Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Zayn tampak begitu senang, dia terus tersenyum dan memangku putri kecilnya, ketika Bella sudah mengijinkan dia pulang ke rumah.
Ya, memang Zayn salah. Tapi setidaknya dia sudah memberikan informasi yang cukup berguna untuk kasus yang akan kembali di buka oleh Kinan.
Tapi melihat istrinya membawa tas dengan Kinan turun dari tangga lantai dua rumahnya. Zayn tampak khawatir.
"Kalian hanya akan pergi berdua?" tanya Zayn.
"Tidak, dengan pengacara Gustaf dan asistennya!" jawab Bella.
"Tapi..."
"Kamu tidak usah ikut, jaga Sasha di rumah. Aku beri kesempatan untukmu mengurus Sasha di rumah. Gunakan dengan baik. Aku dan Kinan akan pergi ke Dubai. Aku dengar disana banyak saudagar minyak yang kaya raya!"
Wajah Zayn langsung panik, dia memang beberapa kali melakukan perjalanan bisnis ke negara itu. Dan memang seperti yang dikatakan Bella. Di negara itu banyak sekali saudagar kaya raya, baik itu pengusaha minyak, pengusaha berlian dan batu permata apapun, semua berpusat disana. Makin was-was Zayn akhirnya.
Istrinya itu cantik, bahkan sangat cantik. Pintar, dari keluarga terpandang. Bagaimana kalau sampai Bella benar-benar terpikat pada salah satu saudagar kaya itu.
"Kinan, kamu bisa ingatkan Bella kan? katakan padanya kalau sampai melirik saudagar kaya disana. Ada anak dan suaminya yang menunggu di rumah!"
Ucapan itu terdengar memelas. Untung Sasha tidak paham. Kalau tidak, mungkin dia akan ikut nyeletuk bertanya ayahnya kenapa?
Kinan membawa tawa, sementara Bella memutar bola matanya malas. Kalau memang mau berkhianat, dia sudah lakukan dari dulu.
"Sudahlah! urus saja Sasha dengan baik!"
"Ibu, Ibu angkat, cepatlah kembali!" kata Sasha yang bahkan masih berada di pangkuan ayahnya.
"Tenang saja, ibu akan cepat kembali. Sasha harus makan yang banyak dan tidur tepat waktu ya, kalau ayah begadang. Telepon ibu!"
Sasha melayangkan jempolnya di depan wajahnya.
"Siap ibu!"
Zayn mengantarkan istrinya sampai ke mobil. Sasha dia serahkan pada pengasuh, karena sudah waktunya mandi sore.
"Sayang, cepatlah kembali setelah urusanmu beres ya"
"Iya, kamu tenang saja. Jaga Sasha dengan baik, awas kalau kamu kasih tahu pria brengsekk itu!"
"Aku bersumpah, aku tidak akan memberitahunya!" kata Zayn sambil mengangkat ketiga hatinya di samping kepalanya.
Bella mengangguk lalu menutup pintu mobilnya. Sementara Kinan sudah berada di dalam mobil. Mereka akan bertemu dengan paman Gustaf dan asistennya Rudi nanti di bandara.
Sementara itu, di kantornya. Bima masih sibuk dengan banyak dokumen di atas meja. Dua hari Kinan berada di rumah sakit, sebenarnya dia beberapa kali datang kesana untuk tahu seperti apa dan bagaimana kondisi Kinan. Tapi anak buah ayahnya Bella selalu tidak mengijinkannya untuk membesuk Kinan. Bahkan dokter yang merawat Kinan, tidak diperbolehkan memberitahu apapun kabar tengah kondisi Kinan pada Bima. Semua itu atas permintaan Bella yang minta bantuan kepala rumah sakit.
Bima sebenarnya bisa saja menghentikan semua penjagaan Bella itu. Tapi, dia masih tahu kalau itu rumah sakit. Dan dia memang ingin Kinan pulih.
Begitu mendengar Kinan pulang, dia baru pergi ke perusahaan dan mengurus dokumen yang terbengkalai di atas meja kerjanya selama dua hari.
"Tuan, nanti jam 5 sore meeting terakhir dengan Duta Global!" kata Leo sambil merapikan dokumen yang sudah selesai di tandatangani oleh Bima.
"Atur saja!"
