NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama di Kantor Virel Corp

Pukul 07.00 WIB.

Alya berdiri di depan walk-in closet seperti mau perang. Di depannya tergantung 20 set blazer, rok span, dan high heels yang harganya mungkin bisa untuk bayar SPP Bima sampai lulus SMA.

"Pakai yang ini, Nyonya." Bu Ratna menyodorkan blazer hitam dan rok krem selut. "Tuan sudah menunggu di bawah."

Saat Alya turun, Rafael sudah rapi dengan setelan jas navy-nya. Ia menatap Alya dari atas sampai bawah, lalu mengerutkan kening.

"Roknya kepanjangan," komentarnya.

Alya langsung menarik roknya turun karena panik. "Ma-maaf, saya"

"Bukan, maksud saya kamu terlihat seperti mau wawancara kerja, bukan istri saya." Rafael berjalan mendekat, lalu tanpa minta izin, ia melipat lengan blazer Alya sampai siku. Jarak mereka begitu dekat, Alya bisa melihat bulu matanya yang lentik. "Istri CEO Virel Corp tidak boleh terlihat takut. Angkat dagumu."

Sentuhan itu singkat, tapi tangan Alya langsung berkeringat.

Gedung Virel Tower di SCBD memiliki 40 lantai. Lantai 40 adalah milik Rafael seorang. Saat lift private terbuka, semua karyawan langsung berdiri dan menunduk.

"Selamat pagi, Pak Rafael."

Mata mereka semua lalu beralih pada Alya. Pada gandengan tangan Rafael yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Bisik-bisik langsung terdengar.

"Itu istrinya yang katanya nikah diam-diam kemarin?"

"Cantik sih, tapi kok kelihatan kampung ya?"

"Katanya cuma lulusan"

Rafael menghentikan langkah. Ia menoleh ke arah staf yang berbisik dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Ruangan yang tadi berisik langsung senyap seperti kuburan.

"Mulai hari ini, Nyonya Alya akan belajar di divisi legal sebagai asisten pribadi saya," kata Rafael dengan suara yang menggema di seluruh lantai. "Satu kata tidak sopan tentang dia, kalian bisa ambil pesangon di HRD lantai 1. Mengerti?"

Semua mengangguk cepat. "Mengerti, Pak!"

Alya menelan ludah. Pria ini benar-benar mafia dalam bentuk CEO.

Meja kerja Alya diletakkan di dalam ruang kerja Rafael, tepat di depan meja besarnya. Jadi Rafael bisa mengawasi Alya 24 jam.

"Kerjaanmu hari ini cuma satu," Rafael melempar sebuah map tebal ke meja Alya. "Hafalkan semua nama dewan direksi. Sore ini ada rapat. Ibu saya juga akan datang. Jangan bikin malu."

Alya membuka map itu. Namanya pusing.

Belum lima menit ia membaca, pintu kaca ruang kerja Rafael terbuka dengan keras tanpa ketukan. Seorang wanita masuk.

Wanita itu cantiknya seperti model. Rambutnya panjang bergelombang, bibir merah, memakai dress merah ketat yang memperlihatkan semua lekuk tubuhnya, dan high heels 12 cm. Aromanya menyengat, mahal.

"Rafael, sayang! Akhirnya kamu datang juga! Aku sudah tunggu dari tadi pagi!"

Wanita itu langsung memeluk lengan Rafael dengan manja, mengabaikan keberadaan Alya sepenuhnya.

Rafael melepas pelukan itu dengan halus tapi tegas. "Sinta. Sudah kubilang jangan masuk tanpa ketuk."

Sinta Lau. Alya ingat nama itu di map dewan direksi. Direktur Keuangan Virel Corp. Dan mantan pacar Rafael selama 3 tahun di Singapura.

Sinta baru menyadari ada Alya. Ia menatap Alya dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai dan menghina.

"Oh, jadi ini istri kontrak" Sinta hampir keceplosan, lalu cepat-cepat memperbaiki, "Eh, istri barunya Rafael? Hai, saya Sinta. Teman dekat Rafael."

Alya berdiri sopan. "Hai, saya Alya."

Sinta tersenyum manis, tapi matanya tajam. "Alya lulusan mana? Kok Rafael tidak pernah cerita? Rafael itu biasanya sukanya sama wanita yang... selevel. Yang bisa bantu bisnisnya, bukan yang..."

Kalimatnya menggantung, tapi maknanya jelas: bukan yang seperti kamu.

Alya mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa rendah diri yang sejak kecil ia rasakan karena harus berhenti bermimpi demi adik-adiknya muncul lagi.

Rafael yang melihat itu, tiba-tiba berdiri dan berjalan ke belakang kursi Alya. Tangannya diletakkan di bahu Alya, meremas pelan, sebuah sentuhan posesif yang menunjukkan kepemilikan.

