pernah.”

Namun, keputusan Mahito tidak dapat digoyahkan. Dengan berbagai alasan yang tidak sepenuhnya diketahui Satoshi, pria tua itu bersikeras bahwa Lili adalah wanita yang tepat untuk cucunya.

Pada akhirnya, Satoshi terpaksa menerima perjodohan tersebut demi mempertahankan kehormatan keluarga dan menghindari kehancuran hubungan dengan satu-satunya orang yang masih ia hormati.

Pernikahan itu pun berlangsung megah.

Lampu kristal berkilauan, bunga-bunga menghiasi setiap sudut ruangan, dan para tamu terhormat memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin yang tampak begitu serasi.

Lili berdiri di samping Satoshi dengan gaun pengantin yang indah. Wajahnya dihiasi senyum lembut, sementara matanya memancarkan harapan yang telah lama ia simpan.

Ia tahu bahwa pria di sampingnya belum mencintainya.

Namun, Lili percaya bahwa cinta tidak selalu datang pada pandangan pertama. Ia berharap, seiring berjalannya waktu, kesabaran dan ketulusannya mampu membuka hati suaminya.

Sayangnya, bagi Satoshi, pernikahan itu bukanlah awal dari sebuah kisah cinta.

Pernikahan itu adalah hukuman.

Sejak hari pertama, Satoshi memperlakukan Lili seolah-olah kehadirannya merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kata-kata kasar, bentakan, penghinaan, dan sikap dingin menjadi bagian dari keseharian mereka. Tidak jarang Satoshi meninggalkan rumah untuk menemui wanita lain, tanpa sedikit pun memedulikan perasaan perempuan yang telah sah menjadi istrinya.

Lili hanya mampu menelan kepedihannya dalam diam.

Setiap kali Satoshi pulang, ia selalu berusaha menyambut suaminya dengan senyuman. Ia menyiapkan makanan, memastikan pakaian Satoshi tersedia, dan mencoba berbicara dengannya meskipun jawaban yang diterimanya sering kali hanya berupa tatapan tajam dan ucapan menyakitkan.

Namun, malam pertama pernikahan mereka menjadi awal dari kehancuran harapan Lili.

“Aku tidak ingin tidur sekamar denganmu,” ujar Satoshi tanpa sedikit pun menunjukkan belas kasihan.

Lili yang berdiri di hadapannya terdiam.

“Kalau begitu, aku akan tidur di kamar lain,” jawabnya pelan.

Satoshi menatapnya dengan dingin.

“Siapa yang menyuruhmu memilih kamar? Tidurlah di gudang.”

Lili membeku.

Ia menatap pria yang kini telah menjadi suaminya, berharap menemukan sedikit keraguan di wajah itu. Akan tetapi, tidak ada apa pun selain kebencian.

Tanpa memberikan kesempatan kepada Lili untuk menjawab, Satoshi meninggalkannya sendirian.

Malam itu, Lili tidur di sebuah gudang kecil yang dingin, beralaskan tempat tidur seadanya. Gaun tidurnya masih melekat di tubuh, sementara air mata mengalir tanpa suara membasahi pipinya.

Ia telah menjadi seorang istri, tetapi bahkan tidak memiliki tempat untuk tidur sebagaimana layaknya seorang istri.

Meskipun demikian, Lili tetap berusaha bertahan. Ia meyakinkan dirinya bahwa mungkin Satoshi hanya membutuhkan waktu. Mungkin suatu hari nanti, pria itu akan menyadari bahwa ada seseorang yang sungguh-sungguh ingin mencintainya.

Namun, harapan itu kembali dihancurkan pada malam kedua pernikahan mereka.

Malam itu, Satoshi membawa seorang wanita lain ke rumah mereka.

Lili yang sedang berada di kamar mendengar suara tawa dari ruang tengah. Awalnya, ia mengira suaminya sedang berbincang dengan seorang teman. Namun, ketika melangkah mendekati ruangan tersebut, langkahnya mendadak terhenti.

Pemandangan di hadapannya membuat seluruh tubuhnya terasa membeku.

Satoshi sedang bermesraan dengan wanita lain, tanpa memedulikan bahwa rumah itu juga merupakan tempat tinggal istrinya. Tidak ada rasa bersalah pada wajahnya. Tidak ada keraguan dalam sikapnya. Ia bertindak seolah-olah Lili tidak pernah ada dalam kehidupannya.

Lili terbelalak.

Dadanya terasa sesak, seakan-akan seseorang telah merenggut udara dari paru-parunya. Ia ingin berbalik, ingin berlari menjauh, tetapi kedua kakinya terasa begitu lemah.

Air matanya jatuh satu demi satu.

Ia adalah istri sah pria itu. Ia telah menyerahkan harapan, kesetiaan, dan seluruh ketulusan hatinya kepada pernikahan tersebut. Bahkan, ia belum pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari suaminya sendiri.

Namun, di hadapan matanya, Satoshi justru memberikan kemesraan itu kepada perempuan lain.

Lili menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan isak tangis yang terus mendesak keluar. Akan tetapi, rasa sakit itu terlalu besar untuk disembunyikan.

Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan keputusannya sendiri.

Apakah ketulusan benar-benar mampu mengubah hati seseorang?

Apakah kesabaran akan membawanya menuju kebahagiaan, atau justru membuatnya semakin hancur?

Dan sampai kapan ia harus bertahan dalam pernikahan yang hanya memberinya air mata?

Malam itu, di balik pintu yang sedikit terbuka, Lili menangis seorang diri. Sementara pria yang seharusnya melindunginya terus melukai hatinya tanpa menyadari bahwa setiap penghinaan yang dilontarkannya telah meninggalkan luka yang semakin dalam.

Satoshi tidak mengetahui bahwa wanita yang selama ini dianggap tidak berharga itu memiliki batas kesabaran, seperti manusia lainnya.

Ia juga tidak mengetahui bahwa suatu hari nanti, Lili mungkin akan berhenti menunggunya, berhenti memohon kasih sayangnya, dan berhenti mencintainya dengan cara yang selama ini ia anggap tidak berarti.

Satoshi Katagiri memiliki segalanya, kecuali hati yang bersedia menerima ketulusan seorang wanita.

Dan Lili Valley, wanita sederhana yang memasuki kehidupannya dengan harapan akan menemukan cinta, justru terperangkap dalam pernikahan yang perlahan merenggut kebahagiaannya.

Sebab, terkadang, seseorang baru menyadari betapa berharganya sebuah cinta setelah ia menghancurkan hati yang memberikannya.

Dan ketika penyesalan itu akhirnya tiba, belum tentu orang yang pernah ia sakiti masih bersedia menunggunya.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!