NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:653
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 14

BAB 14

Malam telah larut sepenuhnya ketika Maya melangkah menembus pintu kaca studionya. Gelombang getaran aneh yang merayapi selasar candi serta sisa-sisa trauma dari klinik desa tadi sore masih menyisakan denyut tipis yang berdenyut kencang di pelipisnya. Namun, buku sketsa kulit tua milik Rendra yang tersimpan rapi di balik tas sandangnya membawa bobot argumen teknis—sekaligus memori visi kuno yang teramat membakar—bergema hebat di dalam benaknya.

Keheningan malam di dalam studio utama pecah seketika. Di meja rapat tengah yang terbuat dari kayu jati massif, Nia dan Dito duduk berdampingan. Permukaan meja tersebut hampir tidak tersisa, tertutup oleh tumpukan lembaran laporan keuangan, cetakan surel, kalkulasi arus kas, serta berkas analisis risiko yang saling tumpang-tindih. Wajah Dito terlihat sangat kuyu dengan lingkaran hitam yang menebal tajam di bawah matanya. Sementara itu, Nia memegang cangkir kopi dingin yang sudah tak tersentuh dengan raut muka tegang.

"Maya! Akhirnya kau pulang juga!" panggil Nia spontan, langsung berdiri tegak dari kursinya begitu mendengar derit pintu. "Ponselmu sama sekali tidak bisa dihubungi sejak sore tadi! Kami berdua hampir saja menelepon kantor polisi atau menyisir sepanjang jalanan dari klinik!"

"Baterai ponselku habis di jalan," jawab Maya pelan. Ia melepas coat luarnya, menggantungnya pada kapstok di dekat pintu, lalu melangkah mendekati meja kerja mereka yang dipenuhi kekacauan dokumen. Ia menarik napas panjang, berusaha menetralkan gemetar halus di jemarinya. "Bagaimana situasi detailnya, Dito? Seberapa buruk keadaan kita sekarang?"

Dito tidak langsung menjawab. Pria itu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, melonggarkan ikatan dasinya, lalu hembusan napasnya terdengar berat dan terengah akibat tekanan yang membuncah.

"Kondisinya bukan lagi sekadar buruk, Maya. Ini adalah bentuk sabotase yang terstruktur dan sangat terencana," kata Dito dengan suara berat yang menahan amarah. Ia menggeser sebuah map merah tebal berlabel angka keuangan ke hadapan Maya. "Investor utama kita—Konsorsium Mahakam—secara resmi melayangkan surat pembatalan komitmen dana segar senilai tiga miliar rupiah untuk operasional kuartal depan."

Maya membeku di tempatnya. Tubuhnya menegang seketika. Angka tiga miliar itu adalah napas hidup rumah modenya—sekaligus pertaruhan harga diri dan independensinya agar ia tidak perlu merendahkan diri memohon sokongan finansial dari gurita bisnis milik keluarganya.

"Tiga miliar? Atas dasar apa mereka membatalkannya secara sepihak?" desis Maya, menatap lembar kertas keputusan itu dengan ketidakpercayaan. "Bukankah penandatanganan kesepakatan awal sudah sah secara hukum perdata?"

"Mereka mengeksekusi klausul darurat terkait pencemaran nama baik dan sengketa hak cipta," potong Dito cepat, jemarinya mengetuk-ngetuk lembaran kertas di meja dengan ritme gelisah. "Tadi siang, sebuah artikel picisan dan provokatif terbit di portal media bisnis independen. Isinya menuduh studio kita sedang dalam proses penyelidikan internal akibat dugaan penjiplakan karya desainer senior, Clarissa Arum. Hanya dua jam setelah artikel itu tayang di internet, tim hukum Victor langsung mengirimkan salinan klaim sengketa resmi ke surel jajaran direksi Mahakam."

"Laporan itu rekayasa murni! Tuduhan murahan!" tebas Maya keras, memukulkan telapak tangannya ke atas permukaan meja jati hingga berkas-berkas di atasnya bergetar. "Sketsa gaun untuk babak lima besar itu baru saja kubuat di ruangan ini! Bagaimana mungkin Victor dan Clarissa bisa mendapatkan draf awal untuk dijadikan bahan tuduhan penjiplakan?"

"Karena ada kebocoran informasi dari dalam rumah kita sendiri, Maya," sela Nia dengan nada dingin dan kelopak mata yang mulai memerah menahan kelelahan. Ia memutar layar laptop di depannya ke arah Maya, menampilkan barisan kode dan deretan log sistem jaringan lokal studio.