"Alya memang tidak selevel denganmu, Sinta," kata Rafael dingin. "Dia di atasmu. Jadi jaga bicaramu. Dia istri saya."

Wajah Sinta memerah menahan malu dan marah. "Rafael, kamu"

"Rapat direksi jam 3. Siapkan laporan keuangan Q3. Sekarang keluar."

Sinta menghentakkan kakinya dan keluar sambil membanting pintu.

Ruangan kembali sunyi. Tangan Rafael masih di bahu Alya. Alya bisa merasakan panasnya menembus blazernya.

"Terima kasih," bisik Alya pelan.

"Jangan terima kasih. Saya tidak membelamu," jawab Rafael, tapi tangannya tidak langsung dilepas. "Saya menjaga nama baik saya. Istri saya tidak boleh dihina di depan saya. Itu membuat saya terlihat buruk."

Alasan yang selalu dingin. Tapi entah kenapa, Alya merasa sedikit aman.

Jam 3 sore, Rapat Dewan Direksi.

Ruang rapat besar dengan 12 orang direksi berjas mahal. Mama Olivia duduk di kursi kehormatan. Alya duduk di sebelah Rafael, tangannya terus digenggam Rafael di bawah meja agar tidak gemetar. Di seberangnya, Sinta menatap dengan tatapan ingin membunuh.

"Jadi ini Alya yang dinikahi Rafael dalam semalam?" kata salah satu direksi tua dengan sinis. "Maaf, Nyonya, kami semua kaget. Rafael tidak pernah mengenalkan pacar sebelumnya."

Semua mata tertuju pada Alya.

Alya panik. Ia lupa semua hafalannya.

Rafael meremas tangan Alya lebih kuat, memberi kode.

Alya menarik napas, mengingat aktingnya kemarin dengan Mama Olivia. Ia tersenyum, senyum yang ia pelajari dari Dinda saat Dinda merajuk minta jajan.

"Maaf, Om. Kami memang sengaja tidak pacaran lama-lama," kata Alya dengan suara manis yang dibuat-buat, lalu ia menatap Rafael dengan tatapan yang ia harap terlihat jatuh cinta. "Soalnya... Rafael itu posesif banget. Baru kenal sebulan, langsung dilamar. Katanya takut saya diambil orang lain."

Satu ruangan terdiam.

Kemudian Mama Olivia tertawa paling keras. "Benar! Itu baru anak Mama! Akhirnya ada yang bisa menjinakkan singa ini!"

Beberapa direksi ikut tertawa canggung. Bahkan direksi tua yang sinis tadi ikut tersenyum.

Rafael menoleh pada Alya. Tatapannya tidak bisa diartikan. Kaget, bingung, dan ada amarah yang tertahan karena Alya berani berkata dia posesif.

Di bawah meja, Rafael membalas dengan mencubit pelan pinggang Alya sebagai hukuman karena lancang. Alya hampir menjerit, tapi ia tahan dengan senyuman.

Rapat selesai dengan lancar. Untuk pertama kalinya, kontrak pernikahan mereka terlihat meyakinkan di mata orang lain.

Saat semua keluar, Mama Olivia menghampiri Alya dan memeluknya.

"Kamu hebat, Nak. Mama titip Rafael ya. Jaga dia. Dia itu terlihat kuat, tapi sebenarnya kesepian."

Kata-kata itu menusuk Alya.

Setelah semua pergi, hanya tinggal Alya dan Rafael di ruang rapat besar itu.

Rafael mengunci pintu rapat.

Ia berjalan mendekat, memojokkan Alya ke dinding kaca yang menghadap seluruh kota Jakarta.

"Siapa yang mengajarimu berbohong seperti itu, Alya Putri?" Suara Rafael rendah dan berbahaya, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Alya. Tangannya menahan dinding di samping kepala Alya.

Alya memejamkan mata, takut. "Ma-maaf... saya cuma"

"Kamu bilang saya posesif?"

"Saya... saya harus acting, kan?"

Rafael menatap bibir Alya yang bergetar. Napasnya berat.

"Acting yang sangat bagus," bisiknya. "Sampai saya hampir percaya kamu memang istri saya."

Detik itu, pintu ruang rapat diketuk keras dari luar.

"Rafael! Alya! Kalian di dalam?" Suara Mama Olivia.

Rafael langsung menjauh, mengatur napasnya. Ia membukakan pintu dengan wajah datar seperti tidak terjadi apa-apa.

Alya masih bersandar di dinding kaca, jantungnya berdebar tidak karuan, kakinya lemas.

Ia sadar, batas bantal di ranjang itu sudah tidak ada gunanya lagi. Bahaya sebenarnya bukan di ranjang, tapi di luar ranjang, saat Rafael menatapnya seperti barusan.

Bersambung...

1
Renjana
🥰
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!