"Tiket sudah dipesan jam 10 malam, tuan bisa berangkat dari perusahaan jam 9! hadiah untuk nona Agnes juga sudah disiapkan. Betrand akan menjemput tuan di bandara Dubai, hadiahnya juga sudah bersama dengannya!"
"Ya, atur saja!"
Leo terdiam beberapa saat. Biasanya tuannya akan bertanya apa hadiah yang akan diberikan untuk Agnes. Kalau kurang mahal, biasanya tuannya akan minta untuk membeli barang lagi. Kali ini, kenapa terlihat begitu acuh.
"Tuan mau makan malam setelah meeting atau mau saya pesankan..."
"Nanti saja, aku makan di pesawat saja! berikan lagi laporan yang sudah diselesaikan! aku akan tanda tangani semuanya sebelum berangkat malam ini!"
"Baik tuan!"
Leo pun segera pergi. Tuannya sepertinya memang sedang banyak pikiran akhir-akhir ini.
Begitu Leo keluar dari ruangan Bima. Ponsel Bima berdering.
Bima menatap layar ponselnya beberapa saat. Pria itu menghela nafas panjang. Sebelum dia menerima panggilan itu.
"Halo..."
[Bima, kamu besok akan datang kan? aku sudah siapkan makan malam romantis di villa. Hanya kita berdua, seperti biasanya]
Bima memijat keningnya yang kembali berdenyut.
"Ya, aku akan datang besok. Aku sudah janji padamu!"
[Akhir-akhir ini, apa perusahaan mengalami masalah? beberapa waktu ini kamu sulit dihubungi, aku khawatir Bima]
Bima paham, yang dimaksud oleh Agnes adalah dua hari ini dia memang sama sekali tidak menghubungi Agnes. Bima bahkan mematikan ponselnya. Dan menyerahkan semua urusan perusahaan pada Leo.
"Aku sedang banyak pekerjaan, perusahaan dapat tender baru dan meeting dalam sehari itu bisa sampai malam"
[Kamu memang pekerja keras, tapi jangan abaikan kesehatanmu. Jangan sampai telat makan. Seandainya aku ada di dekatmu, aku akan antarkan makanan untukmu setiap hari. Saat kamu lelah, aku akan memijat punggung mu, seperti tiga tahun yang lalu...]
"Agnes, aku masih ada meeting sebentar lagi. Aku tutup dulu ya, jangan khawatirkan apapun. Besok, aku pasti akan datang!"
[Baiklah, aku menunggu mu. Aku sangat merindukanmu, Bima]
"Hemmm"
Bima menutup panggilan telepon itu. Lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Bima menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Kepalanya sudah mulai terasa sakit, banyak pikiran, dan pola makan juga istirahat tidak teratur.
Sedangkan beberapa jam kemudian, setelah melalui 10 jam perjalanan hingga larut malam. Kinan dan Bella sampai di Dubai. Pengacara Gustaf dan Rudi sudah berada di hotel, mereka yang mengurus semuanya. Sedangkan Bella, dia gemas sekali. Dia sudah tidak sabar untuk tahu dimana lokasi villa tempat tinggal Agnes selama tiga tahun ini.
Dengan mobil sewaan mereka. Bella mengemudi ke alamat yang ditemukan oleh Paman Gustaf. Dan begitu mereka berhenti tepat di depan villa, Bella memukul setir kemudinya.
Duk
"Dasar pria brengsekk! lihat villa ini! apa pantas pembunuhh itu tinggal di sini?"
Bella marah sekali, dia sangat emosi. Villa itu benar-benar mewah. Sangat mewah bahkan, ada dua lantai dengan taman yang begitu indah. Bahkan ada pohon yang harganya mahal sekali di depan rumah. Dan dengar-dengar di dalamnya ada kolam renang pribadi, tempat gym pribadi, bahkan lapangan tenis pribadi.
'Kamu sungguh memanjakan pembunuhh ibuku. Kamu benar-benar hebat, Bima!' lirih Kinan dalam hatinya.
Bahan bakar kebenciannya sungguh bertambah. Seharusnya pembunuhh ibunya tinggal di jeruji besi. Menjalani hidup dengan instrospeksi diri. Tapi kenyataannya, bahkan tinggal di tempat yang fasilitasnya serba nyaman dan mewah seperti ini.
'Ini tidak adil, Bima. Ini tidak adil!' lirih Kinan lagi.
***
Bersambung...