"Aku menghabiskan waktu empat jam terakhir untuk menyisir lalu lintas data di server internal kita. Tiga hari lalu, tepat jam dua pagi, ada aktivitas pengunduhan folder Master Design 2026 menggunakan kredensial akun milik staf magang kita. Pengunduhan itu dilakukan dari alamat IP eksternal yang setelah kutelusuri, terhubung langsung dengan server anak perusahaan investasi milik grup Victor."

Udara dingin dari pendingin ruangan terasa kian menusuk kulit, mengimpit ruangan rapat hingga terasa kian menyempit. Maya mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

"Siapa staf magang yang memegang akun itu?" tanyanya lugas dengan tatapan berapi-api.

"Bagus. Tapi dia hanya dimanfaatkan sebagai alat," jawab Nia cepat. "Laptop pribadinya tertanam malware saat dia menghadiri acara prapameran yang disponsori oleh grup perusahaan Victor minggu lalu. Orang-orang Victor tidak perlu menyogok orang dalam; mereka cukup mencuri akses digitalnya secara culas."

"Persetan dengan permainan kotor Victor!" umpat Maya tajam. Ia menoleh kembali pada Dito. "Dito, katakan padaku secara riil dan jujur, berapa lama daya tahan kas operasional studio kita tanpa suntikan dana tiga miliar itu?"

Dito menarik lembaran lembar sebar (spreadsheet) kalkulasi keuangan internalnya, lalu menunjuk barisan angka-angka berpenanda merah.

"Maksimal delapan belas hari, Maya," tegas Dito tanpa ekspresi, suaranya seperti vonis eksekusi. "Itu pun dengan catatan kita memotong seluruh anggaran pemasaran dan operasional harian hingga nol rupiah. Tabungan tunai yang tersisa di rekening studio hanya seratus empat puluh juta. Padahal, minggu depan adalah jatuh tempo pembayaran termin pertama bahan sutra organza impor, ditambah gaji dua belas penenun senior dan penjahit di sanggar kerja kita. Jika kita bayarkan seluruh kewajiban itu, saldo kita secara harfiah menjadi nol. Kita bahkan tidak punya sisa uang untuk menyewa truk angkut guna membawa koleksi fisik ke panggung penentuan lima besar."

Maya terduduk lunglai di kursinya. Bayangan wajah Pak Kusno dan Mbak Siti—dua [penenun] tua yang telah mendedikasikan sisa hidup mereka demi menghidupkan setiap helai benang di studionya—terbayang kuat di pelupuk matanya. Jika studio ini runtuh, bukan hanya piala kompetisi yang melayang, melainkan mata pencaharian belasan keluarga yang menggantungkan nasib padanya.

"Bagaimana dengan pinjaman bank?" kejar Maya, matanya menatap Dito tajam, mencari celah sekecil apa pun.

"Tidak ada bank yang mau mencairkan kredit modal kerja dalam waktu tiga hari saat nama studiomu sedang dihantam isu penjiplakan di media!" tembak Dito balik, nada suaranya meninggi akibat frustrasi yang membuncah. "Proses verifikasi bank butuh waktu minimal satu bulan! Kita butuh dana segar tunai atau komitmen investor baru senilai minimal lima ratus juta rupiah dalam lima hari kerja ke depan hanya untuk menyambung napas operasional produksi. Jika tidak, studio yang kita bangun dari nol tanpa campur tangan keluarga ini harus menyatakan bangkrut sebelum gaunmu sempat menginjak panggung pertunjukan!" Dito menatap Maya.

"Kita tidak boleh mundur. Kita tidak boleh menyatakan bangkrut," suara Maya serak, namun matanya memancarkan amarah yang terkendali.

"Lalu apa solusinya, Maya?" Dito bersedekap dada, menatap sang desainer utama dengan pandangan intens. "Idealismemu tidak bisa dipakai untuk membayar tagihan listrik studio dan benang emas para penenun! Kita sudah benar-benar terdesak di sudut tembok!" kata Dito seraya mengukir senyum kecut.

Maya tidak menjawab. Keheningan yang rapat menggantung tebal di dalam studio. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, jemari Maya yang gemetar meraih tas sandangnya, merogoh ke dalam, lalu menarik keluar buku sketsa kulit tua milik Rendra.

Maya menghempaskan buku sketsa itu tepat di tengah-tengah tumpukan berkas keuangan Dito yang berserakan.

"Solusinya ada di dalam buku ini," tegas Maya dengan pendar mata yang memercikkan harapan.

Dito dan Nia melotot tak percaya, terperangah menatap sampul buku milik sang rival utama yang kini berada di meja rapat mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!